Kamis, 28 April 2016

Budidaya Belut Sukses Dengan 6 Langkah Yang Sangat Mudah

Budidaya Belut Sukses Dengan 6 Langkah Yang Sangat Mudah

Budidaya Belut


Budidaya Belut Sukses Dengan 6 Langkah Yang Sangat Mudah
Belut adalah binatang air, dan belut ini merupakan kelompok dari binatang ikan namun belut ini sangat berbeda dengan jenis ikan lainnya, karena belut dapat hidup didalam lumpur dan hanya dengan sedkiti air. Karena belut mempunyai sistem pernapasan yang membantunya agar tetap hidup dalam kondisi lumpur dengan sedkiti air. Semakin berkembangnya perekonomian masyarakat, permintaan belut sebagai ikan konsumsi semakin meningkat, karena rasanya yang enak dan juga kandungan gizi yang banyak. Dan pada umumnya belut yang ada dinegara kita terbagi 2 jenis, yaitu belut sawah (Monopterus albus) dan belut rawa (Synbranchus bengalensis).
Sangat mudah untuk membedakan jenis belut sawah dan juga jenis belut rawa, perbedaan yang signifikan terdapat pada postur tubuhnya, untuk belut sawah sedikit lebih pendek namun gemuk, (istilah jawa : cempluk) sedangkan belut rawa memiliki ukuran tubuh yang lebih panajang dan ramping (lurus).
Pada dasarnya budidaya belut terdapat 2 jenis, yaitu usaha budidaya belut pembibitan dan budidaya belut dengan sistem pembesaran. Untuk budidaya pembibitan belut ini bertujuan untuk beternak (mengahsilkan bibit) untuk dijual kepara pembudidaya pembesaran belut. Dan para pembudidaya pembesaranbelut ini adalah membesarkan bibit belut agar menjadi dewasa dan siap dikonsumsi dan dijual dipasaran.


Cara Budidaya Belut Sukses Dengan Langkah Mudah
Dari dua bagian budidaya belut diatas, yang paling mudah adalah budidaya belut untuk pembesaran, karena bisa dilakukan oleh semua orang baik pemula maupun yang sudah berpengalaman. Daging belut sangat diminati oleh banyak orang, mulai dari langsung dikonsumsi dan juga menjadi beberapa olahan masakan. Banyak yang mengatakan darah belut juga berguna untuk penyembuhan beberapa penyakit, selain itu yang sudah saya lakukan adalah memberi makan ayam aduan dengan belut yang masih hidup, dan lihat perkembangan setelah memakan belut, ayam akan menjadi lebih sehat dan ganas.

Budidaya Belut
Baiklah disini saya akan memberikan tips mudah untuk sukses berbudidaya pembesaran belut, karena pembesaran sangat mudah hanya dengan sedikiti ketelatenan saja. Dan media yang akan kita jadikan kolam disini adalah kolam tembok untuk memudahkan memulai budidaya pembesaran belut. Dari pemilihan bibit hingga panen semua akan saya jelaskan dibawah ini, baiklah yang pertama adalah :
Pemilihan Bibit Untuk Budidaya Belut

Untuk mendapatkan bibit belut yang akan kita masukkan kedalam kolam pembesaran bisa dengan cara membeli dipara penangkar bibit ikan dan juga hasil tangkapan disawah atau dirawa, dan semuanya cara tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Untuk bibit belut hasil tangkapan akan memiliki kekurangan karena ukuran tubuhnya yang berbeda-beda, namun bibit belut tangkapan memiliki kelebihan rasanya yang gurih dan nkmat jika dimakan, dan juga bagusnya harga jual. Dan untuk kekurangan bibit belut hasil budidaya adalah harga jual setelah panen lebih rendah daripada harga jual hasil panen bibit belut tangkapan, namun bibit hasil budidaya ini memiliki kelebihan ukuran dan umur yang seragam, jadi sangat mudah dalam memantau perkembangan pembesarannya, bibit belut hasil budidaya juga tersedia dengan jumlah yang banyak dan kuantitasnya terjamin. Kelebihan lainnya pada bibit belut hasil budidaya adalah memiliki daya pertumbuhan yang seragam, tumbuhnya bisa secara bersama dan menyeluruh.
Bibit belut budidaya adalah dihasilkan dengan cara proses pemijahan antara belut jantan dan belut betina, dan selama ini dinegara kita belum ada cara pemijahan buatan seperti suntik hormon, obat peransang, dll jadi proses pemijahan belut masih dilakukan dengan cara alami. Dibawah ini adalah ciri-ciri bibit belut yang memilki potensi perkembangan petumbuhan yang baik :
Ukurannya tubuh yang sama (seragam)sangat penting untuk ukuran bibit yang akan kita budidayakan, karena ukuran yang sama akan menghindarkan dari proses kanibalisme (belut yang lebih besar akan memangsa belut yang lebih kecil).
Terlihat dari gerakannya yang aktif dan lincah, tidak loyo.
Bibit tidak mengalami cacat atau luka secara fisik.
Tidak terjangkit penyakit.
Bibit belut hasil budidaya yang akan memasuki kolam pembesaran pada umumnya berukuran antara 10-12cm. Dan dengan estimasi waktu panen sekitar 3 sampai 4 bulan, untuk target pemasaran export sekitar 6 bulanan agar belut yang dihasilkan lebih besar.

Persiapan Kolam Budidaya Belut

Baiklah, kali ini kita akan memasukai tahap untuk membuat media kolam sebagai budidaya pembesaran belut, kolam dapat dibuat dengan metode permanen dan semi permanen. Kolam permanan untuk pembesaran belut yang banyak dipakai oleh para pembudidaya pembesaran belut adalah kolam tanah, sawah, dan kolam tembok. Namun disini saya akan menjelaskan bagaimana cara membuat kolam tembok sebagai media budidaya pembesaran belut. Mengapa kolam tembok yang dijadikan pilihan? Karena kolam ini akan tahan lama dan dapat dipakai hingga 5-8 tahun, dan awet tidaknya kolam ini juga ditentukan oleh bahan yang digunakan untuk membuatnya.

Kolam Tembok Untuk Budidaya atau Beternak Belut

Pembuatan ukuran lebar kolam tembok dapat disesuaikan dengan kebutuhan, dan untuk tingginya yang paling bagus adalah 1-2 meter. Dan pada kolam tembok harus diberi lubang pembuangan, supaya mudah untuk membuang media tumbuh jika diperlukan. Dan untuk kolam tembok yang masih baru, harus dibiarkan kering terlebih dahulu selama kurang lebih 2 minggu, selatjutnya isi kolam dengan air bersih sampai penuh dan berikan daun pisang, pelepah pisang, serabut kelapa didalamnya, hal ini berguna untuk mengurangi bau semen dan menghilangkan zat kimia lainnya. Lakukan pencucian kolam dengan minimal 3 kali, sampai benar benar bersih bau semennya, karena belut bisa stress jika bau semen tersebut masih ada. Namun budidaya belut juga bisa dilakukan pada kolam tanpa lumpur (air jernih).

Pembuatan Media Tumbuh Didalam Kolam Pembesaran Budidaya Belut

Pada alam bebas belut sangat menyukai area yang terdapat lumpur, dan dia juga bermain-main didalam lumpur karena baginya sangat mudah untuk menembus lumpur yang empuk. Belut juga akan membawa mangsangan kedalam lumpur saat berburu, setelah mangsanya mati dia kemudian memakannya. Lumpur juga berfungsi tempat belut berlindung dari predator lainnya, dan pada kolam yang akan kita gunakan untuk pembesaran belut, sebaiknya kita sediakan media tumbuh untuknya agar perkembangan pertumbuhan lebih maksimal. Bahan-bahan yang akan kita gunakan untuk membuat media tumbuh didalam kolam adalah : lumpur sawah, kompos, humus, pupuk kandang, sekam padi, jerami padi, pelepah pisang, dedak, tanaman air, dan mikroba dekomposer.
vertical-align: baseline;">
Pembuatan dari kombinasi bahan-bahan diatas adalah tidak ada patokan tertentu, tergantung kira-kira dan kebiasaan para pembudidaya sendiri dan hal itu tentunya juga tergantung dengan mudah tidaknya bahan-bahan yang didapatkan. Dan dibawah ini akan saya jelaskan langkah mudah untuk membuat media hidup didalam kolam pembesaran.

Bersihkan kolam dari segala macam kotoran, lalu masukkan jerami yang sudah dirajang setinggi sekitar 20cm.
Kemudian berilah pelepah pisang yang sudah dirajang diatas tumpukan jerami tersebut kira-kira dengan tinggi ketebalan 6cm.
Berikan pupuk kandang diatasnya dengan ketebalan kira-kira 20-25 cm, bahan yang dapat digunakan untuk pupuk seperti : pupuk kandang, pupuk kompos, humus, dan kotoran ternak. Pupuk disini agan berfungsi sebagai media berkembangnya mikroorganisme baik yang dapat digunakan untuk makanan belut.
Setelah diberi pupuk, siramlah dengan air yang sudah dicampur dengen cairan bioaktivator atau mikroba dekomposer, cairan ini bisa menggunakan seperti larutan EM4.
Setelah itu, isilah dengan lumpur, lumpur bisa didapat dari sawah atau rawa, pemberiannya kira-kira setebal 10-15 cm, kemudian diamkan selama kurang lebih 1-2 minggu untuk jangka waktu tumbuhnya mikroorganisme baik.
Selanjutnya bisa diisi air bersih kira-kira setinggi 5cm dari media yang ada didalam kolam tersebut, berilah tanaman air seperti enceng gondok, namun jangan terlalu banyak.
Jika semua sudah siap dari lapisan media tumbuh tersebut akan menghasilkan ketebalan kurang lebih 60 cm, dan selanjutnya bibit belut siap dimasukkan.

Penebaran Bibit Dan Pengaturan Air Budidaya Belut

Belut merupakan jenis ikan yang bisa hidup dengan kepadatan yang tinggi, dan penebaran bisa dilakukan dengan ukuran untuk bibit belut berukuran panjang 10-12 cm berkisar 50-100 ekor/m2. Penebaran bibit yang paling bagus adalah pada sore atau pagi hari, namunmenurut saya yang terbaik adalah pada sore hari. Untuk bibit belut yang dihasilkan dari tangkapan seharusnya bibit-bibit ini dikarantina terlebih dahulu pada kolam berair bersih selama kurang lebih 1-2 hari, dan pada masa karantina berikan makanan kuning telur.

Pengaturan sirkulasi air jangan terlalu deras, karena bisa menyebabkan erosi, dan tinggi air harus selalu dijaga karena semakin tinggi air akan membuat belut lebih aktif bergerak dan akibatnya belut akan susah untuk gemuk.

Pemberian Pakan Budidaya Belut

Ikan jenis belut ini tergolong ikan yang rakus, oleh karena itu kita diharuskan untuk tidak lama telat untuk memberikan makanan, hal ini sangat beresiko terhadap benih yang baru ditebar dan juga belut yang telah dewasa, karena dia akan memangsa sesama. Pemberian pakan harus mencukupi untuk pupulasi belut. Belut membutuhkan makanan 10-20% dari jumlah bobotnya pada setiap harinya, makanan sangat penting untuk perkembangan pertumbuhan belut.

Dibawah ini adalah perkiraan kebutuhan makanan setiap harinya untuk bobot belut berjumlah 10kg :

Belut Umur 0 sampai 1 bulan: 0,5 kg
Belut Umur 1 sampai 2 bulan: 1 kg
Belut Umur 2 sampai 3 bulan: 1,5 kg
Belut Umur 3 sampai 4 bulan: 2 kg
Pemberian pakan untuk belut bisa diberikan pakan hidup atau pakan mati, pakan hidup ini sangat bagus untuk belut yang masih kecil, beberapa pakan hidup yang dapat diberikan pada belut yang masih kecil adalah : cacing, plankton, jentik nyamuk, kutu air, kecebong, larva ikan, dll. Dan untuk pakan hidup belut dewasa bisa diberikan seperti : berupa ikan, katak, serangga, kepiting yuyu, bekicot, belatung, dan keong. Pemberian pakan hidup ini bisa diberikan selang 3 hari sekali, agar pertumbuhan belut lebih bagus.

Untuk pemberian pakan mati bisa diberikan seperti : pelet, bangkai ayam, ikan rucah, cincangan bekicot dan yuyu, dll. Dari kesekian pakan mati ini lebih bagus diberikan setelah direbus terlebih dahulu, dengan pengecualian pelet tidak perlu direbus. Pemberian makanan untuk belut sangat bagus diberikan pada sore dan malam hari, karena belut akan beraktifitas didalam kegelapan. Pemberian pakan pada belut bisa diberikan dengan 2 kali dalam sehari. Jika kolam anda berada dalam rumah/area gelap pemberian pakan bisa diberikan kapanpun.

Cara Pemanenan Budidaya Belut

Kali ini kita telah memasuki tahap yang telah ditunggu-tunggu dalam tahap ini kita tentunya berharap untuk mendapatkan penghasilan tambahan dari keuntungan hasil panen belut. Pemanenan sangat mudah karena tidak ada patokan ukuran pemanenan terhadap belut, yang kecil atau yang besar semuanya enak untuk dikonsumsi, bahkan beberapa orang menyukai belut berukuran kecil untuk dikonsumsi. Tetapi untuk belut yang akan diexsport harus berukuran lebih besar, untuk mendapatkan belut yang lebih besar dibutuhkan waktu pemeliharaan kurang lebih 5-6 bulan.
Cara Panen Budidaya belut

Dalam cara pemanenan budidaya belut ada dua cara, yaitu dengan pemanenan total atau dengan hanya mengambil yang lebih besar dan memisahkan yang kecil untuk dipelihara kembali (penyoriran). Pemanenan total bisa dilakukan jika budidaya belut pembesaran sudah tepat penanganannya, sehingga pertumbuhan belut akan bersamaan (seragam).


Senin, 25 April 2016

“Mengenal Bakteri Patogen Pada Ikan”

“Mengenal Bakteri Patogen Pada Ikan”


Bakteri merupakan jasad renik yang kira-kira duapuluh kali lebih kecil dari sel jamur, protozoa atau sel daging ikan. Penyakit bakterial pada ikan merupakan salah satu penyakit yang dapat menimbulkan kerugian yang tidak sedikit. Selain dapat mematikan ikan penyakit ini dapat mengakibatkan menurunnya kualitas daging ikan yang terinfeksi. Sebagian besar bakteri sebenarnya tidak menyebabkan penyakit, tetapi bakteri mempunyai mempunyai kemampuan memperbanyak diri sangat cepat, apalagi jika bakteri tersebut berada dalam bagian tubuh hewan. Bakteri patogen pada ikan dapat bersifat sebagai infeksi primer atau infeksi sekunder/ kedua.
Dalam suatu kondisi dimana kadar bahan organik pada air sangat tinggi, akan banyak terdapat bakteri patogen. Bahkan beberapa peneliti mengatakan bahwa bakteri mikroflora yang banyak kedapatan pada usus ikan akan sesuai jenisnya dengan bakteri yang ada dalam lingkungan perairan tersebut. Namun demikian ada beberapa bakteri yang tidak dapat hidup lama di luar tubuh inangnya. Penyakit akibat infeksi bakteria di Indonesia ternyata dapat mengakibatkan kematian sekitar 50 – 100%. Infeksi penyakit yang sering terjadi antara lain pada budidaya ikan lele, ikan mas, ikan hias dan ikan gurame. Pada usaha pembesaran ikan gurame antara lain dikenal dengan istilah penyakit “tuberculosis”. Penyakit tersebut biasanya ditunjukkan dengan gejala-gejala klinis antara lain luka dan pendarahan pada kulit, mata menonjol, bisul pada tubuh, pendarahan pada pangkal sirip. Salah satu gejala yang sangat spesifik adalah adanya bintil-bintil (tubercle) berwarna putih, biasanya terdapat pada daging, ginjal, hati, limfa dan mata. Penyakit bakteri pada ikan ini cukup banyak menimbulkan kerugian selain menurunkan mutu daging ikan juga akhirnya dalam tingkatan yang akut akan menyebabkan kematian ikan. Kematian yang ditimbulkannya menurut para pembudidaya ikan dapat mencapai 50 – 60%.
Bakteri yang dapat menginfeksi ikan dikenal ada bermacam-macam bentuk dimana masing-masing bentuk akan memberikan gambaran efek infeksi yang berlainan. Bentuk-bentuk bakteri yang bersifat patogenik bagi ikan adalah: bakteri berbentuk bulat (coccus), bentuk bulat bergabung dua sel (diplococcus), bakteri bentuk bulat bergabung seperti rantai (streptococcus), bakteri bulat berkelompok beberapa sel (staphylococcus), bakteri berbentuk batang (bacillus), bakteri berbentuk koma (vibrio). Infeksi bakteri biasanya timbul jika menderita stres. Kematian banyak terjadi pada ikan yang menderita stres karena serangan bakteri yang menyebabkan infeksi. Gejala akibat infeksi bakteri secara keseluruhan sangat susah untuk dibedakan dengan gejala akibat infeksi virus. Gejala-gejala tersebut pada umumnya tergantung sampai stadium mana tingkat infeksinya dan gejala umum yang sering ditemukan antara lain sebagai berikut:
  1. Gerakan ikan lemah.
  2. Produksi lendir berkurang karena setelah ikan terinfeksi akan mengeluarkan lendir yang berlebihan.
  3. Timbul pendarahan dan nekrosa pada tempat infeksi.
  4. Luka (ulcer) di tempat infeksi.
  5. Beberapa bakteri menyebabkan rontok pada insang dan sirip.
  6. Bengkak pada perut dan mengeluarkan cairan kuning darah (dropsy).
  7. Mata menonjol (exophthalmos).
  8. Beberapa bakteri dapat menghasilkan “tubercle” atau “granuloma” pada bagian tubuh yang terinfeksi.
Bakteri yang biasanya menginfeksi ikan lebih banyak tergolong pada bakteri gram negatif. Tetapi bakteri gram positif juga ada yang dapat menginfeksi ikan seperti treptococcus sp. dan Mycobacterium spp. Beberapa contoh bakteri yang biasanya menginfeksi ikan antara lain adalah:
  1. Penyakit Columnaris (luka kulit, sirip dan insang)
Penyebab: Flexibacter columnaris (Syn: Flavobacterium columnare).
Bio-Ekologi Patogen: bakteri gram negatif, aerobik, berbentuk batang kecil dengan lebar 0,5 mikron dan panjang 12 mikron. Bakteri tersebut bergerak secara merayap seperti ulat, bentuk koloninya pipih dengan permukaan koloni yang tidak teratur (irregular), tumbuh pada media campuran pepton yang ditambah 1% media agar.
Epizootiology: merupakan penyebab dari penyakit Columnaris. Sifat serangannya bisa kronik, akut atau perakut, dan biasanya terjadi pada level suhu diatas 18oC, dan infeksi jarang terjadi pada keadaan pH rendah dan kandungan bahan organik yang rendah. 

Penyakit Columnaris pada Insang
Gejala klinis: Lecet (lesi) biasanya terjadi pada kulit badan atau bagian kepala atau pada insang, yang dimulai seperti bintik putih yang kemudian berkembang menjadi pendarahan. Infeksi di sekitar mulut, terlihat seperti diselaputi benang (thread-like), sehingga sering disebut penyakit “jamur mulut”. Di bagian pinggir luka tertutup oleh lendir (pigmen) berwarna kuning cerah. Infeksi pada insang biasanya langsung menimbulkan nekrosa dan kematian akan cepat terjadi akibat insang yang rontok.
Penanggulangan: Sebaiknya ditujukan lebih pada tindakan pencegahan yaitu dengan perbaikan kondisi lingkungan, mempertahankan kualitas air, mengurangi kandungan bahan organik dalam air dan penambahan oksigen. Pada gambar dibawah ini dapat dilihat contoh infeksi Flexibacter columnaris dan insang ikan yang diserangnya.
  1. Penyakit Merah
Penyebab : Aeromonas hydrophila adalah salah satu spesies bakteri yang terdapat di hampir seluruh lingkungan perairan tawar maupun payau, bahkan pada feces mammalian, katak dan manusia. Bakteri ini bersifat gram negatif, bentuk batang 0,7 – 0,8 mikron x 1,0 – 1,5 mikron, bergerak dengan menggunakan polar flagella, cytochrom oksidase positif, fermentative dan oksidatif. Bakteri ini tumbuh pada kondisi air tawar, terutama pada kondisi kandungan bahan organik tinggi.

Penyakit Merah pada Ikan Mas
Epizootiology : Aeromonas hydrophila dikenal dengan penyebab penyakit merah, bersifat septisemik, biasanya sebagai infeksi kedua. Tetapi hasil penelitian Hayes (2000) menunjukkan bahwa A. hydrophila sebagai bakteri patogen pada ikan dapat berperan baik sebagai patogen primer maupun sekunder. Sifat serangannya sangat bergantung pada spesies inang dan virulensi strain bakteri. Cara penularan penyakit ini secara horizontal (antar individu-individu dalam satu spesies) atau berbeda spesies dalam suatu populasi dan atau komunitas) tetapi tidak secara vertical (dari induk kepada keturunannya). Pada umumnya penyakit ini akan timbul pada ikan yang penanganannya kurang sempurna, pakan yang kurang tepat baik mutu maupun jumlahnya, banyak terinfeksi oleh parasit, serta air kolam yang terlalu subur, serta zat asam yang sangat rendah.
Gejala klinis: warna ikan menjadi lebih gelap, nafsu makan berkurang atau hilang, bergerombol dekat saluran pembuangan, dan kadang-kadang timbul luka pada kulit jadi kemerah-merahan. Jika kita membedah ikan yang terinfeksi gejala yang ditunjukkannnya adalah hatinya berwarna pucat, dan pendarahan terjadi pada organ dalam seperti hati, ginjal, limpa dan gelembung udara.
Penanggulangan: manajemen budidaya yang baik, mengurangi kesuburan kolam, serta pemberian pakan yang tepat baik jumlah maupun mutunya.
  1. Penyakit Furunculosis
Penyebab: Aeromonas salmonicida adalah bakteri gram negatif, tidak bergerak, dengan ukuran 0.8-1.0 x 1.5-2.0 mikron. Bakteri memiliki 3 subspecies yaitu A. salmonicida ssp salmonicida yang memproduksi pigmen coklat, A. salmonicida ssp achromogenes tidak memproduksi pigmen coklat dan tidak mereduksi nitrat, A. salmonicida ssp masoucida yang tidak memproduksi pigmen coklat tetapi memproduksi indol dan H2S.

Penyakit Furunculosisi
Habitat: Ikan-ikan air tawar merupakan pembawa penyakit. Bakteri tidak hidup lama diluar tubuh inangnya. Bakteri tersebut dapat menginfeksi ikan salmonid dan non-salmonid.
Distribusi: Aeromonas salmonicida, merupakan penyakit yang daerah sebarnya cukup luas hampir seluruh dunia terutama daerah yang banyak memelihara ikan salmon.
Epizootiology: Ikan yang terinfeksi berat (acute) oleh penyakit ini kebanyakan akan mati dalam waktu 2-3 hari. Patogen dapat hidup pada air tawar sekitar 19 hari, sedangkan pada air payau antara 16 – 25 hari sedangkan pada air laut dapat aktip kembali antara 24 jam sampai 8 hari Efek patologi dari penyakit ini dikatakan karena diproduksinya ekstrak luaran sel (ECP) oleh patogen tersebut yaitu leucocytolytic yang dapat merusak leucocyte yang akan mengakibatkan leucopenia.
Gejala klinis: Ikan yang terinfeksi akan menunjukkan gejala lecet dan luka serta borok pada kulit sehingga akan menurunkan mutu daging. Dari organ yang terluka apabila larut kedalam air maka akan dapat menginfeksi inang yang cocok.
  1. Penyakit Vibriosis
Penyebab: Vibrio spp., bakteri ini memiliki ukuran 0,5 x 1,0 – 2,0 mikron, bersifat gram negatif, berbentuk batang bisa lurus maupun bentuk koma, bergerak dengan menggunakan polar flagella, fermentative dan cytochrom oksidase positif, sensitif terhadap vibriostat 0/129 (pteridine). Vibriosis merupakan penyakit sekunder, artinya penyakit ini muncul setelah adanya serangan penyakit lainnya misalnya protozoa atau penyakit lainnya.

Ikan yang Terserang Bakteri Vibrio spp.
Habitat: sumber utama adalah species ikan laut sebagai pembawa, namun bakteri ini juga telah ditemukan pada invertebrata dan benthos. Tumbuh hampir disegala media umum yang mengandung NaCl 1-1,5%.

Epizootiology: Vibriosis merupakan penyakit yang potensial bagi ikan laut, baik yang dibudidayakan maupun bagi ikan liar. Sebetulnya pada keadaan normal bakteri tsb merupakan mikroflora pada usus ikan air laut. Suhu ambang untuk terjadinya wabah tergantung dari species ikan msalnya untuk salmon dan turbot pada level suhu 10 – 11oC. Kematian yang diakibatkannya dapat mencapai 50% terutama apabila terjadi pada ikan yang berumur muda. Vibriosis merupakan penyakit sekunder, artinya penyakit ini muncul setelah adanya serangan penyakit yang lain misalnya protozoa atau penyakit lainnya.
Gejala klinis: anorexia, warna tubuh menjadi gelap, warna insang pucat. Pada infeksi akut ikan akan menunjukkan gejala tubuh membengkak, luka pada kulit yang mengeluarkan nanah. Pada infeksi kronik akan terbentuk granuloma, dan pendarahan pada rongga perut.
Penanggulangan: lebih ditujukan pada pencegahan yaitu dengan vaksinasi dan seleksi ikan yang tahan terhadap infeksi penyakit.
Pengobatan: Pemberian Sulphonamides 0,5 gram per kg pakan ikan selama 7 hari, atau Chlorampenicol sebanyak 0,2 gram per kg berat pakan ikan selama 4 hari. Jika ikan tidak mau makan, cobalah dengan pengobatan melalui perendaman menggunakan Nitrofurozon 15 ppm selama lebih kurang 4 jam atau dengan Sulphonamides 50 ppm selama lebih kurang 4 jam.
  1. Penyakit Edwardsiellosis
Penyebab: Edwardsiela tarda, bakteri bersifat gram negatif berbentuk batang dan bergerak dengan menggunakan flagella, bersifat fermentatif dan mampu memproduksi H2S. Sampai saat ini penyakit ini telah dilaporkan dapat menginfeksi hampir semua jenis ikan termasuk salmon, chanel catfis, ikan mas, sidat, tilapia dan flounder.

Infeksi Bakteri Edwardsiela tarda pada Catfish
Gejala infeksi: ikan pucat, gembung perut, pendarahan pada anus, anus tertekan kedalam, dan mata pudar. Gejala klinis pada organ dalam adanya bintil kecil berwarna putih terdapat pada insang, ginjal, hati dan limfa dan kadang-kadang pada usus. Hal yang berperan membantu terjadinya wabah diduga karena ular, kotoran manusia dan binatang lainnya. Namun wabah biasanya terjadi pada suhu tinggi yaitu 30oC dan kandungan bahan organik tinggi. Jumlah kematian akan tergantung pada keadaan lingkungan tetapi dari data yang ada ternyata pada kolam ikan lele biasanya kematian tidak lebih dari 5%. Namun demikian apabila ikan tersebut dipindahkan maka infeksi penyakit tersebut akan bertambah ganas dan dapat menyebabkan kematian sekitar 50% dari populasi. Ikan yang ternfeksi akan menunjukan gejala terjadinya luka pada kulit dan kemudian meluaskan bagian daging. Luka ini sering mengakibatkan pendarahan.

  1. Penyakit Streptococciosis
Penyebab: Streptococcus iniae
Bio-Ekologi Patogen: termasuk bakteri gram positif berbentuk bulat kecil (coccus), bergabung menyerupai rantai, non-motil, koloni transparan dan halus dan mempunyai kemampuan menyerang sel darah merah. Streptococcus merupakan bakteri yang resisten terhadap berbagai antibiotik yang secara terus menerus dipergunakan untuk mengobati infeksi bakteri yang lain. Infeksi : Streptococcus pada ikan dapat berlangsung secara kronik hingga akut. Penyakit ini banyak dilaporkan pada ikan yang dipelihara pada lingkungan perairan tenang (stagnant) dan sistem resirkulasi. Infeksi ini banyak ditemukan di organ otak, sehingga ikan yang terinfeksi sering menunjukkan tingkah laku abnormal seperti kejang atau berputar.

Serangan Bakteri Streptococcus sp. pada Ikan Patin
Gejala Klinis: gejala yang ditimbulkannya meliputi mata menonjol, gembung perut (dropsy), pendarahan pada mata, tutup insang dan pangkal ekor, warna ikan menjadi lebih gelap, dan ikan berenang cepat tidak karuan, pertumbuhan ikan menjadi lambat. Sedangkan ciri pada organ dalam meliputi kerusakan ginjal, hati, limpa dan usus. Seringkali infeksi Streptococcus tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas kecuali kematian yang terus berlangsung. Biasanya penyakit ini diamati lewat pemeriksaan laboratories.

Species ikan yang terinfeksi meliputi: ikan ekor kuning, tilapia, sidat, rainbow trout, channel catfish, golden shiner, lele-lelean (Arius felis), silver trout dan mullet. Efek yang ditimbulkan adalah ikan menjadi sulit bernapas dan hilang kemampuan dalam menentukan arah dan gerak (inkoordinasi). Mata menjadi buram, nekrosis dan dapat menyebabkan kondisi kebutaan. Kerusakan organ-organ internal akan mengakibatkan kematian.
Pencegahan dan Pengendalian: manajemen kesehatan ikan terpadu (inang, lingkungan dan patogen), ikan yang terinfeksi segera diambil dan dimusnahkan, hindari penggunaan air dari kolam yang sedang terinfeksi bakteri tersebut. menghindari kepadatan tinggi, pakan berlebih dan penanganannya kasar.
  1. Penyakit Mycobacteriosis
Penyebab: Penyakit ini disebabkab oleh bakteri Mycobacterium spp. Species bakteri yang dapat menginfeksi ikan adalah: M. marinum, M. foruitum dan M. chelonei.

Penyakit Tubercolosis pada Ikan
Bio-Ekologi Patogen : Bakteri tersebut berbentuk batang agak bengkok, bersifat acid fast dan gram positif, tumbuh pada media khusus seperti Lowenstein-Jensen, Petragnani dan Ogawa and Sauton. Tumbuh agak lama sekitar 30 hari. Namun untuk M. fortuitum dan M. chelonei akan tumbuh 7 hari dalam medium” Ogawa’s egg” pada temperatur 25-30oC. Infeksi Mycobacterium banyak dilaporkan pada ikan yang dipelihara pada lingkungan perairan tenang (stagnant) dan sistem resirkulasi, sehingga jenis ikan seperti gurami dan cupang yang cocok pada kondisi tersebut sering dilaporkan terinfeksi penyakit tersebut. Kolam tadah hujan dan pekarangan dengan sumber air terbatas lebih rentan terhadap infeksi jenis penyakit ini.
Gejala klinis: Mycobacteriosis merupakan penyakit yang progresif chronik dengan beberapa gejala klinis antara lain lesi seperti cacar, ikan lemah, pembengkakan pada kulit, mata menonjol (exophthalmia) lesi dan borok pada tubuh. Ikan akan kehilangan nafsu makan, lemah, kurus. Gejala ini diawali dengan kurang gizi terutama vitamin E. Jika menginfeksi kulit, timbul bercak-bercak merah dan berkembang menjadi luka, sirip dan ekor geripis. Pada infeksi lanjut, gejala pada organ dalam biasanya terdapat granuloma yang berwarna putih keabu-abuan atau putih kecoklatan, terutama pada hati, limfa, ginjal dan pada daging ikan (dikenal sebagai penyakit TBC).
Epizootiology dari penyakit ini sangat sedikit sekali diketahui. Kemungkinan penyebaran penyakit tersebut dengan menelan langsung dari pakan atau kotoran yang terinfeksi oleh Mycobacterium spp tersebut.. Di Indonesia telah ditemukan menginfeksi ikan hias dan ikan gurame (Osphronemus gouramy). Insidensi infeksinya dapat mencapai 60% degan. Kematian yang diakibatkan dapat mencapai 70-80%. Diagnosa berupa isolasi dan identifikasi melalui uji biokimia.
Pengendalian dan Pengobatan: manajemen kesehatan ikan terpadu (inang, lingkungan dan patogen), ikan yang terinfeksi segera diambil dan dimusnahkan, hindari penggunaan air dari kolam yang terinfeksi bakteri tersebut. Pengobatan melakukan penggantian air baru. Pemeliharaan dalam ”air hijau” secara ekstensif akan mengurangi stress.
  1. Penyakit Nocardiosis

Penyakit Nocardiosis yang Menyerang Daging dan Insang Ikan
Penyebab: Nocardia spp. adalah organisme bersifat aerob, gram positif dan mungkin “acid fast’ berbentuk batang dan kadang-kadang bercabang. Dapat menginfeksi baik ikan air tawar maupun ikan air laut. Ikan yang terinfeksi menunjukkan gejala hilang nafsu makan (anorexia), ikan kurus, pembengkakan terjadi pada daerah mulut dan perut yang menunjukkan adanya bintik putih pada kulit, insang, daging dan organ dalam dan kadang-kadang penyakit ini menimbulkan lesi. Gejala yang ditimbulkan mirip dengan gejala infeksi tuberkulosis.
  1. Penyakit Enteric Septicaemia of Catfish (ESC)
Penyebab:  bakteri Edwardsiela ictaluri. Bakteri tsb tergolong bakteri yang mempunyai sifat gram negatif, berbentuk batang, bergerak lamban dengan menggunakan flagella. Suhu optimum untuk pertumbuhannya adalah 20-30oC. Perbedaannya dengan E. tarda adalah bakteri E. ictaluri tidak memproduksi H2S dan indol.

Penyakit Enteric Septicemia of Catfish (ESC)
Gejala klinis dari penyakit ini ciri dengan keadaan ikan lemah menggantung arah vertikal, berenang berputar (Spinning) dan kemudian diikuti oleh kematian. Pada ikan yang berukuran panjang diatas 15 cm gejala klinis luar tidak pernah ditemukan. Penyebaran penyakit tersebut meliputi seluruh wilayah Amerika dimana budidaya channel catfish sangat intensif.
  1. Penyakit Pasteurellosis
Penyebab: Pasteurella piscida. Yaitu bakteri gram negatif tidak bergerak, berbentuk batang, fermentatif dengan warna koloni abu-abu sampai kuning.

Infeksi Penyakit Pasteurellosis pada Organ Dalam Ikan
Gejala klinis: Pada infeksi akut hanya menunjukkan gejala yang tidak dapat terdeteksi. Sedangkan gejala pada organ dalam dapat ditemukan granuloma pada ginjal dan limfa yang berwarna putih keabu-abuan. Oleh karena itu maka penyakit ini juga sering disebut dengan istilah “pseudotuberculosis”. Pasteurellosis menyerang baik ikan yang dibudidayakan maupun ikan liar. Penyakit ini hanya menginfeksi ikan laut pada suhu air sekitar 25oC.
  1. Penyakit Enteric Red Mouth Disease (ERM)
Penyebab: Yersinia ruckeri, bakteri bersifat gram negatif, berbentuk batang agak lengkung, bergerak dengan menggunakan 7-8 flagella. Ada tiga tipe sel yaitu type 1, type 2 dan type 3 dimana type 1 sangat virulen, diikuti oleh type 2 dan kemudian type 3.

Serangan Penyakit Red Mouth pada Ikan Bandeng
Gejala klinis: Red Mouth Disease adalah suatu penyakit dengan gejala klinis warna merah pada mulut dan kerongkongan akibat adanya pendarahan pada lapisan subcutan. Gejala lainnya adalah pembengkakan dan erosi pada rahang, kulit jadi kehitaman, pendarahan pada pangkal sirip, mata menonjol dan ikan lemah. Gejala klinis pada organ dalam meliputi pendarahan pada otot daging, lemak pada usus serta pembengkakakan terjadi pada ginjal dan limfa.
Penyebaran penyakit: meliputi Amerika Serikat, Canada, Denmark, Inggris, Perancis, Jerman, Italia, Norwegia dan Australia. Penyakit ini terutama menyerang ikan kecil ukuran panjang sekitar 7.5 cm. Lebih jarang menginfeksi ikan besar tetapi lebih bersifat kronik.

Sumber:
Maloedyn.,S., 2001. Mengatasi Penyakit Hama Pada Ikan Hias. Agro Media Pustaka. Jakarta.

Yuasa, Kei, dkk. 2003. Panduan Diagnosa Penyakit Ikan. Balai Budidaya Air Tawar Jambi, Ditjen Perikanan Budidaya, DKP dan JICA.

Rabu, 20 April 2016

Faktor Penyebab Penyakit Pada Ikan



Penyakit ikan adalah suatu bentuk abnormalitas dalam struktur atau fungsinya yang disebabkan oleh organisme hidup melalui tanda-tanda yang spesifik. Sedangkan menurut Sachlan dalam Afrianto (1992), penyakit ikan adalah segala sesuatu yang dapat menimbulkan gangguan pada ikan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengetahuan tentang penyakit ikan dirasakan sangat penting ketika telah menyebabkan kegagalan dan kehilangan yang sangat bermakna pada usaha budidaya ikan.  Penyakit ikan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
  1. Penyakit Parasiter/ Infektif (Infectious Disease) adalah penyakit yang disebabkan oleh aktivitas organisme parasit. Organisme yang sering menyerang ikan peliharaan antara lain virus, bakteri, jamur, protozoa, golongan cacing dan udang renik. Bakteri dan virus akan menyebabkan infeksi pada ikan budidaya, sementara yang disebabkan oleh parasit akan mengakibatkan investasi pada ikan budidaya.
  2. Penyakit Non Parasiter/ Non Infektif (Non Infectious Disease) adalah penyakit yang disebabkan bukan oleh hama maupun organisme parasit. Penyakit ini dapat dikelompokkan menjadi tiga berdasarkan faktor penyebabnya.
A. Lingkungan
Penyakit non parasiter yang disebabkan oleh faktor lingkungan yang kurang menunjang bagi kehidupan ikan, antara lain pH air terlalu tinggi/ rendah, kandungan oksigen terlarut terlalu tinggi/rendah, perubahan temperatur air secara tiba-tiba, adanya gas beracun hasil penguraian bahan organik (gas metan, ammonia atau asam belerang), adanya polusi dari pestisida (insektisida atau herbisida), limbah industri atau limbah rumah tangga. Dalam budidaya laut khususnya, penyebab penyakit non parasiter (non infektif/infectious disease) akibat lingkungan dapat berupa:
  • Faktor Kimia dan Fisika, antara lain: perubahan salinitas air secara mendadak; pH yang terlalu rendah (air asam), pH yang terlalu tinggi (air basa / alkalis); kekurangan oksigen dalam air; zat beracun, pestisida (insektisida, herbisida dan sebagainya); perubahan suhu air yang mendadak; kerusakan mekanis (luka-luka); perairan terkena polusi.
  • Stres: stres yang terjadi pada ikan berkaitan dengan timbulnya penyakit pada ikan tersebut. Stres merupakan suatu rangsangan yang menaikan batas keseimbangan psikologi dalam diri ikan terhadap lingkungannya. Biasanya stres pada ikan diakibatkan perubahan lingkungan akibat beberapa hal atau perlakuan misalnya akibat pengangkutan/ transportasi ikan-ikan yang dimasukan kedalam jaring apung di laut dari tempat pengangkutan biasanya akan mengalami shock, berhenti makan dan mengalami pelemahan daya tahan terhadap penyakit.
  • Kepadatan Ikan: Kepadatan ikan yang melebihi daya dukung perairan (carrying capacity) akan menimbulkan persaingan antar ikan tinggi, oksigen terlarut menjadi rendah dan sisa metabolisme seperti ammonia akan meningkat sehingga dapat menimbulkan stres dan merupakan penyebab timbulnya serangan penyakit.
B. Pakan/ Nutrisi
Salah satu penyakit non parasiter akibat pakan adalah kelaparan. Kelaparan merupakan kekurangan nutrisi yang bersifat absolut. Kelaparan pada ikan menunjukkan gejala seperti anemia dan hambatan pertumbuhan. Contoh lainnya adalah penyakit yang disebabkan karena kualitas pakan yang diberikan kurang baik (malnutrition) antara lain karena kekurangan vitamin, gizinya rendah, bahan pakan yang digunakan telah busuk atau mengandung racun.
C. Turunan
Penyakit yang disebabkan oleh turunan, misalnya bentuk fisik dan kelainan- kelainan tubuh yang sudah ada sejak lahir, seperti tubuh bengkok, larva ikan yang cacat, sisik tidak lengkap atau sirip melengkung. Bentuk fisik dan kelainan-kelainan tubuh yang disebabkan oleh keturunan, dimana faktor keturunan sangat berpengaruh langsung terhadap penampilan fisik ikan. Untuk mencegahnya harus dilakukan seleksi induk yang ketat pada saat melakukan breeding. Variasi genetika ini juga dapat menyebabkan terjadinya kanibalisme, tutup insang yang tidak dapat menutup sempurna, ikan menjadi kerdil dan cacat. Berdasarkan daerah penyerangannya pada tubuh ikan, penyakit yang disebabkan oleh parasit dapat dibedakan lagi menjadi 3 (tiga) kelompok, yaitu:
1) Penyakit pada Kulit dan Sisik
Kulit dan sisik merupakan pertahanan pertama dan utama terhadap infeksi penyakit, karena bagian ini menghasilkan lendir (mucus) yang berasal dari ikatan antara air dengan glycoprotein yang terletak di bagian epidermis. Secara khusus, fiungsi kulit dan sisik adalah untuk melindungi jaringan dan organ yang berada di bawahnya dari infeksi penyakit. Kulit dan sisik menjadi indikator untuk kesehatan ikan.
Penyakit atau parasit yang menyerang kulit ikan mudah untuk dideteksi. Jika organisme penyebabnya berukuran cukup besar, maka dengan mudah langsung diidentifikasi. Tetapi jika berukuran kecil harus diidentifikasi dengan menggunakan mikroskop atau dengan mengamati akibat yang ditimbulkan oleh serangan organisme tersebut. Organisme yang menyerang sisik dan kulit ikan biasanya berasal dari golongan bakteri, virus, jamur atau lainnya. Jika disebabkan oleh jamur, biasanya akan gterlihat bercak-bercak putih, kelabu atau kehitam-hitaman pada kulit ikan.
Ikan yang terserang penyakit pada kulitnya akan terlihat lebih pucat (tampak jelas pada ikan yang berwarna gelap), luka, inflamasi (peradangan), pendarahan (haemorrhages) dan perubahan abnormal produksi lendir. Ikan tersebut biasanya akan menggosok-gosokkan tubuhnya ke benda-benda yang ada di sekitarnya. Infeksi Argulus di permukaan tubuh ikan sebagai bentuk serangan penyakit pada kulit dan sisik dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Infeksi Argulus sp. pada ikan (kiri) dan morfologi Argulus sp. (kanan)
2) Penyakit pada Insang
Insang merupakan struktur dasar pernafasan ikan. Hubungan langsung antara insang dan infeksi penyakit dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu : insang berhubungan langsung dengan lingkungan luar, mempunyai kemampuan dalam penyerapan nutrisi dari lingkungan luar, mempunyai bentuk dan struktur seragam sehingga kemampuan dalam pencegahan infeksi sangat terbatas. Penyakit atau parasit yang menyerang organ insang agak sulit dideteksi secara dini karena menyerang bagian dalam ikan.
Salah satu cara yang dianggap cukup efektif mengetahui adanya serangan penyakit atau parasit pada ikan adalah mengamati pola tingkah laku ikan. Serangan penyakit ini akan menyebabkan ikan sulit bernafas, tutup insang mengembang dan warna insang menjadi pucat. Pada lembaran insang sering terlihat bintik-bintik merah karena pendarahan kecil (peradangan). Jika terlihat bintik putih pada insang, kemungkinan besar disebabkan oleh serangan parasit keci yang menempel. Contoh serangan penyakit pada insang yang menyerang benih ikan koi dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Penyakit pada insang ikan Koi
3) Penyakit pada Organ Dalam
Penyakit yang menyerang organ dalam sering mengakibatkan perut ikan membengkak atau menjadi kurus dengan sisik-sisik yang berdiri (penyakit dropsy). Jika pada kotoran ikan ditemukan bercak darah, ini berarti usus ikan sudah mengalami pendarahan (peradangan). Jika serangannya sudah mencapai gelembung renang biasanya keseimbangan badan ikan menjadi terganggu sehingga gerakan berenang ikan menjadi tidak terkendali.
Secara teori, diketahui bahwa ikan mempunyai sistem pencernaan yang saling berhubungan dan bersifat causalitas (sebab akibat). Penyakit dropsy merupakan akibat dari infeksi virus, bakteri (contoh bakteri Myxobacter) dan parasit. Kondisi air akuarium yang tidak bagus (seperti akibat terjadinya akumulasi nitrogen) dapat memicu terjadinya gejala dropsy. Secara alamiah, bakteri penyebab dropsy kerap dijumpai dalam lingkungan akuarium, tetapi biasanya dalam jumlah normal dan terkendali. Perubahan bakteri ini menjadi patogen, biasa terjadi karena akibat masalah osmoregulator pada ikan, atau karena hal-hal seperti: kondisi lingkungan yang memburuk, menurunnya fungsi kekebalan tubuh ikan, malnutrisi atau karena faktor genetik. Infeksi utama biasanya terjadi melalui mulut, yaitu ikan secara sengaja atau tidak memakan kotoran ikan lain yang terkontaminasi patogen atau akibat kanibalisme terhadap ikan lain yang terinfeksi. Tiga tingkatan serangan penyakit yang mungkin terjadi adalah :
  • Akut: Infeksi terjadi dengan cepat sehingga ikan mati tanpa menunjukan gejala yang jelas.
  • Kronis: infeksi terjadi secara perlahan secara sistemik dan menunjukan berbagai gejala yaitu pembangkakan rongga tubuh, yang biasanya disertai ulcer dan atau exophthalmia.
  • Laten: infeksi terjadi sangat lemah sehingga ikan tampak tidak menunjukan gejala penyakit, tetapi berpotensi sebagai pembawa (carrier)
Jika salah satu organ dalam dari tubuh ikan mulai terinfeksi patogen/penyakit maka kemungkinan besar organ lain akan ikut terinfeksi patogen. Jika menyerang usus ikan, biasanya akan mengakibatkan peradangan, dan jika menyerang gelembung renang, ikan akan kehilangan keseimbangan pada saat berenang. Berdasarkan daerah serangannya, ada parasit yang menimbulkan penyakit di bagian luar tubuh ikan disebut ektoparasit, sedangkan yang menyerang bagian dalam tubuh disebut endoparasit.  Ektoparasit biasanya menyerang insang dan permukaan tubuh, sedangkan endoparasit menyerang organ-organ dalam. Serangan endoparasit dianggap lebih berbahaya dibandingkan dengan serangan ektoparasit, karena efek serangannya sulit dideteksi secara dini, sehingga pembudidaya ikan sering terlambat untuk mencegahnya. Pada gambar berikut ini adalah contoh serangan ektoparasit dan endoparasit pada ikan.

Serangan Ektoparasit (Kiri) dan Endoparasit (Kanan)
Penyakit pada ikan merupakan gangguan pada fungsi atau struktur organ atau bagian tubuh ikan. Penyakit pada ikan dapat muncul akibat adanya faktor-faktor yang tidak sesuai dengan syarat hidup ikan. Umumnya, serangan penyakit pada ikan terjadi akibat kelalaian manusia yang membiarkan kondisi yang tidak seimbang atau tidak harmonis dalam hubungan mata rantai kehidupan ikan, parasit dan lingkungan. Jika keadaan ini tidak mendapat perhatian serius maka akan mengganggu kesehatan ikan. Ikan akan mudah terserang penyakit dan mengakibatkan kematian.
Kerugian yang timbul akibat serangan suatu penyakit dapat berbentuk kematian, pertumbuhan yang lambat bahkan tidak normal, atau produksi benih yang menurun. Dengan demikian, kegagalan usaha budidaya ikan akibat penyakit tidak hanya disebabkan oleh faktor tunggal saja, tetapi merupakan hasil interaksi yang sangat kompleks antara ikan budidaya (kualitas, stadia rawan), lingkungan budidaya (intern dan ekstern) dan organisme penyebab penyakit serta kemampuan dari pelaksana atau budidayawan itu sendiri. Pada intinya, kesehatan ikan dapat menjadi terkontrol jika semua aspek lingkungan telah terkontrol pula. Pada gambar dibawah ini dapat dilihat 2 (dua) contoh penyakit patogen yang menimbulkan infeksi pada ikan.

Morfologi Ichtyophtirius multifilis (kiri) dan Ikan yang terinfeksi (kanan)

Lendir ikan yang terinfeksi (kiri) dan morfologi Trichodina sp. (kanan)
Ikan yang pernah terserang penyakit dapat pula menjadi sumber penyakit karena fungsinya menjadi agen (perantara) terhadap timbulnya penyakit baru di kemudian hari jika tidak segera ditangani atau diobati secara tuntas. Secara garis besar kondisi ikan sakit atau penyakit digolongkan menjadi 2 (dua) kelompok penyebab penyakit ikan yang harus selalu diwaspadai oleh para pembudidaya ikan dan hobiis (kolektor) ikan, yaitu kelompok penyakit patogen dan kelompok penyakit non patogen.
Kelompok penyakit patogen diartikan sebagai kelompok penyakit yang disebabkan oleh jasad hidup berupa parasit, jamur, bakteri dan virus dan biasanya menyebabkan infeksi pada ikan yang diserangnya. Sedangkan kelompok non patogen adalah kelompok penyakit yang disebabkan oleh bukan jasad hidup, antara lain disebabkan oleh perubahan lingkungan seperti kepadatan ikan terlalu tinggi, variasi lingkungan (oksigen, suhu, pH, salinitas, dsb.), biotoksin (toksin alga, toksin zooplankton, dsb.), polutan, rendahnya mutu pakan, dan lain-lain. Beberapa hal yang penting untuk diketahui dari kelompok penyakit patogen adalah :
  1. Karakteristik khusus yang terdapat pada penyakit patogen adalah kemampuan untuk menularkan penyakit (transmisi) dari satu ikan ke ikan lain secara langsung dan menimbulkan infeksi. Penularan ini dapat terjadi secara horisontal dan vertikal. Secara vertikal yaitu penyakit ditransfer oleh induk ke anakan melalui sperma atau sel telur dan secara horisontal melalui media pemeliharaan, pakan, peralatan, ataupun organisme lainnya yang ada di wadah budidaya.
  2. Penyakit patogen yang bersifat infektif di atas, dapat dilihat dari adanya gejala klinis (umum) dan gejala khas yang ditimbulkannya. Gejala klinis adalah gejala akibat gangguan patogen yang ditunjukkan oleh adanya kelainan pada tubuh (seperti luka pada kulit, sirip rontok dan adanya pendarahan) dan kelainan perilaku ikan (seperti ikan memisahkan diri dari kelompoknya, terlihat megap-megap ke permukaan air, tubuh tampak lemah dan gerakan yang lambat). Sedangkan gejala khas adalah gejala klinis yang sifatnya khas untuk suatu jenis penyakit, seperti penyakit mata menonjol yang disebabkan oleh mycobacterioph.
  3. Pada dasarnya dari berbagai sebab timbulnya infeksi pada ikan ada 2 (dua) penyebab utama, yaitu: 1) Living Agent (penyebab hidup) antara lain serangan hama, insekta atau jenis-jenis serangga tertentu, berbagai jasad renik seperti virus, bakteri, protozoa dan berbagai jenis cacing. 2) Nonliving Agent yaitu infeksi yang bukan disebabkan oleh organisme hidup (penyebab tidak hidup) seperti perubahan temperatur dan kualitas air, keracunan zat kimia akibat pencemaran, keracunan bahan pakan, dan lain-lain.
  4. Untuk kelompok patogen dari golongan parasit (organisme yang menumpang pada organisme lain) yang mempunyai sifat mengambil bahan makanan dan energi dari organisme yang ditumpanginya (inang) untuk memenuhi kebutuhan metabolismenya. Akibatnya inang akan sakit akibat pertumbuhannya terhambat oleh parasit. Berdasarkan daerah penyerangannya pada tubuh ikan, dikenal external parasites (ektoparasit) dan internal parasites (endoparasit). Ektoparasit menyerang bagian sebelah luar ikan. Walaupun kedua jenis parasit itu sama-sama merugikan, akan tetapi diduga endo-parasit lebih berbahaya dan sulit disembuhkan dibanding ekto-parasit.
  5. Organisme parasit dapat dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu patogen asli (true patogen) dan patogen potensial (opportunistic patogen). Patogen asli adalah organisme parasit yang selalu menimbulkan penyakit khas apabila ada kontak dengan ikan. Patogen potensial adalah organisme parasit yang dalam keadaan normal hidup damai dengan ikan, akan tetapi jika kondisi lingkungan menunjang akan segera menjadi patogen (penyebab suatu penyakit).
  6. Kejadian penyakit akibat parasit pada ikan terkait dengan hubungan antara organisme yang disebut simbiosis (hidup bersama), di mana dikenal 3 (tiga) bentuk simbiosis yaitu:
  • Simbiosis komensalisme, dimana kedua organisme saling diuntungkan.
  • Simbiosis mutualisme, terjadi dimana salah satu organisme diuntungkan dan organisme lain tidak dirugikan tetapi memerlukan organisme lain untuk hidup.
  • Simbiosis parasitisme, terjadi hubungan yang terjadi satu arah dimana salah satu organisme (parasit) diuntungkan tetapi organisme lain dirugikan (ikan).


Sumber:

Afriantono, E dan Evi Liviawaty. 1992. Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan. Kanisius, Yogyakarta.