Senin, 28 Agustus 2017

Ikan Lele Sehat dan Hemat Pakan Dengan Probiotik Alami

Ikan Lele Sehat dan Hemat Pakan Dengan Probiotik Alami


Budi daya ikan air tawar semakin digemari oleh para wirausahawan untuk menjadikannya sebagai ladang bisnis, termasuk ikan lele yang selalu dibutuhkan oleh masyarakat. Namun, salah satu tantangan budi daya lele adalah harga pakan yang terus meningkat, kenyataan dilapangan saat ini, pembudidaya memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap pakan pabrikan, kondisi ini dipicu oleh tidak adanya pakan alternatif yang dapat menggantikan pakan pabrikan.

Namun sekarang sudah ada beberapa pembudidaya lele yang menggunakan pakan buatan alami atau probiotik alami. Probiotik merupakan kumpulan mikroorganisme pendukung pertumbuhan dan kesehatan semua makhluk hidup. Sementara itu, organik berarti pencapaian kumpulan mikroorganisme tersebut dihasilkan dari bahan dasar alami, tanpa melibatkan unsur kimia. Indonesia memiliki kekayaan alam yang berlimpah sehingga seharusnya menjadi salah satu pengembangan produk probiotik. Probiotik organik merupakan teknologi penyeimbang lingkungan hidup yang paling aman.
Keunggulan yang di dapat pada sistem budi daya probiotik organik adalah biaya pakan pada budi daya lele dapat mencapai 60-70% dari keseluruhan total biaya produksi. Karena itu, setiap terjadi kenaikan harga pakan sangat mempengaruhi pembudidaya lele.
Cara Kerja Probiotik Organik
Probiotik bekerja dengan cara mengontrol perkembangan dan populasi mikroorganisme “jahat” sehingga menghasilkan lingkungan tumbuh yang optimal bagi mikroorganisme “baik”. Hingga akhirnya, mikroorganisme “baik” akan mendominasi dan membuat habitat yang nyaman bagi pertumbuhan makhluk hidup di lingkungan tersebut. Kandungan mikroorganisme yang terdapat dalam starterorganik probiotik miracle green diantaranya brachybacterium, basidiomycetes, dan lactobacillus. Lactobacillus sama seperti yang terdapat dalam salah satu produk minuman kesehatan, yang sangat berguna untuk membantu pencernaan, dalam tubuh pun ini sangat berguna membantu memperlancar serapan nutrisi yang dibutuhkan oleh tumbuhan. Lain halnya dengan brachybacterium, bakteri yang berfungsi untuk menetralisir segala jenis polutan dan kemampuannya yang luar biasa sehingga mampu mengangkat unsur logam berat. Basidiomycetes adalah jenis fungi atau jamur yang tidak merugikan bagi host yang ditumpanginya, jamur jenis ini justru membantu ekosistem lingkungan. Kehadiran dan perannya dalam mengolah nutrisi yang diperlukan dan menumbuhkan tunas serta stabilisasi tanah sangat mengagumkan.
Keuntungan Menggunakan Probiotik Organik Dalam Budidaya Ikan Lele
  • Kepadatan kolam lebih tinggi. Umumnya semakin tinggi kepadatan kolam, semakin lambat laju pertumbuhannya namun, dengan adanya tekhnologi probiotik organik, asupan pakan alami probiotik organik dan azolla microphilla membuat laju pertumbuhannya tetap tinggi dan kondisinya sehat, pakan tersebut memiliki kandungan asam amino esensial yang tinggi.
  • Serangan penyakit menurun dan kematian bibit rendah. Pemberian pakan berupa kombinasi pakan probiotik organik, azolla microphylla, dan nutrisi yang terdapat dalam air dapat menjaga ikan tetap sehat serta menurunkan tingkat kematian menjadi sangat rendah (2-3%, bahkan ada yang bisa dibawah 2%).
  • Lele yang dihasilkan lebih berkualitas. Beberapa keunggulannya adalah bobot lele lebih padat, kesat, kenyal, dan tidak ada penyusutan bobot dan selain itu daging lele lebih gurih dan tidak hancur saat di goreng.
  • Melestarikan dan menstabilkan lingkungan. Polusi air dapat terkurangi karena semua bahan pakan dan azolla microphylla berasal dari sumber alami yang juga dapat menyeimbangkan pH air.
Cara membuat Pakan Probiotik Organik
Bahan
  1. 10kg ubi jalar -1kgmentimun
  2. 10kg dedak -1sdt merica bubuk
  3. 3kg jagung giling -20gram jahe, temulawak dan lengkuas
  4. 10kg kepala ikan laut atau udang -5 siung bawang merah
  5. 1kg tomat
  6. 250ml starter probiotik organik miracle green
  7. 1/4 kg gula merah yang dicairkan dengan 500 cc air, dinginkan
Cara membuat
  1. Kukus ubi jalar, lalu dinginkan minimum 8jam, giling hingga halus
  2. Giling halus kepala ikan laut atau udang
  3. Ubi jalar yang telah di giling dengan dedak,jagung giling, dan kepala ikan atau udang campur hingga merata
  4. Hancurkan tomat dan mentimun dengan blender masukan kedalam wadah lalu tambah dengan starter probiotik organik miracle green dan gula merah yang telah dicairkan
  5. Masukan jahe,temulawak,lengkuas,bawang putih dan merica kedalam campura diatas, aduk hingga rata.
  6. Siram campuran tomat kecampuran dedak, lalu aduk hingga rata
  7. Simpan pada kontainer tertutup pada suhu ruang. Diamkan hingga maggot berkembang biak dalam jumlah banyak dan dewasa. Saat ini,pakan dan maggot siap diberikan sebagai pakan ikan lele.
(sumber: ekonomi.kompasiana.com)


Senin, 21 Agustus 2017

TEKNOLOGI PENGOLAHAN CRACKERS BANDENG

TEKNOLOGI PENGOLAHAN CRACKERS BANDENG






Crackers bandeng merupakan salah satu alternative cemilan kaya protein berbahan dasar terigu dan ikan bandeng, proses pengolahannya dicetak secara manual dan dipanggang. Produk ini dikonsumsi langsung sebagai cemilan. 


Bahan:
  
Lumatan daging ikan bandeng
60 g
Atau tepung ikan 15 g
  
Tepung terigu
210 g
  
Tepung tapioca
90 g
  
Margarin
45 g
  
Mentega putih
45 g
  
Susu bubuk
45 g
  
Gula halus
105 g
  
Garam
4,5 g
  
Minyak goring
30 g
(Ditimbang)
  
Fermipan/ragi kue
0,6 g
(dilarutkan dengan sedikit air hangat)
  
Soda kue bubuk
0,6 g
  
Vanili bubuk
0,2 g
(diaduk dengan daging ikan bandeng)
  
Air
± 90 ml
(ditambahkan hingga adonan kalis)

Bahan pengisi lapisan:
  
Tepung terigu
90 g
  
Margarin
30 g
  
Garam
1,2 g

Peralatan:
  
Mixer
  
Timbangan
  
Piring kecil
  
Sodet plastic
  
Penggiling
  
Platik lebar 1 meter
  
Loyang stainless steel
  
Kuas kecil
  
Oven

Cara pengolahan:
1.       Ikan bandeng dipisahkan dagingnya;
2.       Penimbangan bumbu-bumbu;
3.       Proses mixer margarin, mentega dan garam selama 5 menit;
4.       Campurkan daging ikan bandeng ke dalam adonan dan tambahkan vanili bubuk, tepung terigu, susu, soda kue, minyak goring, dan fermipan;
5.       Tambahkan air sedikit demi sedikit hingga adonan menjadi kalis;
6.       Diamkan dan tutup adonan dengan kain basah selama 30 menit;
7.       Siapkan bahan pengisi, tepung terigu margarin dan garam aduk hingga homogeny;
8.       Penipisan adonan dasar dengan alat penggiling;
9.       Pengisian setengah bahan dengan bahan pengisi. Ulangi pengisian sebanyak dua kali;
10.   Diamkan adonan selama 10 menit;
11.   Cetak dan bentuk adonan sesuai yang diinginkan;
12.   Panggang dengan suhu 1500 selama 7 menit, atau 1750 selama 5 menit, atau 2000 selama 3 menit;
13.   Crackers bandeng siap disajikan.

Skema pengolahan crackers bandeng:




Sumber: Balai Besar Pengujian Penerapan Hasil Perikanan (BBP2HP)

Senin, 14 Agustus 2017

MENGENAL ALAT TANGKAP PURSE SEINE

MENGENAL ALAT TANGKAP PURSE SEINE





PURSE SEINE

A. PENDAHULUAN
I. Definisi Purse Seine
Purse Seine disebut juga “pukat cincin” karena alat tangkap ini dilengkapi dengan cincin untuk mana “tali cincin” atau “tali kerut” di lalukan di dalamnya. Fungsi cincin dan tali kerut / tali kolor ini penting terutama pada waktu pengoperasian jaring. Sebab dengan adanya tali kerut tersebut jaring yang tadinya tidak berkantong akan terbentuk pada tiap akhir penangkapan.
Prinsip menangkap ikan dengan purse seine adalah dengan melingkari suatu gerombolan ikan dengan jaring, setelah itu jaring bagian bawah dikerucutkan, dengan demikian ikan-ikan terkumpul di bagian kantong. Dengan kata lain dengan memperkecil ruang lingkup gerak ikan. Ikan-ikan tidak dapat melarikan diri dan akhirnya tertangkap. Fungsi mata jaring dan jaring adalah sebagai dinding penghadang, dan bukan sebagai pengerat ikan.
Di Jepang purse seine dapat dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1.One Boat Horse Sardine Purse Seine
2.Two Boat Sardine Purse Seine
3.One Boat Horse Mackerel and Mackerel Purse Seine
4.Two Boat Horse Mackerel and Mackerel Purse Seine
5.One Boat Skipjack and Tuna Purse Seine
6.Two Boat skipjack and Tuna Purse Seine
Dari keenam macam purse seine di atas no (2), (3), (5) merupakan purse seine yang banyak digunakan.
Dalam paper ini akan dibahas purse seine dengan menggunakan 1 kapal.

II. SEJARAH PURSE SEINE
Purse seine, pertama kali diperkenalkan di pantai uatara Jawa oleh BPPL (LPPL) pada tahun 1970 dalam rangka kerjasama dengan pengusaha perikanan di Batang (Bpk. Djajuri) dan berhasil dengan baik. Kemudian diaplikasikan di Muncar (1973 / 1974) dan berkembang pesat sampai sekarang. Pada awal pengembangannya di Muncar sempat menimbulakan konflik sosial antara nelayan tradisional nelayan pengusaha yang menggunakan purse seine. Namun akhirnya dapat diterima juga. Purse seine ini memang potensial dan produktivitas hasil tangkapannya tinggi. Dalam perkembangannya terus mengalami penyempurnaan tidak hanya bentuk (kontruksi) tetapi juga bahan dan perahu / kapal yang digunakan untuk usaha perikanannya.

III. PROSPEKTIF PURSE SEINE

Pentingnya pukat cincin dalam rangka usaha penangkapan sudah tidak perlu diragukan untuk pukat cincin besar daerah penangkapannya sudah menjangkau tempat-tempat yang jauh yang kadang melakukan penangkapan mulai laut Jawa sampai selat Malaka dalam 1 trip penangkapan lamanya 30-40 hari diperlukan berkisar antara 23-40 orang. Untuk operasi penangkapannya biasanya menggunakan “rumpon”. Sasaran penangkapan terutama jenis-jenis ikan pelagik kecil (kembung, layang, selat, bentong, dan lain-lain).
Hasil tangkapan terutama lemuru, kembung, slengseng, cumi-cumi.
1. Karakteristik
Dengan menggunakan one boat sistem cara operasi menjadi lebih mudah. Pada operasi malam hari lebih mungkin menggunakan lampu untuk mengumpulkan ikan pada one boat sistem. Dengan one boat sistem memungkinkan pemakaian kapal lebih besar, dengan demikian area operasi menjadi lebih luas dan HP akan lebih besar, yang menyebabkan kecepatan melingkari gerombolan ikan juga akan lebih besar. Oleh sebab itu dapat dikatakan tipe one boat akan lebih ekonomis dan efisien jika kapal mekaniser, karena dengan menggunakan sistem mekaniser pekerjaan menarik jaring, mengangkat jaring, mengangkat ikan dll pekerjaan di dek menjadi lebih mudah.
5. Bahan dan Spesifikasinya

Bagian jaring
Nama bagian jaring ini belum mantap tapi ada yang membagi 2 yaitu “bagian tengah” dan “jampang”. Namun yang jelas ia terdiri dari 3 bagian yaitu:
1.jaring utama, bahan nilon 210 D/9 #1”
2.jaring sayap, bahan dari nilon 210 D/6 #1”
3.jaring kantong, #3/4”
srampatan (selvedge), dipasang pada bagian pinggiran jaring yang fungsinya untuk memperkuat jaring pada waktu dioperasikan terutama pada waktu penarikan jaring. Bagian ini langsung dihubungkan dengan tali temali. Srampatan (selvedge) dipasang pada bagian atas, bawah, dan samping dengan bahan dan ukuran mata yang sama, yakni PE 380 (12, #1”). Sebanyak 20,25 dan 20 mata.
Tali temali
tali pelampung.
Bahan PE Ø 10mm, panjang 420m.
tali ris atas.
Bahan PE Ø 6mm dan 8mm, panjang 420m.
tali ris bawah.
Bahan PE Ø 6mm dan 8mm, panjang 450m.
tali pemberat.
Bahan PE Ø 10mm, panjang 450m.
tali kolor bahan.
Bahan kuralon Ø 26mm, panjang 500m.
tali slambar
bahan PE Ø 27mm, panjang bagian kanan 38m dan kiri 15m

Pelampung
Ada 2 pelampung dengan 2 bahan yang sama yakni synthetic rubber. Pelampung Y-50 dipasang dipinggir kiri dan kanan 600 buah dan pelampung Y-80 dipasang di tengah sebanyak 400 buah. Pelampung yang dipasang di bagian tengah lebih rapat dibanding dengan bagian pinggir.
Pemberat
Terbuat dari timah hitam sebanyak 700 buah dipasang pada tali pemberat.
Cincin
Terbuat dari besi dengan diameter lubang 11,5cm, digantungkan pada tali pemberat dengan seutas tali yang panjangnya 1m dengan jarak 3m setiap cincin. Kedalam cincin ini dilakukan tali kolor (purse line).

B. Hasil Tangkapan
Ikan yang menjadi tujuan utama penangkapan dari purse seine adalah ikan-ikan yang “Pelagic Shoaling Species”, yang berarti ikan-ikan tersebut haruslah membentuk shoal (gerombolan), berada dekat dengan permukaan air (sea surface) dan sangatlah diharapkan pula agar densitas shoal itu tinggi, yang berarti jarak antara ikan dangan ikan lainnya haruslah sedekat mungkin. Dengan kata lain dapat juga dikatakan per satuan volume hendaklah jumlah individu ikan sebanyak mungkin. Hal ini dapat dipikirkan sehubungan dengan volume yang terbentuk oleh jaring (panjang dan lebar) yang dipergunakan.

Jenis ikan yang ditangkap dengan purse seine terutama di daerah Jawa dan sekitarnya adalah : Layang (Decapterus spp), bentang, kembung (Rastrehinger spp) lemuru (Sardinella spp), slengseng, cumi-cumi dll.

C. Daerah Penangkapan
Purse seine dapat digunakan dari fishing ground dengan kondisi sebagai berikut :
1)A spring layer of water temperature adalah areal permukaan dari laut
2)Jumlah ikan berlimpah dan bergerombol pada area permukaan air
3)Kondisi laut bagus

Purse seine banyak digunakan di pantai utara Jawa / Jakarta, cirebon, Juwana dan pantai Selatan (Cilacap, Prigi, dll).
D. Alat Bantu Penangkapan
I. Lampu
Fungsi lampu untuk penangkapan adalah untuk mengumpulkan kawanan ikan kemudian dilakukan operasi penangkapan dengan menggunakan berbagai alat tangkap, seperti purse seine.Jenis lampu yang digunakan bermacam-macam, seperti oncor (obor), petromaks, lampu listrik (penggunaannya masih sangat terbatas hanya untuk usaha penangkapan sebagian dari perikanan industri).

Ikan-ikan itu tertarik oleh cahaya lampu kiranya tidak terlalu dipermasalahkan sebab adalah sudah menjadi anggapan bahwa hampir semua organisme hidup termasuk ikan yang media hidupnya itu air terangsang (tertarik) oleh sinar / cahaya (phototaxis positif) dan karena itu mereka selalu berusaha mendekati asal / sumber cahaya dan berkumpul disekitarnya.

II. Rumpon
Rumpon merupakan suatu bangunan (benda) menyerupai pepohonan yang dipasang (ditanam) di suatu tempat ditengah laut. Pada prinsipnya rumpon terdiri dari empat komponen utama, yaitu : pelampung (float), tali panjang (rope) dan atraktor (pemikat) dan pemberat (sinkers / anchor).
Rumpon umumnya dipasang (ditanam) pada kedalaman 30-75 m. Setelah dipasang kedudukan rumpon ada yang diangkat-angkat, tetapi ada juga yang bersifat tetap tergantung pemberat yang digunakan.
Dalam praktek penggunaan rumpon yang mudah diangkat-angkat itu diatur sedemikian rupa setelah purse seine dilingkarkan, maka pada waktu menjelang akhir penangkapan, rumpon secara keseluruhan diangkat dari permukaan air dengan bantuan perahu penggerak (skoci, jukung, canoes)

Untuk rumpon tetap atau rumpon dengan ukuran besar, tidak perlu diangkat sehingga untuk memudahkan penangkapan dibuat rumpon mini yang disebut “pranggoan” (jatim) atau “leret” (Sumut, Sumtim). Pada waktu penangkapan mulai diatur begitu rupa, diusahakan agar ikan-ikan berkumpul disekitar rumpon dipindahkan atau distimulasikan ke rumpon mini. Caranya ada beberapa macam misalnya dengan menggiring dengan menggerak-gerakkan rumpon induk dari atas perahu melalui pelampung-pelampungnya. Cara lain yang ditempuh yaitu seakan-akan meniadakan rumpon induk untuk sementara waktu dengan cara menenggelamkan rumpon induk atau mengangkat separo dari rumpo yang diberi daun nyiur ke atas permukaan air. Terjadilah sekarang ikan-ikan yang semula berkumpul di sekitar rumpon pindah beralih ke rumpon mini dan disini dilakukan penangkapan.

Sementara itu bisa juga digunakan tanpa sama sekali mengubah kedudukan rumpon yaitu dengan cara mengikatkan tali slambar yang terdapat di salah satu kaki jaring pada pelampung rumpon, sedang ujung tali slambar lainnya ditarik melingkar di depan rumpon. Menjelang akhir penangkapan satu dua orang nelayan terjun kedalam air untuk mengusir ikan-ikan di sekitar rumpon masuk ke kantong jaring. Cara yang hampir serupa juga dapat dilakukan yaitu setelah jaring dilingkarkan di depan rumpon maka menjelang akhir penangkapan ikan-ikan di dekat rumpon di halau engan menggunakan galah dari satu sisi perahu.

E. Teknik Penangkapan (Sitting dan Moulting)
Pada umumnya jaring dipasang dari bagian belakang kapal (buritan) sungguhpun ada juga yang menggunakan samping kapal. Urutan operasi dapat digambarkan sebagai berikut :

a) Pertama-tama haruslah diketemukan gerombolan ikan terlebih dahulu. Ini dapat dilakukan berdasarkan pengalaman-pengalaman, seperti adanya perubahan warna permukaan air laut karena gerombolan ikan berenang dekat dengan permukaan air, ikan-ikan yang melompat di permukaan terlihat riak-riak kecil karena gerombolan ikan berenang dekat permukaan. Buih-buih di permukaan laut akibat udara-udara yang dikeluarkan ikan, burung-burung yang menukik dan menyambar-nyambar permukaan laut dan sebagainya. Hal-hal tersebut diatas biasanya terjadi pada dini hari sebelum matahari keluar atau senja hari setelah matahari terbenam disaat-saat mana gerombolan ikan-ikan teraktif untuk naik ke permukaan laut. Tetapi dewasa ini dengan adanya berbagai alat bantu (fish finder, dll) waktu operasipun tidak lagi terbatas pada dini hari atau senja hari, siang haripun jika gerombolan ikan diketemukan segera jaring dipasang.

b) Pada operasi malam hari, mengumpulkan / menaikkan ikan ke permukaan laut dilakukan dengan menggunakan cahaya. Biasanya dengan fish finder bisa diketahui depth dari gerombolan ikan, juga besar dan densitasnya. Setelah posisi ini tertentu barulah lampu dinyalakan (ligth intesity) yang digunakan berbeda-beda tergantung pada besarnya kapal, kapasitas sumber cahaya. Juga pada sifat phototxisnya ikan yang menjadi tujuan penangkapan.
c) Setelah fishing shoal diketemukan perlu diketahui pula swimming direction, swimming speed, density ; hal-hal ini perlu dipertimbangkan lalu diperhitungkan pula arah, kekuatan, kecepatan angin, dan arus, sesudah hal-hal diatas diperhitungkan barulah jaring dipasang. Penentuan keputusan ini harus dengan cepat, mengingat bahwa ikan yang menjadi tujuan terus dalam keadaan bergerak, baik oleh kehendaknya sendiri maupun akibat dari bunyi-bunyi kapal, jaring yang dijatuhkan dan lain sebagainya. Tidak boleh luput pula dari perhitungan ialah keadaan dasar perairan, dengan dugaan bahwa ikan-ikan yang terkepung berusaha melarikan diri mencari tempat aman (pada umumnya tempat dengan depth yang lebih besar) yang dengan demikian arah perentangan jaring harus pula menghadang ikan-ikan yang terkepung dalam keadaan kemungkinan ikan-ikan tersebut melarikan diri ke depth lebih dalam. Dalam waktu melingkari gerombolan ikan kapal dijalankan cepat dengan tujuan supaya gerombolan ikan segera terkepung. Setelah selesai mulailah purse seine ditarik yang dengan demikian bagian bawah jaring akan tertutup. Melingkari gerombolan ikan dengan jaring adalah dengan tujuan supaya ikan-ikan jangan dapat melarikan diri dalam arah horisontal. Sedang dengan menarik purse line adalah untuk mencegah ikan-ikan supaya ikan-ikan jangan dapat melarikan diri ke bawah. Antara dua tepi jaring sering tidak dapat tertutup rapat, sehingga memungkinkan menjadi tempat ikan untuk melarikan diri. Untuk mencegah hal ini, dipakailah galah, memukul-mukul permukaan air dan lain sebagainya. Setelah purse line selesai ditarik, barulah float line serta tubuh jaring (wing) dan ikan-ikan yang terkumpul diserok / disedot ke atas kapal.


F. Hal-hal yang Mempengaruhi Keberhasilan Penangkapan
1. Kecerahan Perairan
Transparasi air penting diketahui untuk menentukan kekuatan atau banyak sedikit lampu. Jika kecerahan kecil berarti banyak zat-zat atau partikel-partikel yang menyebar di dalam air, maka sebagian besar pembiasan cahaya akan habis tertahan (diserap) oleh zat-zat tersebut, dan akhirnya tidak akan menarik perhatian atau memberi efek pada ikan yang ada yang letaknya agak berjauhan.

2. Adanya gelombang
Angin dan arus angin. Arus kuat dan gelombang besar jelas akan mempengaruhi kedudukan lampu. Justru adanya faktor-faktor tersebut yang akan merubah sinar-sinar yang semula lurus menjadi bengkok, sinar yang terang menjadi berubah-ubah dan akhirnya menimbulkan sinar yang menakutkan ikan (flickering light). Makin besar gelombang makin besar pula flickering lightnyadan makin besar hilangnya efisiensi sebagai daya penarik perhatian ikan-ikanmaupun biota lainnya menjadi lebih besar karena ketakutan. Untuk mengatasi masalah ini diperlukan penggunaan lampu yang kontruksinya disempurnakan sedemikian rupa, misalnya dengan memberi reflektor dan kap (tudung) yang baik atau dengan menempatkan under water lamp.

3. Sinar Bulan
Pada waktu purnama sukar sekali untuk diadakan penangkapan dengan menggunakan lampu (ligth fishing) karena cahaya terbagi rata, sedang untuk penangkapan dengan lampu diperlukan keadaan gelap agar cahaya ;ampu terbias sempurna ke dalam air.

4. Musim
Untuk daerah tertentu bentuk teluk dapatmemberikan dampak positif untuk penangkapan yang menggunakan lampu, misalnya terhadap pengaruh gelombang besar, angin dan arus kuat. Penangkapan dengan lampu dapat dilakukan di daerah mana saja maupun setiap musim asalkan angin dan gelombang tidak begitu kuat.

5. Ikan dan Binatang Buas
Walaupun semua ikan pada prinsipnya tertarik oleh cahay lampu, namun umumnya lebih didominasi oleh ikan-ikan kecil. Jenis-jenis ikan besar (pemangsa) umumnya berada di lapisan yang lebih dalam sedang binatang-binatang lain seperti ular laut, lumba-lumba berada di tempat-tempat gelap mengelilingi kawanan-kawanan ikan-ikan kecil tersebut. Binatang-binatang tersebut sebentar-sebentar menyerbu (menyerang) ikan-ikan yang bekerumun di bawah lampu dan akhirnya mencerai beraikan kawanan ikan yang akan ditangkap.
6. Panjang dan Kedalaman Jaring
Untuk purse seine yang beroperasi dengan satu kapal digunakan jaring yang tidak terlalu panjang tetapi agak dalam karena gerombolan ikan di bawah lampu tidak bergerak terlalu menyebar . jaring harus cukup dalam untuk menangkap gerombolan ikan mulai permukaan sampai area yang cukup dalam di bawah lampu.
7. Kecepatan kapal pada waktu melingkari gerombolan ikan
Jika kapal dijalankan cepat maka gerombolan ikan dapat segera terkepung.
8. Kecepatan Menarik Purse Line
Purse line harus ditarik cepat agar ikan jangan sampai melarikan diri ke bawah.


DAFTAR PUSTAKA
Au. Ayodya. DASEN FAKULTAS PERIKANAN. Cetakan Pertama. Penerbit :Yayasan Dewi Sri. IPB. Bogor.
Waluyo Subani dan H.R Barus.1989.ALAT PENANGKAPAN IKAN DAN UDANG LAUT DI INDONESIA. Balai Penelitian Perikanan Laut. Jakarta.
WWW. MAINE AQUARIUM.COM
WWW.FISHERIES.COM
Email : afiq_mbo@yahoo.com
Sumber: PERIKANAN


Rabu, 19 Juli 2017

PENETASAN TELUR DAN PENEBARAN LARVA PADA PEMBENIHAN IKAN KERAPU


Sama seperti penanganan telur ikan lainnya, penangan telur ikan kerapu juga sangat penting dilakukan sebelum penebaran telur. Telur yang didapat dari panti benih dimasukkan dalam wadah penetasan telur yang diaerasi.  Wadah penetasan telur dapat berupa akuarium atau fiber glass yang berbentuk persegi atau bundar.  Sebelum telur dimasukan ke dalam wadah penetasan sebaiknya dilakukan aklimasi suhu dan salinitas.  Aklimasi sangat penting untuk dilakukan karena telur ikan kerapu sangat sensitif terhadap suhu dan salinitas.  Oleh karena itu sebelum kantong plastik dibuka, kontong plastik yang berisi telur di wadah penetasan telur selama 15-30 menit.  Indikasi suhu air dalam kantong plastik dan suhu air dalam wadah penetasan adalah terjadi pengembunan dalam kantong plastik yang dengan mudah dapat diamati.  Selanjutnya kantong plastik dapat dibuka dan salinitasnya diukur dengan mengunakan refraktometer.
Telur dapat dimasukkan ke dalam wadah penetasan jika salinitas kedua air laut tersebut sama.  Dalam memasukkan telur ke wadah penetasan, harus dilakukan dengan hati-hati dan secara perlahan-lahan baik dengan menuangkan langsung atau dengan menggunakan gayung.  Hal ini dilakukan agar tidak terjadi benturan fisik yang menyebabkan telur menjadi rusak. Setelah itu aerasi dipasang, setelah teraduk sempurna telur dihitung dengan cara sampling. 
Untuk memisahkan telur yang baik dan buruk, telur didiamkan selama 5-10 menit tanpa aerasi.  Telur yang baik berwarna transparan dan akan mengapung di permukaan air, sedangkan telur yang buruk akan mengendap di dasar wadah.  Telur yang mengendap dibuang melalui penyiponan atau membuka kran yang ada di dasar wadah . Telur yang dibuang ditampung dalam ember yang selanjutnya dihitung jumlahnya dengan cara sampling. 
Pembuangan telur yang buruk dilakukan agar telur yang buruk tidak merusak media penetasan telur.  Selanjutnya telur diaerasi, agar telur teraduk secara sempurna.   Pada suhu 29-30oC telur umumnya akan menetas 16-19 jam setelah ovulasi.  Penghitungan jumlah larva dapat dilakukan dengan cara sampling larva dan perhitungannya sama seperti pada perhitungan telur. 
Setelah semua larva menetas maka aerasi dihentikan untuk memisahkan larva yang baik dan buruk.  Sama seperti telur, larva yang baik akan berenang di permukaan sedangkan larva yang buruk akan tetap di dasar wadah.  Larva yang buruk, telur yang tidak menetas dan cangkang telur yang ada di dasar disipon dan dibuang.  Selanjutnya larva yang menetas ditebar ke bak pemeliharaan larva.  Dalam menebar larva dilakukan dengan hati-hati dan perlahan-lahan dengan menggunakan gayung dengan tujuan agar larva tidak stres. Larva ditebar dengan kepadatan 15-20 ekor/l.

Perhitungan persentase telur yang baik dan daya tetas telur sangat penting untuk mengetahui kualitas telur yang didapat.  Pada umumnya jika persentasi jumlah telur yang buruk dan daya tetas larva lebih besar dari 40%  maka kualitas telur dapat dikatakan buruk ini akan berpengaruh terhadap kondisi larva.  Pemeliharaan larva sebaiknya tidak dilanjutkan jika kualitas telur kurang baik.  Hal ini dikarenakan akan timbul banyak permasalahan dalam pemeliharaan larva dan kelangsungan hidup larva akan rendah.

SUMBER:
Sumantadinata K., 2003.  Modul Pemeliharaan Larva sampai Benih Ikan Kerapu Bebek. Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta.

REFERENSI:
Randall, J.E. 1987.  A Preliminary Synopsis of the Groupers (Perciformes, Serranidae, Epinephelinae) of the Indo Pasific Region. In Polovina J.J and S. Ralston (Eds.): Tropical Snapper and Groupers, Biology and Fisheries Management.  Westview Press. Inc.  London. 
Subyakto, S. dan S. Cahyaningsih.  2003.  Pembenihan Kerapu Skala Rumah Tangga.  PT Agromedia Pustaka, Depok.

Sunyoto, P. dan Mustahal. 2002. Pembenihan Ikan Laut Ekonomis: Kerapu, Kakap, Beronang. Penebar Swadaya, Jakarta.

Selasa, 04 Juli 2017

MEMANFAATKAN PETA PRAKIRAAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN

MEMANFAATKAN PETA PRAKIRAAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN

Saatnya Menjadi Nelayan Penangkap Ikan Tuna & Cakalang, Bukan “ Pencari” Tuna & Cakalang

Peta Prakiraan Daerah Penangkapan Ikan (PPDPI) merupakan salah satu produk nyata Balai Penelitian dan Observasi Laut (BPOL) Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk masyarakat nelayan di Indonesia.  PPDPI telah dibuat dan didistribusikan sejak tahun 2000, saat itu masih dilakukan langsung oleh Badan Riset Kelautan dan Perikanan. Dari awal diproduksi hingga saat ini, PPDPI terus mengalami perkembangan dan perbaikan.
PPDPI itu sendiri adalah salah satu produk peta tematik kelautan yang memanfaatkan penggabungan data-data parameter oseanografi (suhu permukaan laut, produktivitas primer, ketinggian permukaan laut, arus, salinitas) baik data dari satelit oseanografi maupun data-data pada stasiun pengamatan untuk menganalisa daerah potensi penangkapan ikan. Hal ini didukung oleh tersedianya fasilitas data-data satelit oseanografi yang bebas penggunaan dan bersifat near real time. Dan sebagai tambahan, data pengamatan lapangan dan prediksi seperti data-data meteorologi (kecepatan angin, arah angin, gelombang laut) oleh Instansi seperti Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Pembuatan peta dapat dilakukan secara rutin karena akses data utama yang near real time salah satunya pada citra Satelit Terra dan Aqua (MODIS/ Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) oleh Instansi NASA melalui url berikut(http://oceancolor.gsfc.nasa.gov/modis/). Pembuatan peta ini berdasarkan informasi yang didapat dari data oceancolor dari MODIS, data suhu permukaan laut dari sensor advance very high resolution radiometer (avhrr), suhu permukaan laut dari sensor amsr and tmi, ketinggian permukaan laut, klorofil-a, dan kecepatan ketinggian permukaan laut serta data arah dan kecepatan angin dan gelombang laut. Berdasarkan informasi-informasi dari data tersebut, dapat diinterpretasikan menjadi daerah penangkapan ikan dan daerah yang berpotensi menjadi daerah penangkapan ikan. Selanjutnya informasi daerah penangkapan ikan dan daerah yang berpotensi menjadi daerah penangkapan ikan tersebut dikemas menjadi suatu bentuk peta yang lengkap dengan atribut-atributnya, sehingga memudahkan penggunaannya (BROK-DKP, 2007).
Penggunaan parameter oseanografi untuk menduga keberadaan gerombolan ikan sebenarnya bukan merupakan sesuatu yang baru dalam penginderajaan jarak jauh (ideraja).  Beberapa Negara maju seperti Jepang dan Kanada telah lama menggunakannya.  Misalkan saja Jepang, pada dekade tahun 1990-an pemerintah Jepang melalui lembaga terkait telah mengekspose informasi sebaran suhu permukaan laut kepada khalayak ramai melalui surat kabar harian, lengkap dengan letak posisi lintang dan bujurnya. 
Informasi tersebut tentu saja sangat berharga bagi Nelayan di Jepang.  Dari data sebaran suhu permukaan laut, nelayan Jepang dapat menentukan posisi daerah penangkapan ikan.  Hal ini dikarenakan mereka  sudah terbiasa dan menghafal betul kisaran suhu optimum yang disukai Tuna dan Cakalang.  Kondisi ini sangat berbeda dengan Nelayan di Indonesia dimana untuk mengetahui keberadaan gerombolan Tuna dan Cakalang, terlebih dahulu harus mencarinya melalui tanda-tanda alam berupa adanya burung yang terbang menukik di permukaan laut, adanya batang kayu yang hanyut, adanya sekumpulan ikan lumba-lumba dan tanda-tanda alam lainnya.  Cara yang sudah agak lebih maju lagi yaitu dengan menggunakan rumpon laut dalam, namun tentu saja tidak selamanya suatu rumpon akan terus didatangi oleh gerombolan ikan karena keberadaan rumpon-rumpon tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan perairan dimana rumpon itu berada.
Di Indonesia, teknologi inderaja untuk menentukan daerah penangkapan ikan  baru berkembang setelah Presiden Kyai Haji Abdurrahman Wahid membentuk Departemen Eksplorasi Laut.  Hadirnya departemen ini memberikan dampak yang luas dalam kegiatan-kegiatan penelitian di bidang kemaritiman.  Pada masa Orde Baru, bidang perikanan laut merupakan bagian dari Departemen Pertanian sehingga kegiatan penelitian masih terbatas dan tentunya porsi anggaran yang dialokasikan relative kecil karena terbagi dengan bidang-bidang lainnya. Seiring  dengan perkembangan waktu dan tiada henti-hentinya melakukan perbaikan-perbaikan, institusi ini berhasil membuat Peta Prakiraan Daerah Penangkapan Ikan yang tadinya berlaku selama seminggu kini menjadi dua hari.  Suatu kemajuan yang cukup luar biasa dan patut diapresiasi walaupun prakiraan ini belum menyamai atau sejajar dengan kemajuan Negara Jepang yang sebelumnya telah berhasil melakukan pendugaan daerah penangkapan ikan yang berlaku secara harian.
Cara Mengakses Peta PDPI, Global Positioning System (GPS) dan Alat-Alat Tambahan

Didalam Peta PDPI terkandung informasi koordinat lintang bujur daerah yang diduga sebagai daerah penangkapan ikan dan daerah yang diduga berpotensi sebagai daerah penangkapan ikan. Informasi Peta PDPI dapat diperoleh/diakses secara gratis melalui internet dari website Kementerian Kelautan dan Perikanan www.kkp.go.id.  Setelah website-nya dibuka, para pengguna tinggal memilih (klik) konten Aplikasi Tematik KKP yang didalamnya terdapat beberapa aplikasi tematik termasuk  Peta PDPI.  Selanjutnya, para pengguna bisa langsung memilih  daerah penangkapan yang diinginkan.
Dewasa ini, kemajuan teknologi di bidang informasi dan komunikasi mempermudah masyarakat dalam berkomunikasi dan mengakses berbagai informasi. Demikian halnya dalam penggunaan internet, asalkan saja sudah memiliki jaringan telepon seluler, masyarakat di pedesaan pun dapat mengakses informasi melalui Hand Phone (HP) yang memiliki fasilitas internet.  Ini berarti semakin mudahnya informasi Peta Prakiraan Daerah Penangkapan Ikan (PPDPI) itu dapat diakses oleh  Nelayan, di samping tidak harus mengeluarkan biaya yang mahal (murah) untuk mendapatkan informasi tersebut.  Jika di suatu daerah belum bisa mengakses internet, maka dapat meminta bantuan kepada teman, kerabat maupun keluarga yang berada di tempat lain untuk mencari informasi peta PDPI melalui internet.  Hanya dengan memberitahukan posisi lintang dan bujur kepada Nelayan, maka letak daerah penangkapan dapat diketahui.
Berbicara tentang posisi lintang dan bujur, tidak terlepas dari alat navigasi yang digunakan oleh Nelayan. Jika menggunakan Global Positioning System (GPS) maka titik lintang dan bujur daerah penangkapan ikan bisa diperoleh secara akurat. Berbeda dengan kompas manual, posisi lintang dan bujur cenderung mengalami selisih   + 2 mil laut dari titik yang sebenarnya (pengalaman penulis). 
 Pada penangkapan ikan yang berskala besar, biasanya digunakan juga alat bantu penangkapan ikan, seperti fish finder (teknologi akustik kelautan untuk mendeteksi besarnya gerombolan ikan pada lokasi yang ditunjukkan pada peta zona potensi ikan) dan fishery sonar (fungsi sama dengan fish finder tetapi kualitasnya lebih tinggi terutama luasan sudut deteksinya yang mencapai 180 derajat sedangkan fish finder hanya 7-15 derajat), nelayan dapat berputar pada radius tertentu di sekitar titik tersebut untuk memonitor persebaran ikan dan menangkap ikan. 

Di akhir tulisan ini, penulis ingin mengajak para pelaku utama, terutama Nelayan tradisional yang ada di Maluku untuk mencoba memanfaatkan Peta Prakiraan Daerah Penangkapan Ikan (Peta PDPI) dalam melakukan kegiatan penangkapan Tuna dan Cakalang sehingga predikat Nelayan Penangkap Ikan benar-benar adanya, bukan sebagai Nelayan Pencari ikan.  Selain itu, tentu saja bukan hanya ingin menghilangkan predikat di atas, akan tetapi dengan mengetahui posisi daerah penangkapan ikan melalui Peta PDPI, Nelayan dapat menghemat waktu dan Bahan Bakar Minyak (BBM) sehingga akan mengurangi biaya operasional penangkapan ikan …