Kamis, 29 Oktober 2015

MARINE REMOTE SENSING,BIOLOGI OCEONOGRAFI, PERAMALAN UPAYA PERIKANAN TANGKAP, SILVOFISHERY DAN SEARANCHING

MARINE REMOTE SENSING,BIOLOGI OCEONOGRAFI, PERAMALAN UPAYA PERIKANAN TANGKAP, SILVOFISHERY DAN SEARANCHING


1.1. Marine remote sensing
a. Pengertian Penginderaan Jauh (Remote Sensing)
      Berikut adalah pengertian Pengindraan jauh menurut beberapa ahli :
Penginderaan jauh (remote sensing), yaitu penggunaan sensor radiasi elektromagnetik untuk merekam gambar lingkungan bumi yang dapat diinterpretasikan sehingga menghasilkan informasi yang berguna. (Curran, 1985).

Penginderaan Jauh (remote sensing) adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu objek daerah, atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh  dengan suatu alat tanpa kontak  langsung dengan objek, daerah, atau  fenomena yang  dikaji.  (Lillesand dan Kiefer, 1998).

Penginderaan jauh merupakan suatu ilmu, karena terdapat suatu sistimatika tertentu untuk dapat menganalisis informasi dari permukaan bumi, ilmu ini harus dikoordinasi dengan beberapa pakar ilmu lain seperti ilmu geologi, tanah, perkotaan dan lain sebagainya. (Everett Dan Simonett 1976) 
b. Aplikasi Dari Remote Sensing
1)    Radar Konvensional radar ini kebanyakan terkait dengan kontrol lalu lintas udara, peringatan dini, dan beberapa berskala besar berhubung dgn Data cuaca. Doppler radar digunakan untuk peraturan pemantauan batas kecepatan dan yang terhubung dgn cuaca seperti kecepatan dan arah angin dalam sistem cuaca, Jenis koleksi termasuk plasmas aktif di ionosfir). Interferometric sintetis kecepatan rana radar digunakan untuk memproduksi model elevasi digital tepat besar skala daerah (lihat RADARSAT, TerraSAR-X, Magellan).
2)    Laser altimeters dan radar pada satelit telah memberikan berbagai macam data. Dengan mengukur bulges air yang disebabkan oleh gravitasi, radar pada satelit memiliki fitur peta seafloor ke resolusi mil atau lebih. Dengan mengukur dan ketinggian gelombang-panjang gelombang laut, yang altimeters mengukur kecepatan dan arah angin, dan permukaan laut dan dasar laut.
3)    LIDAR Light Deteksi yang lebih dikenal pada contoh dari persenjataan, laser illuminated kepulangan dari projectiles. LIDAR digunakan untuk mendeteksi dan mengukur konsentrasi berbagai bahan kimia di udara, sementara udara LIDAR dapat digunakan untuk mengukur tinggi dan memiliki obyek di lapangan yang lebih akurat dibandingkan dengan teknologi radar. Vegetasi jarak jauh adalah penerapan prinsip LIDAR.
4)    Radiometers dan photometers adalah instrumen yang paling umum digunakan, dan mengumpulkan data tercermin emitted radiasi dalam berbagai frekuensi. Yang paling umum yang terlihat dan sensor inframerah, diikuti oleh microwave, gamma ray dan jarang, ultraungu. Mereka dapat juga digunakan untuk mendeteksi emisi Spectra berbagai bahan kimia, menyediakan data kimia konsentrasi dalam suasana.
5)    Stereographic atau foto udara yang sering digunakan untuk membuat peta topografi oleh Citra Analis, Terrain Analis di trafficability raya dan departemen untuk rute potensial.
6)    Simultaneous multi-platform seperti Landsat telah digunakan sejak 70's. Tematik mappers ini mengambil gambar dalam beberapa wavelengths dari radiasi elektro-magnetik (multi-hantu) dan biasanya ditemukan pada pengamatan satelit bumi, misalnya program lansat atau IKONOS satelit. Peta tanah dan penutup lahan dari pemetaan tematik dapat digunakan pertambangan,mineral, mendeteksi atau memantau penggunaan tanah, hutan, dan memeriksa kesehatan adat dan tanaman perkebunan, termasuk seluruh daerah pertanian atau hutan.
7)    Di dalam medan peperangan dan berbahaya pengindraan jarak jauh memungkinkan untuk tindak lanjut dan memantau daerah berisiko dalam jangka panjang, untuk menentukan faktor desertifikasi, untuk mendukung para pengambil keputusan dalam menentukan langkah-langkah yang relevan dari pengelolaan lingkungan hidup, dan untuk menilai dampak – dampaknya.

c. Penerapan Teknologi Inderaja Untuk Penangkapan Ikan
             Inderaja dengan menggunakan satelit merupakan sarana yang sangat bermanfaat dalam mengelola sumberdaya perikanan secara bijaksana, termasuk kegunaanya untuk mendeteksi zona potensi penangkapan ikan. Untuk perikanan, bukanlah ikan yang tampak langsung, tetapi adalah fenomena alam yang memungkinkan adanya ikan di suatu tempat, karena pada tempat itu banyak terdapat makanan ikan dan mempunyai kondisi lingkungan yang sesuai dengan jenis ikan tertentu. 
Terdapat sejenis plankton yang mengandung klorofil (zat hijau daun). Plankton ini merupakan makanan ikan-ikan kecil yang pada gilirannya akan menjadi makanan bagi ikan yang lebih besar. Jadi dengan mendeteksi lokasi klorofil, maka secara tak langsung akan mendeteksi lokasi yang mungkin banyak ikannya. Cara mendeteksi klorofil ini, pada dasarnya adalah sangat sederhana. Sensor yang ada pada satelit diberi filter hijau (band hijau) secara digital, artinya detektor akan mendeteksi sinar hijau saja. Jadi sensor mendeteksi klorofil yang ada di laut. Tentu saja sangat perlu dilakukan beberapa sample pengukuran di laut (in-site, pengukuran di tempat), karena belum tentu sinar hijau yang dicatat oleh sensor satelit berasal dari klorofil. Setelah melakukan pengukuran di beberapa tempat dengan kapal misalnya, maka kini dapat dilakukan interpolasi atau ekstrapolasi terhadap data / citra satelit yang mempunyai liputan yang sangat luas itu; situasi klorofil pada lokasi yang luas dapat ditentukan dengan cepat. Seterusnya para nelayan akan diberi tahu untuk menentukan daerah operasi mereka. 

d. Pengukuran kondisi atau faktor oseanografi perairan dilakukan dengan cara :
·         Suhu
Pengukuran suhu dilakukan setiap jam di lokasi penangkapan ikan. Pengukuran suhu permukaan laut digunakan untuk verifikasi perhitungan suhu dari satelit NOAA. Jadwal lintasan satelit NOAA diperoleh dari prediksi orbit dari stasiun NOAA.
·         Salinitas
            Salinitas diukur pada saat penangkapan di lokasi ZPPI.
·         Arus permukaan
             Arus permukaan diukur di lokasi penangkapan ikan, baik arah maupun kecepatannya
·         Kedalaman perairan, kondisi laut, cuaca
Ketiga parameter tersebut diukur di lokasi ZPPI pada saat penangkapan ikan dilakukan. Kedalaman perairan diukur dengan menggunakan fish finder

e. Ada dua jenis penginderaan jarak jauh.
1)    Penginderaan Pasif , Sensor mendeteksi radiasi alam yang tercermin emitted atau objek atau sekitarnya yang diamati. Tercermin dari sinar matahari biasanya penginderaan ini menggunakan sumber radiasi diukur oleh sensor pasif. Contoh penginderaan pasif termasuk sensor film fotografi, infra-merah, yang digabungkan perangkat, dan radiometers. , di sisi lain, energi emits untuk memindai benda dan daerah mana yang pasif Sensor kemudian mendeteksi dan mengukur radiasi yang dipantulkan atau backscattered dari target.
2)    Penginderaan aktif, Radar adalah contoh penginderaan aktif dari jarak jauh di mana waktu tunda antara emisi dan kembali diukur, membangun lokasi, ketinggian, kecepatan dan arah obyek.

2.2. Biologi oseanograffi
a. Pengertian Oseanografi    
            Dengan kata lain Oceanografi itu ialah Scientific study dan explorasi lautan dan laut-laut serta semua aspek-aspek dan fenomenanya. Termasuk sedimen,batuan yang membentuk dasar laut, interaksi antara laut dengan atmosfer, pergerakan air, serta faktor-faktor tenaga yang menyebabkan adanya gerakan tersebut baik tenaga dari dalam maupun tenaga dari luar, kehidupan organisma, susunan kimia air laut, serta asal mula terjadinya lautan dan laut-laut purbakala. Oleh karena itu oceanografi dikatakan sebagai suatu disiplin ilmu mengenai laut yang terdiri dari beberapa cabang ilmu pengetahuan seperti ilmu geologi, meteorology, biologi, kimia fisis, geofisika, geokimia, gerakan mekanis dan aspek-aspek teoritis yang harus menggunakan ilmu pasti.
 Cakupan oseanografi yaitu organisme lsut dan dinamika fluida, tektonik lempeng dan geologi dasar laut, dan aliran berbagai zat kimia dan sifat fisik di dalam samudra dan pada batas- batasnya, juga mengenai samudra dan memahami proses di dalamnya, seperti proses biologi, kimia, geologi, meteorology, dan fisika.
Sahala Hutabarat dan Stewart M.Evans (1985: 1), oseanografi dibagi menjadi empat cabang ilmu, yaitu :
1)    Fisika Oseanografi
Fisika oseanografi yaitu ilmu yang mempelajari hubungan antara sifat-sifat fisika yang terjadi dalam lautan sendiri dan yang terjadi antara lautan dengan atmosfer dan daratan termasuk kejadian-kejadian seperti terjadinya tenaga pembangkit pasang dan gelombang,arus,temperatur air laut, iklim dan sistem arus yang terdapat di lautan.
2)    Geologi Oseanografi
Yaitu yang mempelajari lantai samudra atau litosfer di bawah laut. Ilmu geologi penting artinya bagi kita dalam mempelajari asal terbentuknya lautan, termasuk di dalamnya penelitian tentang lapisan kerak bumi, gunung berapi dan terjadinya gempa bumi. Geologi oseanografi juga menjelaskan struktur dari bebatuan dan bentuk- bentuk fisik dari lautan tersebut, misalnya adanya palung laut, lembah laut, lubuk laut, lembah, dll serta memelajari terjadinya patahan- patahan yang menyebabkan gempa bumi di laut.
3)    Kimia Oseanografi
Kimia oseanografi yaitu ilmu yang berhubungan dengan reaksi-reaksi kimia yang terjadi di dalam dan di dasar laut dan juga menganalisa sifat-sifat dari air laut itu sendiri.Misalnya kadar garam yang terdapat dalam air laut, zat- zat kimia yang mencemari, dll. Garam-garaman utama yang terdapat dalam air laut adalah klorida (55%), natrium (31%), sulfat (8%), magnesium (4%), kalsium (1%), potasium (1%) dan sisanya (kurang dari 1%) teridiri dari bikarbonat, bromida, asam borak, strontium dan florida. Tiga sumber utama garam-garaman di laut adalah pelapukan batuan di darat, gas-gas vulkanik dan sirkulasi lubang-lubang hidrotermal (hydrothermal vents) di laut dalam.
4)    Biologi Oseanografi
Biologi oseanografi adalah cabang ilmu oseanografi yang sering dinamakan Biologi Laut yang mempelajari semua organisme yang hidup di lautan termasuk binatang-binatang yang berukuran sangat kecil (plankton) sampai yang berukuran besar dan tumbuh-tumbuhan air laut. Di lautanpun juga terdapat kehidupan seperti di daerah terestial, misalnya fitoplankton, zooplankton, terumbu karang, nekton, bentos, dan lain- lain.

b. Pembagian ilmu oseanografi biologi
Pada pembagian bidang ilmu oseanografi talah disebutkan bahwa terdapat cabang ilmu biologi oseanografi. Pada biologi oseanografi, kajian yang dipelajari adalah kehidupan di laut, baik mempelajari tentang makhluk hidup yang ada di laut maupun interaksinya dengan lingkunganya. Biologi oseanografi dipelajari karena beberapa alasan antara lain; laut merupakan penyedia sumber makanan, penyedia sumber obat, tempat rekreasi dan pariwisata. Biologi kelautan mencakup skala yang luas, dari mikro seperti plankton dan fitoplankton sampai hewan besar seperti paus.Dalam penerapannya, antara oseanografi dan biologi khususnya biologi kelautan mempunyai saling keterkaitan. Seperti contoh suatu ekosistem perairan laut mempunyai suatu keadaan lingkungan laut yang bisa mempengaruhi jumlah komunitas mahkluk hidup yang tinggal di laut tersebut. Keadaan laut tersebut bisa dipelajari dalam oseanografi. Keadaan laut yang dipelajari tidak hanya tentang cuaca di atas laut, tetapi juga keadaan lautnya, bagaimana kedalaman lautnya, bagaimana arus air lautnya serta bagaimana kandungan zat kimia yang mungkin terlarut dalam air laut tersebut.
Faktor-faktor yang ditinjau antara lain :
·         Batimetri,
·         Keterbukaan perairan,
·          pola arus,
·         pasang surut,
·          masukan dari daratan,
·         konsentrasi klorofil-a, dan nutrien esensial.

3.3. Peramalan upaya perikanan tangkap
1. peramalan secara modern dengan menggunakan remote sensing
Mengapa penting :
       Untuk keakuratan estimasi fishing ground, yang perlu dilakukan mengkolaborasikan data acoustic, citra satelit remote sensing dan data oseanograifi dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a)    Langkah dasarnya dengan metode remote sensing satelit, secara ex situ kita harus menemukan perairan yang memiliki klorofil (plankton).
b)    Kemudian, menganalisis hubungannya dengan data oseanografi (suhu, salinitas dan arus) yang juga didapatkan dari satelit dan instrumen oseanografi yaitu argo float.
c)    Kemudian hasil analisis data dari dua instrumen tersebut (satelit dan argo float) dibuat peta estimasi fishing ground yang up to date. Selanjutnya peta estimasi tersebut direlay ke armada penangkapan. Berbekal peta estimasi tersebut armada segera menuju lokasi yang telah diestimasi, lalu mengkolaborasikan peta tersebut dengan data acoustic yang didapatkan dengan echosounder secara in situ (langsung) pada perairan, kemudian dilakukan pemanfaatan (penangkapan) ikan.
a. Penerapan Teknologi Pengindraan Jauh (remote sensing) Untuk Penangkapan Ikan
         Pemanfaatan teknlogi Pengindraan jauh untuk sumberdaya perikanan didasari oleh suatu kajian mengenai karakteristik permukaan laut dimana dari sekian banyak karakteristik permukaan laut yang di deteksi oleh satelit pada prinsipnya ada tiga elemen utama yang digunakan untuk penentuan potensi daerah penangkapan ikan yaitu: suhu permukaan laut (SPL) dan persebaran klorofil. Terdapat sejenis plankton yang mengandung klorofil (zat hijau daun). Plankton ini merupakan makanan ikan-ikan kecil yang pada gilirannya akan menjadi makanan bagi ikan yang lebih besar. Jadi dengan mendeteksi lokasi klorofil, maka secara tak langsung akan mendeteksi lokasi yang mungkin banyak ikannya. Cara mendeteksi klorofil ini, pada dasarnya adalah sangat sederhana.

           Sensor yang ada pada satelit diberi filter hijau (band hijau) secara digital, artinya detektor akan mendeteksi sinar hijau saja. Jadi sensor mendeteksi klorofil yang ada di laut. Tentu saja sangat perlu dilakukan beberapa sample pengukuran di laut (in-site, pengukuran di tempat), karena belum tentu sinar hijau yang dicatat oleh sensor satelit berasal dari klorofil. Setelah melakukan pengukuran di beberapa tempat dengan kapal misalnya, maka kini dapat dilakukan interpolasi atau ekstrapolasi terhadap data / citra satelit yang mempunyai liputan yang sangat luas itu; situasi klorofil pada lokasi yang luas dapat ditentukan dengan cepat. Seterusnya para nelayan akan diberi tahu untuk menentukan daerah operasi mereka. 

Lokasi tempat berkumpulnya ikan dapat ditentukan dengan kombinasi antara lain :
ü  lokasi klorofil,
ü  suhu permukaan laut
ü   pola arus laut
ü  cuaca, serta karakter toleransi biologis ikan terhadap suhu air.
Terdapat beda suhu di seantero muka laut. Hal ini disebabkan oleh naiknya lapisan air laut di sebelah bawah ke atas (upwelling) karena perbedaan suhu. Kenaikan lapisan air ini juga membawa zat makanan bagi kehidupan di laut. Jadi dengan mendeteksi upwelling akan dapat pula memberi petunjuk akan adanya ikan. Di samping itu setiap jenis ikan memiliki zona suhu yang tertentu sebagai habitatnya. Satu alternatif yang sangat tepat untuk mengatasi masalah tersebut di atas adalah menggunakan teknologi penginderaan jauh.

b. Aplikasi penginderaan jauh ( remote sensing) di bidang perikanan
·         Pendeteksian Ikan secara langsung
      Untuk keperluan penangkapan ikan dan pendugaan stok ikan, pendeteksian ikan secara langsung dilakukan dengan 2 cara Menggunakan tranportasi udara Pengamat terbang dan mencari kumpulan ikan (fish schooling). Pendeteksian yang dilakukan adaah identifikasi jenis, ukuran dan jumlah dari kumpulan ikan tersebut. Pendeteksian jenis ini menuntut keahlian pengamat dalam mendeteksi ikan. Menggunakan teknologi akustik (echosounder) Dengan menggunakan teknologi sonar, ikan dapat dideteksi secara langsung dari atas kapal. Akurasi dan luas wilayah pendeteksian dapat diatur secara mekanik dan elektronik. Data pendeteksian dapat disimpan untuk diolah nanti
·         Pendeteksian Ikan secara tidak langsung
      Penginderaan jauh secara tidak langsung adalah dengan menggunakan kemampuan mendeteksi habitat yang sesuai untuk tempat berkumpulnya ikan Pendeteksian secara berkelanjutan membutuhkan data yang berkelanjutan pula. Kemampuan menyimpan dan mengolah data ini menjadikan Penginderaan  GIS (Geographical Information SystemàJauh
·         Pendeteksian wilayah Aquakultur
Budidaya ikan sangat tergantung dengan lokasi. Citra saletit yang komprehensif dapat membantu memilih lokasi yang ideal Budidaya ikan dan kerang mutiara di laut juga memerlukan data perubahan kondisi perairan yang kontinu. Budidaya jenis ini sangat dipengaruhi kualitas air dan kondisi perairan sebagai contoh; blooming alga terutama jenis yang beracun (Harmful Alga Blooms HAB).
2. peramalan dengan cara  tradisional
           Penentuan daerah  penangkapan ikan yang umum dilakukan oleh nelayan sejauh ini masih menggunakan cara-cara tradisional, yang diperoleh secara turun-temurun. Akibatnya, tidak mampu mengatasi perubahan kondisi oseanografi dan cuaca yang berkaitan erat dengan perubahan daerah penangkapan ikan yang berubah secara dinamis.  Ekspansi nelayan besar ke daerah penangkapan nelayan kecil mengakibatkan terjadi persaingan yang kurang sehat bahkan sering terjadi konflik antara nelayan besar dengan nelayan kecil.

a. Cara nelayan tradisional menentukan daerah penangkapan ikan ( DPI)
·         Dengan pengetahuannya mengenai keadaan angin, keadaan bulan dan pasang surutnya air
·         DenganWarna air laut
·         Mengadakan baringan dengan cara sederhana, dengan mengambil sebagai patokan puncak gunung/puncak mercusuar/letak suatu pulau yg kelihatan dari lokasi itu
·         Memberi tanda berupa tonggak atau tanda lain yang diberi pemberat sebagai jangkar
·         Dengan perasaan dan penglihatan orang yang berpengalaman dalam penangkapan ikan
b. Rumpon salah satu alat tradisional menentukan daerah penangkapan ikan                                    Rumpon merupakan salah satu alat bantu untuk meningkatkan hasil tangkapan dimana mempunyai kontruksinya menyerupai pepohonan yang di pasang (ditanam) di suatau tempat di perairan laut  yang berfungsi sebagai tempat berlindung, mencarai makan, memijah, dan berkumpulnya ikan. Sehingga rumpon ini dapat diartikan tempat  berkumpulnya ikan  di laut, untuk mengefisienkan oprasi penangkapan bagi para nelayan.
            Rumpon merupakan alat bantu  penangkapan ikan yang fungsinya sebagai pembantu untuk menarik perhatian ikan agar  berkumpul disuatu tempat yang selanjutnya diadakan penangkapan. Dengan makin majunya  rumpon telah menjadi salah satu alternatif untuk menciptakan daerah penangkapan buatan dan manfaat keberadaannya cukup besar. Sebelum mengenal rumpon, nelayan menangkap ikan dengan cara mengejar ikan atau menangkap kelompok ikan di laut, kini dengan makin berkembangnya rumpon maka pada saat musim penangkapan,  lokasi penangkapan menjadi pasti di suatu tempat. Dengan telah ditentukan daerah penangkapan maka tujuan penangkapan oleh nelayan dapat menghemat bahan bakar, karena mereka tidak lagi mencari dan menangkap kelompok renang ikan dengan menyisir laut yang luas.  Nelayan di beberapa daerah telah banyak yang menerapkan  rumpon ini. Di Utara Pulau Jawa telah lama mengenal rumpon untuk memikat ikan agar berkumpul di sekitar rumpon, sehingga memudahkan penangkapan .

c. Fungsi dan Manfaat Rumpon
            Direktorat Jenderal Perikanan (1995) melaporkan beberapa keuntungan dalam  penggunaan rumpon yakni : memudahkan pencarian gerombolan ikan, biaya eksploitasi  dapat dikurangi dan dapat dimanfaatkan oleh nelayan kecil. Fungsi rumpon sebagai alat bantu dalam penangkapan ikan adalah sebagai berikut :      
1)    Sebagai tempat mengkonsentrasi ikan agar lebih mudah ditemukan gerombolan   ikan dan menangkapanya.
2)    Sebagai tempat berlindung bagi ikan dari pemangsanya
3)    Sebagai tempat berkumpulnya ikan
4)    Sebagai tempat daerah penangkap ikan
5)    Sebagai tempat mencari makan bagi ikan.berlindung jenis ikan tertentu dari serangan ikan predator
6)    Sebagai tempat untuk memijah bagi ikan.
7)    Banyak ikan-ikan kecil dan plankton yang berkumpul disekitar rumpon   dimana ikan dan plankton tersebut merupaka sumber makanan bagi ikan besar.
8)    Ada beberapa jenis ikan seperti tuna dan cakalang yang menjadi rumpon sebagai tempat untuk bermain sehingga nelayan dapat dengan mudah untuk menangkapnya.
Sedangkan manfaatnya adalah sebagai berikut :
1.     Memudahkan nelayan menemukan tempatuntuk mengoperasikan alat   tangkapnya.
2.     Mencegah  terjadinya destruktif fishing, akibat penggunaan bahan peledak dan bahan kimia/beracun.
3.     Meningkatkan produksi dan produktifitas nelayan.
Nelayan dapat mengetahui banyak ikan di daerah rumpon dengan beberapa ciri yang khas yaitu :
1.    Banyaknya buih-buih atau gelembung udara dipermukaan air.
2.    Warna air akan telihat lebih gelap dibandingkan dengan warna air disekitarnya karena banyak ikan yang bergerombol.
3.    Adanya burung yang berkeliaran  di permukaan laut.
4.    Adanya gelondong-gelondong kayu yang hanyut di permukaan laut.
5.    Adanya kelompok ikan lumba-lumba di permukaan laut.
4.4. Silvofishery
             Pengertian dan Definisi dari Silvofishery atau Wanamina adalah suatu pola agroforestri yang digunakan dalam pelaksanaan program perhutanan sosial di kawasan hutan mangrove. Petani dapat memelihara ikan dan udang atau jenis komersial lainnya untuk menambah penghasilan, di samping itu ada kewajiban untuk memelihara hutan Mangrove. Jadi prinsip silvofishery adalah perlindungan tanaman mangrove dengan memberikan hasil dari sektor perikanan. Sistem ini mampu menambah pendapatan masyarakat dengan tetap memperhatikan kelestarian hutan mangrove. Silvofishery yang telah dikembangkan selama ini menggunakan jenis Rhyzophora sp.
Silvofishery Pengelolaan terpadu mangrove-tambak diwujudkan dalam bentuk sistem budidaya perikanan yang memasukkan pohon mangrove sebagai bagian dari sistem budidaya yang dikenal dengan sebutan wanamina (silvofishery). Silvofishery pada dasarnya ialah perlindungan terhadap kawasan mangrove dengan cara membuat tambak yang berbentuk saluran yang keduanya mampu bersimbiosis sehingga diperoleh kuntungan ekologis dan ekonomis (mendatangkan penghasilan tambahan dari hasil pemeliharaan ikan di tambak. Pemanfaatan mangrove untuk silvofishery saat ini mengalami perkembangan yang pesat, karena system ini telah terbukti mendatangkan keuntungan bagi pemerintah dan nelayan secara ekonomis. Fungsi mangrove sebagai nursery ground sering dimanfaatkan untuk kepentingan pengembangan perikanan (sivofishery). Keuntungan ganda telah diperoleh dari simbiosis ini. Selain memperoleh hasil perikanan yang lumayan, biaya pemeliharaannya pun murah, karena tanpa harus memberikan makanan setiap hari. Hal ini disebabkan karena produksi fitoplankton sebagai energi utama perairan telah mampu memenuhi sebagai energi utama perairan telah mampu memenuhi kebutuhan perikanan tersebut. Oleh karena itu keberhasilan silvofishery sangat ditentukan oleh produktivitas fitoplankton.
a. Model Silvofishery Atau Model Wanamina
    Secara umum terdapat tiga model tambak wanamina, yaitu; model empang parit, komplangan, dan jalur. Selain itu terdapat pula tambak sistem tanggul yang berkembang di masyarakat. Pada tambak wanamina model empang parit, lahan untuk hutan mangrove dan empang masih menjadi satu hamparan yang diatur oleh satu pintu air. Pada tambak wanamina model komplangan, lahan untuk hutan mangrove dan empang terpisah dalam dua hamparan yang diatur oleh saluran air dengan dua pintu yang terpisah untuk hutan mangrove dan empang (Bengen, 2003).

Tambak wanamina model jalur merupakan hasil modifikasi dari tambak wanamina model empang parit. Pada tambak wanamina model ini terjadi penambahan saluran-saluran di bagian tengah yang berfungsi sebagai empang. Sedangkan tambak model tanggul, hutan mangrove hanya terdapat di sekeliling tanggul. Tambak jenis ini yang berkembang di Kelurahan Gresik dan Kariangau Kodya Balikpapan. Berdasarkan 3 pola wanamina dan pola yang berkembang di masyarakat, direkomendasikan pola wanamina kombinasi empat parit dan tanggul. Pemilihan pola ini didasarkan atas pertimbangan:
Penanaman mangrove di tanggul bertujuan untuk memperkuat tanggul dari longsor, sehingga biaya perbaikan tanggul dapat ditekan dan untuk produksi serasah.
Penanaman mangrove di tengah bertujuan untuk menjaga keseimbangan perubahan kualitas air dan meningkatkan kesuburan di areal pertambakan.
Luas permukaan air di dalam tambak budidaya jenis mang-rove yang biasanya ditanam di tanggul adalah Rhizophora sp. dan Xylocarpus sp. Sedangkan untuk di tengah/pelataran tambak adalah Rhizophora sp. Jarak tanam mangrove di pelataran umumnya 1m x 2m pada saat mangrove masih kecil. Setelah tumbuh membesar (4-5 tahun) mangrove harus dijarangkan. Tujuan penjarangan ini untuk memberi ruang gerak yang lebih luas bagi komoditas budidaya. Selain itu sinar matahari dapat lebih banyak masuk ke dalam tambak dan menyentuh dasar pelataran, untuk meningkatkan kesuburan tambak.
b .prinsip dasar silvofishery 
Prinsip dasar silvofishery adalah perlindungan tanaman hutan bakau dengan memberikan hasil lain dari segi perikanan. Hal ini dapat dimengerti karena sebagian besar masyarakat yang tinggal di sekitar hutan mangrove bermata pencaharian sebagai pencari ikan. Jadi dengan adanya pengembangan pola sistem silvofishery, disamping sesuai dari segi ekologis, juga selaras dengan pola hidup masyarakat sekitarnya.
Sejak tahun 1976 Perum Perhutani selaku pengelola kawasan hutan telah mengembangkan program yang mengintegrasikan kegiatan budidaya ikan dan pengelolaan hutan mangrove yang dikenal dengan istilah tambak tumpang sari, tambak empang parit, hutan tambak atau silvofishery yang semuanya bertujuan menekan laju degradasi hutan mangrove. Silvofishery adalah suatu bentuk usaha terpadu antara hutan mangrove dan perikanan budidaya. Pendekatan terpadu terhadap konservasi dan pemanfaatan sumberdaya hutan mangrove memberikan kesempatan untuk mempertahankan kondisi kawasan hutan tetap baik, disamping itu budidaya perairan payau dapat menghasilkan keuntungan ekonomi. Faktor penting lainnya adalah teknologi ini menawarkan alternatif yang praktis untuk tambak tetap berkelanjutan (sustainable).
Tipe tambak silvofishery terdiri dari tiga tipe yaitu :
·         tipe empang parit,
·         komplangan dan jalur.
·         Pola empang parit,
dimana lahan yang efektif digunakan untuk memelihara ikan ataupun udang, hanya merupakan saluran keliling atau caren sedangkan bagian tengahnya ditumbuhi pohon bakau. Pada pola komplangan, tambak pemeliharaan ikan atau udang terpisah atau berdekatan dari areal tegakan.
Tipe tambak yang terakhir adalah tipe jalur atau model kao-kao. Pada model Kao-Kao ini mangrove ditanam pada guludan-guludan. Lebar guludan 1-2 m dengan jarak antara guludan adalah 5-10 m (disesuaikan dengan lebar tambak). Variasi yang lain adalah mangrove ditanam di sepanjang tepian guludan/kao-kao dengan jarak tanam 1 meter .(Sofiawan, 2000).
c. Keuntungan model jalur
adalah ruang pemeliharaan ikan cukup lebar, lapukan serasah tanaman dapat meningkatkan kesuburan tambak, dan intensitas matahari cukup tinggi. Sedangkan
d. kerugiannya
 adalah pembersihan serasah tanaman bakau harus sering dilakukan dan panen harus dilakukan dengan menggiring ikan pada satu sudut tambak. Perbandingan luas mangrove dan luas tambak adalah 80:20 dengan hasil produksi tambak yang terbilang kecil dikarenakan lebih mengutamakan keseimbangan ekologi perairan tersebut.


Daftar Pustaka

Anonim, 2009. Teknologi Pengelolaan Kualitas Air Kualitas Air Dan Pengukurannya. Tersedia online di :http://www.sith.itb.ac.id/d4_akuakultur_kultur_jaringan/bahan-kuliah/1_Teknologi_Pengelolaan_Kualitas_Air_KUALITAS_AIR_DAN_PENGUKURANNYA.pdf.   Online tanggal 28 Oktober 2010.

Sucipto, Adi. 2008. Pengaruh salinitas dalam proses ormoregulasi ikan.       http://naksara.net/index.php?option=com_content&view=article&id=85:pengaruh-salinitas-      dalam-proses-
Bengen, D. G., 2000. Pedoman Teknis Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove. Pusat          Kajian        Sumberdaya Pesisir dan Lautan. IPB 58 hal.
Brandt Tso, Paul Mather, 2009,  Classification Methods For Remotely Sensed Data, Taylor & Francis        Group, LLC
Dahuri, Rokhmin., J. Rais., S.P.Ginting., M.J.Sitepu. 2001. Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir           Dan Lautan Secara Terpadu. Cetakan kedua, Penerbit Pradnya Paramita. Jakarta.
Anonim. 2007. Klasifikasi Alat Penangkapan Ikan Indonesia. Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.

Balai Riset Penangkapan Laut-BRKP, 1996.Musim Penangkpan Ikan Pelagis Besar (ikan Tuna). http://www.fishyforum.com/fishysalt/fishyronment/96- musim-penangkapan-ikan-pelagis

Senin, 26 Oktober 2015

PENGARUH SUHU , SALINITAS ,ARUS, CAHAYA DAN UPWELLING TERHADAP IKAN

PENGARUH SUHU , SALINITAS ,ARUS, CAHAYA DAN UPWELLING TERHADAP IKAN

1. Suhu
1.1. pengertian suhu
           Suhu adalah ukuran energi gerakan molekul. Di samudera, suhu bervariasi secara horizontal sesuai garis lintang dan juga secara vertikal sesuai dengan kedalaman. Suhu merupakan salah satu faktor yang penting dalam mengatur proses kehidupan dan penyebaran organisme. Proses kehidupan yang vital yang secara kolektif disebut metabolisme, hanya berfungsi didalam kisaran suhu yang relative sempit biasanya antara 0-40°C, meskipun demikian bebarapa beberapa ganggang hijau biru mampu mentolerir suhu sampai 85°C.  Selain itu, suhu juga sangat penting bagi kehidupan organisme di perairan, karena suhu mempengaruhi baik aktivitas maupun perkembangbiakan dari organisme tersebut. Oleh karena itu, tidak heran jika banyak dijumpai bermacam-macam jenis ikan yang terdapat di berbagai tempat di dunia yang mempunyai toleransi tertentu terhadap suhu. Ada yang mempunyai toleransi yang besar terhadap perubahan suhu, disebut bersifat euryterm. Sebaliknya ada pula yang toleransinya kecil, disebut bersifat stenoterm. Sebagai contoh ikan di daerah sub-tropis dan kutub mampu mentolerir suhu yang rendah, sedangkan ikan di daerah tropis menyukai suhu yang hangat. Suhu optimum dibutuhkan oleh ikan untuk pertumbuhannya. Ikan yang berada pada suhu yang cocok, memiliki selera makan yang lebih baik.
Beberapa ahli mengemukakan tentang suhu :
ü  Nontji (1987), menyatakan suhu merupakan parameter oseanografi yang mempunyai pengaruh sangat dominan terhadap kehidupan ikan khususnya dan sumber daya hayati laut pada umumnya.
ü  Hela dan Laevastu (1970), hampir semua populasi ikan yang hidup di laut mempunyai suhu optimum untuk kehidupannya, maka dengan mengetahui suhu optimum dari suatu spesies ikan, kita dapat menduga keberadaan kelompok ikan, yang kemudian dapat digunakan untuk tujuan perikanan.
ü  Nybakken (1988), sebagian besar biota laut bersifat poikilometrik (suhu tubuh dipengaruhi lingkungan) sehingga suhu merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam mengatur proses kehidupan dan penyebaran organisme.
Sesuai apa yg dikatakan Nybakken pada tahun 1988 bahwa Sebagian besar organisme laut bersifat poikilotermik (suhu tubuh sangat dipengaruhi suhu massa air sekitarnya), oleh karenanya pola penyebaran organisme laut sangat mengikuti perbedaan suhu laut secara geografik. Berdasarkan penyebaran suhu permukaan laut dan penyebaran organisme secara keseluruhan maka dapat dibedakan menjadi 4 zona biogeografik utama yaitu:
·         kutub,
·         tropic,
·         beriklim sedang panas dan
·         beriklim sedang dingin.
Terdapat pula zona peralihan antara daerah-daerah ini, tetapi tidak mutlak karena pembatasannya dapat agak berubah sesuai dengan musim. Organisme perairan seperti ikan maupun udang mampu hidup baik pada kisaran suhu 20-30°C. Perubahan suhu di bawah 20°C atau di atas 30°C menyebabkan ikan mengalami stres yang biasanya diikuti oleh menurunnya daya cerna (Trubus Edisi 425, 2005).

Oksigen terlarut pada air yang ideal adalah 5-7 ppm. Jika kurang dari itu maka resiko kematian dari ikan akan semakin tinggi. Namun tidak semuanya seperti itu, ada juga beberapa ikan yang mampu hidup suhu yang sangat ekstrim. Dari data satelit NOAA, contoh jenis ikan yang hidup pada suhu optimum 20-30°C adalah jenis ikan ikan pelagis. Karena keberadaan beberapa ikan pelagis pada suatu perairan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor oseanografi. Faktor oseanografis yang dominan adalah suhu perairan. Hal ini dsebabkan karena pada umumnya setiap spesies ikan akan memilih suhu yang sesuai dengan lingkungannya untuk makan, memijah dan aktivitas lainnya. Seperti misalnya di daerah barat Sumatera, musim ikan cakalang di Perairan Siberut puncaknya pada musim timur dimana SPL 24-26°C, Perairan Sipora 25-27°C, Perairan Pagai Selatan 21-23°C.

1.2. Pengaruh suhu terhadap ikan
Menurut Laevastu dan Hela (1970), pengaruh suhu terhadap ikan adalah dalam proses metabolisme, seperti pertumbuhan dan pengambilan makanan, aktivitas tubuh, seperti kecepatan renang, serta dalam rangsangan syaraf. Pengaruh suhu air pada tingkah laku ikan paling jelas terlihat selama pemijahan. Suhu air laut dapat mempercepat atau memperlambat mulainya pemijahan pada beberapa jenis ikan. Suhu air dan arus selama dan setelah pemijahan adalah faktor-faktor yang paling penting yang menentukan “kekuatan keturunan” dan daya tahan larva pada spesies-spesies ikan yang paling penting secara komersil. Suhu ekstrim pada daerah pemijahan (spawning ground) selama musim pemijahan dapat memaksa ikan untuk memijah di daerah lain daripada di daerah tersebut.

1.3. Dampak suhu terhadap ikan
Suhu berpengaruh terhadap kelangsungan hidup ikan, mulai dari telur, benih sampai ukuran dewasa. Suhu air akan berpengaruh terhadap proses penetasan telur dan perkembangan telur. Rentang toleransi serta suhu optimum tempat pemeliharaan ikan berbeda untuk setiap jenis/spesies ikan, hingga stadia pertumbuhan yang berbeda. Suhu memberikan dampak sebagai berikut terhadap ikan :
a)    Suhu dapat mempengaruhi aktivitas makan ikan peningkatan suhu
b)    Peningkatan aktivitas metabolisme ikan
c)    Penurunan gas (oksigen) terlarut
d)    Efek pada proses reproduksi ikan
e)    Suhu ekstrim bisa menyebabkan kematian ikan. (Anonim, 2009. SITH ITB)

2. Salinitas
Salinitas didefinisikan sebagai jumlah berat garam yang terlarut dalam 1 liter air, biasanya dinyatakan dalam satuan 0/00 (per mil, gram perliter). Di perairan samudera, salinitas berkisar antara 340/00 – 350/00. Tidak semua organisme laut dapat hidup di air dengan konsentrasi garam yang berbeda. Secara mendasar, ada 2 kelompok organisme laut, yaitu organisme euryhaline, yang toleran terhadap perubahan salinitas, dan organisme stenohaline, yang memerlukan konsentrasi garam yang konstan dan tidak berubah. Kelompok pertama misalnya adalah ikan yang bermigrasi seperti salmon, eel, lain-lain yang beradaptasi sekaligus terhadap air laut dan air tawar. Sedangkan kelompok kedua, seperti udang laut yang tidak dapat bertahan hidup pada perubahan salinitas yang ekstrim. (Reddy, 1993).

Salinitas merupakan salah satu parameter lingkungan yang mempengaruhi proses biologi dan secara langsung akan mempengaruhi kehidupan organisme antara lain yaitu mempengaruhi laju pertumbuhan, jumlah makanan yang dikonsumsi, nilai konversi makanan, dan daya kelangsungan hidup. (Andrianto, 2005).


2.1. Sebaran salinitas di laut
dipengaruhi oleh beberapa faktor menurut (Nontji, 1993) :
ü  pola sirkulasi air,
ü  penguapan,
ü  curah hujan, dan
ü  aliran air sungai.
Di perairan lepas pantai yang dalam, angin dapat pula melakukan pengadukan lapisan atas hingga membentuk lapisan homogen sampai kedalaman 50-70 meter atau lebih tergantung dari intensitas pengadukan.Di lapisan dengan salinitas homogen suhu juga biasanya homogen, baru di bawahnya terdapat lapisan pegat dengan degradasi densitas yang besar yang menghambat pencampuran antara lapisan atas dengan lapisan bawah. (Nontji, 1993).

Salinitas mempunyai peran penting dan memiliki ikatan erat dengan kehidupan organisme perairan termasuk ikan, dimana secara fisiologis salinitas berkaitan erat dengan penyesuaian tekanan osmotik ikan tersebut.
Faktor – faktor yang mempengaruhi salinitas :
1.    Penguapan, makin besar tingkat penguapan air laut di suatu wilayah, maka salinitasnya tinggi dan sebaliknya pada daerah yang rendah tingkat penguapan air lautnya, maka daerah itu rendah kadar garamnya.
2.    Curah hujan, makin besar/banyak curah hujan di suatu wilayah laut maka salinitas air laut itu akan rendah dan sebaliknya makin sedikit/kecil curah hujan yang turun salinitas akan tinggi.
3.    Banyak sedikitnya sungai yang bermuara di laut tersebut, makin banyak sungai yang bermuara ke laut tersebut maka salinitas laut tersebut akan rendah, dan sebaliknya makin sedikit sungai yang bermuara ke laut tersebut maka salinitasnya akan tinggi.

Distribusi salinitas permukaan juga cenderung zonal. Air laut bersalinitas lebih tinggi terdapat di daerah lintang tengah dimana evaporasi tinggi. Air laut lebih tawar terdapat di dekat ekuator dimana air hujan mentawarkan air asin di permukaan laut, sedangkan pada daerah lintang tinggi terdapat es yang mencair akan menawarkan salinitas air permukaannya.
Di perairan lepas pantai yang dalam, angin dapat pula melakukan pengadukan di lapisan atas hingga membentuk lapisan homogen kira-kira setebal 50-70 m atau lebih bergantung intensitas pengadukan. Di perairan dangkal, lapisan homogen ini berlanjut sampai ke dasar. Di lapisan dengan salinitas homogen, suhu juga biasanya homogen. Baru di bawahnya terdapat lapisan pegat (discontinuity layer) dengan gradasi densitas yang tajam yang menghambat percampuran antara lapisan di atas dan di bawahnya. Di bawah lapisan homogen, sebaran salinitas tidak banyak lagi ditentukan oleh angin tetapi oleh pola sirkulasi massa air di lapisan massa air di lapisan dalam. Gerakan massa air ini bisa ditelusuri antara lain dengan mengakji sifat-sifat sebaran salinitas maksimum dan salinitas minimum dengan metode inti (core layer method).

Volume air dan konsentrasi dalam fluida internal tubuh ikan dipengaruhi oleh konsentrasi garam pada lingkungan lautnya. Untuk beradaptasi pada keadaan ini ikan melakukan proses osmoregulasi, organ yang berperan dalam proses ini adalah insang dan ginjal. Osmoregulasi memerlukan energi yang jumlahnya tergantung pada perbedaan konsentrasi garam yang ada antara lingkungan eksternal dan fluida dalam tubuh ikan.  Toleransi dan preferensi salinitas dari organisme laut bervariasi tergantung tahap kehidupannya, yaitu telur, larva, juvenil, dan dewasa. Salinitas merupakan faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan reproduksi pada beberapa ikan dan distribusi berbagai stadia hidup. (Reddy, 1993).

3. Arus
Arus laut adalah gerakan massa air laut dari satu tempat ke tempat lain.
Arus laut dapat terjadi karena :
·         perbedaan salinitas massa air laut,
·         tiupan angin,
·         pasang surut, atau perbedaan permukaan samudera.

Arus karena perbedaan salinitas terjadi di kedalaman laut dan tidak dapat dilihat gejalanya dari permukaan laut. Di permukaan samudera, arus laut terjadi terutama karena tiupan angin. Arus yang terjadi di permukaan samudera memiliki pola-pola tertentu yang tetap. Di tempat-tempat tertentu arus laut terjadi kerana perbedaan ketinggian permukaan samudera. Di teluk-teluk atau muara sungai, arus dipengaruhi oleh pasang surut.

3.1. Pengaruh arus terhadap keberadaan ikan
Arus sangat mempengaruhi penyebaran ikan, hubungan arus terhadap penyebaran ikan adalah arus mengalihkan telur-telur dan anak-anak ikan pelagis dan daerah pemijahan ke daerah pembesaran dan ke  tempat mencari  makan.  Migrasi ikan-ikan dewasa disebabkan arus, sebagai alat orientasi ikan dan sebagai bentuk rute alami; tingkah laku ikan dapat disebabkan arus, khususnya arus pasut, arus secara langsung dapat mempengaruhi distribusi ikan-ikan dewasa dan secara tidak langsung mempengaruhi pengelompokan makanan. (Lavastu dan Hayes 1981).
Ikan bereaksi secara langsung terhadap perubahan lingkungan yang dipengaruhi oleh arus dengan mengarahkan dirinya secara langsung pada arus. Arus tampak jelas dalam organ mechanoreceptor yang terletak garis mendatar pada tubuh ikan. Mechanoreceptor adalah reseptor yang ada pada organisme yang mampu memberikan informasi perubahan mekanis dalam lingkungan seperti gerakan, tegangan atau tekanan. Biasanya gerakan ikan selalu mengarah menuju arus. (Reddy, 1993).
Fishing ground yang paling baik biasanya terletak pada daerah batas antara dua arus atau di daerah upwelling dan divergensi. Batas arus (konvergensi dan divergensi) dan kondisi oseanografi dinamis yang lain (seperti eddies), berfungsi tidak hanya sebagai perbatasan distribusi lingkungan bagi ikan, tetapi juga menyebabkan pengumpulan ikan pada kondisi ini. Pengumpulan ikan-ikan yang penting secara komersil biasanya berada pada tengah-tengah arus eddies. Akumulasi plankton, telur ikan juga berada di tengah-tengah antisiklon eddies. Pengumpulan ini bisa berkaitan dengan pengumpulan ikan dewasa dalam arus eddi (melalui rantai makanan). (Reddy, 1993).
4. Cahaya
            Disebutkan bahwa cahaya merangsang dan menarik ikan (fototaxis positif), sifat fototaxis ini dapat berubah – ubah tergantung kepada tingkathidup dan kedewasaan jenis ikan itu sendiri (Brand, 1964).
            Ikan tertarik oleh cahaya melalui penglihatan (mata) dan rangsangan melalui otak (pineal region pada otak). Peristiwa tertariknya ikan pada cahaya disebut phototaxis. Dengan demikian, ikan yang tertarik oleh cahaya hanyalah ikan-ikan fhototaxis, yang umumnya adalah ikan-ikan pelagis.
            Ada beberapa alasan mengapa ikan tertarik oleh cahaya, antara lain adalah penyesuaian intensitas cahaya dengan kemampuan mata ikan untuk menerima cahaya. Dengan demikian, kemampuan ikan untuk tertarik pada suatu sumber cahaya sangat berbeda-beda. Ada ikan yang sangat senang pada intensitas cahaya yang rendah, tetapi ada pula ikan yang senang terhadap intensitas cahaya yang tinggi.
            Menurut Nikonorov (1975), menyatakan bahwa tingkah laku ikan di bawah sumber cahaya lampu, adalah tidak normal karena ikan tidak dapat meninggalkan sumber cahaya lampu, bahkan kadang – kadang terdapat keganjilan, misalnya ada  beberapa tingkah laku ikan yang terlihat mendekati sumber cahaya, kemudian berenang cepat sekali sambil berputar – putar mengelilingi sumber cahaya, sesudah itu berlompatan ke atas permukaan.
            Menurut Ben Yami, M (1976) bahwa adanya cahaya bulan dalam light fishing memberikan pengaruh negatif, cahaya bulan membuat ikan menjadi enggan, bahkan tidak lagi tertarik pada cahaya lampu. Hal ini disebabkan karena penerangan cahaya lampu berkurang oleh adanya cahaya bulan,
            Laevastu dan Hela (1970), menyatakan bahwa dengan diketahui sifat fototaxis, maka biasanya penangkapan ikan akan lebih efektif di lakukan sebelum tengah malam, hal ini disebabkan adanya memanjang dan memendekannya sel – sel kerucut retina mata ikan. Jenis – jenis ikan yang mudah ditarik dan dikumpulkan dengan cahaya lampu antara lain : Ikan Lemuru (Sardinella longiceps), Ikan Layang (Decapterus russeli), Ikan Kembung (Rastrelliger, sp), Cumi – cumi (Loligo sp) dan ikan lainnya.
            Subani (1972) menyatakan bahwa pada waktu bulan purnama tingkat keberhasilan penangkapan ikan dengan menggunakan cahaya lampu biasanya rendah. Hal ini karena cahaya terbagi rata, padahal penangkapan ikan dengan lampu diperlukan keadaan gelap guna menarik ikan – ikan ke titik yang terang.
            Menurut laevastu dan Hela (1970) menyatakan bahwa ikan – ikan pelagis hanya berkumpul pada suatu titik cahaya selama 1 – 2 jam setelah itu ikan akan menyebar menjauhi cahaya. Hal ini disebabkan karena ikan – ikan sudah kenyang atau juga adanya pemangsa (predator) yang berputar – putar mengililingi cahaya lampu serta berlompatan ke permukaan perairan.
            Menurut Nomura dan Yamazaki (1977), bahwa dengan menggunakan cahaya lampu sebagai pemikat ikan maka ;
                 a.       Nelayan tidak sulit mencari gerombolan ikan.
                 b.      Hasil tangkapan cenderung lebih pasti jumlahnya, dan meningkat.
                 c.       Menghemat waktu dan lain – lainnya.
Usemahu dan Tomasila (2003) menyatakan agar penangkapan dengan cahaya lampu dapat memberikan hasil dan daya guna yang maksimal diperlukan syarat – syarat antara lain sebagai berikut ;
a.       Mampu mengumpulkan ikan yang berada pada jarak jauh.
b.      Ikan – ikan tersebut hendaklah akan tertangkap (catchable area).
c.      Setelah ikan terkumpul, hendaklah ikan –ikan tersebut tetap berada di san pada       suatu jangka waktu tertentu, dan
d.      Sekali ikan terkumpul pada sumber cahaya hendaklah ikan – ikan tersebut tidak melarikan diri ataupun menyebarkan diri (berserakan).

4.1.  Pengaruh cahaya
             Ikan bersifat fototaktik (responsif terhadap cahaya) baik secara positif maupun negatif. Banyak ikan yang tertarik pada cahaya buatan pada malam hari, satu fakta yang digunakan dalam penangkapan ikan. Pengaruh cahaya buatan pada ikan juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan lain dan pada beberapa spesies bervariasi terhadap waktu dalam sehari. Secara umum, sebagian besar ikan pelagis naik ke permukaan sebelum matahari terbenam. Setelah matahari terbenam, ikan-ikan ini menyebar pada kolom air, dan tenggelam ke lapisan lebih dalam setelah matahari terbit. Ikan demersal biasanya menghabiskan waktu siang hari di dasar selanjutnya naik dan menyebar pada kolom air pada malam hari.
             Cahaya mempengaruhi ikan pada waktu memijah dan pada larva. Jumlah cahaya yang tersedia dapat mempengaruhi waktu kematangan ikan. Jumlah cahaya juga mempengaruhi daya hidup larva ikan secara tidak langsung, hal ini diduga berkaitan dengan jumlah produksi organik yang sangat dipengaruhi oleh ketersediaan cahaya. Cahaya juga mempengaruhi tingkah laku larva. Penangkapan beberapa larva ikan pelagis ditemukan lebih banyak pada malam hari dibandingkan pada siang hari. (Reddy, 1993).
5. Upwelling
5.1. Pengertian Upwelling
Upwelling adalah penaikan massa air laut dari suatu lapisan dalam ke lapisan permukaan. Gerakan naik ini membawa serta air yang suhunya lebih dingin, salinitas tinggi, dan zat-zat hara yang kaya ke permukaan (Nontji, 1993). Menurut Barnes (1988), proses upwelling ini dapat terjadi dalam tiga bentuk yaitu :
1.    Pertama, pada waktu arus dalam (deep current) bertemu dengan rintangan seperti mid-ocean ridge (suatu sistem ridge bagian tengah lautan) di mana arus tersebut dibelokkan ke atas dan selanjutnya air mengalir deras ke permukaan.
2.    Kedua, ketika dua massa air bergerak berdampingan, misalnya saat massa air yang di utara di bawah pengaruh gaya coriolis dan massa air di selatan ekuator bergerak ke selatan di bawah pengaruh gaya coriolis juga, keadaan tersebut akan menimbulkan “ruang kosong” pada lapisan di bawahnya. Kedalaman di mana massa air itu naik tergantung pada jumlah massa air permukaan yang bergerak ke sisi ruang kosong tersebut dengan kecepatan arusnya. Hal ini terjadi karena adanya divergensi pada perairan laut tersebut.
3.    Ketiga, upwelling dapat pula disebabkan oleh arus yang menjauhi pantai akibat tiupan angin darat yang terus-menerus selama beberapa waktu. Arus ini membawa massa air permukaan pantai ke laut lepas yang mengakibatkan ruang kosong di daerah pantai yang kemudian diisi dengan massa air di bawahnya.
       Meningkatnya produksi perikanan di suatu perairan dapat disebabkan karena terjadinya proses air naik (upwelling). Karena gerakan air naik ini membawa serta air yang suhunya lebih dingin, salinitas yang tinggi dan tak kalah pentingnya zat-zat hara yang kaya seperti fosfat dan nitrat naik ke permukaan.  (Nontji, 1993).
5.2. Meningkatnya densitas ikan pelagis pada perairan upwelling disebabkan oleh 
    ketersediaan makanan yang cukup untuk larva dan ikan kecil dan besar. Termasuk ikan pelagis pemangsa seperti tuna yang bermigrasi ke dekat lokasi upwelling. Perairan upwelling  dicirikan dengan nilai suhu  permukaan laut yang rendah di bawah 28°C dan diikuti naiknya kandungan klorofil-a (0.8 - 2.0 mg). 
Berdasarkan beberapa penelitian, upwelling di Indonesia terjadi antara lain :
1.    di Samudra Hindia selatan 
2.    Pulau Jawa 
3.    Nusa Tenggara Barat 
4.    Sumatra, 
5.    laut di Kepulauan Maluku,
6.    Selat  Makasar, perairan Kepulauan Selayar, Laut Banda dan Laut Arafura. 
Pergerakan massa air yang disebabkan oleh perubahan iklim musiman (monsoon) juga berperan dalam penyebaran (migrasi) ikan terutama jenis pelagis. Wilayah yang di pengaruhi oleh fenomena ini adalah 
1.    Proses pelepasan material   (discharge)  yang beragam dari pantai ke laut merupakan fenomena oseanografi yang berpotensi dapat menurunkan kualitas air.
2.    Selanjutnya  di  khawatirkan akan mengganggu kese imbangan ekosistem pesisir serta penurunan potensi sumberdaya perikanan laut.

5.3. Tipe upwelling                                                                                                                                   setidaknya ada 5 tipe Upwelling, yaitu :
      1.   Coastal upwelling
Merupakan upwelling yang paling umum diketahui, karena membantu aktivitas manusia dalam melakukan kegiatan penangkapan ikan.  Upwelling ini terjadi karena, efek coriolis yang membelokan angin kemudian permukaan laut akan terbawa oleh angin menjauhi pesisir, sehingga air laut dalam yang mengadung nutrien sangat tinggi, akan menggantikan air permukaan yang terbawa oleh angin.  Daerah yang sering terjadi coastal upwelling adalah pesisir Peru, Chili, Laut Arabia, Barat Daya Afrika, Timur New Zealand, Selatan Brazil, dan pesisir California
      2.  Equatorial Upwelling
           Serupa dengan coastal upwelling namun, lokasi terjadi berada di daerah equator.
      3.  Southern Ocean Upwelling
Upwelling yang disebabkan oleh angin yang berhembus dari barat bertiup ke arah timur di daerah sekitar Antartica membawa air dalam jumlah yang sangat besar ke arah utara.  Upwelling ini serupa dengan coastal upwelling, namun berbeda dalam lokasi, karena pada daerah selatan tidak ada benua atau daratan besar antara Amerika Selatan dan Antartika, sehingga upwelling ini membawa air dari daerah laut dalam.
      4.   Tropical Cyclone Upwelling
Upwelling yang disebakan oleh tropical cyclone yang melewati area.  Biasanya hanya terjadi pada cyclone yang memiliki kecepatan 5 mph (8 km/h).
      5.   Artificial Upwelling
Tipe upwelling, yang disebabkan oleh energi gelombang atau konversi dari energi suhu laut yang dipompakan ke permukaan.  Upwelling jenis ini yang menyebabkan blooming algae Secara ekologis, efek dari upwelling berbeda-beda, namun ada dua akibat yang utama :
·         Pertama, upwelling membawa air yang dingin dan kaya nutrien dari lapisan dalam, yang mendukung pertumbuhan seaweed dan blooming phytoplankton.  Blooming phytoplankton tersebut membentuk sumber energi bagi hewan-hewan laut yang lebih besar termasuk ikan laut, mamalia laut, serta burung laut.
·         Akibat kedua dari upwelling adalah pada pergerakan hewan.  Kebanyakan ikan laut dan invertebrata memproduksi larva mikroskopis yang melayang-layang di kolom air. Larva-larva tersebut melayang bersama air untuk beberapa minggu atau bulan tergantung spesiesnya.  Spesies dewasa yang hidup di dekat pantai, upwelling dapat memindahkan larvanya jauh dari habitat asli, sehingga mengurangi harapan hidupnya.  Upwelling memang dapat memberikan nutrien pada perairan pantai untuk produktifitas yang tinggi, namun juga dapat merampas larva ekosistem pantai yang diperlukan untuk mengisi kembali populasi pantai tersebut.

Daftar Pustaka

Anonim, 2009. Teknologi Pengelolaan Kualitas Air Kualitas Air Dan Pengukurannya. Tersedia online di :http://www.sith.itb.ac.id/d4_akuakultur_kultur_jaringan/bahan-kuliah/1_Teknologi_Pengelolaan_Kualitas_Air_KUALITAS_AIR_DAN_PENGUKURANNYA.pdf.   Online tanggal 28 Oktober 2010.

Sucipto, Adi. 2008. Pengaruh salinitas dalam proses ormoregulasi ikan.       http://naksara.net/index.php?option=com_content&view=article&id=85:pengaruh-salinitas-      dalam-proses-
Bengen, D. G., 2000. Pedoman Teknis Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove. Pusat          Kajian        Sumberdaya Pesisir dan Lautan. IPB 58 hal.
Brandt Tso, Paul Mather, 2009,  Classification Methods For Remotely Sensed Data, Taylor & Francis        Group, LLC
Dahuri, Rokhmin., J. Rais., S.P.Ginting., M.J.Sitepu. 2001. Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir           Dan Lautan Secara Terpadu. Cetakan kedua, Penerbit Pradnya Paramita. Jakarta.
Anonim. 2007. Klasifikasi Alat Penangkapan Ikan Indonesia. Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.
Balai Riset Penangkapan Laut-BRKP, 1996.Musim Penangkpan Ikan Pelagis Besar (ikan Tuna). http://www.fishyforum.com/fishysalt/fishyronment/96- musim-penangkapan-ikan-pelagis-

besar.html

Jumat, 23 Oktober 2015

Pemanfaatan Daerah Penangkapan Ikan (Fishing Map)

Pemanfaatan Daerah Penangkapan Ikan (Fishing Map)
peta yang lengkap dengan atribut-atributnya, sehingga memudahkan penggunaannya (BROK-DKP, 2007).


Contoh Peta Prakiraan Daerah Penangkapan Ikan wilayah Perairan Sumatera
(Sumber: BROK – KKP, 2014).Peta Prakiraan Daerah Penangkapan Ikan (PPDPI) merupakan salah satu produk nyata Balai Penelitian dan Observasi Laut (BPOL) Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk masyarakat nelayan di Indonesia.  PPDPI telah dibuat dan didistribusikan sejak tahun 2000, saat itu masih dilakukan langsung oleh Badan Riset Kelautan dan Perikanan. Dari awal diproduksi hingga saat ini, PPDPI terus mengalami perkembangan dan perbaikan.

PPDPI itu sendiri adalah salah satu produk peta tematik kelautan yang memanfaatkan penggabungan data-data parameter oseanografi (suhu permukaan laut, produktivitas primer, ketinggian permukaan laut, arus, salinitas) baik data dari satelit oseanografi maupun data-data pada stasiun pengamatan untuk menganalisa daerah potensi penangkapan ikan. Hal ini didukung oleh tersedianya fasilitas data-data satelit oseanografi yang bebas penggunaan dan bersifat near real time. Dan sebagai tambahan, data pengamatan lapangan dan prediksi seperti data-data meteorologi (kecepatan angin, arah angin, gelombang laut) oleh Instansi seperti Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Pembuatan peta dapat dilakukan secara rutin karena akses data utama yang near real time salah satunya pada citra Satelit Terra dan Aqua (MODIS/ Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) oleh Instansi NASA melalui url berikut(http://oceancolor.gsfc.nasa.gov/modis/). Pembuatan peta ini berdasarkan informasi yang didapat dari data oceancolor dari MODIS, data suhu permukaan laut dari sensor advance very high resolution radiometer (avhrr), suhu permukaan laut dari sensor amsr and tmi, ketinggian permukaan laut, klorofil-a, dan kecepatan ketinggian permukaan laut serta data arah dan kecepatan angin dan gelombang laut. Berdasarkan informasi-informasi dari data tersebut, dapat diinterpretasikan menjadi daerah penangkapan ikan dan daerah yang berpotensi menjadi daerah penangkapan ikan. Selanjutnya informasi daerah penangkapan ikan dan daerah yang berpotensi menjadi daerah penangkapan ikan tersebut dikemas menjadi suatu bentuk peta yang lengkap dengan atribut-atributnya, sehingga memudahkan penggunaannya (BROK-DKP, 2007).

Penggunaan parameter oseanografi untuk menduga keberadaan gerombolan ikan sebenarnya bukan merupakan sesuatu yang baru dalam penginderajaan jarak jauh (ideraja).  Beberapa Negara maju seperti Jepang dan Kanada telah lama menggunakannya.  Misalkan saja Jepang, pada dekade tahun 1990-an pemerintah Jepang melalui lembaga terkait telah mengekspose informasi sebaran suhu permukaan laut kepada khalayak ramai melalui surat kabar harian, lengkap dengan letak posisi lintang dan bujurnya.

Informasi tersebut tentu saja sangat berharga bagi Nelayan di Jepang.  Dari data sebaran suhu permukaan laut, nelayan Jepang dapat menentukan posisi daerah penangkapan ikan.  Hal ini dikarenakan mereka  sudah terbiasa dan menghafal betul kisaran suhu optimum yang disukai Tuna dan Cakalang.  Kondisi ini sangat berbeda dengan Nelayan di Indonesia dimana untuk mengetahui keberadaan gerombolan Tuna dan Cakalang, terlebih dahulu harus mencarinya melalui tanda-tanda alam berupa adanya burung yang terbang menukik di permukaan laut, adanya batang kayu yang hanyut, adanya sekumpulan ikan lumba-lumba dan tanda-tanda alam lainnya.  Cara yang sudah agak lebih maju lagi yaitu dengan menggunakan rumpon laut dalam, namun tentu saja tidak selamanya suatu rumpon akan terus didatangi oleh gerombolan ikan karena keberadaan rumpon-rumpon tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan perairan dimana rumpon itu berada.

Di Indonesia, teknologi inderaja untuk menentukan daerah penangkapan ikan  baru berkembang setelah Presiden Kyai Haji Abdurrahman Wahid membentuk Departemen Eksplorasi Laut.  Hadirnya departemen ini memberikan dampak yang luas dalam kegiatan-kegiatan penelitian di bidang kemaritiman.  Pada masa Orde Baru, bidang perikanan laut merupakan bagian dari Departemen Pertanian sehingga kegiatan penelitian masih terbatas dan tentunya porsi anggaran yang dialokasikan relative kecil karena terbagi dengan bidang-bidang lainnya. Seiring  dengan perkembangan waktu dan tiada henti-hentinya melakukan perbaikan-perbaikan, institusi ini berhasil membuat Peta Prakiraan Daerah Penangkapan Ikan yang tadinya berlaku selama seminggu kini menjadi dua hari.  Suatu kemajuan yang cukup luar biasa dan patut diapresiasi walaupun prakiraan ini belum menyamai atau sejajar dengan kemajuan Negara Jepang yang sebelumnya telah berhasil melakukan pendugaan daerah penangkapan ikan yang berlaku secara harian.

Cara Mengakses Peta PDPI, Global Positioning System (GPS) dan Alat-Alat Tambahan

Didalam Peta PDPI terkandung informasi koordinat lintang bujur daerah yang diduga sebagai daerah penangkapan ikan dan daerah yang diduga berpotensi sebagai daerah penangkapan ikan. Informasi Peta PDPI dapat diperoleh/diakses secara gratis melalui internet dari website Kementerian Kelautan dan Perikanan www.kkp.go.id.  Setelah website-nya dibuka, para pengguna tinggal memilih (klik) konten Aplikasi Tematik KKP yang didalamnya terdapat beberapa aplikasi tematik termasuk  Peta PDPI.  Selanjutnya, para pengguna bisa langsung memilih  daerah penangkapan yang diinginkan.

Dewasa ini, kemajuan teknologi di bidang informasi dan komunikasi mempermudah masyarakat dalam berkomunikasi dan mengakses berbagai informasi. Demikian halnya dalam penggunaan internet, asalkan saja sudah memiliki jaringan telepon seluler, masyarakat di pedesaan pun dapat mengakses informasi melalui Hand Phone (HP) yang memiliki fasilitas internet.  Ini berarti semakin mudahnya informasi Peta Prakiraan Daerah Penangkapan Ikan (PPDPI) itu dapat diakses oleh  Nelayan, di samping tidak harus mengeluarkan biaya yang mahal (murah) untuk mendapatkan informasi tersebut.  Jika di suatu daerah belum bisa mengakses internet, maka dapat meminta bantuan kepada teman, kerabat maupun keluarga yang berada di tempat lain untuk mencari informasi peta PDPI melalui internet.  Hanya dengan memberitahukan posisi lintang dan bujur kepada Nelayan, maka letak daerah penangkapan dapat diketahui.

Berbicara tentang posisi lintang dan bujur, tidak terlepas dari alat navigasi yang digunakan oleh Nelayan. Jika menggunakan Global Positioning System (GPS) maka titik lintang dan bujur daerah penangkapan ikan bisa diperoleh secara akurat. Berbeda dengan kompas manual, posisi lintang dan bujur cenderung mengalami selisih   + 2 mil laut dari titik yang sebenarnya (pengalaman penulis).

Pada penangkapan ikan yang berskala besar, biasanya digunakan juga alat bantu penangkapan ikan, seperti fish finder (teknologi akustik kelautan untuk mendeteksi besarnya gerombolan ikan pada lokasi yang ditunjukkan pada peta zona potensi ikan) dan fishery sonar (fungsi sama dengan fish finder tetapi kualitasnya lebih tinggi terutama luasan sudut deteksinya yang mencapai 180 derajat sedangkan fish finder hanya 7-15 derajat), nelayan dapat berputar pada radius tertentu di sekitar titik tersebut untuk memonitor persebaran ikan dan menangkap ikan.

Di akhir tulisan ini, penulis ingin mengajak para pelaku utama, terutama Nelayan tradisional yang ada di Maluku untuk mencoba memanfaatkan Peta Prakiraan Daerah Penangkapan Ikan (Peta PDPI) dalam melakukan kegiatan penangkapan Tuna dan Cakalang sehingga predikat Nelayan Penangkap Ikan benar-benar adanya, bukan sebagai Nelayan Pencari ikan.  Selain itu, tentu saja bukan hanya ingin menghilangkan predikat di atas, akan tetapi dengan mengetahui posisi daerah penangkapan ikan melalui Peta PDPI, Nelayan dapat menghemat waktu dan Bahan Bakar Minyak (BBM) sehingga akan mengurangi biaya operasional penangkapan ikan …


Sumber :Wahyudi La Mani