Selasa, 13 Desember 2016

Teknik Budidaya Ikan Bandeng



Teknik Budidaya Ikan Bandeng



Ikan bandeng termasuk golongan ikan herbivora, yaitu bangsa ikan yang mengkonsumsi tumbuhan. Bandeng merupakan adalah satu jenis ikan penghasil protein hewani yang tinggi. Dengan teknik budidaya Bandeng yang intensif, dalam usia kurang lebih 6 bulan mampu mencapai berat rata-rata 0,6. Intensifikasi dalam budidaya bandeng perlu dilakukan karena tingkat produktivitas bandeng dengan cara budidaya tradisional sangat rendah. Peningkatan teknis budidaya juga harus diikuti dengan penggunaan teknologi baru. PT. NATURAL NUSANTARA memberikan teknologi yang diperlukan dengan prinsip K-3 (Kuantitas, Kualitas dan Kesehatan).
Teknis Budidaya Bandeng Teknologi Nasa
I. Penyediaan Benih Bandeng
Usaha penyediaan benih (nener) secara kontinyu dengan mutu yang baik dilakukan dengan sistem pembenihan yang intensif pada kolam-kolam khusus, yaitu kolam pematangan induk, pemijahan, peneneran dan kolam pembsaran. Dalam pembenihan bandeng langkah yang dilakukan adalah :
1. Pemilihan induk yang unggul. Induk bandeng yang unggul akan menurunkan sifat-sifatnya kepada keturunannya, Ciri-ciri induk bandeng unggul :
  • bentuk normal, perbandingan panjang dan berat ideal.
  • ukuran kepala relatif kecil, diantara satu peranakan pertumbuhannya paling cepat.
  • susunan sisik teratur, licin, mengkilat, tidak ada luka.
  • gerakan lincah dan normal.
  • umur antara 4 5 tahun.
2. Merangsang pemijahan. Kematangan gonad dapat dipercepat dengan penggunaan hormone LHRH (Letuizing Hormon Releasing Hormon) melalui suntikan.
3. Memijahkan. Pemijahan adalah pencampuran induk jantan dan berina yang telah matang sel sperma dan sel telurnya agar terjadi pengeluaran (ejakulasi) kedua sel tersebut. Setelah berada di air, sel sperma akan membuahi sel telur karena sistem pembuahan ikan terjadi diluar tubuh. Pemijahan dilakukan pada kolam khusus pemijahan
4. Penetasan. Telur yang mengapung di kolam pemijahan menetas setelah 24 – 26 jam dari awal pemijahan. Telur yang telah menetas akan menjadi larva yang masih mempunyai cadangan makanan dari kuning telur induk, sehingga belum perlu diberi pakan hingga umur 2 hari.
5. Merawat benih. Setelah berumur 9 hari larva dipindahkan ke kolam pemeliharaan nener. Di kolam ini larva diberi pakan alami berupa plankton. Penumbuhan plankton dilakukan dengan pemupukan dan pengapuran. Pemupukan yang tepat adalah dengan TON Pupuk Tambak Organik yang mengandung berbagai unsur mineral penting untuk pertumbuhan plankton, diantaranya N,P,K,Mg, Ca, Mg, S, Cl dan lain-lain, juga dilengkapi dengan asam humat dan vulvat yang mempu memperbaiki tekstur dan meningkatkan kesuburan tanah dasar kolam dengan dosis 5 botol TON/ha atau 25 gr (2 sendok makan)/100 m2 pada tiap pemasukan air. Waktu peneneran 8 minggu. Pakan yang diberikan berupa tepung dengan kadar protein 30%. Untuk menambah nutrisi pakan pencampuiran pakan dengan VITERNA Plus dan POC NASA dengan dosis 2 – 5 /kg pakan sangat diperlukan, karena VITERNA Plus dan POC NASA mengandung unsur-unsur mineral penting yaitu N,P,K,Mg,Fe,Ca,S dan lain-lain, vitamin, protein dan lemak untuk meningkatkan pertumbuhan dan kesehatan nener.
II. Pembesaran Bandeng
Setelah dipelihara di kolam peneneran selama 8 minggu, bandeng dipindahkan ke kolam pembesaran. Teknis pembesaran bandeng meliputi beberapa hal, yaitu :
1. Persiapan lahan. Tahap ini dilakukan sebelum pemasukan air. kegiatan yang dilakukan selama persiapan lahan adalah :
  • Pencangkulan dan pembalikan tanah. Bertujuan untuk membebaskan senyawa dan gas beracun sisa budidaya hasil dekomposisi bahan organik baik dari pakan maupun dari kotoran. Selain itu dengan menjadi gemburnya tanah, aerasi akan berjalan dengan baik sehingga kesuburan lahan akan meningkat.
  • Pengapuran. Selama budidaya, ikan memerlukan kondisi keasaman yang stabil yaitu pada pH 7 – 8. Untuk mengembalikan keasaman tanah pada kondisi tersebut, dilakukan pengapuran karena penimbunan dan pembusukan bahan organik selama budidaya sebelumnya menurunkan pH tanah. Pengapuran juga menyebabkan bakteri dan jamur pembawa penyakit mati karena sulit dapat hidup pada pH tersebut. Pengapuran dengan kapur tohor, dolomit atau zeolit dengan dosis 1 TON /ha atau 10 kg/100 m2.
  • Pemupukan. Fungsi utama pemupukan adalah memberikan unsur hara yang diperlukan bagi pertumbuhan pakan alami, memperbaiki struktur tanah dan menghambat peresapan air pada tanah-tanah yang tidak kedap air (porous). Penggunaan TON untuk pemupukan tanah dasar kolam sangat tepat, karena TON yang mengandung unsur-unsur mineral penting, dan asam-asam organik utama memberikan bahan-bahan yang diperlukan untuk peningkatan kesuburan lahan dan pertumbuhan plankton. Dosis pemupukan TON adalah 5 botol/ha atau 25 gr/100 m2.
  • Pengelolaan air. setelah dilakukan pemupukan dengan TON, air dimasukkan hingga setinggi 10 – 20 cm kemudian dibiarkan beberapa hari, untuk menumbuhkan bibit-bibit plankton. Air dimasukkan hingga setinggi 80 cm atau menyesuaikan dengan kedalaman kolam.
2. Pemindahan nener. Setelah plankton tumbuh (warna air hijau) dan kecerahan sedalam 30 – 40 cm, nener di kolam peneneran dipindahkan ke kolam pembesaran dengan hati-hati dengan adaptasi terhadap lingkungan yang baru.
3. Pemberian Pakan. Sesuai dengan sifat bandeng yang termasuk hewan herbivore, maka ikan ini suka memakan tumbuh-tumbuhan yang ada di kolam. Tumbuhan yang disukai bandeng adalah lumut, ganggang dan klekap. Untuk mempercepat pertumbuhan, perlu pakan buatan pabrik, dengan standar nutrisi yang dibutuhkan untuk tumbuh optimal dengan kadar protein .minimal 25 – 28 %.
Sebagai hewan herbivora, unsur tumbuhan dalam pakan memang sangat penting,. Oleh karena itu, sebaiknya bahan baku unsur protein harus didominasi dari sumber tumbuhan atau nabati dari tepung kedelai atau bungkil kacang tanah. Sebagai acuan pemberian pakan adalah : Jumlah pakan 5 – 7% dari berat badan. Waktu pemberian 3 – 5 kali sehari.
Penambahan VITERNA Plus dan POC NASA pada pakan buatan merupakan pilihan yang tepat untuk meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan tubuh bandeng. VITERNA Plus dan POC NASA mengandung mineral-mineral penting, protein, lemak dan vitamin akan menambah kandungan nutrisi pakan. Dosis pencampuran VITERNA Plus dan POC NASA dengan pakan buatan adalah 2 – 5 cc/kg pakan dengan cara :
  1. Timbang pakan sesuai dengan kebutuhan bandeng.
  2. Basahi pakan dengan sedikit air agar pencampuran dengan VITERNA Plus dan POC NASA dapat merata.
  3. Campurkan VITERNA Plus dan POC NASA sesuai jumlah pakan yang diberikan dengan dosis 2 – 5 cc/kg pakan.
  4. Pakan siap untuk diberikan.
Pemberian pakan dengan menyebarkan secara merata pada seluruh areal kolam, agar seluruh bandeng dapat pakan.
III. Pengendalian hama dan Penyakit pada Bandeng
Penyakit penting yang sering menyerang bandeng adalah :
  • Pembusukan sirip, disebabkan oleh bakteri. Gejalanya sirip membusuk dari bagian tepi.
  • Vibriosis. Disebabkan oleh bakteri Vibriosis sp , gejalanya nafsu makan turun, pembusukan sirip, dan bagian perut bengkak oleh cairan.
  • Penyakit oleh Protozoa. Gejalanya nafsu makan hilang, mata buta, sisik terkelupas, insang rusak, banyak berlendir.
  • Penyakit oleh cacing renik. Sering disebabkan oleh cacing Diploctanum yang menyerang bagian insang sehingga menjadi pucat dan berlendir.
Penyakit dari bakteri, parasit dan jamur disebabkan lingkungan yang buruk, dan penurunan daya tahan tubuh ikan. Penurunan kualitas lingkungan disebabkan oleh tingginya timbunan bahan organik dan pencemaran lingkungan dari aliran sungai. Bahan organik dan kotoran akan membusuk dan manghasilkan gas-gas yang berbahaya. Ketahanan tubuh ikan ditentukan konsumsi nutrisinya. Maka cara pengendalian penyakit harus menitikberatkan pada kedua faktor tersebut. Untuk mengatasi penurunan kualitas lingkungan dapat dilakukan perlakuan TON dengan dosis 5 botol/ha atau 25 gr (2 sendok makan)/100 m2 yang mengandung unsur mineral dan asam-asam organik penting yang mampu menetralkan berbagai gas berbahaya hasil pembusukan kotoran dalam kolam dan unsur mineral akan menyuburkan plankton sebagai pakan alami. Untuk mencukupi kebutuhan nutrisi dalam jumlah yang ideal, perlu diberikan pakan dengan standar protein yang sesuai serta dengan penambahan/pencampuran VITERNA Plus dan POC NASA pada pakan buatan. VITERNA Plus dan POC NASA dengan kandungan mineral-mineral penting, vitamin, asam organic, protein dan lemak akan menambah dan melengkapi nutrisi pakan, sehingga ketahanan tubuh untuk hidup dan berkembang selalu tercukupi.
Itulah faktor-faktor penting dalam teknik budidaya bandeng persembahan PT Natural Nusantara dengan harapan mampu meningkatkan hasil panen dan ramah lingkungan.
Ditulis di Budidaya Ternak, Teknik Budidaya dan ditandai bandeng, ikan, perikanan, tambak oleh Teguh Nasa pada 9 Juni 2012.

Kamis, 08 Desember 2016

THINK GLOBALLY, ACT LOCALLY DALAM PENYULUHAN KELAUTAN DAN PERIKANAN



THINK GLOBALLY, ACT LOCALLY DALAM PENYULUHAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
17 Februari 2016 12:02


LANGKAT (17/2/2016) www.pusluh.kkp.go.id
Tidak bisa dipungkiri saat ini kita berada di era globalisasi. Era dimana tidak ada lagi batas antara ruang dan waktu. Globalisasi tidak hanya terjadi di negara kita saja tetapi di semua belahan dunia. Proses globalisasi tentu membawa dampak positif dan negatif yang berujung pada perilaku masyarakat sehingga kita harus cerdas memilih dampak yang ditimbulkan agar terhindar dari perilaku buruk. Perubahan perilaku masyarakat terbesar terjadi pada nilai-nilai dan gaya hidup. Saat ini telah terjadi pergeseran nilai-nilai kehidupan yang telah diwariskan oleh leluhur kita terdahulu. Rasa kekeluargaan dan gotong-royong akhir-akhir ini mulai memudar. Masyarakat cenderung hidup individualistis (siapa lu siapa gue) khususnya di kota-kota besar.
Globalisasi pada sektor perikanan menuntut pelaku usaha perikanan harus cepat menangkap semua informasi terkini yang bersifat positif. Informasi tersebut bisa dalam bentuk informasi harga ikan, pakan, cara budidaya ikan yang baik (CBIB), cara pembenihan ikan yang baik (CPIB), ISO, HACCP (Hazard Analysis And Critical Control Points) dalam manajemen mutu produk perikanan, Sustainable Development Goals (SDGs) dalam upaya pelestarian dan pemanfaatan samudera, laut dan kelautan untuk pembangunan berkelanjutan dan lain-lain.
Globalisasi menuntut setiap negara memiliki sumber daya manusia yang berkualitas sehingga menghasilkan produktivitas tinggi dan inovasi agar produk yang dihasilkan dapat bersaing dengan negara lain. Globalisasi tidak hanya merubah perilaku masyarakat tetapi juga membawa dampak luas pada berbagai bidang. Pada bidang ekonomi, perikanan Indonesia harus dapat bersaing dengan produk-produk perikanan dari negara lain. Pada bidang sosial, masyarakat perikanan Indonesia juga harus dapat bersosialisasi dengan masyarakat global. Pada bidang lingkungan usaha perikanan harus menjaga keberlanjutan sumber daya alam serta sumberdaya perikanan kelautan beserta dengan ekosistemnnya. Pada bidang teknologi, usaha perikanan Indonesia harus berdasarkan kode etik perikanan yang bertanggung jawab. Pada bidang hukum dan kelembagaan, produk perikanan Indonesia harus tunduk pada aturan – aturan internasional tentang bagaimana mengelola sumber daya supaya lestari, kalau tidak mau di tuduh melakukan IUU (Ilegal unregulated, and Unreported) fishing, termasuk di dalamnya pencurian ikan dan tangkapan yang tidak di laporkan. Hal ini seiring dengan telah diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asia (MEA) pada tahun 2016 ini.
Pemberlakuan pasar bebas ini menyiratkan pentingnya memiliki sumber daya manusia yang memiliki nilai saing tinggi. Ada sebuah ungkapan yang muncul di tengah arus globalisasi yaitu Think globally and act locally. Ungkapan sederhana namun kaya makna. Jika dikaitkan dengan globalisasi, ungkapan ini memiliki pengertian orang yang berpikir global namun dapat melakukannya dalam kegiatan-kegiatan sederhana dengan tidak melupakan budaya atau nilai-nilai asli.  Pelopor ungkapan ini sering dikaitkan dengan seorang perencana kota Skotlandia yang juga seorang aktivis sosial yaitu Patrick Geddes yang lebih menggunakan ungkapan itu dalam bidang lingkungan. Ungkapan ini cocok diterapkan dalam penyuluhan perikanan khususnya dalam menghadapi era global dimana kita sudah mulai meninggalkan nilai-nilai asli (positif) yang diwariskan pendahulu kita.
Masyarakat perikanan harus berpikir jauh ke depan untuk jadi pemenang di era global. Pelaku usaha dan pelaku utama perikanan tentu tidak ingin hanya menjadi penonton di negeri kita dengan sumber daya alam melimpah. Salah satu penerapan dari pemikiran tersebut adalah memiliki kecerdasan intelektual yang baik. Hal itu dapat kita peroleh dengan terus belajar dan up-grade pengetahuan tanpa mengenal usia. Mempelajari hal-hal baru seperti menguasai bahasa asing. Tak dapat dipungkiri bila penguasaan bahasa asing terutama bahasa inggris sebagai bahasa internasional merupakan salah satu keharusan mengingat di era global seperti sekarang kita akan berkomunikasi dengan banyak orang dari penjuru dunia yang menjadikan bahasa inggris sebagai alat komunikasi. Menguasai teknologi informasi juga salah satu aplikasi yang mesti kita terapkan. Alasannya, saat ini kita sudah memakai peralatan kerja atau peralatan lainnya yang telah memakai tenaga mesin atau sistem komputerisasi dan bersifat dinamis.
Disamping itu, rasa nasionalisme menjadi begitu penting di era global karena banyaknya budaya luar termasuk produk yang masuk sehingga kita tetap harus mengenal dan mencintai budaya dan produk buatan negeri sendiri. Sementara saat ini banyak masyarakat yang menerima begitu saja budaya luar tanpa menilai baik-buruknya. Sejalan dengan era globalisasi yang terus bergulir, aturan/norma/ kebudayaan yang baik harus tetap kita jaga dan pelihara supaya tidak terpengaruhi oleh dampak negatif arus globalisasi. Aturan-aturan sosial di masyarakat perikanan yang harus tetap kita jaga seperti larangan bagi nelayan untuk pergi melaut yaitu pada hari Jum’at dengan tujuan selain mengkhusukan waktu beribadah dan istirahat sekaligus juga untuk menjaga kondisi ekosistem perairan supaya tidak terkuras habis setiap  hari. Kebudayaan sasi di Maluku, awig-awig di Lombok Barat, panglima laut di Aceh dan berbagai kebudayaan dalam menjaga kelestarian sumberdaya perikanan di daerah lainnya. Beberapa aturan/norma/ kebudayaan di atas sudah mulai terkikis oleh waktu. Pelaku utama/ pelaku usaha perikanan tidak lagi mengindahkan aturan/norma/ kebudayaan yang telah diwariskan oleh para leluhur terdahulu karena terpengaruh oleh globalisasi. Penerapan lainnya yang tidak kalah penting adalah tidak meninggalkan ajaran agama karena ajaran agama akan menuntun kita untuk berbuat baik dan benar. Jika kita mampu menerapkan itu semua, mewujudkan pelaku utama/ pelaku usaha perikanan yang siap menghadapi era global semakin mudah.
Beberapa tindakan think globally and act locally dalam penyuluhan perikanan adalah :
§ Terus belajar dalam rangka meningkatkan kapasitas sumber daya manusia pelaku utama/ pelaku usaha perikanan yang memiliki nilai saing tinggi
§ Terus berkarya dan berinovasi dalam menumbuh kembangkan usaha perikanan dalam negeri dengan mengadopsi perkembangan global tanpa meninggalkan khasana lokal
§ Terus mempelajari hal-hal baru seperti menguasai bahasa asing dan teknologi informasi
§ Tetap mengenal dan mencintai aturan/norma/ kebudayaan yang baik negeri sendiri dalam menjaga kelestarian sumberdaya perikanan seperti sasi di Maluku, awig-awig di Lombok Barat, panglima laut di Aceh
§ Melakukan tindakan nyata yang sederhana seperti menanam mangrove di kawasan abrasi, erosi dan kawasan yang sudah mengalami alih fungsi lahan, tidak membuang sampah ke perairan dan tindakan-tindakan positif lainnya untuk menekan pemanasan global (global warming).
§ Terlibat langsung dalam sosialisasi stop penebangan hutan di kawasan pesisir, cara budidaya ikan yang baik, usaha penangkapan ikan yang bertanggung jawab/lestari dan cara pengolahan mutu hasil perikanan yang standar nasional/internasional.  
Aksi  think globally and act locally dalam penyuluhan perikanan di atas akan memberikan dampak positif bagi pengurangan kemiskinan, pelestarian dan pemanfaatan sumber daya perikanan kelautan untuk pembangunan berkelanjutan seperti yang tertuang dalam SDGs.

Kontributor :
Markus Sembiring,S.Pi.,M.I.L
Penyuluh Perikanan Muda
Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Langkat

Sabtu, 03 Desember 2016

FUNGSI DAN PERANAN HUTAN MANGROVE



FUNGSI DAN PERANAN HUTAN MANGROVE



TANAH BUMBU (24/3/2016) www.pusluh.kkp.go.id
Hutan mangrove (bakau) adalah tipe hutan yang khas terdapat di sepanjang pantai atau muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut.  Hutan mangrove ini sering juga disebut dengan hutan pantai, hutan pasang surut, hutan payau atau hutan bakau.  Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur dan ditemukan pada pantai-pantai teluk yang dangkal, estuaria, delta dan daerah pantai terlindung (Bengen, 1999).
Ada 4 (empat) cara untuk mengenal jenis mangrove antara lain bertanya kepada ahlinya, mencocokkan dengan herbarium yang telah diidentifikasi, membandingkan dengan gambar dan deskripsi yang terdapat pada literature dan menggunakan kunci identifikasi.
Menurut Noor et al (1999) di dalam Rachmad (2011), mangrove memiliki berbagai macam manfaat bagi kehidupan manusia dan lingkungan sekitarnya.  Bagi masyarakat pesisir, pemanfaatan mangrove untuk berbagai tujuan telah dilakukan sejak lama.  Akhir-akhir ini, peranan mangrove bagi lingkungan sekitarnya dirasakan sangat besar setelah berbagai dampak merugikan dirasakan di berbagai tempat akibat hilangnya mangrove. Secara umum, fungsi dan peranan hutan mangrove terhadap manusia dan lingkungannya dapat diuraikan sebagai berikut :
Melindungi pantai dari erosi dan abrasi
Melindungi pemukiman penduduk dari terpaan  badai dan angin dari laut
Mencegah intrusi air laut
Tempat hidup dan berkembang biak berbagai satwa liar seperti ikan, udang, kepiting, burung, monyet, dsb.
Memiliki potensi edukasi dan wisata
Mitigasi perubahan iklim melalui penyerapan co2 dari udara, dll.
Banyak bencana dan kerugian yang terjadi akibat rusak/hilangnya hutan bakau, seperti: abrasi pantai, intrusi air laut, banjir, hancurnya pemukiman penduduk diterpa badai laut, hilangnya sumber perikanan alami, hilangnya kemampuan dalam meredam emisi gas rumah kaca. Hal tersebut, umumnya disebabkan oleh :
Pengambilan/penebangan hutan bakau secara berlebihan
Pengalihfungsian hutan mangrove menjadi areal tambak, pemukiman ataupun pertanian dengan tidak memperhatikan asas konservasi dan berkesinambungan
Membiarkan wilayah pesisir tandus dan gersang tanpa adanya upaya penghijauan (misal dengan tanaman bakau)
Indonesia memiliki kawasan pesisir sangat luas yang ditumbuhi berbagai jenis tanaman pantai seperti hutan bakau (Indonesia merupakan negara tropis dengan hutan bakau terluas di dunia, sekitar 3,2 juta ha). Namun sangat disayangkan, sejak pertengahan tahun 1980-an, hampir sebagian besar kawasan pesisir di Indonesia telah mengalami kerusakan cukup parah terutama diakibatkan oleh pengalihfungsian hutan pantai menjadi lahan pertambakan dan peruntukan lainnya.
Untuk mengembalikan fungsi, manfaat serta jasa-jasa lingkungan ekosistem hutan bakau dan hutan pantai lainnya, diperlukan upaya-upaya rehabilitasi dan pengelolaan pesisir yang tepat dan benar, salah satunya adalah dengan menerapkan konsep tambak ramah lingkungan atau sering disebut sebagai budidaya tambak yang melestarikan bakau sebagai jalur hijau atau penanaman mangrove di tambak (silvofishery). Adapun manfaat yang akan diperoleh dari sistem ini antara lain sebagai berikut :
          Kontruksi pematang tambak menjadi lebih kuat karena akan terpegang akar-akar bakau;
Pejalan kaki akan nyaman berjalan di atas pematang karena dirimbuni tajuk tanaman bakau;
Daun bakau dapat digunakan sebagai makanan untuk ternak (khususnya, kambing), dan buahnya dapat dijadikan berbagai macam penganan manusia (seperti selai, kripik dll)
Bakau akan mengurangi dampak bencana alam seperti badai dan gelombang air pasang, sehingga kegiatan-kegiatan usaha maupun pemukiman disekitarnya dapat terselamatkan.
Keanekaragaman hayati akan meningkat (termasuk bibit ikan alam dan kepiting), yang akan meningkatkan juga pendapatan petani ikan;
Mencegah erosi pantai dan intrusi air laut ke darat, sehingga pemukiman dan sumber air tawar dapat terjaga dan dipertahankan;
Kualitas air tambak menjadi lebih baik, karena fungsi perakaran  bakau dapat ‘menyaring’ limbah padat dan mikroba yang terdapat pada lantai hutan bakau dan dapat mendekomposisi bahan organik yang berasal dari kegiatan budidaya maupun dari luar tambak;
Terciptanya sabuk hijau pesisir (coastal green belt) serta ikut mendukung program mitigasi dan adaptasi perubahan iklim global karena bakau akan mengikat (sequester) CO2 dari atmosfer dan melindungi kawasan pemukiman dari kecenderungan naiknya muka air laut;
Mengingat betapa pentingnya fungsi dan peranan mangrove bagi kehidupan manusia, maka alangkah lebih bijaknya jika jika seyogyanya memelihara, melindungi dan melestarikan hutan mangrove ini, dengan menjaga dan tidak menebangnya. 
Mari kita lestarikan Hutan Mangrove Kita…!!!

KONTRIBUTOR
Eko Prio Raharjo,S.Pi
Penyuluh Perikanan Kab. Tanah bumbu, Kalsel