Kamis, 13 Agustus 2015

NUTRISI DAN PAKAN IKAN

NUTRISI DAN PAKAN IKAN


Nutrisi dan Pakan Ikan - Pada artikel ini akan dibahas secara khusus mengenai nutrisi dan pakan ikan yang meliputi definisi pakan, fungsi pakan pada ikan, serta kebutuhan nutrisi ikan. Dengan mengetahui peran maupun fungsi pakan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ikan, maka keberhasilan budidaya ikan dapat dicapai secara optimal. Pakan ikan berkualitas akan meningkatkan kesehatan serta mempercepat pertumbuhan, sehingga produksi budidaya ikan akan lebih meningkat dan sudah barang tentu keuntungan yang didapat juga lebih tinggi.

DEFINISI PAKAN
Pakan adalah makanan atau asupan yang diberikan kepada hewan ternak atau peliharaan. Istilah ini diadopsi dari bahasa Jawa. Pakan merupakan sumber energi dan materi bagi pertumbuhan dan kehidupan makhluk hidup. Pakan Buatan adalah pakan yang dibuat dengan formulasi tertentu berdasarkan pertimbangan pembuatnya. Pembuatan pakan buatan sebaiknya didasarkan pada pertimbangan kebutuhan nutrisi atau gizi hewan ternak atau peliharaan yang bersangkutan, sumber dan kualitas bahan baku, serta nilai ekonomis. Dengan berbagai pertimbangan tersebut, diharapkan pakan buatan yang dihasilkan (pakan ikan), dapat memiliki standar mutu tinggi dengan biaya murah.

Dalam melakukan kegiatan budidaya ikan secara intensif, pakan buatan merupakan faktor terpenting untuk menunjang keberhasilan agribisnis budidaya tersebut. Selain itu, pakan buatan berfungsi sebagai sumber energi utama bagi perkembangan maupun pertumbuhan ikan budidaya. Berdasarkan tingkat kebutuhan maupun urgensi pemberiannya, pakan buatan dalam agribisnis perikanan dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu: (1) pakan tambahan, (2) pakan suplemen, (3) pakan utama.
Pakan tambahan adalah pakan yang dibuat atau diberikan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan terhadap tambahan pakan. Dalam agribisnis perikanan, hal ini biasanya terjadi pada kegiatan budidaya ikan secara tradisional atau semiintensif. Pakan tambahan ini diberikan dengan asumsi bahwa ikan budidaya sudah mendapatkan pakan dari alam, tetapi jumlahnya belum memenuhi kebutuhan baik untuk perkembangan maupun pertumbuhan yang lebih baik. Sementara itu pakan suplemen adalah pakan yang dibuat serta diberikan dengan tujuan untuk memenuhi komponen nutrisi tertentu yang sedikit disediakan atau bahkan tidak bisa disediakan sama sekali oleh pakan lain. Pakan suplemen ini banyak diberikanan pada budidaya ikan hias. Untuk memenuhi standar tertentu dari tujuan budidaya ikan hias, misal warna, bentuk, atau ukuran, maka ikan budidaya harus diberi suplemen tertentu dalam jumlah cukup. Sedangkan pakan utama adalah pakan yang dibuat untuk menggantikan sebagian besar atau keseluruhan pakan alami. Pakan utama ini biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan ikan terhadap pakan pada sistem budidaya ikan secara intensif. Penebaran ikan dengan populasi tinggi pada budidaya ikan secara intensif mengakibatkan kebutuhan terhadap nutrisi mutlak harus bergantung dari pemberian pakan utama ini. Karena jumlah pakan alami sama sekali tidak mencukupi kebutuhan ikan untuk menopang pertumbuhannya.
Agar pakan buatan yang diberikan dapat mendukung serta mengoptimalkan perkembangan maupun pertumbuhan ikan budidaya, sebaiknya pembuatan pakan ini harus berorientasi menghasilkan pakan ikan berkualitas, yaitu pakan yang disukai, mudah dicerna, serta dapat memenuhi standar kebutuhan nutrisi ikan. Untuk menghasilkan pakan ikan berkualitas tersebut, dibutuhkan komponen bahan baku berkualitas pula. Komponen utama bahan baku pembuatan pakan ikan dikelompokkan menjadi dua kelompok utama, yaitu komponen penghasil energi (terdiri dari protein, lemak, karbohidrat), dan komponen bukan penghasil energi (terdiri dari vitamin, mineral).

FUNGSI PAKAN IKAN

Fungsi utama pakan ikan adalah untuk menghasilkan energi dimana energi ini digunakan untuk menopang pertumbuhan maupun perkembangan ikan. Pakan tersebut bisa diperoleh dari pakan alami maupun pakan buatan. Secara umum, ikan memanfaatkan protein sebagai sumber energi utama, oleh karena itu, komponen utama yang harus tersedia saat membuat pakan buatan adalah protein. Namun demikian, pakan ikan tidak hanya berfungsi sebagai penghasil energi, sehingga ketersediaan komponen lain dalam pembuatan pakan ikan juga sangat penting. Beberapa fungsi penting pakan ikan untuk menopang pertumbuhan dan perkembangan ikan antara lain:

A.    Fungsi Pakan Ikan Sebagai Pengobatan

Pada dasarnya, ikan dengan kecukupan nutrisi dari pakan ikan dengan kualitas maupun kuantitas memadai akan tumbuh lebih baik serta tidak mudah terserang penyakit. Pakan ikan akan membantu terciptanya sistem ketahanan tubuh. Sistem ketahanan tubuh tersebut akan menciptakan imunitas atau kekebalan terhadap serangan penyakit, serta sangat dipengaruhi oleh sistem hormonal. Sementara mekanisme sistem hormonal sangat dipengaruhi oleh kualitas pakan ikan yang dikonsumsi. Dengan demikian, apabila pakan ikan berkualitas baik, maka sistem hormonal juga akan berjalan baik maka dengan sendirinya akan terbentuk sistem ketahanan tubuh yang baik pula.

B.     Fungsi Pakan Ikan Untuk Membentuk Warna Tubuh

Salah satu fungsi pakan bagi ikan adalah sebagai pembentuk warna tubuh atau pigmen. Biasanya fungsi pakan ikan tersebut terkandung dalam pakan buatan serta dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya ikan hias. Pakan buatan yang digunakan untuk membentuk warna tubuh pada ikan jika dilihat dari komponen bahan penyusunnya tidak beda jauh dengan pakan buatan lainnya, hanya pada pakan buatan ditambahkan pigmen atau penghasil warna.
Secara fisik pakan buatan yang diperkaya dengan pigmen mudah dibedakan dengan pakan buatan biasa, karena pakan buatan kaya akan pigmen biasanya memiliki warna khas, seperti merah atau hijau. Selain itu, keterangan yang menyebutkan adanya tambahan pigmen biasanya juga tertera pada kemasan. Ikan yang diberi nutrisi berkandungan pigmen secara proporsional akan memiliki warna tubuh lebih cemerlang serta lebih tajam.

C.     Fungsi Pakan Ikan Untuk Meningkatkan Cita Rasa

Cita rasa sangat mempengaruhi selera konsumen. Ikan bercita rasa buruk atau kurang enak biasanya tidak disukai konsumen. Cita rasa daging ikan ini sangat dipengaruhi oleh kualitas pakan ikan yang dimakan. Ikan selain mendapatkan pakan dari pemberian pakan tambahan, juga mendapatkan pakan dari pakan alami. Kualitas pakan alami sangat dipengaruhi oleh lingkungan perairan masing-masing. Setiap lingkungan perairan memiliki kandungan dan kualitas pakan alami berbeda-beda. Dengan demikian, ikan yang memperoleh pakan alami dari suatu lingkungan perairan akan memiliki aroma maupun cita rasa berbeda dibanding dengan ikan sejenis yang memperoleh pakan alami dari lingkungan perairan lain. Demikian pula jika ditangkap pada suatu lingkungan perairan akan memiliki aroma serta cita rasa yang berbeda jika dibandingkan dengan ikan sejenis yang ditangkap pada lingkungan perairan sama tetapi di musim berbeda.
Dengan asumsi tersebut di atas, pembuatan pakan buatan sebaiknya juga mempertimbangkan komponen yang mempengaruhi cita rasa daging ikan yang dihasilkan. Sebagai contoh, pemberian pakan ikan di Amerika yang berupa tepung darah, memiliki cita rasa berbeda dengan ikan di Israel yang diberi pakan ikan berupa bungkil kacang tanah. Demikian pula dengan ikan di Jepang yang diberi pakan dari kepompong ulat sutra memiliki cita rasa daging ikan berbeda dengan ikan di kedua negara tersebut. Tetapi cita rasa daging ikan di ketiga negara tersebut ternyata memiliki cita rasa daging ikan lebih enak dibanding dengan cita rasa daging ikan di Indonesia (diberi pakan pellet).

D.    Fungsi Pakan Ikan Untuk Mempercepat Reproduksi

Pengangkutan hormon reproduksi menuju organ reproduksi sangat dipengaruhi oleh kinerja sistem endokrin. Sistem endokrin dan sistem hormon ditunjang oleh kualitas pakan ikan. Sehingga, kualitas pakan ikan yang baik harus mampu menunjang kerja organ tubuh ikan, termasuk kinerja kedua sistem hormon tersebut. Kinerja sistem endokrin secara optimal akan mempercepat proses pematangan gonad atau pematangan kelamin ikan. Jika proses pematangan gonad bisa berlangsung lebih cepat, maka proses reproduksi pun bisa dipercepat. Dengan demikian, salah satu fungsi dari pakan ikan adalah untuk mempercepat proses reproduksi ikan.
Penambahan vitamin, terutama vitamin E ternyata dapat merangsang pematangan gonad. Vitamin E diketahui memiliki fungsi untuk mencegah oksidasi EPA (eikosapentanoic acid). EPA diubah menjadi prostaglandin, prostaglandin berperan mempercepat pematangan gonad. Bersama dengan vitamin A (berperan sebagai antioksidan), penambahan vitamin E juga akan meningkatkan fungsi PUFA (polyunsaturated fatty acid) yang diperlukan selama proses pembentukan hormon. Selain itu, beberapa jenis bahan pembuatan pakan ikan yang dapat mempercepat proses pematangan gonad antara lain, udang, cumi-cumi, kerang, serta kepiting segar.

E.     Fungsi Pakan Ikan Untuk Perbaikan Metabolisme Lemak

Secara umum, ikan memenuhi kebutuhan energinya dari protein. Dengan kata lain, ikan lebih mudah untuk mencerna protein untuk mengganti energinya dibanding dengan mencerna karbohidrat maupun lemak. Kondisi ini tentu saja bagi petani kurang menguntungkan, mengingat biaya untuk memenuhi kebutuhan protein lebih mahal. Bagi peternak ikan, protein yang diberikan melalui pakan akan lebih baik digunakan untuk menopang pertumbuhan maupun perkembangan ikan. Sementara itu, energinya diperoleh dari pemberian lemak atau karbohidrat.
Para ahli telah melakukan berbagai upaya penelitian untuk meningkatkan daya cerna ikan terhadap lemak maupun karbohidrat untuk memenuhi kebutuhan energinya. Sehingga protein yang diberikan dan harus disediakan dengan biaya mahal dapat digunakan secara optimal untuk menopang pertumbuhan ikan.
Dari hasil penelitian tersebut, salah satu bahan yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan ikan dalam mencerna lemak untuk memenuhi kebutuhan energinya adalah asam bile. Asam bile merupakan cairan yang dihasilkan oleh hati. Senyawa ini banyak mengandung garam natrium dan garam kalium. Dalam proses pencernaan lemak, kedua jenis garam ini akan menurunkan tegangan permukaan lemak serta mengubah bentuk lemak menjadi bola-bola kecil (micelle). Lemak berbentuk bola-bola kecil ini relatif larut dalam air (membentuk emulsi) sehingga mudah diserap oleh tubuh.
Upaya lain untuk meningkatkan daya cerna ikan terhadap lemak juga dapat dilakukan dengan penambahan lesitin. Lesitin merupakan lemak yang mengandung gliserol dan asam fosfat. Senyawa ini banyak terdapat di otak, kedelai, biji bunga matahari, jagung, maupun kuning telur. Selain sebagai sumber lemak, lesitin juga berfungsi untuk menstabilkan lemak dalam saluran pencernaan. Dengan kandungan gliserol tinggi, lesitin mudah dicerna oleh ikan.
Penambahan mikroba jenis tertentu juga diketahui dapat meningkatkan kemampuan ikan dalam mencerna lemak maupun karbohidar. Selain menguraikan lemak sehingga mudah dicerna oleh ikan, mikroba juga dapat membantu pencernaan karbohidrat maupun protein. Beberapa pabrik pakan ikan telah menggunakan jenis mikroba yang dapat meningkatkan pencernaan lemak maupun karbohidrat dengan menambahkannya dalam formulasi pakan ikan.

KEBUTUHAN NUTRISI IKAN

Kebutuhan nutrisi ikan secara alami sudah tersedia, baik di kolam maupun di perairan lain. Pada usaha agribisnis budidaya ikan secara tradisional, kebutuhan nutrisi ikan dapat dipenuhi oleh pakan alami dari kolam itu sendiri. Akan tetapi pada skala usaha agribisnis budidaya ikan secara intensif, ketersediaan pakan alami tersebut sudah tidak mampu lagi menopang pertumbuhan maupun perkembangan ikan secara optimal, mengingat kepadatan populasi pemeliharaan ikan sangat tinggi. Oleh karena itu, kebutuhan nutrisi ikan ini harus disediakan melalui pemberian pakan buatan.
Seperti telah disebutkan di awal bahwa komponen penyusun bahan baku pembuatan pakan ikan dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu komponen penghasil energi dan komponen bukan penghasil energi.
Komponen Penghasil Energi. Komponen yang termasuk dalam kelompok ini akan menghasilkan energi bila dicerna oleh ikan. Komponen penyusun pakan ikan (berfungsi sebagai penghasil energi) yaitu protein, lemak, karbohidrat. Ketiga komponen tersebut merupakan komponen utama penyusun ransum atau pakan ikan, karena dibutuhkan dalam jumlah relatif besar untuk menopang pertumbuhannya.
Dalam pembuatan pakan ikan, standar pemenuhan nilai energi untuk pertumbuhan adalah 4,0 kkal/g untuk protein; 9,0 kkal/g untuk lemak; serta 4,0 kkal/g untuk karbohidrat. Dalam budidaya ikan secara intensif, efisiensi energi pakan ikan yang diberikan dapat dikatakan baik jika nilai efisiensi tersebut berkisar antara 25-40%. Nilai tersebut dapat dikatakan bahwa untuk memenuhi kebutuhan energi ikan sebesar 100 kkal maka dibutuhkan energi yang tersedia dalam pakan ikan sebesar 250-400 kkal. Dengan pemberian energi dengan besaran tersebut, maka energi yang dapat digunakan untuk pertumbuhan kurang dari 50% total energi dalam pakan ikan, selebihnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan untuk hidup (cost of living).
Komponen Bukan Penghasil Energi. Untuk menjaga keseimbangan gizi, komponen ini tetap dibutuhkan untuk mempertahankan kelangsungan hidup, pertumbuhan maupun perkembahan ikan, sekalipun komponen ini tidak berperan sebagai penghasil energi. Komponen pakan ikan yang berperan bukan sebagai penghasil energi adalah vitamin dan mineral. Kedua komponen ini sangat besar peranannya dalam mempertahankan kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan. Beberapa referensi menyebutkan komponen zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh ikan dalam jumlah relatif kecil ini sebagai komponen mikro (micro component). Beberapa referensi lain bahkan menambahkan air sebagai zat gizi keenam. Meskipun bukan pakan dalam arti sebenarnya, air tetap diperlukan sebagai media proses metabolisme maupun pembentukan cairan tubuh.

a.       Protein

Protein merupakan suatu polimer heterogen yang tersusun atas monomer asam amino dalam jumlah banyak, mencapai ribuan bahkan ratusan, saling berhubungan satu sama lain melalui ikatan peptida dan ikatan silang antara ikatan hidrogen, ikatan sulfhidril, dan ikatan van der waal. Protein merupakan penyusun utama makhluk hidup, molekul protein ini mengandung unsur oksigen, nitrogen, hidrogen, karbon, sulfur, serta fosfor yang sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup. Pada makhluk hidup, protein memegang peranan penting, baik sebagai antibodi (sistem kekebalan tubuh), sistem kendali (hormon), sumber asam amino bagi organisme heterotof (tidak mampu membentuk asam amino), sumber gizi, maupun dalam fungsi struktural atau mekanis (pembentuk batang dan sendi sitoskeleton)
Pada ikan, protein memegang peranan penting karena material organik utama dalam jaringan maupun organ tubuh ikan tersusun oleh protein berkisar antara 18-30 %. Bahkan bersama dengan komponen nitrogen lain, protein berperan membentuk vitamin, enzim, asam nukleat, hormon, dll.
Fungsi Protein. Sebagai senyawa organik kompleks yang berbobot molekul tinggi, protein sangat dibutuhkan oleh ikan terutama sebagai sumber energi. Karena nilai energi produktif yang diberikan oleh protein kepada ikan lebih besar jika dibandingkan dengan hewan lainnya, dimana peningkatan panas akibat pemberian protein pada ikan lebih rendah. Selain itu, Sebagian besar energi yang dapat dicerna (digestible energy) dalam protein juga dapat dimetabolisme dengan lebih baik oleh tubuh ikan.
Selain sebagai sumber energi, protein pada ikan juga berfungsi memperbaiki jaringan rusak, serta membantu pertumbuhan ikan. Protein ini dibutuhkan oleh tubuh ikan secara kontinue karena asam amino dalam protein dibutuhkan secara terus menerus terutama untuk mengganti protein rusak selama masa pemeliharaan dan membentuk protein baru selama masa pertumbuhan dan masa reproduksi.
Fungsi Utama Protein Pada Ikan:
Berperan dalam pembentukan antibodi, hormon, enzim, vitamin.
Berperan untuk pertumbuhan maupun pembentukan jaringan tubuh.
Sebagai sumber gizi.
Sebagai sumber energi utama, terutama apabila komponen lemak atau karbohidrat yang terdapat di dalam pakan ikan tidak mampu memenuhi kebutuhan energi.
Berperan dalam perbaikan jaringan tubuh yang rusak.
Turut berperan dalam pembentukan gamet.
Berperan dalam proses osmoregulasi di dalam tubuh.

b.      Lemak (Lipids)

Lemak adalah senyawa organik yang tersusun atas unsur-unsur karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (0). Molekul-molekul penyusun lemak meliputi asam lemak, sterol, monogleserida, fosfolipida, glikolipida, digliserida, malam, terpenoida (getah dan steriod), vitamin larut dalam lemak seperti vitamin A, D, E, K, dll. Lemak pada ikan merupakan sumber energi paling tinggi. Secara khusus, lemak juga disebut minyak hewani pada suhu kamar yang terdapat pada jaringan tubuh adiposa Pada jaringan adiposa, sel lemak mengeluarkan hormon sitokina, hormon leptin dan resistin. Hormon sitokina yang dihasilkan oleh jaringan adiposa ini berperan penting dalam komunikasi antarsel, sedangkan hormon leptin dan resistin berperan penting dalam sistem kekebalan. Sebenarnya lemak dan minyak adalah senyawa organik yang tersusun oleh molekul sama, perbedaannya hanya terletak pada titik cair dan bobot molekulnya. Titik cair pada lemak lebih tinggi jika dibandingkan dengan minyak, selain itu lemak juga memiliki bobot molekul lebih berat dengan rantai lebih panjang.
Lemak dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu lemak sederhana, lemak campuran, dan lemak turunan.
Lemak sederhana (simple lipids) terdiri atas lemak netral (trigliserida), ester gliserol, wax (ester kolesterol, ester vitamin A atau D), dll. Wax merupakan ester asam lemak dari alkohol berantai panjang, berperan sebagai sumber energi serta memperbaiki karakteristik fisika dan kimia.
Lemak campuran (compound lipids), misalnya fosfolipid (merupakan ester asam lemak dan asam fosfatidik). Lemak ini merupakan komponen utama lemak pada membran sel.
Lemak turunan (derived lipids), yaitu produk hidrolisis dari lemak sederhana dan lemak campuran. Komponen utama lemak turunan adalah asam lemak.
Berdasarkan kejenuhannya, lemak dibagi menjadi dua kelompok, yaitu lemak jenuh dan tidak jenuh. Kejenuhan lemak dapat diketahui berdasarkan ada tidaknya ikatan rangkap di antara atom karbon penyusunnya. Lemak tidak jenuh mempunyai satu atau lebih ikatan rangkap, sedangkan lemak jenuh tidak mempunyai ikatan rangkap. Lemak jenuh relatif sulit bereaksi karena titik cairnya relatif tinggi dibandingkan dengan lemak tidak jenuh.
Fungsi Lemak. Secara umum fungsi lemak bagi makhluk hidup adalah :
Sebagai cadangan energi dalam bentuk sel lemak.
Menopang fungsi senyawa organik sebagai penghantar sinyal.
Menjadi suspensi bagi vitamin A, D, E dan K yang berperan penting dalam proses biologis.
Berfungsi sebagai penahan goncangan terutama melindungi organ vital serta melindungi tubuh dari suhu luar yang kurang bersahabat.
Sebagai sarana sirkulasi energi di dalam tubuh dan komponen utama yang membentuk membran semua jenis sel.
Ikan memanfaatkan lemak sebagai sember energi utama untuk kelangsungan hidupnya disamping sebagai pembentuk struktur sel "prekursor" dan memelihara keutuhan biomembran. Biomembran berperan dalam pengangkutan antarsel seperti vitamin dan sterol dimana vitamin dan sterol ini merupakan nutrien larut dalam lemak. Sterol merupakan alkohol berantai panjang polisiklik yang berfungsi sebagai komponen pada sistem hormon dan fungsi fisiologis yang berkaitan dengan proses pemijahan. Fungsi utama sterol pada sistem hormon adalah pada proses pematangan gonad. Asam lemak yang terdapat dalam fosfolipid sangat mempengaruhi aktivitas biomembram. Biasanya terdapat pada pakan maupun daging ikan. Namun, dalam pakan maupun daging ikan, selain lemaknya terdapat dalam bentuk fosfolipid, juga trigliserida, bahkan kadang-kadang terdapat dalam bentuk wax. Fosfolipida merupakan lemak yang dibentuk dari molekul gliserol dengan dua asam lemak, trigliserida merupakan lemak yang dibentuk dari molekul gliserol tetapi dengan tiga asam lemak, sedangkan wax merupakan ester yang terbuat dari asam lemak dan alkohol berantai panjang. Ketiga jenis lemak ini mempunyai peran berbeda. Fosfolipid berperan penting untuk pembentukan membran sel, trigliserida berperan dalam penyimpanan lemak, serta wax merupakan bentuk umum penyimpanan asam lemak pada beberapa zooplankton.
Lemak merupakan sumber energi utama, sehingga kemampuan lemak sebagai penghasil energi jauh lebih besar dibandingkan dengan karbohidrat dan protein. Tetapi, karena kemampuan ikan dalam mengkonsumsi protein lebih baik dibanding dengan kemampuannya mengkonsumsi lemak dan karbohidrat, maka peranan lemak sebagai sumber energi lebih kecil dibandingkan peran protein. Ikan dari golongan karnivora memiliki ketersediaan rendah terhadap karbohidrat. Oleh karena itu, pada ikan golongan karnivora ini peranan lemak sebagai sumber energi sangat vital. Penambahan lemak sebagai sumber energi akan meningkatkan efektifitas penggunaan protein (protein sparing effect).

c.       Karbohidrat

Karbohidrat adalah senyawa organik kompleks (terdiri atas unsur karbon, hidrogen, oksigen), secara biokimia mengandung gugus fungsi karbonil (sebagai aldehida atau keton) dan banyak gugus hidroksil. Berdasarkan jumlah molekulnya, karbodidrat dibedakan menjadi monosakarida, polisakarida, disakarida, dan oligosakarida. Monosakarida merupakan golongan karbohidrat paling sederhana, terbentuk oleh satu molekul gula sederhana. Polisakarisa merupakan molekul karbohidrat terbentuk oleh molekul gula yang terangkai menjadi rantai panjang serta dapat pula bercabang-cabang. Disakarida merupakan molekul karbohidrat yang terbentuk oleh dua monosakarida. Oligosakarida merupakan molekul karbohidrat yang terbentuk oleh beberapa monosakarida. Karbohidrat dalam bentuk monosakarida diantaranya adalah galaktosa, triosa, pentosa, dan heksosa. Monosakarida yang paling banyak terdapat di dalam sel adalah pentosa (ribosa dan dioksiribosa) dan heksosa (glukosa dan fruktosa). Karbihidrat dalam bentuk disakarida siantaranya maltosa (gula anggur), laktosa (gula susu), sukrosa (gula tebu), dan selubiosa (hasil hidrolisis tidak sempurna dari selulosa). Sedangkan karbohidrat dalam bentuk polisakarida diantaranya pati, kitin, selulosa, glikogen, pektin, lignin, amilosa, dan amilopektin. Karbohidrat yang terbentuk dari unsur utama karbon, hidrogen dan ogsigen ini relatif lebih mudah larut di dalam air jika dibandingkan dengan protein dan lemak.
Karbohidrat merupakan salah satu komponen sumber energi bagi makhluk hidup. Fungsi karbohidrat dalam tubuh adalah sebagai cadangan makanan (misalnya pati pada tumbuhan dan glikogen pada hewan), sebagai bahan bakar (misalnya glukosa), materi pembangun (misalnya selulosa pada tumbuhan, kitin pada hewan dan jamur). Peranan lain dari karbohidrat adalah sebagai prekursor dalam berbagai metabolisme internal (intermediate metabolism) dimana produk yang dihasilkan dibutuhkan untuk pertumbuhan, misalnya asam amino nonesensial dan asam nukleat.
Karbohidrat dalam tubuh ikan disimpan di dalam hati dan otot dalam bentuk glikogen, karbohidrat ini berfungsi sebagai cadangan energi. Meskipun demikian, peranan karbohidrat sebagai sumber energi bagi ikan belum bisa dipahami sepenuhnya karena ikan masih dapat hidup dengan baik meskipun tanpa pemberian karbihodrat. Hal ini diperkirakan bahwa ikan tidak mempunyai kebutuhan karbohidrat secara khusus meskipun pemberian pakan ikan yang mengandung karbohidrat memberikan peningkatan pertumbuhan dan perkembangan ikan secara optimal. Contoh bahan baku pakan ikan berkandungan karbohidrat adalah jagung, beras, dedak, tepung terigu, tapioka, serta sagu. Sebagian contoh bahan pakan ikan di atas dapat berfungsi sebagai alat perekat (hinder) untuk mengikat komponen bahan baku dalam pembuatan pakan ikan.
Karbohidrat terdiri atas bahan ekstrak tanpa nitrogen dan serat kasar. Pemberian serat kasar pada ikan dapat mengakibatkan ganggunan pada proses penyerapan makanan (berlangsung dalam usus halus). Oleh karena itu, pemberian serat kasar harus terukur, tidak boleh berlebihan. Untuk meningkatkan gerak peristaltik usus, serat kasar masih tetap diperlukan oleh ikan meskipun sebetulnya serat kasar sangat sulit dicerna oleh ikan sehingga penggunaannya harus tetap terukur. Sebagai contoh pemberian pakan udang, kandungan serat kasar pada pakan udang sebaiknya jangan lebih dari 30%.
Disamping memiliki fungsi sebagai sumber energi, karbohidrat juga berperan dalam penghematan penggunaan protein yang digunakan sebagai sumber energi utama bagi tubuh ikan. Apabila pakan ikan kekurangan karbohidrat, maka seluruh energi yang dikeluarkan ikan harus dipenuhi melalui penyerapan protein. Dengan demikian, penggunaan protein dalam penggunaan protein untuk menghasilkan energi serta proses metabolik lainnya menjadi kurang efisien. Penggunaan protein yang kurang efisien akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan ikan. Penghematan protein melalui peran karbohidrat ini disebut protein sparing effect dari karbohidrat, di mana karbohidrat dapat menghemat protein. Beberapa referensi menyebutkan bahwa pemberian 0,23 g karbohidrat dalam 100 g pakan dapat menghemat protein sebesar 0,05 gram.

d.      Vitamin

Vitamin merupakan senyawa organik yang berbobot molekul kecil tetapi mutlak diperlukan oleh tubuh meskipun dalam jumlah relatif kecil. Senyawa organik esensial ini tidak dapat diproduksi oleh tubuh ikan. Vitamin memegang peranan vital dalam metabolisme terutama untuk menjaga agar proses-proses yang terjadi di dalam tubuh ikan tetap berlangsung dengan baik. Pada dasarnya, senyawa vitamin ini digunakan oleh tubuh untuk tumbuh dan berkembang secara normal.
Seperti telah diketahui, tubuh ikan tidak mampu memproduksi vitamin. Oleh karena itu, untuk menopang pertumbuhan maupun perkembangan ikan, vitamin harus dipenuhi melalui pemberian pakan ikan. Ikan-ikan liar yang hidup di alam serta mengandalkan pakan alami hampir tidak pernah mengalami kekurangan vitamin. Namun jika dibudidayakan secara intensif baik di dalam kolam maupun karamba dengan kepadatan populasi tinggi, ketersediaan dan jumlah pakan alami tersebut sudah tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan ikan. Dengan demikian, untuk mendukung agribisnis perikanan agar berhasil sesuai rencana, maka peternak ikan harus memberikan penambahan vitamin melalui pakan ikan.
Kandungan vitamin di dalam pakan buatan tergantung dari bahan baku yang digunakan serta ditambahkan. Jumlah vitamin dapat berkurang atau rusak selama proses pembuatan dan penyimpanan pakan buatan. Oleh karena itu, perlu selalu dilakukan penambahan vitamin.
Sebagian besar vitamin akan rusak karena penanganan kurang cermat, baik selama proses pembuatan maupun penyimpanan pakan ikan yang terlalu lama (lebih dari tiga bulan). Tiamin akan kehilangan aktivitasnya apabila pembuatan atau penyimpanan pakan ikan dilakukan dalam kondisi basa atau mengandung sulfida. Beberapa vitamin akan mengalami perombakan lebih lanjut apabila terkena cahaya matahari secara langsung. Riboflavin harus dilindungi dari cahaya matahari atau cahaya lampu. Piridoksin tidak tahan terhadap udara dan cahaya matahari. Asam pantotenat kurang stabil apabila disimpan di tempat panas serta lembap. Cahaya matahari maupun penyimpanan terlalu lama akan merusak aktivitas asam folat. Fungsi vitamin B-12 akan menurun apabila disimpan di tempat bersuhu tinggi. Vitamin E sangat sensitif terhadap proses oksidasi. Vitamin K dalam bentuk sintetis harus terlindung dari cahaya matahari secara langsung.
Tampak jelas bahwa fungsi vitamin mudah terganggu sehingga lebih baik segera digunakan. Jika terpaksa disimpan, sebaiknya vitamin diletakkan di tempat kering dan dingin, serta terhindar dari pengaruh cahaya matahari maupun cahaya lampu yang terlalu terang.
Klasifikasi dan Fungsi Vitamin. Secara garis besar, vitamin dapat dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu vitamin larut dalam lemak dan vitamin larut dalam air. Golongan vitamin larut dalam lemak yaitu vitamin A, D, E, dan K. Sementara, golongan larut dalam air yaitu vitamin B dan C. Vitamin B terdiri atas tiamin (B-1), riboflavin (B-2), piridoksin (B-6), sianokobalamin (B-12), niasin, biotin, kolin, asam folat, inositol, dan asam pantotenat.
Dalam proses osmoregulasi tubuh, vitamin mempunyai peranan penting, di antaranya sebagai berikut:
Vitamin merupakan senyawa yang berfungsi sebagai katalisator (pemacu) dalam proses metabolisme ikan. Sebagai bagian dari enzim atau koenzim vitamin sangat berperan dalam pengaturan berbagai proses metabolisme tubuh ikan. Selain itu, vitamin mampu mempercepat proses perombakan pakan tanpa mengalami perubahan.
Vitamin berfungsi untuk membantu protein dalam memperbaiki dan membentuk sel baru.
Vitamin berperan dalam mempertahankan fungsi berbagai jaringan tubuh ikan sehingga mekanisme jaringan tubuh tersebut tetap bisa berjalan sebagaimana mestinya.
Vitamin turut berperan dalam pembentukan senyawa-senyawa tertentu di dalam tubuh.

e.       Mineral

Mineral merupakan elemen anorganik yang dibutuhkan oleh ikan dalam pembentukan jaringan dan berbagai fungsi metabolisme dan osmoregulasi. Ikan juga menggunakan mineral untuk mempertahankan keseimbangan osmosis antara cairan tubuh dan cairan di sekitarnya. Meskipun dibutuhkan dalam jumlah relatif kecil, namun mineral memiliki peran sangat penting dalam menjaga kelangsungan hidup, karena mineral sangat dibutuhkan dalam beberapa proses yang berlangsung di dalam tubuh ikan.
Berdasarkan kebutuhannya, mineral dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu mineral esensial dan mineral nonesensial. Mineral esensial harus selalu tersedia di dalam tubuh serta harus disuplai dari pakan ikan karena tubuh tidak mampu memproduksi mineral ini. Sementara, mineral nonesensial yaitu mineral yang sebaiknya tersedia di dalam tubuh ikan.
Berdasarkan jumlah kebutuhannya, mineral dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu makromineral dan mikromineral. Makromineral yaitu mineral yang dibutuhkan oleh tubuh ikan dalam jumlah relatif besar, seperti kalsium (Ca), fosfor (P), belerang (S), natrium (Na), klorida (CI), magnesium (Mg), dan kalium (K). Sebaliknya, mikromineral adalah mineral yang dibutuhkan oleh tubuh ikan dalam jumlah relatif kecil, yaitu kobalt (Co), selenium (Se), tembaga (Cu), seng (Zn), mangan (Mn), krom (Cr), fluorine (F), iodium (I), besi (Fe), dan molibdenum (Mo). Mikromineral sering pula disebut sebagai trace mineral.
Pakan buatan dengan kandungan mineral lengkap belum bisa dikatakan sebagai pakan berkualitas nutrisi baik. Hal ini disebabkan kelengkapan mineral yang terdapat pada pakan ikan baru bisa memberi dampak positif terhadap pertumbuhan maupun perkembangan ikan apabila pakan ikan tersebut juga dilengkapi komponen nutrisi lain dengan komposisi tepat. Dengan demikian, protein, lemak, karbohidrat, dan vitamin tetap harus dilibatkan dalam penyusunan ransum pakan ikan. Kelengkapan komponen dalam penyusunan komposisi pakan ikan sangat berpengaruh terhadap penyerapan mineral oleh tubuh ikan. Sebagai contoh, selain Kalsium (Ca) dan Natrium (Na), ikan menyerap mineral esensial dalam bentuk garam atau senyawa sukar larut. Bentuk ini memerlukan peran protein yang berfungsi sebagai pembawa, serta bahan-bahan lain untuk mempermudah penyerapan.
Fungsi Mineral. Mineral merupakan komponen pembentuk pakan ikan yang memiliki fungsi terutama dalam proses pembentukan rangka, pernapasan, serta metabolisme. Kalsium (Ca), Phosphor (P), Flourine (F), dan Magnesium (Mg) merupakan kelompok mineral pembentuk rangka yang berperan dalam pembentukan struktur tubuh ikan, seperti tulang, gigi, dan sisik. Sedangkan kelompok mineral yang berperan dalam proses pernafasan meliputi Ferum (Fe), Kalsium (Ca), dan Cuprum (Cu). Fungsi utama lain dari mineral, baik esensial maupun nonesensial, terhadap pertumbuhan dan perkembangan ikan adalah untuk membantu proses metabolisme. Mineral-mineral tersebut berperan dalam pembentukan enzim dan pengaturan keseimbangan antara cairan tubuh dan cairan lingkungannya.

Beberapa fungsi lain dari mineral pada ikan:
Natrium (Na), Kalium (K), Kalsium (Ca), dan Klor (Cl) berfungsi untuk mengatur keseimbangan asam basa dan proses osmosis antara cairan tubuh ikan dan lingkungannya.
Ferum (Fe), Cuprum (Cu), dan Cobalt (Co), memegang peranan penting dalam proses pembekuan darah dan pembentukan hemoglobin pada tubuh ikan.
Klor (Cl), Magnesium (Mg), dan Phosphor (P), memegang peranan penting dalam proses metabolisme tubuh ikan.
Cuprum (Cu) dan Zinc (Zn) berperan untuk mengatur fungsi sel; Sulfur (S) dan Phosphor (P) berperan untuk membentuk fosfolipid dan bahan inti sel, Bromine (Br) berperan untuk mematangkan kelenjar kelamin, dan Iodin (I) berperan untuk membentuk hormon tiroid.

Sumber http://www.tanijogonegoro.com/2013/06/pakan-ikan.html

Senin, 10 Agustus 2015

Budidaya Ikan Botia Chromo botia macracanthus  

Budidaya Ikan Botia Chromo botia macracanthus


Ikan Botia merupakan ikan hias asli Indonesia yang mempunyai nama daerah Ikan Bajubang, ikan ini hanya bias dijumpai di dua tempat di Indonesia yakni Sungai Batanghari, Jambi dan Sungai Barito, Kalimantan.

Ikan ini diketahui pertama kali di eksport keluar negeri pada tahun 1935. Sampai saat ini, botia termasuk ikan favorit dan memiliki banyak penggemar di luar negeri. Di habitat aslinya, botia hidup pada air mengalir di sungai-sungai. Oleh karena itu, untuk pemeliharaan dalam aquarium sering disarankan agar dilengkapi dengan arus buatan.

Botia termasuk ikan yang berumur panjang, ikan ini diduga bias hidup puluhan tahun. Ikan botia bias hidup dalam aquarium selama 20 tahun. Panjang ikan ini bias mencapai 30-40 cm. Tetapi dalam lingkungan aquarium jarang yang dapat mencapai panjang potensialnya tersebut.

Morfologi dan Daerah Sebaran Ikan Botia

Ikan Botia memiliki bentuk tubuh memanjang dan pipih, perut hamper lurus, posisi lengkung sirip punggung lebih depan dari pada sirip perut, memiliki empat pasang sungut. Warna dasar tubuh merah jingga kekuning - kuningan, yang dibalut warna hitam di tiga tempat. Satu memotong di kepala persis melintas di mata, di tengah tubuh agak lebar, terakhir di pangkal ekor merambat sampai sirip punggung. Sirip ekor tebal terbagi dengan ujung lancip, warna oranye dengan ujung kemerahan. Sirip anus hitam, dengan tulang sirip kuning, sirip dada berwarna merah darah. Botia memiliki duri di bagian bawah matanya.

Ikan botia yang berasal dari beberapa DAS di Sumatera dan Kalimantan. Penyebaran benih ikan botia di daerah banjiran sepanjang sungai Batang Hari mulai dari terusan sampai kelonderang pada musim penghujan. Penyebaran induk ikan botia mulai dari MuaraTembesi sampai DusunTeluk Kayu Putih KabupatenTebo. Habitat ikan ini banyak ditemukan berkumpul di perairan yang tenang (tidak berarus deras). Ikan botia hidup di dasar perairan ( termasuk ikan dasar ), yang aktif mencari makan pada malam hari (nocturnal). Suhu untuk pertumbuhan adalah 24-28oC, pH: 6-7,5, kesadahan air 5-15 mg / dan kadar oksigen 3-5 ppm.

Klasifikasi Ikan Botia

Menurut Saanin (1984), klasifikasi ikan botia adalah:
Fillum : Chordate
Kelas :Osteichthyes
Subkelas :Actinopterygii
Ordo :Teleostei
Subordo :Cyprinoidea
Famili :Cobitidae
Genus :Botia
Spesies :macracanthus

Reproduksi

Botia yang sudah matang gonad akan berenang melawan arus menuju hulu sungai yang berair dangkal. Disepanjang sungai yang dangkal dan jernih itu induk botia akan memijah. Setelah memijah, ikan akan kembali kehilir mengikuti aliran sungai. Saat memijah, botia melepaskan semua telur – telurnya secara serempak. Telur botia yang telah dibuahi akan menetas 14 – 26 jam setelah pembuahan. Benih ikan botia berkelompok dalam jumlah besar sehingga mudah ditangkap. Botia mulai matang gonad setelah ukurannya ± 40 gram, untuk botia jantan dan untuk botia betina ± 70 gram, atau panjangnya lebih dari 15 cm.

Pengamatan histologi gonad ikan botia yang dilakukan oleh Susanto (1996), membagi tingkat kemetangan gonad (TKG) menjadi 6 fase, yaitu sebagai berikut :
1. TKG 1. Sel telur baru mengalami perbanyakan dari sel epitel dan membentuk oogonia. Kumpulan oogenia berbentuk bulat yang dilapisi oleh satu dinding epitel. Sitoplasmanya berwarna merah jambu dengan nucleus yang besar
2. TKG II. Ootgonia berkembang menjadi oosit dengan sitoplasma yang bertambah besar dengan nucleus yang terletak ditengah – tengahnya. Selama perkembangannya, oosit ditutupi satu baris epitel. Diameter oosit berkisar antara 100 – 150 um.
3. TKG III. Fase ini adalah fase berkembangnya dinding sel. Oosit semakin membesar dan inti sel mulai tampak. Sitoplasma yang berwarnabiru merupakan awal / persiapan vitelo genesis. Diameter telur antara 200 – 300 um
4. TKG IV. Membrane inti mulai tampak berwarna terang, melingkari inti sel. Inti berwarna merah jambu sedangkan sitoplasma berwarna biru yang lebih terang dibandingkan pada TKG II dan III. Pada fase ini vitelo genesis berlangsung dan mulai terbentuk granula dan vakuola pada sitoplasma. Juga mulai terbentuk zona radiate yang berasal dari selepitel. Diameter telur antara 300 – 500 um.
5. TKG V. Pada faseini nucleus tampak jelas dengan granula yang masih kasar. Sitoplasma berwarna biru, sedangkan nucleus berwarna merah jambu agak cerah dibandingkan dengan cairan yang mulai mengalami deregerasi. Lapisan zona radiate tampak lebih jelas, tersusun dari selber bentuk kubus dan sel tiang. Diameter telur antara 500 – 600 um.
6. TKG VI. Fase ini merupakan fase maksimum perkembangan oosit, dimana sudah mengalami perkembangan optimal dengan vakuola yang berukuran besar dan jumlahnya sangat banyak. Nucleus serta granula tampak lebih jelas, memenuhi sitoplasma. Dinding folikel terdiri atas zona radiate, teka interna dan eksterna. Pada bagian tertentu dari teka terdapat epitel yang menipis, membentuk mikrofil. Diameter telur mencapai kisaran antara 600 – 700 um.

Seleksi Induk
Dalam pemijahan buatan induk ikan botia masih diam bila dari alam. Setelah induk diambil dari alam induk ikan botia ditempatkan pada wadah pemeliharaan untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Proses adaptasi induk ikan botia hingga matang gonad sekitar 8-10 bulan. Induk yang sudah matang gonad ditandai dengan perut yang gendut pada induk betina, bobot> 80 gram, sedangkan induk jantan sudah berbobot> 40 gram, perut langsing, dan ditandai keluarnya cairan sperma setelah distripping.

RangsanganPemijahan
Untuk merangsang ovulasi atau spermiasi pada induk yang telah matang gonad dilakukan dengan cara stimulasi yaitu dengan menyuntikan hormon gonadotropin. Biasanya hormaon yang sering digunakan untuk merangsang pemijahan adalah “Ovaprim”. Ovaprim merupakan hormaon GNRH dan domperidon. Dosis yang digunakan dalam penyuntikan yaitu 1 ml / kg berat induk. Penyuntikan biasanya dilakukan dua kali. Penyuntikan pertama dilakukan bertujuan untuk pematangan sel telur dengan dosis 0,4 ml / kg. Sedangkan penyuntikan kedua bertujuan untuk proses pemijahan dengan dosis 0,6 ml/kg.

Stripping
Stripping adalah proses pengeluaran telur dan sperma dari induk betina maupun jantan dengan cara mengurut bagian geneta linduk. Sebelum induk dilakukan stripping dilakukan pembiusan dengan menggunakan MS22 (phenoxy ethanol) dengan dosis 0,3 ml / L air. Setelah dilakukan stripping, telur dan sperma dimasukan pada wadah terpisah. Biasanya sperma diencerkan dengan larutan fisiologis ( perbandingan 1:3 ).

Pembuahan
Pembuahan ikan botia dilakukan secara buatan yaitu dengan mencampur telur dan sperma. Setelah telur dan spermater campur, ditambahkan air untuk mengaktifkan sperma dan diaduk perlahan dengan bulu ayam. Selanjutnya telur diletakan pada corong penetasan selama 15-26 jam pada suhu 26-270C.

Pemanenan Larva
Pemanenan larva dilakukan setelah telur menetas atau setelah 15-26 inkubasi. Larva yang baru menetas tidak langsung dipindahkan kedalam akuarium sebab larva botia sangat sensitive terhadap perubahan kondisi lingkungan. Setelah 4 hari didalam corong penetasan dan larva sudah dapat makan artemia, larva botia baru bisa dipindahkan kedalam bak pemeliharaan larva atau akuarium.

Pemeliharaan Larva
Pemeliharaan larva ikan botia dilakukan pada akuarium dengan padat tebar 5 ekor / liter. Pada larva berumur 4 hari, larva diberi makan dengan aetrmia sampai latva berumur 13 hari. Setelah itu larva diberimakan cacing darah sampai panen.

Sumber :

http://www.kkp.go.id/ikanhias/index.php/news/c/51/Budidaya-Ikan-Botia-Chromobotia-macracanthus/?category_id=1

CARA BUDIDAYA IKAN BAWAL AIR TAWAR



Ikan Bawal air tawar, memang bukan ikan asli Indonesia tapi jenis ikan introduksi dari negeri sepakbola brasil.  Tujuan dari introduksi ikan ini adalah untuk memenuhi kebutuhan konsumsi ikan di tanah air.
Ikan bawal termasuk salah satu jenis ikan air tawar yang banyak dibudidayakan di Indonesia seperti halnya ikan lele, ikan mujair dan nila, ikan mas dan gurame.  Ikan Bawal  relative tidak terlalu sulit untuk membudidayakannya karena secara alami ikan bawal tawar termasuk ikan yang mudah beradaptasi. 
Ikan bawal yang telah tersebar dan berkembang serta dikenal oleh masyarakat Indonesia termasuk jenis (species) Colossoma spp. Yaitu Colossomama cropomum dan Colossoma bracipomum. Kedua jenis ikan bawal ini mirip atau identik dengan jenis (spesies) ikan bawal yang disebut Cachama (Colossoma oculus) yang berkembang dan hidup di Amerika dan Venezuella. (Ostergaard 2009). Ikan ini merupakan salah satu komoditas perikanan yang bernilai ekonomis cukup tinggi dan  berasal dari Brazil. Pada mulanya ikan bawal diperdagangkan sebagai ikan hias, namun karena pertumbuhannya cepat, nafsu makan tinggi serta termasuk pemakan segalanya (Omnivora), ketahanan yang tinggi terhadap kondisi limnologis yang kurang baik, disamping itu rasa dagingnya pun cukup enak, hamper menyerupai daging ikan gurami dan dapat mencapai ukuran besar, maka masyarakat menjadikan ikan tersebut sebagai ikan konsumsi sehingga produksinya tiap tahun semakin meningkat (Chobiyah 2001).  Klasifikasi ikan bawal air tawar (Colossomamacropomum) menurut Saanin (1968) adalah sebagai berikut :
Filum               :  Chordata
Kelas               :  Pisces
Ordo                :  Cypriniformes
Famili              :  Characidae
Genus              :  Colossoma
Spesies            :  Colossoma macropomum
Morfologi ikan bawal air tawar dari arah samping tubuh membulat (oval) dengan perbandingan antara panjang dan tinggi 2:1. Ikan bawal air tawar  memiliki bentuk tubuh pipih dengan perbandingan antara tinggi dan lebar tubuh   4:1. Badan agak bulat, bentuk tubuh pipih, sisik kecil, kepala hamper bulat, lubang hidung agak besar, sirip dada di bawah tutup insang, sirip perut dan sirip dubur terpisah, punggung berwarna abu-abu tua, perut putih abu-abu dan merah. Warna tubuh ikan bagian atas abu-abu gelap, sedangkan bagian bawah berwarna putih (Haetami 2009). Harga ikan ini dalam ukuran konsumsi berkisar Rp.12.000-15.000 per kilogram. Ikan bawal air tawar merupakan salah satu jenis ikan air tawar tropis yang memiliki pyloric caeca Bezerra et al. (2001).

Usaha pembesaran dilakukan dengan maksud untuk memperoleh ikan ukuran konsumsi atau ukuran yang disenangi oleh konsumen. Pembesaran ikan bawal dapat dilakukan di kolam tanah maupun kolam permanen, baik secara monokultur maupun polikultur. Bawal air tawar saat ini banyak diminati sebagai ikan konsumsi dan cocok untuk dibudidayakan oleh masyarakat.

KEUNGGULAN IKAN BAWAL:
·         Pertumbuhannya cukup cepat
·         Nafsu makan tinggi serta termasuk pemakan segalanya yang condong lebih banyak makan dedaunan
·         Ketahanan yang tinggi terhadap kondisi perairan yang kurang baik
·         Disamping itu rasa dagingnya pun cukup enak, hampir mirip daging ikan Gurami

PERSIAPAN KOLAM PEMBESARAN
Kolam untuk pemeliharaan ikan bawal dipersiapkan seperti halnya ikan air tawar lainnya. Persiapan kolam ini dimaksudkan untuk menumbuhkan makanan alami dalam jumlah yang cukup.
1)    Mula- mula kolam dikeringkan sehingga tanah dasarnya benar- benar kering.
2)    Tujuan pengeringan tanah dasar antara lain :
a.    Membasmi ikan - ikan liar yang bersifat predator atau kompetitor (penyaing makanan).
b.    Mengurangi senyawa- senyawa asam sulfida (H2S) dan senyawa beracun lainnya yang terbentuk selama     kolam terendam.
c.    Memungkinkan terjadinya pertukaran udara ( aerasi ) dipelataran kolam, dalam proses ini gas- gas oksigen    mengisi celah-celah dan pori - pori tanah.
3)    Sambil menunggu tanah dasar kolam kering, pematang kolam diperbaiki dan diperkuat untuk menutup kebocoran - kebocoran yang ada.
4)    Setelah dasar kolam benar-benar kering dasar kolam perlu dikapur dengan kapur tohor maupun dolomite dengan dosis 25 kg per 100 meter persegi. Hal ini untuk meningkatkan pH tanah, juga dapat untuk membunuh hama maupun patogen yang masih tahan terhadap proses pengeringan.
5)    Kolam pembesaran tidak mutlak harus dipupuk. Ini dikarenakan makanan ikan bawal sebagian besar diperoleh dari makanan tambahan atau buatan. Tapi bila dipupuk dapat menggunakan pupuk kandang 25 - 50 kg / 100 m2 dan TSP 3 kg / 100 m2. Pupuk kandang yang digunakan harus benar- benar Yang sudah matang, agar tidak menjadi racun bagi ikan.
6)    Setelah pekerjaan pemupukan selesai, kolam diisi air setinggi 2-3 cm dan dibiarkan selama 2-3 hari, kemudian air kolam ditambah sedidit demi sedikit sampai kedalaman awal 40-60 cm dan terus diatur sampai ketinggian 80 -120 cm tergantung kepadatan ikan. Jika warna air sudah hijau terang, baru benih ikan ditebar (biasanya 7~10 hari setelah pemupukan).

PEMILIHAN DAN PENEBARAN BENIH.
1.    Pemilihan benih.
a.    Pemilihan benih mutlak penting, karena hanya dengan benih yang baik ikan akan hidup dan tumbuh dengan baik.
b.    Adapun ciri- cirri benih yang baik antara lain Sehat, Anggota tubuh lengkap, Aktif bergerak, Ukuran seragam, tidak cacat, Tidak membawa penyakit, jenis unggul.
2.    Penebaran benih
Sebelum benih ditebar perlu diadaptasikan, dengan tujuan agar benih ikan tidak dalam kondisi stress saat berada dalam kolam. Cara adaptasi :ikan yang masih terbungkus dalam plastik yang masih tertutup rapat dimasukan kedalam kolam, biarkan sampai dinding plastic mengembun. Ini tandanya air kolam dan air dalam plastic sudah sama suhunya, setelah itu dibukap lastiknya dan air dalam kolam masukkan sedikit demi sedikit kedalam plastic tempat benih sampai benih terlihat dalam kondisi baik. Selanjutnya benih ditebar / dilepaskan dalam kolam secara perlahan- lahan.

KUALITAS PAKAN DAN CARA PEMBERIAN PAKAN
Kualitas dan kuantitas pakan sangat penting dalam budidaya ikan, karena hanya dengan pakan yang baik ikan dapat tumbuh dan berkembang sesuai dergan yang kita inginkan. Kualitas pakan yang baik adalah pakan yanq mempunyai gizi yang seimbang baik protein, karbohidrat maupun lemak serta vitamin dan mineral. Karena ikan bawal bersifat omnivore maka makanan yang diberikan bias berupa daun-daunan maupun berupa pelet. Pakan diberikan 3-5 % berat badan (perkiraan jumlah total beratikan yang dipelihara). Pemberian pakan dapat ditebar secara langsung.

PEMANENAN
Pemungutan hasil usaha pembesaran dapat dilakukan setelah ikan bawal dipelihara 4-6 bulan, waktu tersebut ikan bawal telah mencapai ukuran kurang lebih 500 gram /ekor, dengan kepadatan 4 ekor/m.   Biasanya alat yang digunakan berupa waring bemata lebar. Ikan bawal hasil pemanenan sebaiknya penampungannya dilakukan ditempat yang luas (tidak sempit) dan keadaan airnya selalu mengalir.

SUMBER
Balai Informasi Penyuluh Pertanian Magelang, Departemen Pertanian,

http://www.deptan.go.id, Maret 2001.

Rabu, 05 Agustus 2015

ASPEK BIOLOGI REPRODUKSI IKAN LELE

ASPEK BIOLOGI REPRODUKSI IKAN LELE (Clarias batrachus)


Klasifikasi dan morfologi ikan lele yaitu, Kingdom : Animalia, Sub-kingdom : Metazoa, Phyllum : Chordata, Sub-phyllum : Vertebrata, Kelas : Pisces (ikan yang punya insang untuk bernapas), Sub-klas : Teleostei ( ikan bertulang keras ), Ordo : Ostariophysi ( ikan yang dirongga perutnya sebelah atas ada tulang sebagai alat keseimbangan / sebagai tulang weber ), Sub-ordo : Siluroidea (berkulit licin, tidak bersisik), Familia : Clariidae ( kepala gepeng dan mempunyai alat pernapasan tambahan), Genus : Clarias, Species : Clarias batrachus.
  Tengah badannya mempunyai potongan membulat, dengan kepala pipih kebawah (depressed), sedangkan bagian belakang tubuhnya berbentuk pipih kesamping (compressed), jadi pada lele ditemukan tiga bentuk potongan melintang ( pipih kebawah, bulat dan pipih kesamping). Kepala bagian atas dan bawah tertutup oleh pelat tulang. Pelat ini membentuk ruangan rongga diatas insang. Disinilah terdapat alat pernapasan tambahan yang tergabung dengan busur insang kedua dan keempat. Mulut berada diujung moncong (terminal), dengan dihiasi 4 pasang sungut. Lubang hidung yang depan merupakan tabung pendek berada dibelakang bibir atas, lubang hidung sebelah belakang merupakan celah yang kurang lebih bundar berada di belakang sungut nasal. Mata berbentuk kecil dengan tepi orbitalyang bebas. Sirip ekor membulat, tidak bergabung dengan sirip punggung maupun sirip anal. Sirip perut berbentuk membulat dan panjangnya mencapai sirip anal. Sirip dada dilengkapi sepasang duri tajam / patil yang memiliki panjang maksimum mencapai 400 mm. Patil ini beracun terutama pada ikan ikan remaja, sedangkan padaikan yang tua sudah agak berkurang racunya.
Ikan ini memiliki kulit berlendir dan tidak bersisik (mempunyai pigmen hitam yang berubah menjadi pucat bila terkena cahaya matahari, dua buah lubang penciuman yang terletak dibelakang bibir atas, sirip punggung dan dubur memanjang sampai ke pangkal ekor namun tidak menyatu dengan sirip ekor, panjang maksimum mencapai 400 mm. Ikan lele memiliki alat pernapasan tambahan yang disebut Aborescen organ yang merupakan membran yang berlipat-lipat penuh dengan kapiler darah. Alat ini terletak didalam ruangan sebelah atas insang. Dalam sejarah hidupnya lele lele harus mengambil oksigen dari udara langsung, untuk itu ia akan menyembul kepermukaan air. Oleh karena itu jika pada kolam banyak terdapat eceng gondok ikan ini tidak berdaya.
Lele tidak pernah ditemukan di air payau atau air asin, kecuali ikan lele laut yang tergolong ke dalam marga dan suku yang berbeda. Habitatnya di sungai dengan arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang air. Bahkan ikan lele bisa hidup pada air yang tercemar, misalkan di got-got dan selokan pembuangan.
Ikan lele bersifat nokturnal, yaitu aktif bergerak mencari makanan pada malam hari. Pada siang hari, ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap. Di alam, ikan lele memijah pada musim penghujan. Ada sedikit perbedaan dikalangan ilmuwan dalam menggolongkan ikan lele ini. Ada yang memasukan ikan lele ini kedalam ikan pemakan daging (karnivora). Adalagi yang memasukanya kedalam omnivora.

SEKSUALITAS IKAN
Pada prinsipnya, seksualitas hewan terdiri dari dua jenis kelamin yaitu jantan dan betina. Begitu pula seksualitas pada ikan, yang dikatakan ikan jantan adalah ikan yang mempunyai organ penghasil sperma,sedangkan ikan betina adalah ikan yang mempunyai organ penghasil telur. Suatu populasi terdiri dari ikan-ikan yang berbeda seksualitasnya, maka populasi tersebut disebut populasi heteroseksual, bila populasi tersebut terdiri dari ikan-ikan betina saja maka disebut monoseksual. Sifat seksual primer pada ikan tandai dengan adanya organ yang secara langsung berhubungan dengan proses reproduksi, yaitu ovarium dan pembuluhnya pada ikan betina, dan testis dengan pembuluhnya pada ikan jantan. Sifat seksual sekunder ialah tanda-tanda luar yang dapat dipakai untuk membedakan ikan jantan dan ikan betina. 
Seksual dichromatisme adalah suatu cara untuk membedakan suatu individu ikan merupakan ikan jantan atau betina berdasarkan warna yang dimiliki tubuh dan organ pelengkap lainnya, pada umumnya ikan jantan mempunyai warna yang lebih cerah dan lebih menarik dari pada ikan betina. Sedangkan seksual dimorphisme adalah suatu cara untuk membedakan suatu ikan jantan atau betina berdasarkan morphometrik yang dimiliki seperti ukuran tubuh atau bentuk sirip punggung. Beberapa jenis ikan juga memiliki dua alat kelamin pada tubuhnya yang sering disebut dengan ikan hermafrodit. Ikan hermafrodit dibagi menjadi tiga bagian yaitu hermafrodit sinkroni, hermafrodit protandri, dan hermafrodit protogini. Hermafrodit sinkroni yaitu apabila di dalam gonad individu terdapat sel sex betina dan sel sex jantan yang dapat masak bersama-sama, misalnya pada ikan famili Serranidae. Hermafrodit protandri yaitu ikan yang dalam tubuhnya mempunyai gonad yang mengadakan proses diferensiasi dari fase jantan ke fase betina, misalnya pada ikan Kakap (Lates calcarifer). Sedangkan ikan hermafrodit protogini yaitu ikan yang dalam tubuhnya mempunyai gonad yang mengadakan proses diferensiasi dari fase betina ke fase jantan, misalnya pada ikan belut sawah (Monopterus albus). Selain hermafroditisme, pada ikan juga terdapat Gonokhorisme, yaitu kondisi seksual berganda dimana pada ikan bertahap juvenile gonadnya tidak mempunyai jaringan yang jelas status jantan dan betinanya. Gonad tersebut akan berkembang sebagian menjadi ovarium dan sebagian lagi menjadi testes tapi tidak terjadi masa diferensiasi atau intersex yang spontan. Misalnya pada ikan Anguila anguila dan Salmo gairdneri irideus adalah gonokhoris yang tidak berdeferensiasi. Faktor yang mempengaruhi komponen reproduksi atau kematangan gonad diantaranya umur dan fisiologi induk ikan itu sendiri. Secara umum spesies ikan dari ukuran ,maksimum terkecil dan mempunyai siklus hidup yang pendek, mencapai kematangan gonad pada usia lebih muda dari pada spesies ikan maksimum besar. Pada proses reproduksi sebelum terjadi pemijahan sebagian besar hasil metabolisme tertuju untuk perkembangan gonad, gonad semakin bertambah berat diimbangi dengan bertambah ukurannya. Perkembangan gonad ikan secara garis besar dibagi atas dua tahap perkembangan utama yaitu pertumbuhan gonad sehingga ikan mencapai tingkat dewasa kelamin (sexually mature) dan tahap pematangan produk seksual/gamet.

1. Ciri-ciri induk lele jantan:
- Kepalanya lebih kecil dari induk ikan lele betina.
- Warna kulit dada agak tua bila dibanding induk ikan lele betina.
- Urogenital papilla (kelamin) agak menonjol, memanjang ke arah belakang, terletak di belakang anus, dan warna kemerahan.
- Gerakannya lincah, tulang kepala pendek dan agak gepeng(depress).
- Perutnya lebih langsing dan kenyal bila dibanding induk ikan lele betina.
- Bila bagian perut di stripping secara manual dari perut ke arah ekor akan mengeluarkan cairan putih kental (spermatozoa-mani).
- Kulit lebih halus dibanding induk ikan lele betina.

2. Ciri-ciri induk lele betina
- Kepalanya lebih besar dibanding induk lele jantan.
- Warna kulit dada agak terang.
- Urogenital papilla (kelamin) berbentuk oval (bulat daun), berwarna kemerahan, lubangnya agak lebar dan terletak di belakang anus.
- Gerakannya lambat, tulang kepala pendek dan agak cembung.
- Perutnya lebih gembung dan lunak.
- Bila bagian perut di stripping secara manual dari bagian perut ke arah ekor akan mengeluarkan cairan kekuning-kuningan (ovum/telur).

TINGKAT KEMATANGAN GONAD
Gonad adalah organ reproduksi yang berfungsi menghasilkan sel kelamin (gamet). Gonad yang terdapat ditubuh ikan jantan disebut testis berfungsi menghasilkan spermatozoa, sedangkan gonad yang terdapat dalam ikan betina dinamakan ovari berfungi menghasilkan telur (ovum). Pengamatan tentang tahap-tahap kematangan gonad ikan dapat dilakukan secara morfologi dan secara histologi. Pengamatan secara morphologi dapat dilakukan di lapangan dan di laboratorium, sedangkan pengamatan secara histologi hanya dapat dilakukan di laboratorium dan sangat memerlukan peralatan yang canggih serta teliti dan memerlukan dana yang cukup besar. Bila pengamatan dilakukan pada testes maka yang diamati adalah bentuk testes dan kedua sisinya, ukuran (panjang dan diameter ) testes, perbandingan panjang testes dan rongga tubuh, warnanya serta pembuluh darah pada permukaan testes. Demikian juga halnya bila pengamatan dilakukan pada ovari tetapi yang perlu diamati lagi adalah diameter beberapa butir telur.
Saat pertama ikan mempunyai kemampuan bereproduksi (kematangan seksual ) dipengaruhi oleh beberapa faktor. Terdapat perbedaan antara masing-masing spesies pada umur dan ukuran yang sama. Secara umum dapat dikatakan bahwa ikan-ikan yang mempunyai ukuran maksimum kecil dan jangka waktu hidup yang pendek akan mencapai kedewasaan pada umur yang lebih muda daripada ikan yang mempunyai ukuran maksimum lebih besar.
Dalam Biologi Perairan pencatatan perubahan atau tahap kematangan gonad diperlukan untuk mengetahui perbandingan ikan-ikan yang melakukan melakukan reproduksi atau tidak. Dari pengetahuan TKG akan didapatkan informasi, kapan satu jenis memijah, baru memijah atau sudah memijah. Tiap-tiap spesies ikan pada waktu pertama gonadnya menjadi masak tidak sama ukurannya. Demikian pula ikan yang sama spesiesnya, apalagi spesies tersebut tersebar tersebar pada pada lintang yang perbedaanya lebih dari 5 derajat.
Tingkat kematangan gonad ialah tahapan perkembangan gonad sebelum dan sesudah ikan memijah. Semakin meningkat kematangan gonadnya, telur dan sperma ikan semakin berkembang. Selama proses reproduksi, sebagian energi dipakai untuk perkembangan gonad. Bobot gonad ikan akan mencapai maksimum sesaat ikan akan memijah kemudian akan menurun dengan cepat selama proses pemijahan berlangsung sampai selesai.
Kematangan gonad ikan pada umumnya adalah tahapan pada saat perkembangan gonad sebelum dan sesudah memijah. Selama proses reproduksi, sebagian energi dipakai untuk perkembangan gonad. Bobot gonad ikan akan mencapai maksimum sesaat ikan akan memijah kemudian akan menurun dengan cepat selama proses pemijahan berlangsung sampai selesai. Pertambahan bobot gonad ikan betina pada saat stadium matang gonad dapat mencapai 10 – 25 persen dari bobot tubuh dan pada ikan jantan 5 – 10 persen. Lebih lanjut dikemukakan bahwa semakin bertambahnya tingkat kematangan gonad, telur yang ada dalam gonad akan semakin besar. Pendapat ini diperkuat oleh Kuo et al. (1979) bahwa kematangan gonad pada ikan dicirikan dengan perkembangan diameter rata-rata telur dan pola distribusi ukuran telurnya. Secara garis besar, perkembangan gonad ikan dapat dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap pertumbuhan gonad ikan sampai ikan menjadi dewasa kelamin dan selanjutnya adalah pematangan gamet. Tahap pertama berlangsung mulai ikan menetas hingga mencapai dewasa kelamin, dan tahap kedua dimulai setelah ikan mencapai dewasa, dan terus berkembang selama fungsi reproduksi masih tetap berjalan normal. Lebih lanjut dikatakan bahwa kematangan gonad pada ikan tertentu dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor luar dan faktor dalam. Faktor luar antara lain dipengaruhi oleh suhu dan adanya lawan jenis, faktor dalam antara lain perbedaan spesies, umur serta sifat-sifat fisiologi lainnya.
Ukuran, berat gonad dan garis tengah telur bervariasi sesuai dengan kondisi tingkat kematangan gonad ikan betina. Terjadinya perbedaan awal mula suatu individu ikan mengalami matang gonad disebabkan oleh umur, ukuran dan faktor fisiologis ikan itu sendiri. Indeks Kematangan Gonad antara satu spesies ikan dengan spesies lainnya akan saling berbeda. Hal ini disebabkan karena indeks kematangan gonad suatu spesies ikan dipengaruhi oleh berat gonad dan berat tubuh ikan itu sendiri. Selanjutnya dia menambahkan pada ikan betina nilai Indeks kematangan gonad lebih besar dibandingkan dengan ikan jantan dan ikan dengan indeks kematangan gonad 19 % ada yang sanggup mengeluarkan telur. Pengukuran indeks kematangan gonad dihitung dengan cara membandingkan berat gonad terhadap berat tubuh ikan dengan rumus :
IKG = (Bg : Bt ) x 100 %
Di mana : IKG = Indeks kematangan gonad
Bg = Berat gonad (g)
Bt = Berat tubuh (g)

Dasar yang dipakai untuk menentukan tingkat kematangan gonad dengan cara morfologi adalah bentuk, ukuran panjang dan berat, warna dan perkembangan isi gonad yang dapat dilihat. Kesteven membagi tingkat kematangan gonad dalam beberapa tahap yaitu:
a. Dara. Organ seksual sangat kecil berdekatan di bawah tulang punggung, testes dan ovarium transparan, dari tidak berwarna sampai abu-abu. Telur tidak terlihat dengan mata biasa.
b. Dara Berkembang. Testis dan ovarium jernih, abu-abu merah. Panjangnya setengah atau lebih sedikit dari panjang rongga bawah. Telur satu persatu dapat terlihat dengan kaca pembesar.
c. Perkembangan I. Testis dan ovarium bentuknya bulat telur, berwarna kemerah-merahan dengan pembuluh kapiler. Gonad mengisi kira-kira setengah ruang ke bagian bawah. Telur dapat terlihat seperti serbuk putih.
d. Perkembangan II. Testis berwarna putih kemerah-merahan, tidak ada sperma kalau bagian perut ditekan. Ovarium berwarna oranye kemerah-merahan. Telur dapat dibedakan dengan jelas, bentuknya bulat telur. Ovarium mengisis kira-kira dua pertiga ruang bawah.
e. Bunting. Organ seksual mengisi ruang bawah. Testis berwarna putih, keluar tetesan sperma kalau ditekan perutnya. Telur bentuknya bulat, beberapa dari telur ini jernih dan masak.
f. Mijah. Telur dan sperma keluar dengan sedikit tekanan di perut. Kebanyakan telur berwarna jerinih dengan beberapa yang berbentuk bulat telur tinggal dalam ovarium.
g. Mijah/Salin. Gonad belum kosong sama sekali, tidak ada telur yang bulat telur.
h. Salin. Testis dan ovarium kosong dan berwarna merah. Beberapa telur sedang ada dalam keadaan dihisap kembali.
i. Pulih Salin. Testis dan ovarium berwarna jernih, abu-abu merah.
Sedangkan pengamatan tingkat kematang gonad menurut Nikolsky (Bagenal & Braum (1968) dalam Effendie, 1997) yaitu :
a. Tidak Masak. Individu masih belum berhasrat mengadakan reproduksi. Ukuran gonad kecil.
b. Masa Istirahat. Produk seksual belum berkembang. Gonad berukurankecil, telur tidak dapat dibedakan oleh mata.
c. Hampir Masak. Telur dapat dibedakan oleh mata. Testes berubah dari transparan menjadi warna ros/kemerah-merahan.
d. Masak. Produk seksual masak, mencapai berat maksimum tetapi produk tersebut belum keluar bila diberi sedikit tekanan pada perut.
e. Reproduksi. Produk seksual akan menonjol keluar dari lubang pelepasa bila perut sedikit ditekan. Berat gonad cepat menurun sejak permulaan berpijah sampai pemijahan selesai.
f. Keadaan Salin. Produl seksual telah dikeluarkan, lubang genitak berwarna kemerahan. Gonad mengempis, ovarium berisi beberapa telur sisa. Testis juga berisi sperma sisa.
g. Masa Istirahat. Produk seksual telah dikeluarkan, warna kemerah-merahan pada lubang genital telah pulih. Gonad kecil dan telur belum terlihat oleh mata.
Ikan lele (Clarias batrachus) pertama kali matang kelamin pada umur satu tahun dengan ukuran panjang tubuh sekitar 20 cm dan ukuran berat tubuh 100 sampai 200 gram. Gonad ikan lele jantan dapat dibedakan dari ciri-cirinya yang memiliki gerigi pada salah satu sisi gonadnya, warna lebih gelap, dan memiliki ukuran gonad lebih kecil dari pada betinanya. Sedangkan, gonad betina ikan lele berwarna lebih kuning, terlihat bintik-bintik telur yang terdapat di dalamnya, dan kedua bagian sisinya mulus tidak bergerigi. Sedangkan organ – organ lainya dari ikan lele itu sendiri terdiri dari jantung, empedu, labirin, gonad, hati, lambung dan anus.
Ciri induk ikan betina yang telah matang gonad dapat dilihat dari bentuk perut yang membesar sangat lembut, dapat juga dengan mengurut perut ikan tersebut. Bila telur yang keluar secara pengurutan berbentuk bulat utuh, berwarna agak kecoklatan atau hijau kekuningan maka induk dalam kondisi siap pijah. Pada gonad ikan jantan dapat dilihat dari papilla genitalnya yang terletak dibelakang dan mendekati sirip anus, berwarna merah, meruncing dan menyebar kearah pangkalan, makan ikan tersebut telah matang kelamin.

FEKUNDITAS JUMLAH TELUR
Fekunditas merupakan salah satu fase yang memegang peranan penting untuk melangsungkan populasi dengan dinamikanya. Dari fekunditas kita dapat menaksir jumlah anak ikan yang akan dihasilkan dan akan menentukan jumlah ikan dalam kelas umur yang bersangkutan. Fekunditas adalah semua telur-telur yang kan dikeluarkan pada waktu pemijahan. Fekunditas sangat tergantung pada suplai makanan, terutama untuk mempertahankan musim pemijahan dan ukuran tubuh ikan betina. Selain itu, ikan-ikan yang hidup di sungai mempunyai hubungan dengan tinggi air. Apabila sampai pada tahun-tahun tertentu permukaan air sungai selalu tinggi, fekunditas ikan tinggi pula, bila dibandingkan dengan tahun lain yang permkaan airnya rendah. Kejadian yang sama dapat terjadi pula untuk ikan-ikan yang hidup di rawa, karena sering pula permukaan air rawa dari tahun ke tahun tidak sama sebagai akibat pemasukan air yang tidak tetap.
Untuk mengetahui penyebaran diameter telur dilakukan pengukuran diameter telur dengan mengambil butiran pada bagian anterior, tengah, dan posterior pada ovarium sebelah kanan dan kiri. Serta perkembangan telur ditandai dengan ukuran diameter telurnya. Untuk menghitung telur ada beberapa metoda yang dapat digunakan. Setiap metoda memiliki kelebihan dan kekurangan, oleh karena itu sebelum memutuskan untuk memilih metoda dalam menghitung nilai fekunditas ikan harus dikenali dengan baik sifat dari setiap spesies ikan yang diteliti agar pada pelaksanaan menghitung nilai fekunditas ikan tidak terjadi kesalahan.

Macam-macam fekunditas
Definisi fekunditas telah banyak dikemukakan. Namun, spesies-spesies ikan yang ada itu bermacam-macam dengan sifatnya masing-masing, maka beberapa peneliti berdasarkan kepada definisi umum lebih mengembangkan lagi definisi fekunditas sehubungan dengan aspek-aspek yang ditelitinya. Semua telur-telur yang akan dikeluarkan pada waktu pemijahan itulah yang dimaksud dengan fekunditas. Menurut Nikolsky (1967), jumlah telur yang terdapat dalam ovarium ikan dinamakan fekunditas individu. Dalam hal ini ia memperhitungkan telur yang ukurannya berlain-lainan. Oleh karena itu dalam memperhitungkannya harus diikutsertakan semua ukuran telur dan masing-masing harus mendapatkan kesempatan yang sama. Bila ada telur yang jelas kelihatan ukurannya berlainan dalam daerah yang berlainan dengan perlakuan yang sama harus dihitung terpisah. Nikolsky selanjutnya menyatakan bahwa fekunditas individu adalah jumlah telur dari generasi tahun itu yang akan dikeluarkan tahun itu pula. Dalam ovari biasanya ada dua macam ukuran telur, yang besar dan yang kecil. Telur yang besar akan dikeluarkan pada tahun itu dan yang kecil akan dikeluarkan pada tahun berikutnya. Namun apabila kondisi baik, telur yang kecilpun akan dikeluarkan menyusul telur yang besar. Sehubungan dengan hal ini maka perlu menentukan fekunditas ikan apabila ovari ikan itu sedang dalam tahap kematangan yang ke-IV(menrut Nikolsky 1969) dan yang paling baik sesaat sebelum terjadi pemijahan. Fekunditas individu akan sukar diterapkan untuk ikan-ikan yang mengadakan pemijahan beberapa kali dalam satu tahun, karena mengandung telur dari berbagai tingkat dan akan lebih sulit lagi menentukan telur yang benar-benar akan dikeluarkan pada tahun yang akan datang. Jadi fekunditas individu ini baik diterapkan pada ikan-ikan yang mengadakan pemijahan tahunan atau satu tahun sekali. Selanjutnya Royce (1972) menyatakan bahwa fekunditas total ialah jumlah telur yang dihasilkan ikan selama hidupnya. Fekunditas relatif adalah jumlah telur per satuan berat atau panjang. Fekunditas inipun sebenarnya mewakili fekunditas individu kalau tidak diperhatikan berat atau panjang ikan. Penggunaan fekunditas relatif dengan satuan berat lebih mendekati kepada kondisi ikan itu sendiri dari pada dengan panjang. Bahkan menurut Nikolsky (1969) lebih mencerminkan status ikan betina dan kualitas dari telur kalau berat yang dipakai tanpa berat alat-alat pencernaan makanannya. Ikan-ikan yang tua dan besar ukurannya mempunyai fekunditas relatif lebih kecil. Umumnya fekunditas relatif lebih tinggi dibanding dengan fekunditas individu. Fekunditas relatif akan menjadi maksimum pada golongan ikan yang masih muda (Nikolsky, 1969).
Ikan-ikan yang tua dan besar ukurannya mempunyai fekunditas relative yang lebih kecil. Umumnya fekunditas relative lebih tinggi dibandingkan dengan fekunditas individu. Fekunditas relative akan menjadi maksimum pada golongan ikan yang masih muda. Fekunditas merupakan salah satu fase yang memegang peranan penting untuk melangsungkan populasi dengan dinamikanya. Dari fekunditas kita dapat menaksir jumlah anak ikan yang dihasilkan dan akan menentukan jumlah ikan dalam kelas umur yang bersangkutan. Fekunditas adalah semua telur – telur yang akan dikeluarkan pada waktu pemijahan.

PEMIJAHAN
Pemijahan merupakan bagian dari reproduksi ikan yang menjadi mata rantai daur hidup kelangsungan hidup spesies. Penambahan populasi ikan bergantung kepada berhasilnya pemijahan ini dan juga bergantung kepada kondisi dimana telur dan larva ikan diletakkan untuk tumbuh. Oleh karena itu sesungguhnya pemijahan menuntut suatu kepastian untuk keamanan kelangsungan hidup keturunannya dengan memilih tempat, waktu dan kondisi yang menguntungkan. Berdasarkan hal ini pemijahan tiap spesies ikan mempunyai kebiasaan yang berbeda tergantung kepada habitat pemijahan itu untuk melangsungkan prosesnya.
Dalam keadaan normal ikan melangsungkan pemijahan minimum satu kali dalam satu daur hidupnya seperti yang terdapat pada ikan salmon dan sidat. Sesudah melakukan pemijahan, induk ikan tersebut mati karena kehabisan tenaga. Hampir semua ikan pemijahannya berdasarkan reproduksi seksual yaitu terjadinya persatuan sel produksi organ seksual yang berupa telur dari ikan betina dan spermatozoa dari ikan jantan. Dari persatuan kedua macam sel tersebut akan terbentuk individu baru yang akan menambah besarnya populasi. Persatuan kedua macam sel seks tadi ada yang terjadi di dalam tubuh (pembuahan di dalam atau fertilisasi internal) dan ada pula yang terjadi di luar tubuh (fertilisasi eksternal). Ikan yang mengadakan fertilisasi internal mempunyai perlengkapan tubuh untuk memastikan berhasilnya fertilisasi tadi dengan organ khusus (copulatory organ) untuk keperluan ini, organ tersebut biasanya terdapat pada ikan jantan saja.
Ciri-ciri induk lele siap memijah adalah calon induk terlihat mulai berpasang-pasangan, kejar-kejaran antara yang jantan dan yang betina. Ikan lele yang sudah siap memijah menunjukkan tanda-tanda sebagai berikut :
Induk jantan :
-          Alat kelamin tampak jelas, meruncing
-          Perutnya tetap ramping, jika perut diurut akan keluar sperma
-          Tulang kepala lebih mendatar disbanding betinanya
-          Jika warna dasar badannya hitam (gelap)
-          Umur induk jantan di atas tujuh bulan
Induk btina :
-          Alat kelamin bentuknya bulat dan kemerahan, lubangnya agak membesar
-          Tulang kepala agak cembung
-          Geraknya lambat
-          Warna badannya lebih cerah dari biasanya
-          Induk betina berumur satu tahun.
Ikan lele yang hidup di alam memijah pada musim penghujan dari bulan Mei sampai Oktober. Ikan lele juga dapat memijah sewaktu-waktu sepanjang tahun, apabila keadaan air kolam sering berganti. Pemijahan juga di pengaruhi oleh makanan yang diberikan. Makanan yang bermutu baik akan meningkatkan vitalitas ikan sehingga ikan lele lebih sering memijah.
Apabila telah dewasa, lele betina akan membentuk telur di dalam indung telurnya. Sedangkan lele jantan membentuk sperma atau mani. Bila telur-telurnya telah berkembang maksimum yaitu mencapai tingkat yang matang untuk siap dibuahi maka secara alamiah ikan lele akan memijah atau kawin.
Perkembangan telur dan sperma berlangsung di dalam tubuh lele dengan mekanisme pengaturan oleh zat yang disebut hormone kelamin gonadotropin atau gonade stimulating hormone (GSH). Bila lele mencapai tingkat dewasa, hormone gonadotropin secara alami akan terbentuk di dalam kelenjar hipofisa yang terletak di bawah otak kecil. Awalnya hormone gonadotropin yang terbentuk sedikit kemudian dialirkan melalui darah ke dalam indung telur, sehingga terbentuklah telur-telur yang semakin besar dan banyak jumlahnya di dalam indung telur.
Sampai suatu saat telur-telur menjadi matang untuk dibuahi oleh sperma (fertilisasi). Namun kematangan telur yang terjadi dalam indung telur belum tentu segera diikuti oleh kemauan induk untuk memijah sehingga diperlukan rangsangan yaitu dengan mengubah iklim atau sifat-sifat air yang dapat membei rangsangan bagi lele untuk membentuk hormone gonadotropin lebih banyak lagi.
Perkembangan muakhir untuk merangsang pemijahan ikan lele saat ini dapat menggunakan hormone buatan atau hormone sintetis yang telah banyak diproduksi. Beberapa jenis hormone tersebut antara lain Ovaprim, HCG, LHRH. Persyaratan penggunaan hormone sintetis adalah induk lele hsrus sudah mengandung telur yang siap untuk memijah (matang gonad).

AWAL DAUR HIDUP
Perkembangan awal daur hidup ikan merupakan suatu hal yang menarik karena berhubungan dengan stabilitas populasi ikan tersebut dalam suatu perairan. Untuk mempelajari kemampuan hidup suatu spesies ikan dan mengurangi tingkat mortalitas yang terjadi terutama pada awal perkembangan hidup ikan khusunya untuk pembudidayaan perlu adanya pengertian mengenai jenis-jenis telur ikan tersebut dan daur hidup ikan mulai dari awal fertilisasi hingga terdeferensiasi untuk menjadi ikan muda. Perkembangan sel telur (oosit) diawali dari germ cell yang terdapat dalam lamela dan membentuk oogonia. Oogonia yang tersebar dalam ovarium menjalankan suksesi pembelahan mitosis dan ditahan pada “diploten” dari profase meiosis pertama. Pada stadia ini oogonia dinyatakan sebagai oosit primer. Oosit primer kemudian menjalankan masa tumbuh yang meliputi dua fase. Pertama adalah fase previtelogenesis, ketika ukuran oosit membesar akibat pertambahan volume sitoplasma (endogenous vitelogenesis), namun belum terjadi akumulasi kuning telur. Kedua adalah fase vitelogenesis, ketika terjadi akumulasi material kuning telur yang disintesis oleh hati, kemudian dibebaskan ke darah dan dibawa ke dalam oosit secara mikropinositosis.
Peningkatan ukuran indeks gonad somatik atau perkembangan ovarium disebabkan oleh perkembangan stadia oosit. Pada saat perkembangan oosit terjadi perubahan morfologis yang mencirikan stadianya. Stadium oosit dapat dicirikan berdasarkan volume sitoplasma, penampilan nukleus dan nukleolus, serta keberadaan butiran kuning telur. Berdasarkan kriteria ini, oosit dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kelas.

Untuk Clarias sp oosit terbagi dalam 6 kelas, dimana stadia nukleolus dan perinukleolus dikategorikan sebagai stadium pertama dan setiap stadium dicirikan sebagai berikut:
a.   Stadium 1 : Oogonia dikelilingi satu lapis set epitel dengan pewarnaan hematoksilin-eosin plasma berwarna merah jambu, dengan inti yang besar di tengah.
b.  Stadium 2 : Oosit berkembang ukurannya, sitoplasma bertambah besar, inti biru terang dengan pewarnaan, dan terletak masih di tengah sel. Oosit dilapisi oleh satu lapis epitel.
c.  Stadium 3 : Pada stadium ini berkembang sel folikel dan oosit membesar dan provitilin nukleoli mengelilingi inti.
d.  Stadium 4 : Euvitilin inti telah berkembang dan berada disekitar selaput inti. Stadium ini merupakan awal vitelogenesis yang ditandai dengan adanya butiran kuning telur pada sitoplasma. Pada stadium ini, oosit dikelilingi oleh dua lapis sel dan lapisan zona radiate tampak jelas pada epitel folikular.
e.  Stadium 5 : Stadia peningkatan ukuran oosit karena diisi oleh kuning telur. Butiran kuning telur bertambah besar dan memenuhi sitoplasma dan zona radiata terlihat jelas.
f.  Stadium 6 : Inti mengecil dan selaput inti tidak terlihat, inti terletak di tepi. Zona radiata, sel folikel, dan sel teka terlihat jelas.

PENUTUP
Lele jantan mempunyai ciri seksualitas yaitu, Kepalanya lebih kecil dan Warna kulit dada agak tua bila dibanding induk ikan lele betina; Urogenital papilla (kelamin) agak menonjol memanjang ke arah belakang yang terletak di belakang anus dengan warna kemerahan; Gerakannya lincah, tulang kepala pendek dan agak gepeng(depress); Perutnya lebih langsing dan kenyal bila dibanding induk ikan lele betina; Bila bagian perut di stripping secara manual dari perut ke arah ekor akan mengeluarkan cairan putih kental (spermatozoa-mani); Kulit lebih halus dibanding induk ikan lele betina. Sedangkan Ciri-ciri induk lele betina antara lain, Kepalanya lebih besar dibanding induk lele jantan; Warna kulit dada agak terang; Urogenital papilla (kelamin) berbentuk oval (bulat daun), berwarna kemerahan, lubangnya agak lebar dan terletak di belakang anus; Gerakannya lambat, tulang kepala pendek dan agak cembung; Perutnya lebih gembung dan lunak; Bila bagian perut di stripping secara manual dari bagian perut ke arah ekor akan mengeluarkan cairan kekuning-kuningan (ovum/telur).
Ikan lele (Clarias batrachus) pertama kali matang kelamin pada umur satu tahun dengan ukuran panjang tubuh sekitar 20 cm dan ukuran berat tubuh 100 sampai 200 gram. Ciri induk ikan betina yang telah matang gonad dapat dilihat dari bentuk perut yang membesar sangat lembut, dapat juga dengan mengurut perut ikan tersebut. Bila telur yang keluar secara pengurutan berbentuk bulat utuh, berwarna agak kecoklatan atau hijau kekuningan maka induk dalam kondisi siap pijah. Pada gonad ikan jantan dapat dilihat dari papilla genitalnya yang terletak dibelakang dan mendekati sirip anus, berwarna merah, meruncing dan menyebar kearah pangkalan, makan ikan tersebut telah matang kelamin.
Fekunditas adalah semua telur-telur yang kan dikeluarkan pada waktu pemijahan. Fekunditas ikan lele sangat tergantung pada suplai makanan, terutama untuk mempertahankan musim pemijahan dan ukuran tubuh ikan betina. Selain itu, ikan-ikan yang hidup di sungai mempunyai hubungan dengan tinggi air, semakin tinggi permukaan air maka fekunditasnya ikut tinggi pula.
Pemijahan merupakan bagian dari reproduksi ikan yang menjadi mata rantai daur hidup kelangsungan hidup spesies. Ciri-ciri induk lele siap memijah adalah calon induk terlihat mulai berpasang-pasangan, kejar-kejaran antara yang jantan dan yang betina. Ikan lele yang hidup di alam memijah pada musim penghujan dari bulan Mei sampai Oktober.
Daur hidup ikan mulai dari awal fertilisasi hingga terdeferensiasi untuk menjadi ikan muda. Perkembangan sel telur (oosit) diawali dari germ cell yang terdapat dalam lamela dan membentuk oogonia. Oogonia yang tersebar dalam ovarium menjalankan suksesi pembelahan mitosis dan ditahan pada “diploten” dari profase meiosis pertama. Pada stadia ini oogonia dinyatakan sebagai oosit primer. Oosit primer kemudian menjalankan masa tumbuh yang meliputi dua fase. Pertama adalah fase previtelogenesis, ketika ukuran oosit membesar akibat pertambahan volume sitoplasma (endogenous vitelogenesis), namun belum terjadi akumulasi kuning telur. Kedua adalah fase vitelogenesis, ketika terjadi akumulasi material kuning telur yang disintesis oleh hati, kemudian dibebaskan ke darah dan dibawa ke dalam oosit secara mikropinositosis.

Sumber : https://zaldibiaksambas.wordpress.com/2010/06/21/aspek-biologi-reproduksi-ikan-lele-clarias-batrachus/