Selasa, 06 Februari 2018

MENILAI KEBERLANJUTAN PERIKANAN TANGKAP BERDASARARKAN KODE ETIK PERIKANAN YANG BERTANGGUNG



MENILAI KEBERLANJUTAN PERIKANAN TANGKAP BERDASARARKAN KODE ETIK PERIKANAN YANG BERTANGGUNG
3 Februari 2016 07:52

LANGKAT (3/2/2016) www.pusluh.kkp.go.id
Indonesia sebagai negara kepulauan yang sebagian besar wilayahnya terdiri dari laut, memiliki potensi perikanan yang sangat besar dan beragam (UU No.45/2009). Potensi perikanan yang dimiliki merupakan sumber pendapatan negara disamping menjadi sumber mata pencaharian sebagian besar masyarakat di kawasan pantai terutama nelayan (Hermawan, 2006). Hal ini dapat dilihat dari sumbangan sektor perikanan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sebesar Rp.148,16 triliun atau memberikan kontribusi 3,14% pada tahun 2010 (Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2011). Selain itu, produk perikanan yang merupakan bahan makanan penting masyarakat pada umumnya, konsumsi domestiknya terus mengalami peningkatan sebesar 8,87% pertahun dari tahun 2007-2011 (Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2011). Atas dasar inilah perikanan perlu dipertahankan keberlanjutannya.
Perikanan tangkap yang merupakan usaha menangkap ikan di perairan, sangat tergantung pada ketersediaan atau daya dukung sumberdaya ikan dan lingkungannya. Pada masa lampau rekomendasi pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap di Indonesia pada umumnya didasarkan pada hasil maksimum yang lestari (Hermawan, 2006). Konsep ini terfokus pada aspek ekonomi dengan menguras sumberdaya ikan tanpa mempertimbangkan aspek sosial, teknologi dan hukum-kelembagaan. Menurut Fauzi dan Buchary (2002) bahwa praktek perikanan yang unsustainable di Indonesia menimbulkan kerugian negara mencapai US$ 386.000/tahun atau 4 kali lebih besar dari manfaat yang diterima. Demikian juga yang terjadi terhadap 40.000 nelayan Atlantik Canada yang kehilangan pekerjaan karena penurunan drastis stok ikan cod di perairan Barat Daya Atlantik pada tahun 1990. Dari kasus-kasus tersebut jelas bahwa sebagai modal kerja, teknologi juga akan menentukan apakah pendapatan dan keuntungan dari usaha perikanan tangkap akan mendukung kesejahteraan komunitas secara berkelanjutan.
Kode etik perikanan yang bertanggung jawab yang diperkenalkan FAO mengisyaratkan perlu dianalisis faktor ekologi, ekonomi, sosial, teknologi dan hukum-kelembagaan (FAO, 1999). Ekologi mencakup pemeliharaan keberlanjutan stok/biomas, meningkatkan kapasitas dan kualitas ekosistem. Dalam hal ekonomi, usaha perikanan tangkap dapat memberikan keuntungan dan pendapatan bagi pelaku usaha. Secara sosial tidak menimbulkan konflik dan terdapat hubungan emosional yang baik antara sumberdaya, ekosistem dan pelaku. Teknologi yang digunakan dalam usaha penangkapan harus ramah lingkungan. Secara hukum dan kelembagaan terdapat peaturan perundangan yang jelas dalam menjalankan usaha serta terbina kelembagaan usaha yang baik dan sehat. Hal ini sejalan dengan pembangunan berkelanjutan perikanan menurut UU No.45/2009, yakni pengelolaan perikanan dilakukan secara terencana dan mampu meningkatkan kemakmuran serta kesejahteraan rakyat dengan mengutamakan kelestarian fungsi lingkungan hidup untuk masa kini dan masa yang akan datang.
Keberlanjutan perikanan tangkap saat ini harus dilihat secara lengkap, tidak sekedar tingkat penangkapan perikanan tangkap atau biomas, tetapi aspek-aspek lain perikanan, seperti ekologi, struktur sosial ekonomi, komunitas nelayan dan pengelolaan kelembagaannya. Keberlanjutan ekologi menyangkut bagaimana memelihara keberlanjutan stok/biomass dan meningkatkan kapasitas dan kualitas ekosistem. Keberlanjutan sosio-ekonomi menyangkut kesejahteraan pelaku perikanan pada tingkat individu dan kelompok. Keberlanjutan komunitas menyangkut keberlanjutan kesejahteraan komunitas dan keberlanjutan kelembagaan menyangkut pemeliharaan aspek finansial dan administrasi yang sehat. Kegiatan perikanan yang hanya mengutamakan salah satu aspek saja dan mengabaikan aspek-aspek perikanan lainnya akan menimbulkan ketimpangan yang mengakibatkan ketidakberlanjutan perikanan itu sendiri.
Status keberlanjutan perikanan merupakan hal penting yang sangat diperlukan dalam penentuan berbagai kebijakan perikanan ke depan. Keberlanjutan perikanan tangkap penting diketahui para stakeholder baik untuk para pelaku usahanya maupun masyarakat luas serta untuk kepentingan negara. Oleh karenanya keberlanjutan perikanan merupakan tantangan mengingat produk perikanan menjadi kebutuhan generasi sekarang dan yang akan datang (intertemporal) sehingga tingkat pemanfaatan akan terus meningkat sejalan dengan tingkat kebutuhan konsumsi lokal dan global. Di sisi lain stok sumberdaya ikan dibeberapa lokasi semakin terbatas sekalipun sumberdaya ikan bersifat dapat pulih (renewable). Ketimpangan dan ketidakberlanjutan sumberdaya dapat terjadi apabila pemanfaatannya melampaui kapasitas atau karena kegiatan perikanan yang hanya mengutamakan salah satu aspek dan mengabaikan aspek lainnya. Dengan demikian status keberlanjutan perikanan tangkap harus dikaji secara komprehensif yang mencakup berbagai aspek. Aspek-aspek tersebut diantaranya aspek ekologi, ekonomi, sosial, teknologi dan aspek hukum-kelembagaan.

Kontributor:
Markus Sembiring,S.Pi.,M.I.L
Penyuluh Perikanan Muda
Dinas Perikanan dan Kelautan Kab.Langkat


Daftar Pustaka

Hermawan,M.2006. Keberlanjutan Perikanan Tangkap Skala Kecil (Kasus Perikanan Pantai di Serang dan Tegal. Disertasi S3 Sekolah Pascasarjana IPB. Bogor
FAO,1999. Rapfish; A Rapid Appraisal Technique for Fisheries, And ist Application To The Code of Conduct For Responsible Fisheries.Rome.
Fauzi, A and E. Buchary. 2002. A Socio-economic Perspective of environmental degradation at Kepulauan Seribu National Park, Indonesia. Coastal Management Journal Vol 30(2). 167-181.
Kementerian Kelautan dan Perikanan.2011. Kelautan dan Perikanan dalam Angka 2011. Jakarta
Undang-Undang No.45 tahun 2009. Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. Jakarta

Sabtu, 27 Januari 2018

KESEHATAN KEUANGAN KELOMPOK



1.1. Pengertian
Pemeriksaan kesehatan keuangan kelompok adalah alat untuk melihat makna hubungan dari berbagai posisi keuangan kelompok, serta merupakan hasil dari pencerminan pengelolaan keuangannya sekaligus sebagai alat kendali.

1.2. Manfaat Pemeriksaan
·      Memperoleh informasi kondisi keuangan kelompok.
·      Mengetahui mutu hasil kerja pengurus.
·      Mengetahui kekuatan dan kelemahan dalam pengelolaan keuangan.
·      Mengendalikan agar sesuai dengan tujuan yang telah disepakati dan ditetapkan (dalam AD/ART).

1.3. Posisi-posisi Penting yang harus Diperiksa
·      Tingkat tunggakan
·      Tingkat pertumbuhan kekayaan
·      Tingkat pertumbuhan modal sendiri
·      Tingkat utang
·      Tingkat penggunaan dana produktif
·      Tingkat hasil usaha
·      Tingkat perputaran dana
·      Tingkat ketangguhan menanggung resiko
·      Tingkat kehematan biaya (efisiensi)
·      Tingkat pemerataan pinjaman

1.4. Cara Memeriksa Posisi-posisi Penting
a)   Tingkat tunggakan =    jumlah tunggakan    x 100%
   jumlah sisa pinjaman
              Posisi ideal : kurang dari 3%

b)   Tingkat pertumbuhan kekayaan

=  Jumlah kekayaan th. Ini – juml kekayaan th. Lalu    x 100%
                         jumlah kekayaan th. Lalu

                  Posisi ideal : semakin besar semakin baik


c)   Tingkat pertumbuhan modal sendiri

 juml SP + SW + SS + Cad th ini – juml SP + SW + SS + Cad th lalu       x 100%
                                  juml SP + SW + SS + Cad th. Lalu

     Posisi ideal : semakin besar semakin baik


d)   Tingkat utang  =          jumlah utang          x  100%
                                              jumlah modal sendiri

                   Posisi ideal : semakin kecil semakin baik


e)   Tingkat penggunaan dana produktif  

Bagian kekayaan yang menghasilkan (piutang, deposito, investasi)   x 100%
                                                      jumlah kekayaan

                        Posisi ideal : di atas 85%
                        Dana tidak produktif seperti uang kas, inventaris

f)    Tingkat hasil usaha    

=     Juml pendapatan hingga akhir tahun ini     x  100%
Rata-rata kekayaan yang produktif
           
Posisi ideal : lebih besar dibanding bunga deposito rata-rata.

Rata-rata kekayaan produktif
= (juml kekayaan produktif di awal tahun + juml kekayaan produktif di akhir tahun) : 2


g)   Tingkat perputaran dana

Juml pinjaman yang dicairkan selama setahun    x 100%
                 rata-rata juml kekayaan

                        Posisi ideal : semakin besar semakin baik.
           
Rata-rata jumlah kekayaan
= (juml kekayaan di awal tahun + juml kekayaan di akhir tahun) : 2


h)   Tingkat ketangguhan menanggung resiko

            =  Juml dana cadangan + SP + SW       x 100%
                            juml nominal tunggakan

Posisi ideal lebih dari 100 %


i)     Tingkat efisiensi biaya  =

 =     Juml biaya selama satu tahun                x 100%
     juml pendapatan selama satu tahun

Posisi ideal kurang dari 75%


j)     Tingkat pemerataan pinjaman  =

                        =  Juml peminjam yang masih mempunyai saldo pinjaman x 100%
                                                          jumlah anggota

Posisi ideal : lebih dari 65%.



SUMBER:

Anonimous, 2006. Undang-Undang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, Nomor 16 Tahun 2006.
Anonimous, 2007. Modul Pelatihan Kelompok. Program Pengembangan Kecamatan, Regional Management Unit Wilayah - VII Jawa Timur.
http://komunitaspenyuluhperikanan.blogspot.com
Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2005. Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.
Pranoto, J dan Suprapti, W. 2006. Membangun Kerjasama Tim (Team Building). Lembaga Administrasi Negara – Republik Indonesia, Jakarta.

Razi F dan Purnama R, 2010. Modul Teknik Penumbuhan dan Pengembangan Kelompok. Pusat Pelatihan Kelautan dan Perikanan, Jakarta.

Kamis, 11 Januari 2018

KLASIFIKASI JARING INSANG

KLASIFIKASI JARING INSANG




Klasifikasi berdasarkan Konstruksi ( 2 klasifikasi ) :
a. Berdasarkan jumlah lembar jaring utama :
1) Jaring insang satu lembar ( single gillnet )
2) Jaring insang dua lembar ( double gillnet atau semi trammel net ) dan
3) Jaring insang tiga lembar ( trammel net )

1) Jaring insang satu lembar ( single gillnet )
·                     Jaring utamanya terdiri dari hanya satu lembar jaring
·                     Tinggi jaring ke arah dalam ( mesh depth ) dan ke arah panjang ( mesh length ) disesuaikan dengan : target tangkapan, daerah penangkapan dan metode pengoperasian.
Pengoperasian jaring insang ini ada yang di permukaan, di tengah ( kolom ) perairan atau di dasar perairan dengan cara diset menetap atau dihanyutkan.

2) Jaring insang dua lembar ( double gillnet atau semi trammel net )
Jaring utamanya terdiridari dua lembar jaring.
·                     Di Indonesia disebut jaring lapis dua ( jaring lapdu ) untuk menangkap udang.
·                     Di luar negeri dipakai untuk penelitian ( tidak untuk komersial ).
·                     Dioperasikan di dasar air secara aktif atau pasif.
3) Jaring insang tiga lembar ( trammel net ) Jaring utamanya terdiri dari tiga lembar ; dua lembar jaring bagian luar ( outer net ) dan satu lembar jaring bagian dalam ( inner net ). Mata jaring bagian luar umumnya lebih besar dari pada mata jaring bagian dalam. Perbandingannya antara 5 – 6 kali dari mata jaring bagian dalam. Tinggi jaring bagian dalam berkisar antara 1,1 – 1,9 kali tinggi jaring bagian luar. Pengoperasian jaring ini ada yang di permukaan, di kolom dan di dasar perairan dengan cara diset menetap atau dihanyutkan. Berdasarkan jumlah lembar jaring utama, masing-masing jaring insang mempunyai keuntungan dan kelemahan sbb: Jaring insang satu lembar dibanding 2 lbr dan 3 lbr

Keuntungan
·                     Biaya bhn lbh murah
·                     Pembuatan dan perbaikan jaring lbh mudah
·                     Melepaskan hsl tangkapan tdk lama
·                     Kualitas hsl tangkapan lbh bagus
·                     Lebih selektif thd ukuran dan jenis ikan

Kelemahan
·                     Jml hsl tangkapan lbh sedikit dan tdk bervariasi
·                     Tdk bisa menangkap ikan yg hanya ditangkap olh jrg insang 2 lbr atau jrg insang 3 lbr
·                     Selang kls panj. Ikan dari satu jenis ikan yg tertangkap tdk bervariasi

Keuntungan dan Kelemahan jaring insang dua lembar dengan jaring insang satu lembar :
Keuntungan
·                     Jmlh hsl tangkapan bisa lbh banyak dan bervariasi,
·                     Selang kls panjang ikan yg tertangkap bisa bervariasi
Kelemahan
·                     Biaya bhn lbh besar
·                     Pembuatan dan perbaikan jaring lebih rumit
·                     Waktu utk melepaskan ikan hsl tangkapan dari jaring lebih lama
·                     Kualitas hsl tangkapan kurang bagus
·                     Tdk selektif thd ukuran dan jenis ikan
Keuntungan dan Kelemahan jaring insang tiga lembar dengan jaring insang satu lembar :
Keuntungan
·                     Jmlh hsl tangkapan bisa lbh banyak dan bervariasi,
·                     Bisa menangkap ikan atau habitat lainnya yg tdk bisa ditangkap olh jrg insang satu lbr dan dua lbr,
·                     Selang kls panjang ikan jenis habitat perairan yg tertangkap bisa bervariasi
·                     Cocok utk pengambilan contoh ( sampling ) ikan atau habitat lain dari satu perairan.
Kelemahan
·                     Biaya bhn lbh besar
·                     Pembuatan dan perbaikan jaring lebih rumit
·                     Waktu utk melepaskan ikan hsl tangkapan dari jaring lebih lama
·                     Kualitas hsl tangkapan kurang bagus
·                     Tdk selektif thd ukuran dan jenis ikan

Klasifikasi jaring insang berdasarkan jumlah lembar jaring utama




Sumber: PERIKANAN