Kamis, 06 Oktober 2016

MEMAHAMI TEKNIK PEMILIHAN BIBIT DAN PENANAMAN RUMPUT LAUT



Bibit sebaiknya dipilih dari tanaman yang masih segar yang dapat diperoleh dari tanaman rumput laut yang tumbuh secara alami maupun dari tanaman budidaya. Penyediaannya segera dilakukan setelah konstruksi rakit kegiatan budidaya telah terpasang dan sumber bibit telah tersedia. Bibit yang digunakan berupa stek, harus baru, serta masih muda dan banyak cabang.

Kriteria Bibit :
Dalam penyediaan bibit  sebaiknya diseleksi bibit yang baik dari hasil  panen dengan ciri-ciri : (a). Bercabang banyak,  rimbun  dan runcing (b). Tidak terdapat bercak dan terkelupas (c). Warna spesifik (cerah). (d). Umur 25 – 35 hari.  Berat bibit yang ditanam adalah antara 50 – 100 gram per rumpun dan (e). Tidak terkena penyakit ice-ice.

Penanganan Bibit :
            Yang harus diperhatikan dalam membawa bibit agar tidak terjadi kerusakan selama dalam perjalanan adalah :
§  Bibit harus tetap dalam keadaan basah/lembab  selama dalam perjalanan
§  Tidak terkena air tawar atau hujan
§  Tidak terkena minyak atau kotoran-kotoran lain
§  Jauh dari sumber panas seperti mesin kendaraan dan lainnya
§  Tidak terkena sinar matahari.

Sedangkan ciri-ciri bibit yang tidak baik adalah :
§  warna kemerahan
§  Thallus berlendir
§  Bau tidak enak/busuk
§  Thallus rusak/patah-patah.
§  Tidak ada bagain  thallus yang transparan tidak berpigmen.

Cara pengepakan bibit :
§  Kantong plastik lebar sesuai dengan potongan-potongan bibit yang akan dibawa
§  Bibit rumput laut  dimasukan ke dalam kantong plastik tanpa dipadatkan supaya bibit tidak rusak, kemudian diikat.
§  Bagian atas kantong dilubangi dengan  jarum untuk sirkulasi udara
§  Kantong plastik dimasukkan ke dalam kotak karton

Setelah sampai di tujuan, bibit harus segera dibuka dan direndam dalam air laut yang diberi aerasi kemudian diseleksi selanjutnya siap dilakukan penanaman. 

Metode Budidaya Rumput Laut Eucheuma sp
Budidaya Eucheuma dapat dilakukan dengan 5 (lima) metode yaitu : metoda lepas dasar,  metoda rakit apung, metode long line (rawai), metode jalur (kombinasi), dan metode kantong jaring.

Metoda Lepas Dasar
Metode ini dilakukan di atas dasar perairan yang berpasir atau pasir berlumpur. Hal ini penting  untuk memudahkan penancapan patok/pacang. Penancapan patok akan sulit dilakukan bila dasar perairan terdiri dari batu karang.  Patok terbuat dari kayu yang berdiameter sekitar  5 cm sepanjang 1 m yang salah satu ujungnya runcing. Jarak antara patok untuk merentangkan tali ris sekitar 2,5 m. Setiap patok dipasang berjajar dan dihubungkan dengan tali ris polyethylen(PE) berdiameter 8 mm. Jarak antara tali rentang sekitar 20 cm. Tali ris yang telah berisi ikatan tanaman direntangkan pada tali ris utama dan posisi tanaman budidaya berada sekitar 30 cm diatas dasar perairan (perkirakan pada saat surut terendah masih tetap terendam air).
Metode lepas dasar biasanya berukuran 100 m x 5m. Luasan ini membutuhkan bahan-bahan sebanyak :
Æ  Patok kayu : panjang 1 m (diameter 5 cm) sebanyak  275 buah
Æ  Tali rentang : bahan PE (diameter 3,5 – 4 mm) sebanyak  10 kg
Æ  Tali ris : bahan PE  (diameter 8 mm)   sebanyak  15 kg
Æ  Tali  PE (diameter 1-2 mm) sebanyak 1 kg 
Æ  Bibit rumput laut sebanyak  1.000  kg (ukuran bibit  biasanya  50-100 gram/titik)

Metode  Rakit Apung
Metode rakit apung adalah cara pembudidayaan rumput laut dengan menggunakan rakit yang terbuat dari bambu/kayu. Metode ini cocok diterapkan pada perairan berkarang dengan pergerakan airnya didominasi oleh ombak. Ukuran tiap rakit sangat bervariasi bergantung pada ketersediaan material dan disesuaikan dengan kondisi perairan tetapi pada prinsipnya tidak terlalu besar sehingga mempermudah perawatan rumput laut yang ditanam. Metoda rakit apung cocok dilakukan pada kedalaman  lebih dari 2 meter.
Untuk menahan agar rakit tidak hanyut terbawa oleh arus digunakan jangkar atau patok dengan tali penahan (rope) yang berukuran 9 mm. Untuk menghemat areal dan memudahkan pemeliharaan, beberapa rakit dapat dijadikan satu dan tiap rakit diberi jarak sekitar 1 meter.
 
Keuntungan pemeliharaan dengan metode ini adalah antara lain pemeliharaan mudah dilakukan, tanaman terbebas dari gangguan hama, pemilihan lokasi lebih fleksibel dan intensitas cahaya matahari lebih besar. Kelemahan dari metode ini adalah biaya yang dibutuhkan untuk pembuatan sarana budidaya relatif tinggi, tanaman sering muncul kepermukaan air terutama saat laut kurang berombak sehingga  dapat menyebabkan cabang-cabang tanaman menjadi pucat karena kehilangan pigmen dan akhirnya akan mati.
Untuk pemeliharan yang efektif dan efisien, umumnya 1 unit usaha terdiri dari 20 rakit yang masing-masing rakit berukuran 5 m x 2,5 m. Satu rakit terdiri dari 24 tali dengan jarak antara masing-masing tali 20-25 cm. Setiap tali dapat diikatkan 9 rumpun tanaman, jarak antara rumpun yang satu dengan yang lainnya adalah 25 cm, sehingga dalam satu rakit akan terdiri dari 300 rumpun dengan berat rata-rata per rumpun 100 gram atau dibutuhkan bibit sebanyak 30 kg . Pertumbuhan tanaman dengan menggunakan metode apung, umumnya lebih baik daripada metode lepas dasar, karena pergerakan air dan intensitas cahaya lebih baik bagi pertumbuhan rumput laut.

Sarana dan peralatan yang diperlukan untuk 1 unit usaha budidaya rumput laut berukuran 5 m x 2,5 m adalah sebagai berikut :
Æ  bambu sebanyak 80 batang
Æ  tali rakit PE berdiameter 10 mm sebanyak 6 kg
Æ  tali rentang PE (diameter 3,5 mm – 4 mm) sebanyak  33 kg
Æ  jangkar  4  buah
Æ  tali D15 60 gulung
Æ  tempat penjemuran  1.2 m  x  10 m 
Æ  peralatan budidaya (keranjang, pisau, gergaji, dan parang)
Æ  perahu jukung, sebanyak 1 unit,
Æ  bibit rumput laut sebanyak 600 kg.

Metode Rawai (Long Line)
Metode rawai (long line) adalah metode budidaya dengan menggunakan tali panjang yang dibentangkan. Metode budidaya ini banyak diminati oleh masyarakat karena alat dan bahan yang digunakan lebih tahan  lama, lebih murah dan mudah untuk didapat. Tali (diameter 8 mm) yang digunakan sepanjang 50 – 100 meter yang pada kedua ujungnya diberi jangkar dan pelampung besar, kemudian setiap 25 meter diberi pelampung utama yang dapat terbuat dari drum plastik atau styrofoam kemudian pada setiap jarak 5 meter diberi pelam-pung yaitu berupa potongan styrofoam/ karet sandal atau botol aqua bekas 500 ml yang berfungsi untuk memudahkan pergerakan tanaman setiap saat.
Sewaktu memasang tali utama harus diperhatikan arah arus  pada posisi  sejajar atau sedikit  menyudut untuk menghindari terjadinya  belitan tali satu dengan lainnya. Bibit rumput laut seberat 100 gram diikatkan sepanjang tali dengan jarak titik 20-25 cm. Antara tali satu dengan lainnya berjarak antara 1-3 m dengan mempertimbangkan kondisi arus dan gelombang setempat.
 Jarak antar blok selebar 1 m (dalam satu blok terdapat 4 tali) yang berfungsi untuk jalur sampan pengontrolan (jika dibutuh-kan). Untuk satu hektar hamparan dapat dipasang 142 tali, @ 500 titik atau diperoleh 71.000 titik.  Dengan berat bibit awal 100 gram maka untuk 1 ha areal dibutuhkan bibit 7.100 kg .

Panen dilakukan setelah rumput laut berumur lebih kurang 45 hari.  Bila 100 gram bibit dapat mengasilkan 1 kg, maka panen diperkirakan  dapat mencapai 71.000 kg per ha. Bibit  untuk penanaman berikutnya dapat diambil dari seleksi hasil panen sebanyak 10%-nya atau sebanyak 7.100 kg, sehingga hasil panen yang dikeringkan sebanyak 62.900 kg basah atau 7.800 kg kering (dengan konversi 1 : 8).
Sarana dan peralatan yang diperlukan untuk 1 unit usaha budidaya rumput laut dengan metode long-line  adalah sebagai berikut:

Bahan dan alat utama :
Æ  Tali titik (ukuran 0,4 cm) sebanyak 10 kg
Æ  Tali jangkar (diameter 10 mm) sebanyak 50 kg
Æ  Tali jangkar sudut (diameter 6 mm) sebanyak 10 kg
Æ  Jangkar tancap dari kayu (diameter 50 mm) sebanyak 104 buah
Æ  Pelampung styrofoam sebanyak 60 kg
Æ  Pelampung botol aqua/karet sandal secukupnya

Sarana penunjang :
Æ  Perahu sampan sebanyak 1 buah
Æ  Timbangan seberat 100 kg
Æ  Waring 50 m3
Æ  Para-para penjemuran dari kayu/bambu (ukuran 6 m x 8 m) sebanyak 3 unit
Æ  Pisau kerja 5 buah
Æ  Masker/snorkel 1 buah
Æ  Karung plastik (ukuran 50 kg)  sebanyak 1000 lembar


Metode Jalur (Kombinasi)
Metode ini merupakan kombinasi antara metode rakit dan metode long line. Kerangka metode ini terbuat dari bambu yang disusun sejajar. Pada kedua ujung setiap bambu dihubungkan dengan tali PE 0,6 mm sehingga membentuk persegi panjang dengan ukuran 5 m x 7 m perpetak. Satu unit terdiri dari 7 – 10 petak. Pada kedua ujung setiap unit diberi jangkar seberat 100 kg.   Penanaman dimulai dengan mengikat bibit rumput laut ke tali jalur yang telah dilengkapi tali PE 0,1 cm sebagai pengikat bibit rumput laut.  Setelah bibit diikat  kemudian tali jalur tersebut dipasang pada kerangka yang telah tersedia dengan jarak tanam yang digunakan minimal 20 cm x 30 cm.

Metode Keranjang (kantong jaring)
            Metode keranjang adalah metode budidaya rumput laut dengan menggunakan kantong jaring sebagai alat produksi. Kantong jaring tersebut diikatkan pada lali (long line) atau pada rakit. Metode ini digunakan untuk mengatasi serangan ikan dan penyu.
            Dalam metode ini digunakan kantong jaring dengan ukuran 1 – 1.5 inchi yang terbuat dari tali PE ukuran D18-21. kantong memiliki ukuran diameter 30 – 50 cm dan tinggi 50 – 75 cm dan ditunjang oleh rangka kawat. Kantong digantungkan pada tali atuu rakit dengan jarak 50 – 100 cm antara kantong.
            Persyaratan lokasi metode ini adalah arus harus lebih kuat (25 – 40 cm/detik) sehingga sirkulasi air cukup baik. Kecepatan arus yang kurang baik akan mengakibatkan rumput laut mati dan membusuk karena kurang oksigen dan nutrien.
            Beberapa pengalamn menggunakan metode ini adalah sbb: a) biomas pada saat awal penanaman 0.5 kg ; b) lama pemeliharaan 45 – 60 hari ; c) biomas akhir 7 – 10 kali biomas awal (dapat mencapai 5 kg/kantong). Bahan dan peralatan yang diperlukan dalam metode ini adalah :
§  Kantong jaring
§  Tambang utama (12 mm)
§  Tambang ris (10 mm)
§  Tambang jangkar (20 mm)
§  Jangkar
§  Pelampung utama (V : 10 L)
§  Pelampung antara (V : 1 – 5 L)

Selain sarana utama,  metode ini membutuhkan sarana penunjang seperti pada metode lainnya.

Perawatan
            Keberhasilan suatu usaha rumput laut sangat tergantung pada perawatan. Perawatan harus dilakukan   setiap  hari  untuk   membersihkan   tanaman  dari  tumbuhan pengganggu   dan  menyulam tanaman yang mati dan terlepas.  Khusus untuk kegiatan penyulaman hanya dilakukan pada minggu pertama setelah rumput laut  ditanam.
Monitoring pertumbuhan rumput laut perlu dilakukan beberapa kali dengan cara sampling.  Berat awal bibit berkisar antara 50 – 100 gram. Sampling pertma dilakukan setelah tanaman berumur 21 hari.    Sedangkan sampling ke dua dilakukan pada saat panen .  Penentuan sampel dilakukan secara acak. Suatu kegiatan budidaya rumput laut Eucheuma Cottonii dikatakan baik jika laju pertumbuhan rata-rata harian minimal 3 %.     


SUMBER:
http//supmladong.kkp.go.id

Mulyadi A., 2014. Modul "Budidaya Rumput Laut" sebagai Bahan Ajar. Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) Ladong, Pusat Pendidikan Kelautan dan Perikanan, Aceh.

Selasa, 04 Oktober 2016

MEMBONGKAR AKAR KEMISKINAN NELAYAN

MEMBONGKAR AKAR KEMISKINAN NELAYAN



·         Tinggalkan komentar



RESUME SEBUAH BUKU KARYA DR. PIGOSELPI ANAS, M.SI
Pengantar
Secara sederhana nelayan dapat diartikan sebagai kelompok masyarakat pesisir yang mata pencahariannya sebagaian besar bersumber dari aktivitas menangkap ikan dan mengumpulkan hasil laut lainnya. Mereka hidup dikawasan pesisir dan kehidupannya sangat dipengaruhi kondisi alam, mulai dari angin, gelombang, arus laut, persediaan ikan yang bersifat musiman, sehingga aktifitas ekonomi kelompok masyarakat yang kita kenal sebagai nelayan tidak berlangsung sepanjang tahun. Kondisi nelayan sangat dekat dengan kondisi minus, kemiskinan dan kekurangan. Banyak faktor yang menyebabakan kemiskinan dan kesenjangan sosial dalam kehidupan masyarakat nelayan. Keterbatasan kualitas SDM, modal dan akses, gaya hidup yang dipandang boros, penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, dan permasalahan penegakan hukum menjadi faktor-faktor penyebab kemiskinan nelayan. Kondisi overfishing di wilayah pesisir telah menyebabkan volume tangkapan ikan semkain berkurang, ukuran ikan yang tertangkap semakin kecil dan fishing grounds semakin menjau dari pantai sehingga diperlukan waktu semakin lama, biaya melaut semakin mahal dan pendapatan nelayan cenderung menurun.
Selain laju penangkapan sumberdaya ikan yang melebihi potensi produksi lestarinya, kemiskinan nelayan di Kabupaten Cirebon (Lokasi Penelitian Buku ini) juga diperparah oleh semakin tingginya tingkat pecemaran lingkungan laut dan perusakan ekosistem pesisir, khususnya mangrove dan estuaria. Pada kondisi status pemanfaatan sudah mengalami tangkap lebih (overfishing), maka penyebab utama yang dominan membentuk kemiskinan nelayan adalah faktor alamiah.
Faktor-faktor kultural yang meliputi tingat pendidikan, etos kerja, gaya hidup nelayan tidak mempengaruhi tingkat kesejahteraan atau pendapatan nelayan di Kabupaten Cirebon. Pendapatan perbulan nelayan tertinggi adalah pada nelayan dengan tingkat pendidikan SMP dan pendapatan rata-rata terendah adalah pada tingkat diploma.
Faktor-faktor kultural yang berperan terhadap kemiskinan nelayan adalah rendahnya atau bahkan tidak ada akses bagi nelayan adalah mendapatkan pinjaman (kredit) dari perbankan dengan suku bunga yang relative lunak. Ketersediaan sarana produksi perikanan tangkap dengan harga murah masih sangat terbatas, infrastruktur, fasilitas sosial dan fasilitas umum dikawasan pelabuhan perikanan atau pemukiman nelayan juga masih buruk.
Dari hasil penelitian ini, alternative kebijakan dan strategi penanggulangan kemiskinan yang dapat disusun adalah menurunkan laju penangkapan (upaya tangkap) untuk jenis alat tangkap dan jenis ikan yang sudah overfishing di Zona – I , Zona –II dan Zona –III sampai dibawah jumlah optimum pada tingkat yang sesuai dengan potensi lestari sumber daya ikan. Pencemaran lingkungan laut Cirebon yang berasal dari sumber-sumber pencemar di darat maupun di laut seperti limbah rumah tangga/perkotaan, industry, dan pertanian maupun dari laut seperti ceceran minyak dan limbah dari kapal ikan dan kapal niaga harus dikenalikan dan diolah. Ekosistem mengrove yang rusak harus segera direhabilitasi dan jalur hijau mangrove harus segera dibangun sesuai dengan tata ruang wilayah yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Data tentang hasil tangkapan dan upaya tangkap harus disempurnakan agar lebih akurat dan absah, sehingga penentuan nilai MSY dan status pemanfaatan sumberdaya ikan pun akan semakan akurat dan absah pula.
System Perikanan
Menurut Undang-Undang No 45/2009 Tentang Perubahan atas UU No.31 Tetang Perikanan, bahwa yang dimaksud dengan perikanan adalah semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya dan lingkungannya mulai dari praproduksi, produksi, pengelolaan sampai pemasaran yang dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis perikanan (Pasal 1 , Ayat 1).
Pada dasarnya usaha perikanan tangkap dimanapun berada merupakan sebuah system, yang terdiri dari 3 sub system, yaitu: (1). Sub-sistem alam (natural sub-system), (2). Sub-sistem manusia (human sub-system) dan (3). Sub system pengelolaan (management sub-system. Ketiga sub-sistem itu juga merupakan sebuah system tersendiri yang memiliki berbagai sub system (komponen) masing-masing.
Tujuan Pengelolaan Perikanan Tangkap
Ada dua tujuan pengelolaan perikanan tangkap yang sering dibicarakan dan perlu diketahui, yaitu mencapai MSy (Maximum Sustainable Yield) dan MEY (Maximum Economic Yeld). Sedangkan tujuan lain yang jarang dibicarakan adalah mengoptimumkan kondisi-kondisi social atau meminimumkan konflik di dalam sector perikanan (Gullad, 1974 in Merta, 1989). Sementara Charles (2001) berpendapat bahwa tujuan akhir dari pengelolaan perikanana tangkap adalah untuk mewujudkan sosok perikanan tangkap yang berkelanjutan (sustainable fisheries). Selanjutnya Charles menjelaskan bahwa ada empat kelompok indikator yang menggambarkan sebuah system perikanan tangkap yang berkelanjutan, yakni: Keberlanjutan ekologis (ecological sustainability), yakni perairan terpelihara dengan baik, agar sumberdaya ikan yang hidup didalamnya dapat tumbuh dan berkembangbiak secara optimal, dan tingkat penangkapan sumberdaya ikan tidak melampaui kemampuan pulih (renewable capacity) nya, sehingga hasil tangkapan secara keseluruhan baik pada kabupaten/kota, provinsi maupun nasional dapat secara langsung berkelanjutan.
Keberlangsungan social –ekonomi (socioeconomic sustainability), yaitu suatu kondisi dimana system usaha perikanan tangkap mampu memelihara tau meningkatkan kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional; dan meningktkan kesejahteraan pelaku usaha (nelayan dan mereka yang terlibat dalam kegiatan industri hulu serta hilir perikanan tangkap) secara adil dan berkelanjutkan.
Keberlanjutan masyarakat (community sustainability) yakni terpelaiharanya atau semakin membaiknya kaulitas kehidupan masyarakat pelaku usaha perikanan tangkap beserta segenap system nilai keutamaan individu (seperti budaya kerja keras, kreatif, budaya menabung, jujur, dan disiplin) dan system nilai keutamaan kelompoknya seperti semangat toleransi, saling menghormati, kerjasama dan pengorbanan untuk kepentingan bersama.
Keberlanjutan kelembagaan (institutional sustainability), yaitu suatu kondisi dimana semua pranata kelembagaan yang terkait dengan perikanan tangkap (seperti pelabuhan perikanan, pemasok sarana produksi, pengolah dan pemasar hasil perikanan serta lembaga keuangan) dapat berfungsi dengan baik dan benar serta berkelanjutan.
Selain keberlanjutan (sustainability), sosok perikanan tangkap yang berhasil adalah juga mampu meredam dan pulih kembali dari segala tekanan, distorsi, gangguan, dan gejolak baik yang disebabkan oleh aktivitas manusia maupun fenomena alam, seperti El-Nino, La Nina dan perubahan iklim global (global climate change). Untuk dapat mewujudkan perikanan tangkap yang berhasil, maka setiap kebijakan, program, kegiatan dan teknik manajemen hendaknya disusun berdasarkan pada karakteristik, struktur, dinamika dan interaksi dari berbagai sub-sistem (komponene) yang membentuk perikanan tangkap.
Beberapa teknik pengelolaan perikanan tangkap yang biasanya diterapkan adalah melalui penutupan musim penangkapan, penutupan daerah pemijahan, pembatasan ikan yang ditangkap, pembatasan alat dengan cara mengontrol selektivitas dan “Fishing power” nya, menentukan jumlah penangkapan melalui pembatasan terhadap kapal dan jumlah penangkapan oleh masing-masing kapal (Gullad, 1971 in Merta, 1989).
Mengentaskan kemiskinan nelayan
Berdasarkan tingkat pengusahaanya, system perikanan tangkap dapat dibedakan menjadi dua katagori, yaitu: (1) Perikanan tangkap baru, dimana sumberdaya ikan yang ada dalam satu wilayah perairan belum pernah diekploitasi sama sekali; dan (2) perikanan yang sudah berkembang, yang sumberdaya ikannya telah dimanfaatan (harvested) (Charles, 2001). Perikanan tangkap di wilayah laut Kabupaten Cirebon jelas termasuk kedalam katagori-2, sebuah perikanan yang telah berkembang. Sementara itu, suatu model manajemen dari sebuah sietem perikanan tangkap yang sudah berkembang pada intinya dimaksudkan untuk memperbaiki atau mengganti manajemen yang ada (existing management) agar tujuan dari perikanan dapat diwujudkan dengan sukses. Pada umumnya system perikanan tangkap diberbagai wilayah atau Negara di dunia memiliki tujuan lebih dari satu (multiple objectives), seperti untuk memenuhi kebutuhan pangan bangsa, meningkatkan perolehan devisa Negara, mensejahterakan nelayan, dan memelihara kelestarian sumberdaya ikan berserta ekosistem laut.
Untuk konteks Indonesia, termasuk Kabupaten Cirebon, dimana tingginya jumlah pengangguran dan rakyat miskin masih merupakan permasalahn yang besar, maka sebaiknya manajemen perikanan tangkap memiliki empat tujuan utama, yakni agar sub sektor perikanan tangkap mampu: (1) menyejahterakan nelayan, (2) memproduksi ikan dan komoditas perikanan untuk memenuhi kebutuhan nasional maupun ekspor secara optimal dan berkelanjutan, (3) Memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah maupun nasional secara signifikan, dan (4) menjaga kelestarian sumberdaya ikan berserta ekosistem laut yang menjadi tempat hidupnya.
Dengan empat tujuan utama (Indikator Kinerja) tersebut, maka diharapkan perikanan tangkap di Kabupaten Cirebon dapat berlangsung secara menguntungkan (efisien), optimal dan berkelanjutan. Manajemen perikanan tangkap di Kabupaten Cirebon seyogyanya mencakup enam komponen (pilar) utama: (1) Pengendalian intensitas (laju) dan cara (teknologi) penangkapan ikan, (2) pemeliharaan kualitas dan daya dukung lingkungan ekosistem pesisir, (3) Aplikasi teknologi penangkapan ikan yang efisien dan ramah lingkungan serta skala ekonomi (economic of scale) dalam setiap unit usaha perikanan tangkap, (4) manajemen supply-chain system secara terpadu, (5) Peningkatan kapasitas SDM nelayan, dan (6) Kebijakan politik-ekonomi yang kondusif.
Manajemen perikanan konvensional hanya fokus pada aspek stok sumberdaya ikan, lingkungan pesisir dan lautan dan penangkapan ikan. Akan tetapi kurang atau tidak mempertimbangkan aspek ekonomi, sosial-budaya, politik dan kelembagaan yang mempengaruhi sistem perikanan tangkap itu sendiri. Bahkan meskipun aspek pengelolaan lingkungan pesisir dan lautan sejak awal 1980-an sudah mulai dipertimbangkan dalam manjemen perikanan tangap, tetapi pada kenyataanya kebanyakan pihak berwenang di Indonesia masih menempatkan pengelolaan lingkungan pesisir dan lautan sebagai prioritas kedua atau kurang penting.
Sebagai sumberdaya terbarukan, sumberdaya ikan dapat tumbuh berkembang dan memperbaharui dirinya melalui proses rekruitmen (penambahan jumlah individu terhadap populasi melalui reproduksi), dan proses pertumbuhan berat maupun panjang setiap individu dalam populasi. Dalam suatu populasi ikan yang ada dalam kondisi keseimbangan (aquilibrium), proses pertambahan dari pertumbuhan dan rekruitmen secara rata-rata sama dengan proses pengurangan dan mortalitas yang disebabkan oleh kegiatan penangkapan ikan dan kematian secara alamiah oleh pemengsa, penyakit dan perubahan factor-faktor lingkungan secara drastis (Gulladn, 1986)
Selanjutnya untuk menilai apakah kebijakan pengurangan upaya tangkap tersebut tepat (on the rigt track), maka perlu pemantauan CPUE (Catch per Unit Effort) setiap bulan dalam waktu sedikitnya lima tahun. Jika mendatar (constant) tidak naik tidak turun, maka berarti kebijakan tersebut sudah tepat. Apabila kecenderugannya menurun, maka perlu pengurangan upaya yang lebih besar. Sebaiknya, bila kecenderungannya naik, maka penambahan upaya tangkap diperbolehkan secara bertahap.
Selain CPUE, indicator lain yang perlu dipantau dan dapat djadikan sebagai bahan evaluasi adalah ukuran rata-rata dari jenis-jensi ikan yang tertangkap oleh setiap armada kapal. Apabila ukuran rata-rata ikan yang tertangkap justru semakin kecil, maka berarti telah terjadi recriuitment overfishing. Implikasinya adalah perlu pengurangan upaya tangkap yang lebih besar. Indicator lainnya adalah lokasi penangkapan ikan dan waktu yang diperlukan untuk mendapatkan volume ikan tertentu. Pemantauan dan evaluasi dari sebuah kebijakan semacam ini sesunggunya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari setiap manajemen perikanan tangkap.
 Pemeliharaan kualitas dan daya dukung lingkungan laut.
Untuk menjamin kelestarian sumberdaya ikan laut, maka faktor-faktor yang menambah stok ikan dalam rumus dinamika populasi ikan diatas, yakni rekruitmen, pertumbuhan individu ikan, migrasi ikan harus diperbesar. Pada saat yang sama, faktor-faktor yang mengurangi mortalitas alami dan emigrasi harus diminimalisir. Rekruitmen ikan baru melalui proses reproduksi dan kelangsungan hidup (survival rate) ikan sangat dipengaruhi oleh kualitas perairan dan keberadaan esosistem pesisir seperti mangrove, terumbu karang, dan estuaria.
Penerapan Teknologi Penangkapan Ikan yang efisien dan Ramah Lingkungan serta Skala Ekonomi setiap unit perikanan tangkap.
Agar efisien dan menguntungkan, setiap unit usaha (bisnis), termasuk usaha perikanan tangkap memenuhi skala usha. Selain itu, teknologi penangkapan ikan mencakup alat tangkap dan armada tangkap harus efisien dan sekaligus ramah lingkungan. Karena hanya dengan alat tangkap yang efisien, produktivitas (hasil tangkapan per satuan upaya per satuan) akan tinggi. Namun produtivitas teknologi penangkapan ikan yang tinggi, kalau tidak ramah lingkungan maka dapat mengancam kelestarian sumberdaya ikan.
Peningkatan Kapsitas SDM dan Kelembagaan Nelayan.
Keempat tujuan utama manajemen perikanan tangkap akan berhasil, jika nelayan sebagai subjek (pelaku) perubahan berkenen (willing) menerima dan mampu untuk melaksanakan segenap pilar manajemen perikanan tangkap yang baik dan benar. Program peningkatan kapasitas nelayan harus dilakukan secara terencana, sistematis dan berkesinambungan. Program ini harus mampu memperbaiki pengetahuan, kesadaran dan keterampilan nelayan dalam menerapkan praktek penangkapan ikan yang sesuai dengan (Code of Conduct for Resposibel Fisheries), memelihara daya dukung dan kualitas lingkungan ekosistem pesisir dan lautan, cara-cara penanganan ikan hasil tangkapan yang terbaik (best handling Practices), berusaha sesuai dengan skala ekonomi dan menerapkan supply chain management.
Kebijakan Politik dan Ekonomi yang Kondusif
Keempat pilar manajemen perikanan tangkap pada dasarnya hanya mampu menyesuikan hal-hal (variable) yang bersifat teknis-internal, yang merupakan tanggung jawab pemerintah cq. Kementrian Kelautan dan Perikanan, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi/Kabupaten/Kota, nelayan dan stakeholders lain yang terlibat dala sub-sektor perikanan tangkap. Padahal banyak variable eksternal yang diluar kewenangan dan tanggung jawab KKP, Nelayan, Dinas KP dan stakeholder terkait, yang mempengaruhi keberhasilan pengelolaan perikanan tangkap yang dapat mensejahterkan nelayan dan berkonstribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Variabel eksternal yang harus segera diperbaiki agar kinerja perikanan tangkap membaik antara lain relokasi nelayan, alternative mata pencaharaian untuk nelayan, pinjaman kredit dengan suku Bungan ringan/rendah, penanman kembali hutan mangrove dan transplantasi terumbu karang dan pengendalian pencemaran.

Senin, 03 Oktober 2016

GEMARIKAN (Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan)

GEMARIKAN (Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan)



Apa Itu GEMARIKAN?
Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (GEMARIKAN) adalah gerakan moral yang memotivasi masyarakat untuk mengkonsumsi ikan secara teratur dalam jumlah yangn disyaratkan bagi kesehatan agar terbentuk manusia Indonesia yang sehat, kuat dan cerdas.


Mengapa Harus Makan Ikan?
1.     Ikan mempunyai nilai gizi yang sangat tinggi dan lengkap.
Protein
13-20% per 100 gram ikan
Mineral
Fosfor, zat besi, kalsium, iodium, selenium dan kalium
Vitamin
Vit. A, B1, B6, B12,
Vit D dan Vit. E
Lemak
Asam lemak tidak jenuh

2.    Meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan otak anak.
a.    DHA pada daging ikan dapat meningkatkan kecerdasan anak dan kesehatan mata.
b.  AA pada daging ikan berfungsi untuk pertumbuhan dan kekebalan tubuh dari berbagai penyakit.
c.    EPA dan DHA dapat menurunkan kolesterol dalam hati dan jantung.
3.    Nilai protein ikan sangat tinggi. Ikan mengandung protein yang lebih lengkap dibanding dengan protein hewani lainnya. Protein dalam tubuh ikan mengandung 20 asam amino penting terutama lysis, valin dan methionin. Protein ini berguna untuk pertumbuhan badan, mempertahankan dan memelihara kesehatan tubuh serta mencerdaskan otak.
4.    Kandungan asam amino essensial sangat tinggi. Asam lemak tidak jenuh Omega 3 berfungsi untuk proses tumbuh kembangnya sel-sel otak yang sanagt baik bagi tumbuh kembang otak anak. Omega 3 juga mempunyai kemampuan 2-5 kali untuk melawan kolesterol, memperlancar peredaran darah sehingga dapat mencegah terjadinya penyumbatan pembuluh darah yang merupakan penyebab penyakit jantung koroner. Omega 3 juga dapat mengurangi tekanan darah dan mencegah penyakit kulti serta mengurangi peradangan.
5.    Kandungan kolesterol rendah.

Makan Ikan Harus Dibiasakan
Sejak Dini 

1.     Daging ikan mudah dicerna. Mulai dari balita sampai dengan lansia dapat menikmatinya. Penyerapan protein pun tingkat cernanya sangat tinggi. Sehingga baik bagi anak-anak yang memiliki pencernaan yang agak bermasalah.
2.    Diversifikasi olahan ikan pun sangat beragam. Diversifikasi ini mampu menarik anak-anak untuk menyukai mengkonsumsi ikan. Selain karena mudah dimakan, rasanya yang lezat, olahan yang beragam, dan cepat dapat disajikan.
3.    Rasanya enak dan gurih sesuai dengan selera anak.
4.    Mengandung asam amino essensial dan asam lemak Omega 3.

Ciri-Ciri Ikan Segar
1.      Mata terang, bening, menonjol dam cembung.
2.     Warna kulit cemerlang, sisik kuat dan mengikat.
3.     Daging elastis dan kenyal.
4.     Bau ikan segar dan spesifik (khas).

Jenis Komoditas Perikanan
1.            Ikan laut : tuna, kakap merah, kembung, cumi-cumi, udang, dll.
2.            Ikan air tawar : ikan mas, nila, gurame, lele, patin, bawal, dll.
3.            Ikan air payau : bandeng, udang, dll.

Kepiting, rajungan, kerang, rumput laut, dll.

Mahasiswa UGM Kembangkan Teknologi Microbubble Generator

Mahasiswa UGM Kembangkan Teknologi Microbubble Generator


Yogyakarta, Indoaqua.net - Tim Mino Universitas Gadjah Mada (UGM) menciptakan teknologi microbubble generator. Teknologi ini mampu meningkatkan jumlah oksigen terlarut dalam air yang dapat mempercepat pertumbuhan ikan. 

Tim Mino yang beranggotakan Muhamad Nabil Satria Faradis dan Fajar Sidik Abdullah dari Teknik Mesin serta Untari Febrian Ramadhani dari FEB sukses memenangkan kompetisi dengan mengusung teknologi MINO Microbubbles. Mereka berhasil menyisihkan tim dari Kamboja dan Malaysia di babak final. 

Untari menjelaskan bahwa teknologi microbubble generator dikembangkan untuk mendorong produksi budidaya ikan. Teknologi ini mampu meningkatkan jumlah oksigen terlarut dalam air yang dapat mempercepat pertumbuhan ikan. 

Dari hasil uji yang mereka lakukan terbukti pengaplikasian teknologi ini dapat meningkatkan kualitas air. Tidak hanya itu, melalui teknologi ini dapat menyalurkan oksigen dalam kolam secara maksimal. Dengan kualitas air yang semakin baik akan mendukung pertumbuhan ikan dalam kolam. 

"Ikan yang dihasilkan pun lebih berat dan masa panen lebih singkat dari rata-rata yang biasanya 2 kali menjadi 3 kali panen dan meningkatkan berat serta panjang ikan hingga 30 persen", paparnya, seperti dikutip dari laman ugm.ac.id, selasa (1/11/2016)

Riset pengembangan teknologi microbubble generator didukung pendanaannya oleh Universitas Gadjah Mada, Program Unggulan Perguruan Tinggi (PUPT) - Kemenristek Dikti, MP3EI, hingga dukungan dari M Foundation milik Jenderal Moeldoko. Riset dilakukan dibawah bimbingan Dr. Deendarlianto.

Kesuksesan tim ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak antara lain Wiratni, Prof Rustadi, Laboratorium Teknologi Pangan dan Bioproses, Laboratorium Akuakultur, Laboratorium Hama dan Penyakit, Laboratorium Mekanika Fluida, Departemen Teknik Mesin dan Industri, Departemen Manajemen, Departemen Perikanan, dan Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada. Bekerjasama dengan berbagai mitra petani ikan lokal, Balai Benih Ikan - BBI Cangkringan, Yogyakarta, Indonesia dan Group of Fish Farmers "Mino Ngremboko" di Bokesan. 

Teknologi yang dikembangkan Utari dan Kawan-kawan mendapat sambutan positif dari USAID. Salah satunya oleh Kuasa Usaha Ad-Interim Kedubes AS, Brian McFeeters. 

Menurutnya, para inovator muda dari UGM telah menemukan teknologi pengolahan air yang canggih sehingga akan membantu para peternak ikan nila mendapatkan hasil panen yang lebih baik. Inovasi tersebut akan membantu meningkatkan pendapatan dan ketahanan pangan. (sumber: www.netralnews.com)

http://www.indoaqua.net/2016/11/mahasiswa-ugm-kembangkan-teknologi.html

Sabtu, 01 Oktober 2016

KKP FOKUS KURANGI BIAYA PAKAN IKAN MELALUI GERAKAN PAKAN IKAN MANDIRI





Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) fokus kurangi biaya pakan ikan melalui Gerakan Pakan Ikan Mandiri (GERPARI). Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) terus berupaya untuk mengurangi biaya pakan yang dikeluarkan dalam usaha budidaya ikan, khususnya budidaya ikan air tawar.
Saat ini, biaya yang dikeluarkan oleh pembudidaya untuk pembelian pakan cukup tinggi. Yaitu berkisar 70 sampai 80 persen dari biaya keseluruhan. “Sesuai arahan Menteri Kelautan dan Perikanan, harga pakan ikan harus ditekan sampai 60 persen dari harga yang ada sekarang, ungkap Direktur Jenderal Perikanan Budidaya (Dirjen PB), Slamet Soebjakto, disela kunjungan kerjanya di BPBAT Mandiangin, Rabu (25/05).
“Pemanfaatan bahan baku lokal akan kita dorong, karena masing-masing wilayah atau sentra budidaya memiliki bahan baku yang dapat digunakan sebagai pengganti bahan baku tepung ikan impor, seperti bungkil sawit, eceng gondok, ampas kelapa dan lain-lain. “Kita juga akan dorong kelompok pakan ikan mandiri (POKANRI) yang terpisah dari kelompok pembudidaya, untuk menghasilkan pakan berkualitas sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI), dalam jumlah yang cukup, untuk memenuhi kebutuhan kelompok pembudidaya di wilayahnya, secara kontinyu,” jelas Slamet.
Pada kunjungan kerja tersebut juga, Rabu (25/05), Dirjen PB, Slamet Soebjakto, juga meresmikan Pabrik pakan mini ikan mandiri di Balai Perikanan Budidaya Ikan Air Tawar (BPBAT) Mandiangin. Dengan investasi sekitar Rp. 1,5 miliar, dan memiliki kapasitas produksi sekitar 200 kg per jam.
Saat ini, melalui produksi pakan ikan dari pabrik mini pakan mandiri ini, harga sudah berhasil diturunkan. Pakan ikan yang biasanya dibanderol dengan harga Rp 9.000 sampai Rp10.000 per kg, bisa diturunkan menjadi Rp5.500 per kg,” tambah Slamet.
Pabrik pakan ikan mandiri ini, merupakan salah satu pabrik pakan yang dibangun untuk mendukung GERPARI. “Nantinya, disini akan menjadi pusat pelatihan, perekayasaan pakan termasuk formulasi pakan, pengecekan kualitas pakan dan juga sebagai tempat studi banding bagi masyarakat yang akan mengembangkan pakan ikan secara mandiri,” jelas Slamet.
Selain di Banjarbaru ini, pabrik pakan ikan mandiri juga di bangun di beberapa Unit Pelaksana Teknis (UPT) DJPB. Seperti di Sukabumi, Karawang, Lampung, Jambi, Situbondo, Aceh,  Lombok, Manado, dan Batam.
Untuk POKANRI, kita juga akan bantu stimulus untuk mengembangkan usahanya. Melalui bantuan-bantuan bahan baku dan mesin dengan kapasitas 50 kg per jam. Dan POKANRI akan kita dorong untuk mampu meningkatkan produksinya sampai 100 sampai 200 kg per jam”, papar Slamet.
Tentu saja kelompok yang akan di berikan bantuan ini, harus memenuhi persyaratan seperti memiliki badan hukum, memiliki lahan dan tersedia suplai listriknya. Dikarenakan bantuan ini adalah stimulus, maka setelah satu kali periode bantuan maka diharapkan kelompok dapat mengelola dan mengembangkannya sendiri, tambah Slamet.
“Kita juga akan melakukan penilaian terhadap semua POKANRI, dari segi kreatifitas, kontinyuitas, konsistensi, kualitas dan juga pengembangan usahanya. Sehingga akan mendorong munculnya POKANRI yang berprestasi. Untuk itu kami juga mengharapkan pemerintah daerah melalui dinas terkait juga melakukan bimbingan dan pembinaan”, papar Slamet.
Slamet menambahkan bahwa semua bantuan yang diberikan oleh pemerintah ini bukan merupakan subsidi, tetapi ini merupakan stimulan untuk menggugah semangat masyarakat. “Ini juga sebagai bentuk kepedulian pemerintah melalui KKP dalam meningkatkan kesejahteraan pembudidaya dan kelompok masyarakat yang bergerak di bidang perikanan budidaya. Dengan masyarakat yang sejahtera, maka kemandirian akan semakin terwujud”, pungkas Slamet.


Sumber: http://djpb.kkp.go.id/arsip/c/397/KKP-FOKUS-KURANGI-BIAYA-PAKAN-IKAN-MELALUI-GERAKAN-PAKAN-IKAN-MANDIRI/?category_id=13