Minggu, 08 Februari 2015

PEMBUATAN IKAN PEDA

PEMBUATAN IKAN PEDA


Pembuatan ikan peda dengan prinsip fermentasi
Sumber : http://bisnisukm.com



A. Bahan Baku


 1.Ikan

Kesegaran ikan sangat mempengaruhi mutu hasil akhir, maka ikan yang akan diolah menjadi peda harus segar karena ikan yang sudah busuk akan menghasilkan peda bermutu rendah dan akan membahayakan kesehatan. Pada dasarnya semua jenis ikan dapat diolah menjadi peda, akan tetapi umumnya ikan yang digunakan sebagai bahan baku peda adalah ikan kembung (Restrelliger spp). Di kenal dua jenis peda yaitu peda merah yang dibuat dari ikan kembung betina ( Restrellinger nglegtus) dan peda putih yang dibuat dari ikan kembung ikan jantan ( Restrelliger knagorta).

2.Garam

Garam yang digunakan harus mempunyai kemurnian tinggi,artinya mengandung
garam NaCl tinggi minimal 98%. Bila garam yang digunakan mengandung
garam-garam calcium dan magnesium lebih dari 1% maka akan menghasilkan
peda yang kurang baik.

B. Prinsip Fermentasi

Peda merupakan salah satu produk olahan tradisional yang dibuat dengan cara fermentasi. Fermentasi adalah proses penguraian daging ikan oleh enzim yang akan memberikan hasil yang menguntungkan. Proses fermentasi serupa dengan pembusukan, tetapi fermentasi ini menghasilkan zat-zat yang memberikan rasa dan aroma yang spesifik.

Terjadinya fermentasi memerlukan syarat-syarat sebagai berikut :
– Suasana lembab
– Adanya oksigen dalam jumlah terbatas / semi aerob dan
– Adanya garam

C. Membuat Ikan Peda

Bahan baku:
– Ikan kembung 10 kg
– Garam 2,5 kg

Alat:
– Bak /pan plastic/ember
– Pendil/peti
– Timbangan
– Rak penirisan
– Merang / daun pisang kering
– Pemberat (kayu, batu)

Cara:

Cuci ikan dan timbang beratnya untuk menentukan banyaknya garam yang digunakan. Umumnya garam yang digunakan 25 – 30% dari berat ikan.
Campurkan ikan dan garam, kemudian susun ikan dalam bak/pan plastik selapis demi selapis dengan diselingi garam
Pada permukaan paling atas diberikan lapisan garam lebih tebal ( +1 jam),tutup dengan penutup dari pepen / tampah dan beri pemberat. Simpan di tempat yang bersih dan sejuk selama 3 – 6 hari.
Bongkar ikan, kemudian cuci dengan air dan tiriskan pada rak peniris
Jemur / angin-anginkan sampai ikan kelihatan kesat / padat
Lumuri ikan dengan garam dan susun berlapis dalam pendil / peti yang telah dialasi merang atau daun pisang kering.
Tutuplah bagian atas dengan merang / daun pisang kering dan diberi pemberat di atasnya
Pada saat pengepakan harus rapat, jangan sampai oksigen masuk.
Simpan di tempat yang bersih selama 10 s.d 15 hari untuk proses fermentasi sampai tercium bau peda.


sumber gambar: http://www.google.co.id/imglanding?q=ikan peda&imgurl

Sabtu, 07 Februari 2015

Cacing Tanah Untuk Membuat Pupuk Kompos

Cacing Tanah Untuk Membuat Pupuk Kompos


Sebagian orang kalau mendengar nama ini pasti akan menggeliat tanda geli campur jijik. Cacing tanah, dimana sebagian orang tidak menyukainya karena bentuk tubuhnya yang lembut dan licin memang membuat geli dan jijik.

Namun siapa sangka kalau ternyata cacing tanah merupakan salah satu makhluk yang berguna di dunia ini dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup. Kebiasaannya mengurai sisa-sisa bahan organik dapat membuat cacing tanah menghasilkan pupuk kompos dari kotorannya yang berguna bagi tanaman dan tumbuhan.

Kotoran yang dikeluarkan oleh cacing tanah banyak mengandung unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman seperti nitrogen, fosfor, mineral, dan vitamin. Karena mengandung unsur hara yang lengkap, apalagi nilai C/N nya kurang dari 20 maka kotoran cacing yang biasa disebut casting dapat digunakan sebagai pupuk.

Cacing tanah merupakan hewan tak bertulang belakang (avertebrata) yang hidup di tempat yang lembab dan tidak terkena sinar matahari langsung. Cacing tanah yang bisa dipergunakan untuk membuat pupuk adalah cacing tanah berjenis Lumbricus rubellus, Eisenia foetida, dan Pheretima asiatica. Namun sayangnya, ketiga jenis cacing itu masih perlu di impor. Jadi, apakah berbeda jika kita menggunakan cacing tanah dari sekitar rumah sendiri? Ya mungkin berbeda dari banyaknya kandungan unsur haranya saja, tapi tetap bisa juga digunakan untuk pembuatan pupuk kompos.

Cara membuat pupuknya. Siapkan cacing yang akan digunakan. Biasanya, ukuran tempat berkisar sekitar 60 cm x 45 cm x 15 cm, untuk 1500 - 2000 cacing tanah. Atau ukuran tempat bisa juga disesuaikan dengan kehendak kita sendiri menurut banyaknya cacing yang digunakan. Perlu diketahui bahwa dalam satu hari cacing akan memakan makanannya seberat tubuhnya, misalnya bobot satu cacing sekitar 1 gram, maka dalam satu hari cacing akan memakan 1 gram makanan.

Bahan makanan cacing dapat mempergunakan sisa-sisa sayuran, dedaunan, atau kotoran hewan, yang semuanya harus dicacah halus untuk memudahkan cacing memakannya. Dengan demikian, proses pengomposan dengan cara ini dapat mengurangi pencemaran lingkungan, menghasilkan pupuk organik, dan menghasilkan cacing yang menjadi sumber protein hewani bila digunakan sebagai pakan ternak. Di beberapa negara, cacingnya itu sendiri juga bisa dipergunakan untuk membuat kosmetik, bahan untuk obat, atau juga dimakan. Tapi untuk yang terakhir itu, kalau saya sih nanti dulu lah yaou…!

Nah, untuk mengetahui lebih detil lagi mengenai pembuatan pupuk kompos yang menggunakan media cacing ini, elwara mania bisa membaca langsung dari buku membuat pupuk kompos menggunakan media cacing tanah yang bebas dijual di toko-toko buku. Selamat mencoba.

Diposkan oleh JHEBLOG-

Jumat, 06 Februari 2015

Resep Ikan Gabus Goreng Rica-rica Lezaat

 Resep Ikan Gabus Goreng Rica-rica Lezaat

Sumber : http://resepikan.com


Malam semuaaa…. sudah makan malam semua belum ??

kalau belum, selamat datang di resepikan.com untuk mencicipi menu spesial kita malam ini ya, judul nya Resep Ikan Gabus Goreng Rica-rica. ^_^

yaps, pada artikel resep ikan kali ini saya (mama qio -red) mencoba memberikan resep baru lagi, hasil kreasi dapur resepikan.com. Ikan gabus merupakan salah satu ikan yang paling favorit di keluarga kami. Diracik dengan resep sepesial dari saya semakin membuat minat makan menjadi-jadi.. hohoh

oke let’s cook.. Ini dia resepnya:




















Resep Ikan Gabus Goreng Rica-rica

Ikan gabus pastinya dah ndak asing lagi ya buat kita semua, selain mudah didapat, ikan yang satu ini juga punya nilai gizi tinggi. Bahkan dokter bedah tulang selalu merekomendasikannya untuk pasien bedah untuk mengkonsumsi ikan gabus ini pasca operasi. Memang kandungan protein dalam ikan gabus ini sangat baik untuk pertumbuhan sel. So, diberikan pada balita juga bagus untuk perkembangan otak dan pertumbuhannya.

Malam ini, saya masak Resep Ikan Gabus Goreng Rica-rica untuk suami tercinta yang sedang kelaparan di meja kerjanya. ^_^

Langsung aja yah sobat resepikan.com, check this out..


Resep Ikan Gabus Goreng Rica-rica

Bahan dan bumbu untuk Resep Ikan Gabus Goreng Rica-rica adalah :
  • 2 ekor ikan gabus ukuran sedang
  • 1 sdt ketumbar
  • 2 ruas jari kunyit
  • 2 ruas jari jahe
  • 1/4 sdt lada bubuk
  • Garam secukupnya
  • minyak untuk menggoreng

Bahan sambal rica-rica untuk Resep Ikan Gabus Goreng Rica-rica :
  • 10 buah cabai rawit
  • 5 buah cabai merah
  • 5 siung bawang merah
  • 2 siung bawang putih
  • 1 buah tomat
  • Advertisement



Cara memasak Resep Ikan Gabus Goreng Rica-rica :
  1. Besihkan ikan, buang kotoran, buang sisik dan kepalanya. Belah punggung ikan dengan pisau yang tajam, jangan sampai terputus. Sisihkan.
  2. Haluskan bumbu untuk menggoreng ikan.
  3. Lumuri ikan yang sudah dibersihkan tadi dengan bumbu halusnya. Diamkan kurang lebih 30 menit agar bumbu meresap.
  4. Panaskan minyak. Goreng ikan hingga kuning keemasan. Sisihkan.
  5. Untuk sambal, iris kasar semua bahan. Satukan dalam mangkuk, tambahkan 1 sdm minyak goreng aduk rata. diamkan 10 menit.
  6. Panaskan wajan, lalu masak sambal yang telah dicampur minyak tadi, jangan terlalu lama, asal layu saja. jangan lupa tambahkan garam.
  7. Sajikan ikan dengan sambalnya berserta lalapannya.




















Resep Ikan Gabus Goreng Rica-rica


Taraaaa…. Resep Ikan Gabus Goreng Rica-rica sudah selesai dimasak dan siap disajikan untuk suami tercinta, dan soal rasaaa…. hmmmm… mak nyusssss pastinya..  silahkan di coba di rumah ya sobat resepikan.com. Salam Ikan Gabus.

Rabu, 04 Februari 2015

PEMBUATAN SURIMI IKAN

PEMBUATAN SURIMI IKAN



Sumber : http://bisnisukm.com
Proses pembuatan surimi ikan dengan bahan baku ikan daging putih



Surimi adalah produk olahan, hasil perikanan setengah jadi berupa hancuran daging ikan beku yang telah mengalami proses, pelumeran (leaching), pengepresan, penambahan bahan tambahan, pengepakan. Dari produk daging lumat seperti bakso, sosis, siomay dan sebagainya. Kali ini kita akan coba membahas cara pembuatan Surimi Ikan.

Bahan Baku dan Bumbu

1. Ikan

Umumnya jenis ikan yang digunakan untuk surimi dari jenis yang kurang ekonomis / kurang dimanfaatkan dan dari jenis ikan yang berdaging putih, karena ikan yang berdaging putih mempunyai elastisitas yang tinggi. Jenis ikan yang berdaging putih antara lain ikan cunang-cunang, manyung, pisang-pisang, ekor kuning, kurisi dan gumlah.

2. Bumbu

     Garam 0,2 – 0,3 %
     Gula pasir 3 %
     Poliphospat 0,2 %
B. Proses Pengolahan
1. Penyiangan dan Pencucian
     Ikan segar disiangi dengan cara membuang kepala dan isi perut, kemudian dicuci bersih
     Sayatlah kan memanjang pada bagian punggung lalu lakukan pengambilan daging dengan cara menyerok dengan menggunakan sendok.

2. Leaching
Proses leaching meliputi : pencucian daging ikan yang dilumatkan dengan air es ( air dingin ) dan diberi sedikit garam ( 0,2 – 0,3 %).
Perbandingan ikan dengan air dingin 1 : 4 dan perendaman dilakukan selama 15 menit sambil di aduk-aduk. Proses leaching tersebut, sebaiknya dilakukan 2 – 3 kali ulangan perendaman. Dengan perlakuan leaching akan dapat memperbaiki warna daging.

3. Pengepresan dan Penggilingan
– Ikan yang telah di leaching di pres dengan cara memerasnya dengan menggunakan kain biasa.
– Haluskan / lumatkan daging ikan tersebut dengan menggunakan gilingan atau blender hingga di dapat daging lumat halus menyerupai bentukpasta. Pada saat pelumatan ini tambahankan gula 3 % dan poliposphate 0,2 %.

4. Pembekuan
Surimi telah selesai diproses kemudian dikemas dalam kemasan plastik dan bekukan dalam freezer.


Selasa, 03 Februari 2015

Daftar Spesies Ikan Hias Air Laut

Daftar Spesies Ikan Hias Air Laut


Sumber : http://kuliah-ikan.blogspot.com
Ikan Hias - Daftar Spesies Ikan Hias Air Laut - Diperlukan usaha yang keras untuk membuat akuarium air laut yang baik. Tetapi kerja keras akan sebanding dengan hasil yang didapatkan, mengingat banyaknya ragam dan jenis ikan hias air laut yang akan dapat dipelihara di dalam akuarium yang kita buat, di samping keindahannya yang luar biasa bila dibandingkan dengan ikan hias jenis lain. Mulai dari si "Nemo" alias clownfish yang indah dan lucu hingga angelfish yang anggun, yang bagaikan makhluk dari negeri dongeng, di antara ikan-ikan hias ini ada beberapa jenis ikan yang sensitif terhadap lingkungan baru, tetapi ada juga yang langsung merasa nyaman dengan akuarium yang kita buat. Oleh karena itu, memang diperlukan sedikit keterampilan dalam memilah dan memilih jenis ikan hias air laut yang akan kita pelihara di akuarium. Di bawah ini saya buatkan daftar spesies ikan hias air laut yang umum dipelihara dan sudah diperjual-belikan di toko-toko ikan hias.

Daftar Spesies Ikan Hias Air Laut:
Angelfish, biasa juga disebut Manfish (Besar)
Spesies: Apolemichthys xanthurus, Genicanthus semifasciatus, Chaetodontoplus duboulayi, Pygoplites diacanthus, Holacanthus ciliaris, Chaetodontoplus meridithii, Holacanthus passer, Pomacanthus navarchus, Pomacanthus semicirculatus, Pomacanthus maculosus, Apolemichthys griffisi, Pomacanthus arcuatus, Pomacanthus paru, Pomacanthus imperator, Pomacanthus zonipectus, Euxiphipops xanthometopon, Chaetodontoplus caeruleopunctatus, Holacanthus bermudensis, Genicanthus bellus, Pomacanthus asfur, Pomacanthus annularis
Manfish (Kecil):
Spesies: Centropyge bicolor, Centropyge multifasciata, Centropyge aurantonotus, Centropyge bispinosa, Centropyge argi, Centropyge eibli, Centropyge loricula, Centropyge vroliki, Centropyge heraldi, Centropyge tibicens, Centropyge flavissima, Centropyge multicolor, Centropyge acanthops, Centropyge flavicauda, Centropyge potteri, Centropyge ferrugata, Sumireyakko venustus
Anthias (Ikan Bibir Merah):
Spesies: Pseudanthias huchtii, Pseudanthias hypselosoma, Pseudanthias pleurotaenia, Pseudanthias squamipinnis, Pseudanthias rubrizonatus, Pseudanthias heemstrai, Pseudanthias parvirostris, Pseudanthias cooperi, Pseudanthias bicolor, Pseudanthias bartlettorum
Ikan Bass dan Kerapu:
Spesies: Cephalopholis taeniops, Cephalopholis miniata, Epinephelus fasciatus, Epinephelus flavocaeruleus, Cephalopholis argus, Cephalopholis formosa, Serranus tortugarum, Cephalopholis fulva, Mycteroperca rosacea, Grammistes sexlineatus, Serranus tigrinus, Pogonoperca punctata, Calloplesiops altivelis, Cephalopholis miniatus, Cephalopholis panamensis, Cromileptes altivelis, Serranus scriba, Cephalopholis polleni, Cephalopholis urodeta, Variola louti, Plectropomus laevis, Epinephelus summana, Cephalopholis spiloparaea, Cephalopholis urodelus
Ikan Basslet dan Assessor:
Spesies: Assessor flavissimus, Gramma brasiliensis, Gramma loreto, Assessor macneilli, Gramma melacara
Batfish:
Spesies: Platax teira, Platax orbicularis, Platax pinnatus
Ikan Blenny:
Spesies: Acanthemblemaria spinosa, Ecsenius bicolor, Ecsenius namiyei, Meiacanthus nigrolineatus, Atrosalarias fuscus, Enchelyurus flavipes, Meiacanthus bundoon, Meiacanthus oualanensis, Malacoctenus boehlkei, Cirripectes stigmaticus, Salarias fasciatus, Ecsenius lineatus, Ecsenius midas, Scartella cristata, Crossosalarias macrospilus, Ophioblennius atlanticus, Ecsenius gravieri, Emblemaria pandionis, Salarias segmentatus, Salarias ramosus, Meiacanthus grammistes, Ecsenius stigmatura, Ecsenius bimaculatus, Pholidichthys leucotaenia
Boxfish atau Blowfish atau Pufferfish atau Ikan Buntal:
Spesies: Ostracion cubicus, Canthigaster bennetti, Canthigaster valentini, Arothron manilensis, Arothron hispidus, Arothron stellatus, Canthigaster rostrata, Diodon hystrix, Diodon holocanthus, Arothron mappa, Arothron nigropunctatus, Ostracion solorensis, Lactoria cornuta, Arothron immaculatus, Tetrasomus gibbosus, Canthigaster jactator, Canthigaster coronata, Canthigaster papua, Arothron meleagris
Butterflyfish atau Ikan Kupu-kupu (Family Chaetodontidae):
Spesies: Chelmon rostratus, Heniochus diphreutes, Forcipiger flavissimus, Chaetodon lunula, Chaetodon paucifasciatus, Chaetodon mertensii, Chaetodon unimaculatus, Chaetodon rafflesii, Chaetodon ulietensis, Chaetodon falcula, Chaetodon auriga, Chaetodon tinkeri, Chaetodon semilarvatus
Ikan Cardinal (Cardinalfish; Genus Pterapogon):
Spesies: Apogon aureus, Sphaeramia nematoptera, Apogon gilberti, Apogon maculatus, Apogon flores, Pterapogon kauderni, Archamia zosterophora, Apogon nigrofasciatus, Apogon leptacanthus, Apogon fragilis, Apogon hoeveni, Apogon cyanosoma, Apogon compressus
Ikan Chromis:
Spesies: Chromis flavomaculata, Chromis insolatus, Acanthochromis polyacanthus, Chromis atripectoralis, Chromis xanthura, Chromis lineata, Chromis limbaughi, Chromis viridis, Chromis chromis, Chromis cyanea, Chromis retrofasciata, Chromis iomelas, Neoglyphidodon nigroris, Chromis nitida, Chromis amboinensis
Anemonefish atau Clownfish atau Ikan Badut:
Spesies: Amphiprion melanopus, Amphiprion clarkii, Amphiprion ocellaris, Premnas biaculeatus, Amphiprion percula, Amphiprion perideraion, Amphiprion frenatus, Amphiprion polymnus, Amphiprion sebae
Ikan Damsel:
Spesies: Pomacentrus amboinensis, Chrysiptera hemicyanea, Neoglyphidodon nigroris, Pomacentrus nigromarginatus, Chrysiptera cyanea, Pomacentrus coelestis, Paraglyphidodon oxyodon, Pomacentrus simsiang, Chrysiptera caeruleolineata, Neoglyphidodon melas, Pomacentrus caeruleus, Chrysiptera galba, Dascyllus carneus, Neoglyphidodon crossi, Dascyllus trimaculatus, Chrysiptera taupou, Dascyllus melanurus, Hypsypops rubicunda, Dischistodus prosopotaenia, Dascyllus albisella, Microspathodon chrysurus, Chrysiptera rex, Pomacentrus moluccensis, Stegastes diencaeus, Dascyllus marginatus, Pomacentrus alleni, Pomacentrus vaiuli, Pomacentrus pavo, Pomacentrus smithi, Chrysiptera rollandi, Abudefduf saxatilis, Pomacentrus bankanensis, Chrysiptera springeri, Chrysiptera starcki, Chrysiptera talboti, Dascyllus aruanus, Stegastes planifrons, Chrysiptera tricincta, Dascyllus reticulatus, Amblyglyphidodon aureus, Dascyllus auripinnis, Pomacentrus auriventris, Dascyllus flavicaudus, Chrysiptera parasema, Neopomacentrus azysron
Dartfish:
Spesies: Ptereleotris zebra, Ptereleotris evides, Nemateleotris decora, Nemateleotris magnifica, Ptereleotris hanae
Ikan Dragonet (Mandarinfish):
Spesies: Synchiropus picturatus, Synchiropus ocellatus, Synchiropus stellatus, Synchiropus splendidus
Belut Laut:
Spesies: Gymnomuraena zebra, Congrogadus subducens, Gymnothorax meleagris, Gymnothorax nudivomer, Gymnothorax fimbriatus, Gymnothorax favagineus, Myrichthys maculosus, Taenioconger hassi, Echidna nebulosa, Gymnothorax picta, Gymnothorax kidako, Muraena lentiginosa, Gymnothorax funebris, Gymnothorax miliaris, Gymnothorax melatremus, Enchelycore pardalis, Echidna catenata, Rhinomuraena quaesita, Gymnothorax saxicola, Echidna polyzona, Myrichthys colubrinus
Filefish:
Spesies: Chaetodermis penicilligerus, Oxymonacanthus longirostris, Paraluteres prionurus, Paramonacanthus japonicus, Meuschenia hippocrepis, Pervagor spilosoma, Cantherhines dumerili, Pervagor melanocephalus
Flatfish atau Ikan Sebelah:
Spesies: Soleichthys heterorhinos
Ikan Foxface atau Rabbitfish: lihat spescies di Rabbitfish
Ikan Katak (Frogfish):
Spesies: Antennarius maculatus, Antennarius striatus, Histrio histrio, Antennarius commerson, Antennarius multiocellatus
Goatfish:
Spesies: Parupeneus barberinus, Parupeneus multifasciatus, Parupeneus cyclostomus, Parupeneus barberinoides
Ikan Goby:
Spesies: Gobiodon acicularis, Priolepis nocturna, Cryptocentrus pavoninoides, Lythrypnus dalli, Coryphopterus glaucofraenum, Gobiodon citrinus, Amblygobius rainfordi, Amblyeleotris diagonalis, Valenciennea puellaris, Stonogobiops dracula, Pholidichthys leucotaenia, Eviota pellucida, Gobiosoma multifasciatum, Gobiodon atrangulatus, Amblygobius hectori, Stonogobiops nematodes, Elacatinus oceanops, Amblyeleotris guttata, Amblyeleotris randalli, Amblygobius decussatus, Gobius melanopus, Cryptocentrus aurora, Elacatinus puncticulatus, Trimma cana, Amblygobius phalaena, Valenciennea sexguttata, Valenciennea strigata, Valenciennea helsdingeni, Valenciennea longipinnis, Amblyeleotris steinitzi, Cryptocentrus cinctus, Amblyeleotris wheeleri, Signigobius biocellatus, Valenciennea wardii, Ctenogobiops tangaroai, Stonogobiops yasha, Diademichthys lineatus, Gobiodon okinawae, Priolepis aureoviridis
Ikan Grunt (Haemulidae):
Spesies: Plectorhinchus albovittatus, Plectorhinchus chaetodonoides, Plectorhinchus diagrammus, Anisotremus virginicus, Plectorhinchus picus, Plectorhinchus orientalis, Terapon jarbua, Plectorhinchus lineatus
Ikan Hamlet:
Spesies: Hypoplectrus guttavarius, Hypoplectrus indigo, Hypoplectrus gummigutta, Hypoplectrus unicolor, Hypoplectrus nigricans, Hypoplectrus puella, Hypoplectrus gemma
Hawkfish atau Ikan Elang:
Spesies: Cirrhitichthys oxycephalus, Neocirrhitus armatus, Paracirrhites xanthus, Cirrhitichthys falco, Cirrhitichthys fasciatus, Amblycirrhitus pinos, Cirrhitichthys polyactis, Oxycirrhites typus, Paracirrhites forsteri, Paracirrhites arcatus, Cirrhitichthys aureus, Cirrhitichthys aprinus, Paracirrhites hemistictus
Ikan Hogfish:
Spesies: Bodianus rufus, Bodianus diana, Bodianus bilunulatus, Bodianus pulchellus, Bodianus mesothorax, Bodianus bimaculatus
Ikan Jack (Family Carangidae):
Spesies: Selene vomer, Alectis indicus, Gnathanodon speciosus
Ikan Jawfish:
Spesies: Opistognathus aurifrons, Opistognathus whitehurstii, Opistognathus rosenblatti, Opistognathus lonchurus
Lionfish (Genus Pterois, Famili Scorpaenidae):
Spesies: Parapterois heterura, Pterois antennata, Pterois mombasae, Dendrochirus biocellatus, Dendrochirus brachypterus, Dendrochirus barberi, Pterois radiata, Pterois russelli, Dendrochirus zebra, Pterois volitans
Parrotfish atau Ikan Kakatua:
Spesies: Scarus taeniopterus, Cetoscarus bicolor
Ikan Pipefish atau Needlefish:
Spesies: Corythoichthys haematopterus, Doryrhamphus janssi, Doryrhamphus pessuliferus, Doryrhamphus dactyliophorus
Ikan Pseudochromis:
Spesies: Pseudochromis paccagnellae, Pseudochromis cyanotaenia, Pseudochromis aureus, Pholidochromis cerasina, Pseudochromis dilectus, Pseudochromis fuscus, Ogilbyina novaehollandiae, Pseudochromis elongatus, Pseudochromis flammicauda, Pseudochromis fridmani, Manonichthys polynemus, Pseudochromis steenei, Pseudochromis aldabraensis, Cypho purpurascens, Pseudochromis coccinicauda, Manonichthys alleni, Pseudochromis diadema, Labracinus cyclophthalmus, Pseudochromis veliferus, Pseudochromis splendens, Pseudochromis springeri, Pseudochromis sankeyi, Pseudochromis porphyreus, Pseudochromis bitaeniatus, Pseudochromis flavivertex
Rabbitfish (Ikan Baronang):
Spesies: Siganus uspi, Siganus doliatus, Siganus vulpinus, Siganus magnificus, Siganus unimaculatus, Siganus guttatus
Jenis Ikan Pari Hias (Stingray):
Spesies: Urolophus spp., Manta birostris, Trygonorhina fasciata, Platyrhinoidis triseriata, Urobatis halleri
Scorpionfish (Ikan Scorpio / Kalajengking):
Spesies: Synanceja verrucosa, Amblyapistus taenionotus, Scorpaenopsis possi, Scorpaenopsis papuensis, Pteroidichthys amboinensis, Inimicus didactylus, Taenianotus triacanthus, Rhinopias aphanes, Scorpaenopsis macrochir, Rhinopias eschmeyeri, Rhinopias frondosa, Parascorpaena mossambica, Iracundus signifer, Sebastapistes cyanostigma
Kuda Laut (Seahorse):
Spesies: Hippocampus abdominalis, Hippocampus breviceps, Hippocampus kelloggi, Hippocampus bargibanti, Hippocampus erectus, Hippocampus kuda, Hippocampus whitei, Hippocampus zosterae, Hippocampus reidi, Hippocampus histrix, Hippocampus comes
Jenis Hiu:
Spesies: Orectolobus wardi, Orectolobus ornatus, Orectolobus maculatus, Heterodontus portusjacksoni, Ginglymostoma cirratum, Atelomycterus marmoratus, Chiloscyllium plagiosum, Chiloscyllium punctatum Hemiscyllium ocellatum
Snappers (Kakap):
Spesies: Caesio xanthonota, Lutjanus sebae, Macolor niger, Symphorichthys spilurus, Lutjanus adetii
Squirrelfish dan Soldierfish:
Spesies: Pristigenys serrula, Heteropriacanthus cruentatus, Myripristis jacobus, Myripristis vittata, Sargocentron xantherythrum, Sargocentron tiere
Jenis Ikan Tang:
Spesies: Ctenochaetus striatus, Acanthurus nigroris, Ctenochaetus hawaiiensis, Acanthurus lineatus, Acanthurus triostegus, Ctenochaetus binotatus, Zebrasoma desjardinii, Acanthurus chirurgus, Acanthurus dussumieri, Acanthurus coeruleus, Acanthurus tristis, Acanthurus nigricans, Acanthurus xanthopterus, Zebrasoma flavescens, Acanthurus maculiceps, Acanthurus achilles, Paracanthurus hepatus, Ctenochaetus strigosus, Acanthurus nigrofuscus, Naso lopezi, Acanthurus pyroferus, Naso lituratus, Acanthurus olivaceus, Acanthurus leucosternon, Acanthurus japonicus, Zebrasoma xanthurus, Zebrasoma veliferum, Zebrasoma scopas, Acanthurus sohal, Naso vlamingii, Naso unicornis, Ctenocheatus tominiensis, Acanthurus tennenti
Ikan Tilefish:
Spesies: Hoplolatilus marcosi, Hoplolatilus purpureus, Hoplolatilus starcki
Triggerfish (Famili: Balistidae Genus: Rhinecanthus):
Spesies: Balistoides conspicillum, Xanthichthys mento, Xanthichthys caeruleolineatus, Balistes punctatus, Rhinecanthus verrucosus, Sufflamen chrysopterum, Melichthys niger, Sufflamen bursa, Melichthys indicus, Pseudobalistes fuscus, Odonus niger, Rhinecanthus aculeatus, Xanthichthys auromarginatus, Melichthys vidua, Balistes vetula, Sufflamen albicaudatum, Balistapus undulatus, Balistoides viridescens, Abalistes stellatus, Rhinecanthus assasi, Rhinecanthus rectangulus, Xanthichthys ringens
Ikan Wrasse (Famili: Labridae):
Spesies: Paracheilinus carpenteri, Cheilinus diagrammus, Thalassoma trilobatum, Thalassoma lucasanum, Novaculichthys taeniourus, Pseudocheilinus octotaenia, Thalassoma bifasciatum, Cirrhilabrus lyukyuensis, Cirrhilabrus flavidorsalis, Cirrhilabrus luteovittatus, Halichoeres trispilus, Gomphosus varius, Cirrhilabrus exquisitus, Cirrhilabrus punctatus, Halichoeres chrysus, Cirrhilabrus jordani, Coris formosa, Thalassoma lutescens, Halichoeres chloropterus, Cirrhilabrus rhomboidalis, Thalassoma jansenii, Cirrhilabrus solorensis, Thalassoma quinquevittatum, Pseudocheilinus ocellatus, Halichoeres hortulanus, Macropharyngodon meleagris, Halichoeres melanurus, Halichoeres iridis, Pseudocheilinus evanidus, Cirrhilabrus filamentosus, Coris gaimard, Cirrhilabrus cyanopleura, Paracheilinus mccoskeri, Cirrhilabrus rubriventralis, Thalassoma hebraicum, Choerodon fasciatus, Pseudocheilinus hexataenia, Cirrhilabrus rubrisquamis, Macropharyngodon geoffroyi, Cirrhilabrus aurantidorsalis, Cirrhilabrus lubbocki, Thalassoma lunare, Cirrhilabrus lineatus, Cirrhilabrus laboutei, Cirrhilabrus scottorum, Pseudocheilinus tetrataenia


Daftar spesies ikan hias air laut di atas adalah jenis-jenis ikan hias laut yang umum dan sudah tersedia di pasaran ikan hias atau toko akuarium. Akan tetapi daftar di atas belumlah begitu lengkap dan komprehensif, karena beberapa spesies ikan hias air laut tertentu yang cukup langka, kemungkinan tidak tersedia di pasaran untuk diperjualbelikan dan tidak dicantumkan dalam daftar di atas.

Senin, 02 Februari 2015

UDANG BAKAR BUMBU PETIS

UDANG BAKAR BUMBU PETIS
Sumber : http://www.sajiansedap.com




Karena petis terbuat dari udang atau ikan maka sajian udang bakar bumbu petis ini memiliki rasa yang sangat pas dengan bumbu yang digunakan. Jangan terlalu lama memanggangnya agar tekstur daging udang tak berubah menjadi keras. 


Bahan-bahan/bumbu-bumbu:
500 gram udang pancet, kerat punggungnya
5 lembar daun jeruk, tulang daunnya, diiris halus
2 cm jahe, memarkan
3 lembar daun salam
75 gram kacang tanah, goreng, cincang kasar
1/4 sendok teh garam
1/2 sendok teh gula merah
1 sendok makan air asam jawa dari 1 sendok teh asam jawa dilarutkan dalam 2 sendok makan air
100 ml air
2 sendok makan minyak untuk menumis

Bumbu Halus:
6 butir bawang merah
3 siung bawang putih
4 buah cabai merah
1/2 sendok teh terasi bakar
2 sendok makan petis udang

Cara membuat udang bakar bumbu petis:
Panaskan minyak. Tumis bumbu halus, daun jeruk, jahe, dan daun salam sampai harum. Tambahkan kacang tanah. Aduk rata.
Masukkan udang. Aduk sampai berubah warna.
Tambahkan garam, gula merah, air asam jawa, dan air. Masak sampai meresap.
Bakar sambil diolesi sisa bumbu sampai harum dan kecokelatan.


Untuk 6 porsi

PEMIJAHAN IKAN PATIN

PEMIJAHAN IKAN PATIN




Secara umum, pemijahan ikan dapat dibedakan menjadi pemijahan alami dan pemijaha buatan. Pemijahan alami dilakukan terhadap jenis-jenis ikan yang mudah dipijahkan sepanjang tahun, sedangkan pemijahan buatan dilakukan terhadap ikan-ikan yang sulit memijah karena lingkungannya yang tidak sesuai.
Ikan patin termasuk salah satu jenis yang sulit dipijahkan secara alami, karena sulit menciptakan atau memanipulasi lingkungan sesuai dengan habitatnya di alam. Karena itu, pemijahan ikan patin dapat dilakukan secara buatan dengan ransangan menggunakan kelenjar hipofisa.

Persiapan Induk
Induk merupakan salah satu factor penentu keberhasilan usaha pembenihan ikan patin. Induk yang baik dan sehat tentu akan menghasilkan benih yang baik pula. Induk patin yang akan dipijahkan dapat berasal dari alam atau induk-induk yang dipelihara sejak kecil di kolam.
Induk-induk yang berasal dari alam tingkah lakunya masih liar dan kadang –kadang memiliki banyak luka akibat meronta-ronta saat penangkapan. Karenanya, induk yang baik dipijahkan adalah induk yang telah dipelihara di kolam atau di wadah lainnya, seperti sarang dan jaring.
Untuk mendapatkan induk patin yang baik, lama pemeliharaan di kolam, induk diberi makanan tambahan yang cukup mengandung protein. Berdasarkan hasil penenlitian yang dilakukan oleh para peneliti dalam rangka untuk memepercepat kematangan gonad, 2 kali seminggu patin perlu diberi ikan rucah atau ikan-ikan yang tidak layak dikonsumsi oleh manusia.

Seleksi Induk yang Matang Gonad
Induk ikan patin yang akan dipijahkan diseleksi terlebih dahulu, yaitu dengan memeilih induk-induk betina dan jantan yang matang gonad atau siap pijah. Penangkapan induk dilakukan dengan mengurangi volume air sampai ketinggian 20 cm dari dasar kolam. Penangkapan induk dapat dilakukan secara hati-hati untuk menghindari terjadinya stres. Penangkapan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan menggunakan jaring dan dengan menggunakan tangan.
Ciri-Ciri induk ikan patin yang matang gonad sebagai berikut :
Ø  Indu Betina :
Umur kurang lebih 3 tahun, berat minimal 1,5-2 kg per ekor, perut membesar kearah anus, perut terasa lembek dan halus bila diraba, alat kelamin membengkak dan berwarna merah tua
Ø  Induk Jantan :
      Umur minimal 2 tahun, berat 1,5 - 2 kg per ekor, kulit perut lembek dan tipis, alat kelamin membengkak dan berwarna merah, keluar cairan sperma jika perut diurut kearah anus.

Selain ciri-ciri diatas, induk ikan patin yang akan dipijahkan harus sehat secara fisik yaitu tidak terinfeksi penyakit dan parasit juga tidak memiliki luka akibat benturan, pukulan, goresan/ sayatan. Induk yang baik juga harus memiliki sifat pertumbuhan relatif cepat serta resisten terhadapa penyakit, tetapi toleran atau mudah beradaptasi dan responsive terhadap perubahan lingkungan dan makanan.
Seleksi induk patin tidak memperhatikan bagian luar fisiknya. Pasalnya, yang paling menentukan keberhasilan pemijahan adalah tingkat kematangan telur. Telur yang sudah matang dapat dicek dengan cara sebagai berikut :
-          Ambil 1 ekor induk patin betina, sedot telurnya dengan menggunakan selang kateter. Caranya selang dimasukan kedalam kloakasedalam 3 cm, lalu ujung selang lainnya disedot dengan mulut sampai tampak beberapa butir telur di dalam selang.
-          Telur didalam selang tadi disimpan dicawan, kemudian ditetesi larutan secara ( campuran formalin, alkohol, dan larutan asetid dengan perbandingan 6 : 3 : 1). Larutan tersebut berfungsi untuk mengetahui telur yang telah matang. Telur yang matang memiliki ciri tampak bulat, warnanya putih kekuning - kuningan, inti telurnya terlihat jelas terpisah dari cangkangnya.
-          Induk-induk patin yang telah matang telur disimpan didalam bak atau hapa, jantan dan betina tersimpan terpisah.

Induced Breeding (Kawin suntik)
Ikan patin termasuk salah satu jenis ikan yang sulit memijah secara alami jika tidak berada dihabitat aslinya. Untuk itu perlu dilakukan pemijahan sistem induced breeding (kawin  suntik). Tingkat keberhasilan pemijahan sistem kawin suntik sangat dipengaruhi oleh tingkat kematangan induk patin. Faktor lainnya yang juga cukup berpengaruh adalah kualitas air, penyediaan makanan yang berkualitas dan dalam jumlah yang mencukupi, serta kecermatan didalam penanganan atau pelaksanaan penyuntikan.
Induced breeding dapat dilakukan dengan menggunakan kelenjar hipofisa ikan lain, seperti ikan mas, dapat juga dilkaukn dengan menggunakan semacam kelenjar hipofisa buatan yang mengandung hormon gonadotropin. Dipasaran dikenal dengan merek dagang ovaprim.
a.      Menggunakan Kelenjar hipofisa Ikan Mas
Urutan pekerjaan yang dilakukan jika menggunakan kelenjar hipofisa sebagai berikut : 
-          Siapkan ikan donor atau ikan yang akan diambil kelenjar hipofisanya. Jika induk patain betina yang akan di suntik memiliki berat 3 kg maka donor yang digunakan 9 kg sedangkan untuk induk jantan yang memiliki berat 3 kg donor yang digunakan sebanyak 6 kg
-          Ikan mas yang akan diambil kelenjar hipofisanya dipotong tegak lurus atau vertikal dibagian belakang tutup insang
-          Potongan kepala diletakan dengan posisi mulut menghadap keatas, kemudian dipotong vertical dari permukaan sedikit diatas mulut sehingga akan nampak organ otak yang dilingkapi lendir atau lemak.
-          Otak dilingkar dan lendir dibuang atau dibersihkan dengan kapas atau tissue. Setelah bersih dari lendir, diotak akan nampak butiran putih seperti beras itulah yang dinamakan kelenjar hipofisa.
-          Kelenjar hipofisa diambil dengan menggunakan pinset dan dihancurkan dengan menggunakan gelas penggerus sampai halus. Untuk memudahkan penyuntikan, kelenjar hipofisa tadi dilarutkan kedalam akuabides sebanyak 2 ml. Agar larutan tersebut benar-benar hancur dan tercampur, gunakan sentrifugal atau pemusing.
-          Larutan kelenjar hipofisa selanjutnya diambil atau disedot dengan menggunakan alat suntik. Penyuntikan dapat dilakukan secara intramuskular dibelakang sirip punggung dengan menggunakan jarum suntik berukuran 0,12 ml
b.      Menggunakan Ovaprim
Urutan pekerjaan yang dilakukan jika menggunakan ovaprim sebagai berikut :
-          Untuk mengetahui dosis ovaprim yang akan digunakan, induk betina dan jantan yang akan dipijahkan ditimbang terlebih dahulu.
-          Dosis penyuntikan induk betina berbeda dengan inguk jantan. Untuk induk jantan diperlukab ovaprim 0,3 ml/ kg sedangkan untuk betina sebanyak 0,5 ml/ kg
-          Penyuntikan terhadap induk betina dilakukan 2 kali pada suntikan pertama dosisnya sebanyak 1/3 bagian dosis total, pada penyuntikan kedua dosisnya sebanyak 2/3 bagian dosis total. Penyuntikan kedua dilakukan 8-10 jam setelah penyuntikan pertama
-          Penyuntikan induk jantan dilakukan sekali bersama dengan penyuntikan kedua induk betina.
-          Untuk menghindari induk berontak pada saat penyuntikan sebaiknya, dilakukan 2 orang
-          Penyuntikan secara intramuskular dibelakang sirip punggung dengan memasukan jarum sedalam kurang lebih 2 cm dengan kemiringan 40 derajad.
-          Induk-induk patin yang telah disuntik disimpan dalam bak atau hapa dengan air yang mengalir.

Stripping dan Pembuahan
Ovulasi adalah tingkat kematangan gonad. Saat ovulasi, telur yang telah masak harus dikeluarkan dengan cara memijit bagian perut patin betina. Urutan pekerjaan stripping sebagai berikut :
-          Sediakan wadah untuk menampung telur, berupa baskom, plastik, yang telah dibersihkan dan dalam keadaan kering.
-          Induk betina yang akan distripping dipegang dengan kedua belah tangan, tangan kiri memegang pangkal ekor dan tangan kanan memegang perut bagian bawah. Ujung kepala induk patin ditopangkan dipangkal paha, selanjutnya perut diurut secara perlahan-lahan dari bagian depan kearah belakang dengan menggunakan jari tengah dan jempol, lalu telur-telur tersebut ditampung didalam baskom.
-          Induk jantan ditangkap untuk diambil spermanya. Sperma ini nanti akan dicampurkan dengan telur-telur didalam baskom
-          Pengurutan induk jantan pada prinsipnya sama saja dengan pengurutan induk betina. Sperma yang keluar dari perut induk jantan langsung disatukan dengan telur yang ditampung diadalam baskom
-          Agar terjadi pembuahan yaitu telur dan sperma dapat dicampur dengan sempurna, lakukan pengadukan dengan menggunakan bulu ayam kurang lebih selama 0,5 menit. Pengadukan dilakukan berputar perlahan-lahan didalam baskom.
-          Untuk meningkatkan fertilisasi (pembuahan), kedalam campuran telur dan sperma tadi dapat ditambahkan garam dapur sebanyak 4000 rpm. Penambahan dilakukan sambil tetap mengaduk campuran dan disertai dengan memasukan air sedikit demi sedikit. Pengadukan dilakukan kurang lebih selam 2 menit.
-           Untuk membuang kotoran berupa lendir perlu dilakukan penggantiaan air bersih sebanyak 2 – 3 kali. Untuk menghindari terjadinya penggumpalan pada telur perlu dilakukan pencucian dengan menggunakan larutan lumpur. Lumpur dapat membersihkan lendir-lendir yang menempel  dan memisahkan telur-telur yang menggumpal. Lumpur yang digunakan berupa lumpur atau tanah dasar kolam atau tegalan yang dipanaskan pada suhu 100 °C terlebih dahulu guna menghindari penyakit.
-          Telur-telur yang telah dibuahi akan megalami pengembangan. Ukuran telur terlihat lebih besar serta berwarna kuning. Telur-telur yang tidak dibuahi akan berwarna putih dan mengendap dibawah.

Proses Penetasan Telur
Wadah penetasan telur berupa corong-corong penetasan. Untuk menjamin keberhasilan penetasan corong penetasan dipersiapkan 1 hari sebelum pemijahan. Langkah – langkah persiapan wadah penetasan telur sebagai berikut :
-          Semua wadah di unit pembenihan patin seperti penetasan telur, tempat perawatan larva, bak filter air, bak penampungan air bersih, water Turen, dicuci bersih dan dikeringkan
-          Untuk menghindari kontaminasi jamur atau bakteri corong-corong penetasan telur dapat pula direndam dalam larurtan PK sebanyak 5 ppm selama 30 menit.
-          Setelah semua wadah dipersiapkan langkah selanjutnya adalah memasukan air bersih kesemua wadah. Pompa isap yang berfungsi untuk mengalirkan air dari wadah penempungan air bersih ke water Turen dijalankan, sehingga akan terjadi sirkulasi air diseluruh wadah unit pembersihan patin
Telur-telur ikan patin yang akan ditetaskan dituangkan kedalam corong penetasan lalu disebarkan dengan menggunakan bulu ayam. Air pun harus dialirkan dengan cara mengatur debit air dengan menggunakan keran agar telur selalu terangkat didalam corong tersebut. Jangan samapai telur menumpuk didasar corong. Jika menumpuk telur dapat membusuk kepadatan telur sebanyak 400-500 butir perliter air atau 10.000 – 20.000 butir per corong. Telur yang dibuahi akan berkembang sedikit demi sedikit dan menetas menjadi larva.

Penampungan Larva Sementara
Benih patin yang baru menetas yang dikenal dengan sebutan larva ditampung sementara ditempat penampungan larva. Tempat penampumngan larva berupa hapa (Trilin) yang dipasang didalam bak penampunagan larva. Hal tersebut dimaksudkan guna memudahkan pemanenan larva saat akan dipindahkan ketempat pemeliharaan. Benih-benih patin atau larva yang baru berumur 1 hari yang terbawah arus air dicorong penetasan diambil atau dipanen dengan menggunakan scop net halus secara hati-hati agar benih-benih patin tidak mengalami stres, kualitas air dan tempat pemeliharaan, khususnya suhu atau temperatur, mendekati sama.

Pemeliharaan Benih
Larva yang baru menetas belum sempurnah, tetapi benih tersebut masih memiliki cadangan makanan didalam tubuhnya berupa kuning telur (yolk sack) kelangsingan hidup benih sangat ditentukan oleh kandungan kuning telur serta kualitas air ditempat pemeliharaan benih. Benih-benih patin berenang aktif secara vertikal menuju permukaan air.
Benih yang berasal dari tempat penampungan sementara selanjutnya dipelihara ditempat pemelihaeraan benih. Tempat pemeliharaan benih dapat berupa akuarium/fiber glass. Akuarium atau fiber glass yang akan digunakan sebelumnya dibersihkan dan dikeringkan untuk menghindari terjadinya serangan penyakit. Setiap akuarium yang akan digunakan air bersih serta diberi aerasi guna menambah kandungan oksigen yang terlarut kedalam air. Pengisian air dilakukan 1-2 hari sebelum penebaran benih. Untuk setiap akuarium berukuran 60 x 45 x 30 cm dapat dipelihara benih sebanyak 20.000 ekor. Jika ada pembeli yang akan membutuhkan benih-benih patin tersebut dapat dijual langsung untuk dipelihara atau didederkan ketempat lain.
Benih dipelihara di akuarium atau fiber glass selama 2 – 3 minggu. Selama pemeliharaan, dari hari 1 –10, benih patin diberi makanan tambahan berupa Artemia yang telah ditetaskan ditempat terpisah dan pemberiannya dilakukan setiap 3 - 4 jam sekali. Setelah hari ke 10 benih patin dapat diberi makanan berupa kutu air (Dapnia sp) jentik nyamuk, cacing sutra. Jumlah makanan yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan benih, Usahakan jangan sampai ada makanan yang tersisa guna menghindari terjadinya penurunan kualitas air yang pada akhirnya dapat menyebabkan kematian benih.
Selam pemeliharaan lakukan penggantian air bersih 1 – 2 hari sekali atau tergantung pada kebutuhan. Penggantian air dapat dilakukan secara hati-hati dengan cara menyipon atau sambil membuang kotoran yang berada di dasar wadah pemeliharaan dengan menggunakan selang kecil. Penambahan air bersih dilakukan secara bertahap sedikit demi sedikit guna menghindari terjadinya stres pada benih yang dipelihara sampai posisi air mendekati ketinggian semula.   

DAFTAR PUSTAKA
Afriantio, Eddy dan Evi Liviawati. Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan. Kanisius. Yogyakarta : 1993
Daelami, Deden. Agar Ikan Sehat. Penebar Swadaya.
Jakarta :2001
Khairuman dan Dodi Sudenda. Budidaya Patin Secara Intensif. Agro Media Pustaka. Jakarta : 2002

Syofan dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Patin Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.
Diposkan oleh Fahrur Razi, SST