Rabu, 08 Juni 2016

PERSIAPAN PEMIJAHAN GURAMEH



PERSIAPAN PEMIJAHAN GURAMEH



I. PERSIAPAN PEMIJAHAN
Kolam pemijahan dapat berupa kolam tanah atau kolam tembok tetapi dasar kolam diusahakan tetap tanah.  Dasar kolam tanah akan merangsang induk gurami untuk  segera memijah.  Syarat kolam pemijahan yaitu : airnya jernih, tenang dan mengalir kecil sehingga suplai oksigen juga terpenuhi, ada pintu pemasukan dan pengeluaran air dan tidak boleh terlalu banyak mengandung lumpur karena airnya cepat keruh, air yang keruh dapat menutupi permukaan telur, akibatnya akan mempengaruhi keberhasilan penetasan telur.

1.     Persiapan Kolam Pemijahan
Persiapan kolam pemijahan bertujuan untuk menciptakan lingkungan kolam dalam kondisi optimal bagi ikan gurami untuk melakukan pemijahan.  Kolam pemijahan harus dilengkapi dengan saluran pemasukan air dan pengeluaran.  Saluran pemasukan air dibutuhkan untuk mensuplai air baru agar air kolam tetap segar dan ketersediaan oksigen terlarut tetap terjaga.  Aliran air yang masuk ke kolam dapat merangsang ikan untuk memijah.
Ikan Gurami seperti ikan air tawar lainnya juga akan terangsang berpijah bila ada suasana baru dalam kolam, seperti bau ampo yang terbentuk akibat pengeringan tanah kolam kemudian kena air baru.  Hal inilah yang menyebabkan pengeringan dan penjemuran pada dasar kolam pemijahan mutlak dilakukan.  Selain kegiatan pengeringan, pemberian pakan daun talas juga dapat merangsang gurami untuk segera kawin.
Tahapan kegiatan yang perlu dilakukan untuk menyiapkan kolam pemijahan ikan gurami adalah sebagai berikut :
a.       Kolam dikeringkan 3-7 hari, tergantung cuaca dan ketebalan lumpur di kolam.  Tujuan pengeringan kolam yaitu merangsang birahi induk untuk segera kawin, membunuh hama dan penyakit  serta membuang gas-gas yang membahayan ikan (misalnya: amoniak (NH3) dan H2S)
b.       Perbaikan pematang, membersihkan kolam dari semua kotoran yang ada dan masuk ke kolam serta membersihkan rumput liar disekitar pematang
c.       Jika dasar kolam banyak mengandung lumpur segera dikurangi atau dibuang
d.       Setelah pengeringan kolam, dilakukan pengapuran dengan dosis 100gr/m2.  Pemberian kapur selain untuk menaikkan pH tanah juga untuk membunuh bibit-bibit penyakit yang terdapat di dasar kolam
e.       Kolam pemijahan diisi dengan air bersih, jernih dan memenuhi persyaratan untuk kehidupan dan telur nantinya sedalam 80 cm
f.        Setelah 3-4 hari dari pengisian air kolam, induk sudah dapat dimasukkan ke kolam pemijahan
Apabila sumber air kurang jernih atau keruh, sebaiknya air diendapkan terlebih dahulu dalam bak pengendapan.  Air kolam yang keruh akan menyebabkan telur terselimuti oleh lumpur sehingga telur-telur membusuk dan tidak menetas.  Disamping itu, air yang keruh kita akan kesulitan untuk mengetahui apakah telah terjadi aktifitas pemijahan dan apakah sarang telah berisi telur atau belum.

2.     Mempersiapkan Sarang
Induk gurami membuat sarang terlebih dahulu sebelum melakukan pemijahan. Gurami meletakkan dan menyimpan telurnya didalam sarang.  Di alam, induk gurami jantan membuat sarang yang terbuat dari rumput-rumput kering yang disusun di pojokan kolam.  Agar proses pemijahan gurame dapat berlangsung lebih cepat, pembudidaya perlu menyediakan tempat kerangka sarang (sosog) dan bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat bahan sarang (seperti ijuk, sabut kelapa).  Keberadaan bahan sarang tersebut juga merangsang induk cepat untuk memijah.

a.     Kerangka Sarang (Sosog)
Kerangka sarang dapat berupa sosog, ranting-ranting pohon dan bilah bambu yang cukup ditancapkan di pinggir pematang kolam. Pemakaian dengan bilah bambu lebih praktis, hemat biaya, dan induk gurami lebih fleksibel dalam membuat sarang.  Sedangkan sosog adalah anyaman bambu berbentuk kerucut dengan diameter lingkaran mulut sosog antara 25-30 cm dan dalamnya 30-40 cm.  Pemasangan sosog dilakukan di pematang dengan cara tangkainya ditancapkan ke pematang kolam.  Namun ada juga yang memasang sosog di bagian tengah kolam dengan cara memasang tangkai pada pangkal sosog .  Penempatan sosog di bagian tengah kolam bertujuan untuk mengantisipasi induk yang enggan membuat sarang dipinggir kolam, karena kondisi pinggir kolam yang kurang nyaman dan banyak lalu lalang orang.

Gambar 1. Sosog

Pemasangan sosog disarankan sekitar 15-30 cm di bawah permukaan air kolam. Jarak pemasangan antara sosog yang satu dengan lainnya sekitar 2 – 4 m.  Jumlah sosog yang dipasang di kolam pemijahan disesuaikan dengan jumlah induk betina. Satu ekor induk betina biasanya membutuhkan satu sarang untuk meletakkan telurnya.  Namun, semakin banyak kerangka yang dipasang maka akan semakin baik karena induk gurami akan lebih leluasa memilih tempat yang diperkirakan aman dan nyaman untuk meletakkan telurnya.

b.     Bahan Sarang

Bahan sarang untuk pemijahan gurami dapat berupa ijuk, sabut kelapa dan rumput-rumput kering.  Namun , yang paling banyak digunakan adalah ijuk dan sabut kelapa karena lebih praktis, murah, dan mudah didapat.  Pilihlah ijuk yang lembut untuk menghindari pecah atau rusaknya telur akibat gesekan dengan ijuk.  Sebelum digunakan ijuk dan sabut kelapa dicuci hingga bersih dan dikeringkan terlebih dahulu dengan cara dijemur.
Bahan pembuat sarang ini biasanya ditempatkan dipinggir atau di tengah kolam dengan posisi menggantung supaya induk dapat dengan mudah mengambil ijuk atau sabut kelapa.  Agar bisa menggantung, ijuk dan sabut kelapa dijepit secara longgar dengan bilah bambu yang dipasang dipinggiran kolam.  Namun kelemahannya, banyak ijuk yang jatuh ke dasar kolam atau tertimbun lumpur.

Gambar 2. Bahan Sarang

Penempatan bahan sarang yang umum dilakukan pembudidaya yaitu diatas para-para yang terbuat dari bambu.  Para-para bambu ini diberi kaki pada keempat sudutnya sehingga mampu menahan ijuk/sabut kelapa yang ditempatkan di atasnya.  Bahan tersebut diletakkan diatas para-para yang terendam air atau rata dengan air supaya mudah diambil induk jantan.  Oleh induk jantan, ijuk/sabut kelapa diambil dan dipindahkan ke sosog atau bilah bambu yang di tancapkan pinggir pematang kolam.


3.     Penebaran Induk Kekolam Pemijahan
Induk gurami yang telah matang gonad dan siap mijah dapat segera dipindahkan  ke kolam pemijahan.  Ciri-ciri induk ikan gurame yang baik adalah sebagai berikut:
a.    Memiliki sifat pertumbuhan yang cepat.
b.    Bentuk badan normal (perbandingan panjang dan berat badan ideal).
c.    Ukuran kepala relatif kecil
d.    Susunan sisik teratur,licin, warna cerah dan mengkilap serta tidakluka.
e.    Gerakan normal dan lincah.
f.     Bentuk bibir indah seperti pisang, bermulut kecil dan tidak berjanggut.
g.    Berumur antara 2-5 tahun.
Adapun ciri-ciri untuk membedakan induk jantan dan induk betina adalah sebagai berikut:

a. Betina
- Dahi menonjol.
- Dasar sirip dada terang gelap kehitaman.
- Dagu putih kecoklatan.
- Jika diletakkan pada tempat datar ekor hanya bergerak-gerak.
- Jika perut distriping tidak mengeluarkan cairan.

Gambar 3. Induk betina

b. Jantan
- Dahi menonjol.
- Dasar sirip dada terang keputihan.
- Dagu kuning.
- Jika diletakkan pada tempat datar ekor akan naik.
- Jika perut distriping mengeluarkan cairan sperma berwarna putih.

Gambar 4. Induk Jantan
Penangkapan dan pelepasan induk yang telah matang gonad dilakukan secara hati-hati agar induk tidak terluka atau stress.  Penangkapan induk sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari ketika cuaca tidak terlampau panas.  Hal ini untuk menghindari stress pada ikan akibat perbedaan suhu yang terlalu tinggi antara di kolam induk dengan suhu di kolam pemijahan.  Pemindahan induk ke kolam pemijahan dilakukan setelah kolam pemijahan sudah siap dan telah diisi air.
Penangkapan induk gurami yaitu dengan cara melokalisir induk dengan menggiringnya disalah satu  sisi kolam dengan menggunakan jarring yang dibentangkan.  Setelah ruang geraknya dipersempit, induk dapat ditangkap dengan menggunakan tangan dan dilakukan dengan hati-hati.  Penangkapan induk harus dilakukan satu demi satu.  Penangkapan induk tidak disarankan menggunakan seser, karena akan mengakibatkan sisik ikan banyak yang terkelupas.
Cara memegang induk gurami ada caranya yaitu induk dipegang dengan tangan dengan posisi badan terbalik.  Induk dipegang pelan dan hati-hati, mata gurami diusahakan tertutup oleh telapak tangan agar tidak berontak.  Bagi yang belum mahir dapat menggunakan kain halus basah yang diselimutkan pada tubuh ikan secara hati-hati.  Selanjutnya induk diangkat secara pelan-pelan dengan posisi terlentang juga.  Induk yang tertangkap dimasukkan ke dalam drum atau ember besar berisi air yang telah dipersiapkan.
Pemasukkan induk ke kolam pemijahan harus dilakukan secara hati-hati. Masukkan induk bersama dengan wadahnya ke kolam pemijahan dan biarkan gurami keluar dan berenang dengan sendirinya.  Pemindahan induk dapat juga dengan cara mempergunakan kain halus basah, kemudian diangkut dan dilepaskan bersama pembungkusnya.  Dengan cara ini kemungkinan induk jatuh karena meronta dapat dikurangi atau dihindari.  Jika induk sampai terjatuh maka akan dapat menyebabkan stress sehingga induk tidak mau memijah.

Baca juga Prospek dan Cara Budidaya Ikan Gurame

DAFTAR PUSTAKA
1.    Saparinto C.,2008.Panduan  Lengkap Gurami.Penebar Swadaya. Jakarta
2.    Sendjaja J.T dan Riski M.H., 2008. Usaha Pembenihan Gurami. Penebar Swadaya. Jakarta
3.    Sunarya, U.P.,2008. Gurami Soang. Penebar Swadaya. Jakarta
4.    Mahyuddin K.,2009. Panduan Lengkap Agribisnis Ikan Gurami. Penebar Swadaya. Jakarta.
5.    Wagiran dan Harianto B.,2010. Kiat Sukses Budi daya Gurami di Kolam Terpal. AgroMedia Pustaka. Jakarta.
6.    Baca Juga:

Kamis, 02 Juni 2016

KEBERHASILAN PEMBENIHAN BAWAL BINTANG SECARA MASSAL



KEBERHASILAN PEMBENIHAN BAWAL BINTANG SECARA MASSAL


Pada saat ini sektor perikanana budidaya Indonesia dihadirkan lagi oleh suatu komoditas yang cukup potensial untuk dikembangkan. Jenis ikan ini mudah dipelihara dan dikembangkan selain itu juga mulai diminati masyarakat. Komoditas ini adalah Trachinotus blocii,L atau yang lebih dikenal dengan nama Bawal Bintang dan merupakan jenis ikan pelagis dan tergolong sangat aktif karena selalu berenang berputar-putar di permukaan. Pada dasarnya ikan Bawal Bintang memiliki daya adaptasi yang cukup tinggi dan mudah untuk dibudidayakan.
.Bawal bintang merupakan ikan introduksi dari Taiwan dan memiliki prospek yang cukup bagus di kawasan Asia Pasifik dengan harga yang cukup tinggi. Sebenarnya di Taiwan Bawal Bintang sudah berkembang baik di tingkat pembenihan maupun budidayanya. Namun di Indonesia Bawal Bintang adalah komoditas yang masih dapat dibudidayakan di tingkat Keramba Jaring Apung (KJA) dimana benih yang diperoleh didatangkan dari usaha pembenihan di Taiwan.
Namun baru-baru ini Balai Budidaya Laut Batam sudah mulai dapat memijahkan induk-induk ikan Bawal Bintang yang diperoleh dari kegiatan usaha bididaya sampai menghasilkan benih. Dengan keberhasilan ini maka dapat mempermudah para pembudidaya dalam mendapatkan benih/bibit untuk kemudian dibudidayakan di Keramba Jaring Apung (KJA). Selain hal di atas benih-benih yang diproduksi akan lebih murah karena para pembudidaya tidak perlu ”repot-repot” mengimpor benih dari luar negeri.
Dalam suatu kegiatan pembenihan ada beberapa hal yang harus diperhatikan meliputi penanganan induk, pemeliharaan larva, pendederan dan penanganan pasca panen.
Pengelolaan induk dimulai dari seleksi induk/calon induk yang dihasilkan dari kegiatn budidaya. Induk/calon induk yang bagus memiliki ciri-ciri umum seperti bentuk badan harus proporsional dan simetris,tidak ada cacat /luka pada tubuh ikan,merupakan grading pertama pada kegiatan budidaya dan ukuran ikan sudah mencapai 1 kg/lebih. Dalam manajemen pakan induk yang harus diperhatian adalah kualitas dan kuantitas dari pakan yang diberikan. Kualitas pakan dapat dipenuhi dengan pemberian ikan rucah segar,pellet,pencampuran vitamin dan multivitamin. Sedangkan untuk kuantitas pakan yang baik diberikan 3-5% dari berat total induk yang akan dipijahkan. Hal terakhir yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan induk adalah manajemen air media pemeliharaan. Dimana pergantian air optimal adalah 400% dalam 24 jam dengan kualitas air harus tetap diperhatikan seperti pH (7.4-7.8), DO (4-6 ppm), suhu (29-310C) dan salinitas (30-33 ppt).
Bak pemijahan induk berkapasitas 10 ton dan diisi induk yang sudah siap pijah sebanyak 10 ekor dengan perbandingan 1:1. Dimana induk jantan lebih kecil dari induk betina. Keunggulan dari pemijahan Bawal Bintang adalah ikan ini dapat dipijahkan kapan saja waktunya, tidak tergantung dari siklus bulanan. Pemijahan yang dilakukan menggunakan teknik manipulasi rangsang hormonal. Induk yang telah matang gonad (dapat diketahui mengunakan metode stripping atau kanulasi) dapat disuntik dengan hormon HCG (Hormon Chorinic Gonadotropin) dengan dosis 250 IU/kg dan Fibrogen 50 IU/kg. Penyuntikan dilakukan selama 2 hari berturut-turut. Umumnya di hari ke 3 telur sudah keluar dan telur yang dihasilkan memiliki fekunditas 60%-70% dengan ukuran telur 800-850 mikron. Telur yang sudah dipanen kemudian dihitung dengan mengunakan metode sampling untuk mengetahui jumlah total telur yang dihasilkan oleh induk.
Pada saat unit induk mempersiapkan pemijahan induk di saat yang sama unit hatchery juga mempersiapkan bak dan air media pemeliharaan larva. Persiapan itu meliputi pencucian bak menggunakan disinfektan, pencucian peralatan seperti selang dan batu aerasi, pipa-pipa inlet dan outlet dan terpal penutup bak serta dilakukannya pengeringan bak dan peralatan. Kegiatan ini dilakukan selama 3 hari. Setelah bak dan peralatan siap maka dilakukan pengisian air media dari tadon yang telah melalui proses penyaringan fisik seperti sandfilter dan filterbag.
Sistem pemeliharaan larva ikan Bawal Bintang yang digunakan adalah sistem air mengalir dengan penebaran telur langsung dalam bak media pemeliharaan. Penebaran dilakukan pada saat ketinggian air dalam bak media pemeliharaan mencapai 6 ton. Telur yang sudah dihitung menggunakan teknik sampling langsung di tebar menggunakan gayung dengan kepadatan 100000-150000 butir/bak atau 10-15 butir/liter dimana tinggi air media maksimal 10 ton. Daya tetas telur (HR) Ikan Bawal Bintang yang ditebar 65%-75% dimana sampling dilakukan ketika larva berumur 2 hari.
Dalam pemeliharaan larva ikan Bawal Bintang ini memiliki beberapa keunggulan dibandingkan larva ikan-ikan laut eknomis lainnya sehingga sangat potensial untuk dikembangkan oleh pembudidaya. Keunggulan-keunggulan itu adalah tidak terlalu memiliki banyak permasalahan dengan kualitas air media pemeliharaan dan mudah dalam melakukan manajemen pakan pada larva. Belum lagi dilihat dari tingkat pertumbuhan larva ikan Bawal Bintang yang sangat cepat, dapat mencapai ± 1 mm/hari diakhir pemeliharaan.
Manajemen air dalam pemeliharan larva ikan Bawal Bintang ini menggunakan air mengalir dimana debit air di awal pemeliharaan adalah 3 lt/menit. Debit air ini akan terus ditingkatkan sampai pada akhir pemeliharaan mencapai 10 lt/menit. Penggunaan pitoplankton pada pemeliharaan larva juga tidak terlalu lama, dengan jenis pitoplankton nanocloropsis,sp diberikan sampai larva berumur 14 hari. Pemberiannya dengan cara dimasukkan dalam air media pemeliharaan sebayak 200 liter pada pagi dan sore hari. Agar kualitas air tetap terjaga maka dilakukan pembersihan dasar bak (sipon) yang dimulai pada saat larva berumur 10 hari atau saat dasar bak sudah terlihat kotor. Penyiponan ini dilakukan setiap 2 hari sekali dari penyiponan pertama sampai panen.
Manjemen pakan larva ikan Bawal bintang dilakukan dengan memberikan pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami berupa rotifera Brachionus plikatilis dan artemia sedangkan pakan buatan adalah pellet yang ukurannya disesuaikan dengan bukaan mulut ikan. Pemberian rotifera mulai dilakukan dari umur 3 hari dengan kepadatan 5-15 individu/ml dan frekuensi pemberiannya 3 kali sehari (pagi, siang dan sore) sampai umur larva 14 hari. Dan umtuk memenuhi kebutuhan nutrisi larva pada umur 10 hari pakan pellet sudah dapat diberikan dengan ukuran pakan 250-300 mikron. Sedangkan artemia mulai diberikan saat larva berumur 14 hari dengan kepadatan 0.25 individu/ml. Saat berumur 15 hari pemberian rotifera sudah dihentikan dan frekuensi pemberian pellet ditingkatkan menjadi 1-2 jam sekali. Diakhir pemeliharan larva (umur 18 hari) pemberian artemia juga ditingkatkan menjadi 0.5 individu/ml. Hal ini bertujuan untuk menunjang pertumbuhan larva yang sangat cepat dan baru dihentikan saat larva berumur 22 hari.
Pemanenan larva ikan Bawal Bintang dilakukan pada umur 21 hari dengan menggunakan seser 500 mikron. Setelah pemanenan, dilakukan pemisahan ukuran (grading) sebelum dipindahkan ke unit pendederan. Kelulushidupan (SR) larva dapat mencapai 20%.
Setelah dipanen larva yang sudah digrading langsung ditransfer ke unit pendederan. Padat tebar benih dalam bak pendederan adalah 2 ekor/liter di awal pemeliharaan. Di unit pendederan manajenen air dilakukan dengan ganti air dan sirkulasi media pemeliharaan sampai 200%. Untuk menjaga kualitas air media tetap bagus dilakukan juga pembersihan dasar bak (sipon) 2 kali sehari (pagi dan sore) karena banyaknya sisa pakan dan feses dari benih. Manajemen pakan di unit pendederan dilakukan dengan pemberian pellet yang sesuai dengan bukaan mulut benih secara teratur (1 jam sekali). Selain itu pencampuran ukuran pellet (weaning) harus terus dilakukan untuk mengatasi keragaman ukuran benih didalam media pemeliharaan. Saat dipertengahan pemeliharaan (mulai umur 30 hari) pemberian pellet dapat mencapai 1 kg/hari, karena konsumsi benih terhadap pakan sangat tinggi. Boleh dikatakan benih ikan Bawal bintang dapat memanfaatkan konsumsi pakan secara optimal dalam mendukung pertumbuhannya. Dengan cepatnya pertumbuhan benih Bawal Bintang maka kegiatan pemisahan ukuran (grading) dilakukan 3-4 hari sekali. Di akhir pemeliharaan kepadatan benih ikan Bawal Bintang dalam media pemeliharaan mencapai 0.5 ekor/liter. Kelulushidupan (SR) benih di unit pendederan dapat mencapai 80% yang berarti tingkat kematian ikan tidak terlalu tinggi.
Benih ikan Bawal Bintang memiliki kecepatan pertumbuhan panjang yang sangat tinggi. Ini dapat dilihat dari monitoring pertumbuhan yang dilakukan saat pemeliharaan larva sampai pada pendederan. Kecepatan pertumbuhan ini disebabkan karena ikan ini sangat aktif terhadap pakan apa saja yang diberikan. Salah satu keunggulan Bawal Bintang ini adalah pertumbuhan cepat karena kemudahan jenis pakan dan konsumsinya. Selain itu ikan ini relatif lebih tahan terhadap serangan penyakit dan sangat mudah dalam pemeliharaannya.

Dari grafik diatas dapat dilihat semakin bertambah umur ikan maka pertumbuhannya semakin cepat. Saat benih berumur 35 hari dapat dilihat dari grafik ukurannya sudah mencapai 3,4 cm. Artinya benih dapat ditransfer atau dijual pada pembudidaya Keramba Jaring Apung (KJA). Dengan ukuran 3 cm benih ikan Bawal Bintang sudah dapat dipelihara lebih lanjut di KJA.
Sebelum benih-benih itu ditransfer atau dijual pada pembudidaya KJA harus ada penanganan sebelum panen. Seperti benih-benih ikan laut ekonomis lainnya benih ikan Bawal Bintang harus dipuasakan terlebih dulu sebelum di packing selama 1 hari. Tujuannya adalah mengurangi metabolisme benih dan mencegah benih agar tidak muntah setelah dipacking. Untuk pemackingan benih secara tertutup media air yang digunakan diturunkan suhunya menjadi 250C-270C. Dalam kantong packing perbandingan antara air dan oksigen adalah 1:3 dengan kepadatan benih 200 ekor/kantong.
Dengan keadaan usaha pembenihan ikan Bawal Bintang seperti diatas dapat diketahui bahwa pembenihan ikan ini memiliki beberapa keunggulan, seperti dibidang teknis adalah teknologi pembenihan yang dilakukan tidak terlalu sulit dibandingkan dengan ikan-ikan laut ekonomis lainnya, memiliki tingkat pertumbuhan yang cukup tinggi dan waktu pemeliharaan yang singkat. Dibidang ekonomi usaha pembenihan ikan Bawal Bintang sangat layak dan menguntungkan. Jadi tidak berlebihan jika usaha pembenihan ikan Bawal Bintang dijadikan potensial baru yang harus dikembangkan di Indonesia.


Diposkan oleh Dede Rahmat di 09.17