Minggu, 24 Januari 2016

Geliat Lele MUTIARA di Tanah Air

Geliat Lele MUTIARA di Tanah Air

Ikan lele merupakan salah satu komoditas perikanan budidaya air tawar yang diprioritaskan pengembangan produksinya oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam rangka mendukung pencapaian peningkatan produksi perikanan budidaya. Budidaya ikan lele telah lama berkembang di Indonesia, diawali dengan menggunakan spesies ikan lele lokal. Indonesia memiliki cukup banyak spesies ikan lele. Hingga saat ini terdapat 17 spesies ikan lele lokal Indonesia yang telah diidentifikasiIkan. Diantara spesies-spesies ikan lele lokal Indonesia tersebut, Clarias batrachus merupakan spesies yang telah lama berhasil dibudidayakan, mulai teknologi pembenihan hingga pembesarannya diikuti oleh Clarias meladerma. Namun demikian, secara umum spesies-spesies ikan lele lokal tersebut memiliki laju pertumbuhan yang rendah dan tidak toleran terhadap patogen, sehingga budidayanya tidak berkembang.

Sejarah Introduksi Lele di Indonesia

Selain spesies-spesies ikan lele lokal tersebut, introduksi spesies ikan lele dari luar negeri ke Indonesia juga telah dilakukan. Introduksi tersebut diawali dengan introduksi spesies ikan lele Afrika, yakni Clarias gariepinus Burchell pada tahun 1985 dari Belanda ke Universitas Brawijaya, Malang. Pada tahun 1985 juga telah terjadi introduksi ikan lele Afrika melalui Taiwan yang dilakukan oleh PT Cipta Mina Sentosa di Jakarta, yang selanjutnya populer sebagai ikan lele Dumbo. Selanjutnya, introduksi spesies ikan lele Afrika Clarias gariepinus tersebut banyak dilakukan, baik secara langsung maupun melalui negara-negara lain. Introduksi spesies ikan lele yang lain adalah spesies ikan lele Indochina (Asia), yakni Clarias macrocephalus Gunther pada tahun 2010 dari Thailand yang dilakukan oleh PT Matahari Sakti di Mojokerto, Jawa Timur. Spesies ikan lele Clarias macrocephalus tersebut masih dalam tahap domestikasi dan riset di hatchery ikan lele PT. Matahari Sakti. Spesies ikan lele Afrika Clarias gariepinus merupakan spesies ikan lele yang sangat potensial sebagai komoditas perikanan budidaya. Hal ini dikarenakan spesies ikan lele Afrika tersebut memiliki banyak keunggulan, antara lain:

Daya adaptasinya tinggi sehingga bersifat kosmopolitan, yakni dapat hidup di daerah tropis hingga subtropis, dapat hidup di daerah dataran rendah hingga dataran tinggi, di perairan tawar hingga sedikit payau,
Dapat hidup dalam air yang kualitas dan kuantitasnya terbatas,
Dapat hidup dalam perairan yang beroksigen rendah dan memanfaatkan gas oksigen langsung dari udara,
Pemakan segala (omnivora) yang oportunis, memiliki jenis makanan yang berspektrum luas, termasuk limbah pertanian, rumah tangga dan industri makanan,
Efisiensi pemanfaatan pakannya tinggi, sehingga laju pertumbuhannya tinggi, jauh melebihi pertumbuhan spesies-spesies ikan lele lokal Asia,
Relatif tahan terhadap patogenitas,
Tahan terhadap padat penebaran yang tinggi maupun terhadap stress,
Berfekunditas tinggi sehingga mendukung dalam produksi massalnya,
Mudah memijah secara alami dan buatan,
Dapat dipijahkan sepanjang tahun,
Harganya relatif tinggi, dapat dijual dalam kondisi hidup,
Rasa dagingnya enak dan dapat diterima serta diminati oleh konsumen.
Introduksi spesies ikan lele Afrika Clarias gariepinus ke Indonesia telah banyak dilakukan. Namun sayangnya, introduksi-introduksi tersebut hampir tidak pernah tercatat dalam dokumentasi ataupun laporan-laporan ilmiah, sehingga ketidakjelasan riwayat, silsilah dan status strain-strain tersebut seringkali membuat kebingungan diantara para pelaku budidaya di lapangan. Strain-strain spesies ikan lele Afrika hasil introduksi di Indonesia tersebut selanjutnya populer dan dikenal dengan nama-nama tertentu, yakni:

Lele DUMBO: diintroduksi oleh PT Cipta Mina Sentosa di Jakarta pada tahun 1985 melalui Taiwan. Budidayanya dengan cepat segera berkembang luas, tetapi dikarenakan kurangtepatnya manajemen induk, maka mutu genetisnya telah mengalami penurunan, ditandai dengan penurunan laju pertumbuhannya serta ketidakberaturan morfologisnya (cacat). Karena mutu genetisnya telah menurun serta tidak jelasnya silsilah dan status ikan lele dumbo yang saat ini berada di masyarakat, maka budidaya strain ikan lele tersebut mulai kurang diminati.
Lele PAITON: diintroduksi melalui Thailand pada tahun 1998 oleh Charoen Pokphand Group dan ditempatkan di hatchery PT. Surya Windu Pertiwi di daerah Paiton, Probolinggo, Jawa Timur. Perkembangan budidayanya cukup pesat di daerah Jawa Timur. Pengembangan selanjutnya dilakukan oleh Model Pembenihan Ikan Lele (MPIL) yang merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Jawa Timur di Mojokerto.
Lele CP atau Lele SUPER ’99: sama dengan ikan lele paiton, diintroduksi melalui Thailand pada tahun 1998 oleh Charoen Pokphand Group dan ditempatkan di hatchery PT. Central Pangan Pertiwi di daerah Pabuaran, Subang, Jawa Barat. Pengembangan budidayanya dikerjasamakan dengan Balai Penelitian Perikanan Air Tawar (BALITKANWAR) Sukamandi. Strain ikan lele ini pernah populer di kalangan pembudidaya ikan lele di Jawa Barat. Diproduksi hingga sekitar tahun 2005, kemudian terhenti. Stok induk yang tersisa berada di salah satu pembudidaya ikan lele di daerah Karawang, Jawa Barat. Saat ini mulai digunakan untuk kegiatan produksi kembali di Pabuaran oleh PT. Central Pangan Bahari.
Lele MASAMO: diintroduksi melalui Thailand pada tahun 2010 oleh PT. Matahari Sakti ke Mojokerto, Jawa Timur. Masamo merupakan singkatan dari “Matahari Sakti Mojokerto”. Budidaya strain ikan lele ini berkembang pesat di daerah Jawa Timur serta mulai berkembang ke daerah-daerah lain, seperti Tabanan (Bali), Jawa Tengah, Yogyakarta dan daerah-daerah yang lain. Pesatnya perkembangan tersebut dikarenakan para pembudidaya mengakui keunggulan tingginya laju pertumbuhannya. Saat ini strain ikan lele MASAMO telah mencapai generasi kedua (F2).
Lele MESIR: diintroduksi dari Mesir pada tahun 2007 oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Barat. Tetapi, upaya pengembangan strain ikan lele ini masih kurang dan stok calon-calon induk yang ada kurang mendapat perhatian, sehingga selanjutnya upaya penelitian dan pengembangannya (domestikasi) dilakukan oleh Balai Penelitian Pemuliaan Ikan (BPPI) Sukamandi dan Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi. Saat ini ikan lele tersebut telah mencapai generasi kedua (F2).
Lele KENYA: diintroduksi dari Kenya pada tahun 2011 oleh BBPBAT Sukabumi melalui program pertukaran dengan ikan lele sangkuriang. Hingga saat ini strain ikan lele ini masih dalam upaya domestikasi dan upaya ke arah pemuliaan.
Lele BELANDA: diintroduksi dari Belanda pada tahun 1985 ke Malang, Jawa Timur melalui kerjasama antara Agricultural University of Wageningen dengan Universitas Brawijaya. Tetapi, setelah berakhirnya kerjasama tersebut kurang mendapat perhatian. Saat ini stok induk yang tersisa berada di Unit Pengelola Budidaya Air Tawar (UPBAT) Kepanjen, Malang, Jawa Timur yang merupakan UPT Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Timur, sebagian kecil juga ada di pembudidaya ikan lele di daerah Kediri, Jawa Timur serta di daerah Ungaran, Semarang, Jawa Tengah. Namun demikian, terdapat kemungkinan stok-stok tersebut telah tercampur dengan strain-strain ikan lele Afrika yang lain, terutama dengan ikan lele dumbo dan paiton. Selain itu, strain ikan lele Belanda juga pernah diintroduksi dari hatchery perusahaan milik Belanda di Kenya oleh BBPBAT Sukabumi pada tahun 2011. Saat ini strain ikan lele tersebut masih dalam tahap domestikasi dan upaya ke arah pemuliaan.
Lele SANGKURIANG: merupakan hasil persilangan balik (backcrossbred) antara jantan ikan lele dumbo generasi keenam (F6) dengan betina generasi kedua (F2) yang selanjutnya jantan hasil silang balik tersebut kembali disilangbalikkan dengan betina F2 sehingga dihasilkan strain ikan lele sangkuriang yang dirilis oleh BBPBAT Sukabumi pada tahun 2004 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP.26/MEN/2004. Secara umum, ikan lele sangkuriang lebih unggul daripada stok-stok ikan lele dumbo yang ada di masyarakat pembudidaya. Saat ini ikan lele sangkuriang yang disebarkan merupakan generasi keempat (F4).
Lele PHYTON: merupakan hasil persilangan (crossbred) antara betina ikan lele CPdengan jantan ikan lele dumbo yang dilakukan oleh kelompok pembudidaya ikan lele di Pandeglang, Banten di bawah koordinasi Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang.
Lele SANGKURIANG 2: merupakan benih sebar hasil persilangan antara betina ikan lele sangkuriang dengan jantan ikan lele CP yang dihasilkan oleh BBPBAT Sukabumi, telah dirilis berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 28/KEPMEN-KP/2013.
Lele MANDALIKA: merupakan benih sebar hasil persilangan antara betina ikan lele SANGKURIANG dengan jantan ikan lele masamo yang dihasilkan oleh Balai Benih Ikan (BBI) Batu Kumbung, Nusa Tenggara Barat, telah dirilis berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 42/KEPMEN-KP/2014.
Lele SUKHOI: serupa dengan ikan lele mandalika, merupakan hasil persilangan antara betina ikan lele sangkuriang dengan jantan ikan lele masamo yang dihasilkan oleh Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang.
Lele MASAMO Generasi Kedua dan Lele BURMA: merupakan hasil pemuliaan strain ikan lele masamo hasil introduksi dari Thailand (generasi pertama) melalui persilangan dengan strain-strain ikan lele yang lain.
Meskipun terdapat banyak strain ikan lele Afrika di Indonesia, para pembudidaya masih mengeluhkan bahwa strain-strain tersebut belum memenuhi harapan, karena belum ada strain yang benar-benar memiliki keunggulan performa budidaya secara menyeluruh (lengkap). Beberapa strain memiliki keunggulan performa pertumbuhan yang cepat, tetapi variasi ukurannya masih tinggi. Beberapa strain yang lain memiliki variasi ukuran yang relatif rendah, tetapi pertumbuhannya lambat dan efisiensi pakannya rendah. Belum lagi permasalahan ketahanan terhadap penyakit yang masih rendah. Oleh karena itulah, upaya pemuliaan untuk menghasilkan strain baru ikan lele Afrika yang memiliki keunggulan performa budidaya secara lengkap masih perlu dilakukan.

Kehadiran Lele MUTIARA

Untuk memperkaya jenis dan varietas Ikan Lele yang beredar di masyarakat, Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menghasilkan Ikan Lele Mutiara sebagai jenis ikan baru yang merupakan hasil kegiatan pemuliaan Ikan Lele melalui hasil kegiatan pemuliaan yang dilakukan oleh Balai Penelitian Pemuliaan Ikan Sukamandi. Diharapkan lele mutiara akan menjadi komoditas unggul baru dalam perikanan budidaya guna menunjang peningkatan produksi perikanan budidaya serta peningkatan produksi Ikan Lele nasional, pendapatan, dan kesejahteraan pembudidaya ikan. Oleh karena itu sejak tahun 2010 melalui Balai Penelitian Pemuliaan Ikan (BPPI) Sukamandi sebagai unit pelaksana teknis Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan, melakukan penelitian pemuliaan ikan lele Afrika. Upaya pemuliaan ikan lele Afrika tersebut dilakukan melalui program seleksi individu dengan target karakter utama berupa peningkatan laju pertumbuhan bobot. Upaya pemuliaan tersebut diawali pada tahun 2010 melalui koleksi, karakterisasi dan evaluasi populasi-populasi induk pembentuk, dilanjutkan dengan pembentukan populasi dasar sintetis pada tahun 2011, pembentukan populasi generasi pertama pada tahun 2012, pembentukan populasi generasi kedua pada tahun 2013 dan pembentukan populasi generasi ketiga pada tahun 2014.

Rangkaian kegiatan penelitian seleksi individu tersebut telah menghasilkan peningkatan pertumbuhan dari generasi ke generasi. Populasi generasi ketiga telah mengalami peningkatan pertumbuhan bobot secara kumulatif sebesar 50,64% dibandingkan populasi dasarnya, sehingga dinilai layak untuk dirilis (dilepas) sebagai strain baru ikan lele unggul. Populasi generasi ketiga ikan lele hasil pemuliaan BPPI Sukamandi tersebut telah dinyatakan lulus pada Penilaian Pelepasan Jenis/ Varietas tanggal 27 Oktober 2014, dengan nama ikan lele MUTIARA (“Mutu Tinggi Tiada Tara”). Hasil karakterisasi dan evaluasi performa menunjukkan bahwa ikan lele mutiara memiliki keunggulan performa budidaya yang lengkap sesuai dengan harapan para pembudidaya, antara lain:

Laju pertumbuhan tinggi: 20-70% lebih tinggi daripada benih-benih lain.
Lama pemeliharaan singkat: lama pembesaran 45-50 hari pada kolam tanah dari benih tebar berukuran 5-7 cm atau 7-9 cm.
Keseragaman ukuran relatif tinggi: tahap produksi benih diperoleh 80-90% benih siap jual dan pemanenan pertama pada tahap pembesaran tanpa sortir diperoleh ikan lele ukuran konsumsi sebanyak 70-80%.
Rasio konversi pakan (FCR = Feed Conversion Ratio) relatif rendah: 0,5-0,8 pada pendederan dan 0,6-1,0 pada pembesaran.
Daya tahan terhadap penyakit relatif tinggi: sintasan (SR = Survival Rate) 60-70% pada infeksi bakteri Aeromonas hydrophila (tanpa antibiotik).
Toleransi lingkungan relatif tinggi: suhu 15-35oC, pH 5-10, amoniak < 3 mg/l, nitrit < 0,3 mg/l, salinitas 0-10 ‰.
Toleransi terhadap stres relatif tinggi.
Produktivitas relatif tinggi: produktivitas pada tahap pembesaran 15-70% lebih tinggi daripada benih-benih strain lain.
Proporsi daging relatif tinggi.
Porsi keuntungan usaha pada tahap pembesaran 200-900% lebih tinggi daripada benih-benih strain lain.
Adapun deskripsi ikan lele mutiara dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Variabel                                 Parameter                                          Keterangan/ Nilai
Morfometrik                           Panjang kepala                                24,33-30,59 %
Lebar kepala                                      14,87-20,06 %
Jarak antarmata                                 39,03-46,33 %
Diameter mata                                   5,01-6,55 %
Panjang predorsal                             28,31-35,93 %
Panjang sirip punggung                    63,58-73,79 %
Panjang prepektoral                          5,67-21,93 %
Panjang prepelvis                             39,55-55,76 %
Panjang preanal                               48,36-58,18 %
Panjang sirip anus                           33,11-48,33 %
Tinggi badan maksimum                 11,63-17,43 %
Tinggi batang ekor                           6,19-8,70 %
Meristik                                  Jumlah jari-jari sirip punggung      59-79
Jumlah jari-jari sirip anus                 47-59
Jumlah jari-jari sirip dada                 9-11
Jumlah jari-jari sirip perut                 5-6
Jumlah jari-jari sirip ekor                  19-22
Pemeliharaan larva                          20 hari menghasilkan
                                                         benih dominan berukuran
                                                         2-3 cm dan 3-4 cm
Pendederan                                     1 bulan menghasilkan
                                                         benih dominan berukuran
                                                         5-7 cm dan 7-9 cm
   sebanyak 80-90%
Pertumbuhan                       Pembesaran                                   1,5-2 bulan tanpa sortir
   menghasilkan ikan lele
   ukuran konsumsi sekitar
   70-80%
Toleransi Lingkungan        DO                                                     > 0 mg/l
Suhu                                                 15-350C
pH                                                      5-10
Amoniak                                            < 3 mg/l
Nitrit                                                   < 0,3 mg/l
Salinitas                                            0-10‰
Kualitas Daging                   Porsi termakan (edible portion)       61,11±8,40%
Kadar protein                                    18,36%
Kadar lemak                                      1,73%
Reproduksi                           Umur awal matang gonad               5 bulan
Warna oosit intraovarian                   hijau-kekuningan (91,11%)
    dan kuningkecokelatan
   (8,89%)
Diameter Oosit intraovarian             1,31±0,08 mm
Indeks gonadosomatik jantan          0,74±0,25%
Indeks ovisomatik betina                 13,21±2,42%
Fekunditas relatif                             104.550±24 butir/kg
   bobot induk
Derajat fertilisasi                              91,89±5,89%
Derajat penetasan                           86,49±7,81%
Waktu rematurasi                             induk betina 1,5 bulan,
   jantan 3 minggu
Ketahanan Aeromonas      LD50                                                 3,89×108 CFU/mL
Hydrophila                            Mortalitas uji tantang 24 jam          13%, 60 jam: 30%
Sintasan pendederan benih             60-70%
tanpa antibiotik        
Peningkatan Genetis          Respon seleksi pertumbuhan          52,64%
(bobot) kumulatif     
Keragaman Genetis           Heterozigositas teramati                   0,50
Indeks fiksasi                                    0,42
Warna                                Normal (Abu-abu gelap)                    99,63%

Teknologi budidaya ikan lele mutiara di BPPI Sukamandi secara garis besar terdiri dari teknologi pemeliharaan induk, pemijahan (alami dan buatan), pemeliharaan larva, pendederan dan pembesaran. Teknologi pemeliharaan induk merupakan teknik penanganan induk-induk yang akan digunakan dalam proses pemijahan dan terutama berkaitan dengan proses pematangan gonad induk. Teknologi pemijahan merupakan teknik untuk memilih dan memijahkan induk-induk hingga menghasilkan larva, baik melalui proses pemijahan alami maupun buatan. Teknologi pemeliharaan larva dilakukan hingga benih berumur sekitar 16-20 hari, berukuran 1-2 cm, 2-3 cm dan 3-4 cm. Tahap pembenihan pada ikan lele Afrika disebut juga sebagai tahap pendederan pertama. Teknologi pendederan dilakukan selama 4 minggu atau 1 bulan, hingga dominan menjadi benih berukuran 5-7 cm dan 7-9 cm. Tahap pendederan pada ikan lele Afrika kadang juga disebut sebagai tahap pendederan kedua. Teknologi pembesaran merupakan teknik pemeliharaan benih hasil pendederan hingga mencapai ukuran konsumsi hingga mencapai ukuran 100-150 gram atau hingga menjadi calon induk.

Sebagai strain baru ikan lele Afrika unggul, rilis dan diseminasi ikan lele mutiara ke para pelaku usaha budidaya ikan lele di Indonesia perlu didampingi penyuluh perikanan dengan petunjuk teknis cara budidayanya. Namun demikian, teknis budidaya ikan lele mutiara secara garis besar tidak berbeda dari teknis budidaya strain-strain ikan lele Afrika yang lain. Artinya, budidaya ikan lele mutiara tidak memerlukan teknologi maupun persyaratan budidaya yang baru dan bersifat khusus (spesifik), sehingga dapat dengan mudah dilakukan menggunakan teknologi budidaya yang telah ada dan berkembang di masyarakat pembudidaya ikan lele Afrika. Oleh karena itu, petunjuk teknis budidaya ikan lele mutiara pada dasarnya hanya merupakan panduan dasar yang berisi prinsip-prinsip dasar (pokok) budidaya ikan lele mutiara hasil penelitian dan pengembangan yang dilakukan oleh BPPI Sukamandi. Oleh karena merupakan teknologi yang standar (dasar), maka sifatnya sederhana dan dapat diterapkan dengan mudah di masyarakat (aplikatif). Dalam penerapannya di masyarakat masih dapat dikembangkan lagi atau dimodifikasi sehingga dapat diperoleh hasil yang lebih baik lagi. (NDK107).


 Dirangkum dari berbagai sumber:

Prosedur Operasional Standar Budidaya Ikan Lele. 2014. Loka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budidaya Perikanan Air Tawar (LRPTBPAT). Sukamandi.

Petunjuk Teknis Budidaya Ikan Lele Mutiara Balai Penelitian Pemuliaan Ikan (BPPI) Sukamandi. 2014.


Keputusan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 77/Kepmen-KP/2015 tentang Pelepasan Ikan Lele Mutiara.

Kamis, 21 Januari 2016

“NAJAWA” Ikan Mas Merah Varietas Unggul Asal Yogyakarta

“NAJAWA” Ikan Mas Merah Varietas Unggul Asal Yogyakarta

BY NIPUTUDK DALAM KELAUTAN DAN PERIKANAN

Guna lebih memperkaya jenis dan varietas Ikan Mas yang beredar di masyarakat, telah dihasilkan Ikan Mas Merah Najawa sebagai jenis ikan baru hasil domestikasi yang dilakukan oleh Balai Pengembangan Teknologi Kelautan dan Perikanan, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam rangka menunjang peningkatan produksi perikanan budidaya serta peningkatan produksi, pendapatan, dan kesejahteraan pembudidaya ikan, pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan telah melepas Ikan Mas Merah Najawa ke masyarakat yang tertuang dalam Kepmen No. 41/Kepmen KP/2014, tanggal 22 Juli 2014.


Induk Najawa Jantan


Induk Najawa Betina

Secara taksonomi, ikan mas Najawa masuk dalam kerajaan Animalia; filum Chordata; kelas Actinopterygii; ordo Cypriniformes; famili Cyprinidae; genus Cyprinus dan spesies Cyprinus carpio L. Keunggulan yang dimiliki ikan ini adalah memiliki warna merah, mempunyai deskripsi yang baik dan lengkap yang meliputi morfologi, fisiologi, daya hasil, daya adaptasi, mutu hasil, dan sifat-sifat lain yang dianggap perlu, serta tersedia induk untuk pengembangan dan perbanyakan lebih. Dari segi ketahanan terhadap penyakit, ikan mas Najawa tahan terhadap bakteri sebesar LD50 (cfu) dan tahan Aeromonas hydrophilla sebesar 3,16 x 106. Memiliki kualitas daging (bagian edible) pada Dressing Precentage 53,72% dan ketebalan daging 32,9%. Sedangkan hasil uji proksimat Protein sebesar 17,758 ± 0,866, Lemak sebesar 0,428 ± 0,246, Abu sebesar 1,383 ± 0,119, Air sebesar 78,938 ± 0,891 dan Karbohidrat sebesar 1,493 ± 0,891.

Ikan Mas Merah Najawa merupakan ikan Mas yang dimiliki oleh Balai Pengembangan Teknologi Kelautan dan Perikanan Cangkringan Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta sejak tahun 1970 kemudian dilakukan perbanyakan dan seleksi hingga tahun 2013. Sebagai salah satu ikan varietas unggul nasional. Nama Ikan Mas Merah Najawa adalah pemberian dari  Bapak Gubernur dari kepanjangan “Mina Jogja Istimewa”. Diperkirakan, ikan jenis ini memiliki jarak kekerabatan yang jauh dengan ikan mas jenis lain. Berdasarkan karakteristik genetik dengan uji DNA, ikan mas merah ini sangat jauh kekerabatannya dengan ikan mas Rajadanu, Majalaya, Sinyonya, Wildan dan Sutisna. Jadi bisa dikatakan ikan ini masih benar-benar murni jenisnya dan berasal dari daerah Cangkringan.

Ikan Mas Merah Najawa memiliki ciri khas warna merah menyala dan bentuk tubuh bulat memanjang. Maka tak heran jika ikan mas merah dewasa bisa tumbuh seberat 4 kilogram dan panjangnya bisa mencapai 50 centimeter. Sejak 2010 hingga 2013 dilakukan domestikasi. Ikan ini diuji karakteristiknya, baik pertumbuhan, produksi dan ketahanannya terhadap penyakit. Setelah diajukan ke Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, ikan mas merah Cangkringan lolos uji pada November 2013. Hingga mendapatkan legalitas dari pemerintah sebagai ikan varietas unggul nasional. Ikan Mas Merah Najawa telah mendapatkan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor  Nomor : 41/Kepmen KP/2014, tanggal 22 Juli 2014.

Budidaya Ikan Mas Najawa dilakukan melalui 2 tahapan yaitu penggelondongan dan pembesaran. Penggelondongan merupakan tahap memelihara benih ukuran 3 – 5 cm hingga berukuran 9 – 12 cm dengan pemeliharaan selama 2 bulan. Pemanenan dilakukan setelah waktu pembesaran 3 bulan saat rata-rata bobot mencapai 300 gram. Permintaan Ikan Mas Najawa mengalami penaikan seiring dengan bertambahnya pembudidaya Ikan Mas Najawa. Ikan Mas Najawa banyak disukai masayarakat karena karena warnanya yang menarik selain itu semakin tingginya kesadaran masyarakat dalam pemenuhan gizi. Analisis usaha budidaya ikan ini pada kolam seluas 400 m2 dg padat tebar 25 ekor/m2 selama 4 bulan akan menghasilkan keuntungan sebesar Rp. 11.150.000,00.

Karakteristik Induk induk betina yakni mencapai dewasa dan matang gonad pertama kali pada umur 12 bulan, awal mencapai dewasa pada ukuran bobot 1 kg dengan awal mencapai dewasa pada ukuran panjang 37,23 ± 1,76 cm. Fekunditas telur 110.000 ± 14.525 butir untuk induk berukuran 2 kg dengan ukuran telur 1,28 ± 0,11 mm diameter telur bagian terpanjang. Sedangkan karakteristik induk jantan yakni mencapai dewasa dan matang gonad pertama kali pada umur 8 bulan, awal mencapai dewasa pada ukuran bobot 0,5 kg. Awal mencapai dewasa pada ukuran panjang 33,10 ± 1,46 cm. Saat ini tersedia induk betina sebanyak 96 ekor, calon induk betina 98 ekor, induk jantan (Sukabumi) 54 ekor dan calon induk jantan 65 ekor. Adapun Karakteristik Meristik, Karakteristik Morfometrik, ikan mas Najawa dapat dilihat pada tabel 1 dan 2 dibawah ini:

Tabel 1. Karakteristik Meristik

No                   Parameter                                                      Nilai
1                      Jumlah sungut (pasang)                            2
2                      Sirip     
                        Ø Dorsal (D)                                                  D.I.16-19
                        Ø Pectoral (P)                                               P.I.12-14
                        Ø Ventral (V)                                                 V.8-10
                        Ø Caudal (C)                                                 C.18-20
                        Ø Anal (A)                                                     A.I.5-6
3                      Panjang standar (cm)                                  32,90 ± 1,61
                        Panjang kepala (cm)                                   10,58 ± 0,80
                        Jarak mata kanan – kiri (cm)                      5,38 ± 0,51
                        Tinggi pangkal ekor (cm)                            5,60 ± 0,69
                        Panjang sirip ekor (cm)                               15,3 ± 1,15
                        Tebal badan (cm)                                         6,45 ± 0,36
                        Diameter mata (cm)                                     1,23 ± 0,05
                        Tinggi badan (cm)                                        12,10 ± 0,48
                        Jumlah linealateralis (buah)                         32-35
                        Bobot badan (gram)                                     2.317,74 ± 875,83
Tabel 2. Karakteristik Morfometrik

No       Parameter                                                      Jantan                                    Betina
1          Panjang kepala (cm)                                   10,54 ± 0,97                          13,23 ± 1,01
 2         Panjang standar (cm)                                  41,92 ± 3,63                          50,57 ± 3,32
3          Panjang total (cm)                                       45,88 ± 4,35                          55,53 ± 4,14
4          Tinggi badan (cm)                                       12,41 ± 1,14                          15,69 ± 1,49
5          Tebal badan (cm)                                        7,52 ± 0,80                            11,23 ± 2,33
6          Bobot badan (kg)                                         1,55 ± 0,56                            2,91 ± 0,50
7          Panjang kepala: panjang standar (%)          25,21                                      26,16
8          Tinggi badan: panjang standar (%)             29,66                                      31,07
9          Tebal badan: panjang standar (%)              17,98                                      22,21
10        Bobot badan: panjang standar (%)              3,60                                        5,75
(NDK107)



Sumber:

Kepmen Nomor 41/Kepmen-KP/2014 tentang Pelepasan Ikan Mas Merah Najawa

(KR Jogja dalam http://www.bibitikan.net/najawa-ikan-mas-merah-varietas-unggulan-asal-cangkringan/)

Ikan Cakalang

Ikan Cakalang

Taksonomi Ikan Cakalang
Sistematika cakalang menurut Matsumoto, Skillman dan Dizon (1985) adalah:
Filum : Vertebrata
      Subfilum : Craniata
             Superclass : Gnatnostomata
                   Series : Pisces
                         Class : Teleostomi
                               Subclass : Actinopterygii
                                      Order : Perciformes
                                            Suborder : Scombroidei
                                                  Family : Scombridae
                                                        Subfamily : Scombrinae
                                                              Tribe : Thunnini
                                                                     Genus : Katsuwonus
                                                                        Spesies : Katsuwonus pelamis



Gambar  Bentuk morfologi ikan cakalang ( Katsuwonus pelamis ).
             Matsumoto et al. (1984) mengemukakan bahwa cakalang memiliki tubuh yang padat, penampang bulat, lateral line melengkung ke bawah tepat di bawah sirip punggung kedua, sirip dada pendek dan berbentuk segitiga. Warna tubuh pada saat ikan masih hidup adalah biru baja (steel blue), tingled dengan lustrous violet di sepanjang permukaan punggung dan intensitasnya menyusut di sisi tubuh hingga ketinggian pada pangkal sirip dada. Sebagian dari badannya termasuk bagian abdomen, berwarna putih hingga kuning muda, garis-garis vetikal evanescent muda tampak di bagian sisi tubuhnya pada saat baru tertangkap. Jenis ikan cakalang secara normal adalah heteroseksual yaitu dapat dibedakan atas penentuan jenis kelamin jantan dan betina. Sesuai dengan pertumbuhan, maka Nakamura (1969) membagi cakalang ke dalam enam tingkatan ekologi, yaitu:
1.      Tingkat larva dan post larva, yaitu untuk ikan yang panjang kurang dari 15 mm
2.      Prajuvenil, yaitu ikan yang berukuran antara tingkatan post larva dengan tingkatan dimana ikan mulai diusahakan secara komersial
3.      Juvenil, yaitu ikan muda yang ada di perairan neritik dengan ukuran 15 cm
4.      Adolescent, yaitu ikan muda yang menyebar dari perairan neretik ke tengah lautan mencari makan
5.      Spawners, yaitu ikan yang sudah mencapai kedewasaan kelamin (seksual)
6.      Spent fish, yaitu ikan yang sudah pernah memijah
             Ukuran ikan cakalang diberbagai perairan dunia pada saat pertama kali memijah/ matang gonad adalah berbeda. Dalam perkembangannya, cakalang akan mencapai tingkat dewasa pada tahap ke empat. Pada tahap ini cakalang dapat mencapai panjang 39,1 cm untuk jantan dan 40,7 untuk yang betina (Waldrom, 1962). Matsumoto (1984 ) mengemukakan bahwa ikan cakalang mulai memijah ketika panjang sekitar 40 cm dan setiap kali memijah dapat menghasilkan 1.000.000 – 2.000.000 telur. Cakalang memijah sepanjang tahun di perairan ekuator atau antara musim semi sampai awal musim gugur untuk daerah subtropis. Masa pemijahan akan menjadi semakin pendek dengan semakin jauh dari ekuator. FAO (1983) mengemukakan bahwa cakalang umumnya berukuran 40-80 cm dengan ukuran maksimum 100 cm.
   Berdasarkan pengamatan Muhammad (1970) diacu dalam Amiruddin (1993) di perairan Indonesia terdapat hubungan yang nyata antara kelimpahan cakalang dengan ikan pelagis kecil serta plankton. Dengan semakin banyaknya ikan kecil dan plankton, maka cakalang akan berkumpul untuk mencari makan. Ikan cakalang mencari makan berdasarkan penglihatan dan rakus terhadap mangsanya. Cakalang sangat rakus pada pagi hari, kemudian menurun pada tengah hari dan meningkat pada waktu senja (Ayodhyoa, 1981).

  Tingkah Laku Cakalang
        Cakalang biasanya membentuk gerombolan (schooling) pada saat ikan tersebut aktif mencari makanan. Bila ikan tersebut aktif mencari makan, maka gerombolan tersebut bergerak dengan cepat sambil melocat-loncat di permukaan air (Amiruddin, 1993). Penyebaran cakalang di kawasan barat samudera Pasifik melebar dari lintang utara ke lintang selatan tetapi menyempit di kawasan timur karena terbatasnya penyebaran air hangat yang cocok untuk pemijahan oleh arus dingin yang mengalir menuju kawasan tropik di kedua belah bumi. Di Samudera Hindia, penyebaran ikan cakalang melebar menuju selatan ke arah ujung selatan benua Afrika, sekitar 36o LS. Ada tiga alasan utama yang menyebabkan beberapa jenis ikan melakukan migrasi yaitu :
1.      Mencari perairan yang kaya akan makanan
2.      Mencari tempat untuk memijah; dan
3.      Terjadinya perubahan beberapa faktor lingkungan perairan seperti suhu air,   salinitas dan arus (Nikolsky, 1963).
       Ikan cakalang bersifat epipelagis dan oseanik, peruaya jarak jauh. Cakalang sangat menyenangi daerah dimana terjadi pertemuan arus atau arus konvergensi yang banyak terjadi pada daerah yang mempunyai banyak pulau. Selain itu, cakalang juga menyenangi pertemuan antara arus panas dan arus dingin serta daerah upwelling. Penyebaran cakalang secara vertikal terdapat mulai dari permukaan sampai kedalaman 260 m pada siang hari, sedangkan pada malam hari akan menuju permukaan (migrasi diurnal). Penyebaran geografis cakalang terdapat terutama pada perairan tropis dan perairan panas di daerah lintang sedang.
       Pada umumnya Scombridae kecil, termasuk ikan cakalang tidak memiliki gelembung renang sehingga tidak bisa bergerak cepat secara vertikal dekat permukaan, akan tetapi juga membuat ikan ini membutuhkan kecepatan yang tinggi untuk mempertahankan keseimbangan hidrostatisnya. Ikan cakalang seringkali muncul di permukaan perairan bersamaan dengan madidihang ukuran kecil, tetapi mudah dibedakan dari jarak jauh karena perbedaan loncatannya. Ikan cakalang mengadakan loncatan jauh lebih horizontal sedangkan ikan madidihang meloncat lambat dan membentuk lengkungan.

   Penyebaran Ikan Cakalang
       Pola kehidupan ikan tidak bisa dipisahkan dari adanya berbagai kondisi lingkunngan. Fluktuasi keadaan linkungan mempunyai pengaruh yang besar terhadap periode migrasi musiman serta terdapatnya ikan di suatu tempat (Gunarso, 1985). Faktor oseanografi yang secara langsung mempengaruhi keberadaan ikan cakalang yaitu suhu, arus dan salinitas perairan.
        Suhu permukaan laut dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk menduga keberadaan organisme di suatu perairan, khususnya ikan. Hal ini karena sebagian besar organisme bersifat poikilotermik. Tinggi rendahnya suhu permukaan laut pada suatu perairan terutama dipengaruhi oleh radiasi. Perubahan intensitas cahaya akan mengakibatkan terjadinya perubahan suhu air laut baik horizontal, mingguan, bulanan maupun tahunan (Edmondri, 1999).
     Pengaruh suhu secara langsung terhadap kehidupan di laut adalah dalam laju fotosintesis tumbuh-tumbuhan dan proses fisiologi hewan, khususnya derajat metabolisme dan siklus reproduksi. Secara tidak langsung suhu berpengaruh terhadap daya larut oksigen yang digunakan untuk respirasi biota laut (Tenison  diacu dalam Edmondri, 1999). Pengaruh suhu terhadap tingkah laku ikan akan terlihat jelas pada waktu ikan melakukan pemijahan. Setiap ikan mempunyai kisaran suhu tertentu untuk melakukan pemijahan. Setiap ikan mempunyai kisaran suhu tertentu untuk melakukan pemijahan, bahkan mungkin dengan suatu siklus musiman yang tertentu pula (Gunarso, 1985).
      Aktifitas metabolisme serta penyebaran ikan dipengaruhi oleh suhu perairan dan ikan sangat peka terhadap perubahan suhu walaupun hanya sebesar 0,03 oC sekalipun. Suhu merupakan faktor penting untuk menentukan dan menilai suatu daerah penangkapan ikan. Berdasarkan variasi suhu, tinggi rendahnya variasi suhu merupakan faktor penting dalam penentuan migrasi suatu jenis ikan (Gunarso, 1985).
      Pada suatu daerah penangkapan ikan cakalang, suhu permukaan yang disukai oleh jenis ikan tersebut biasanya berkisar antara 16-26 oC, walaupun untuk Indonesia suhu optimum adalah 28-29 oC (Gunarso, 1985). Selanjutnya Hela and Laevastu (1981) mengatakan bahwa penyebaran ikan cakalang di suatu perairan adalah pada suhu 17-23 oC dan suhu optimum untuk penangkapan adalah 20-22 oC dengan lapisan renang antara 0-40 m. Ikan cakalang sensitif terhadap perubahan suhu, khususnya waktu makan yang terikat pada kebiasaan-kebiasaan tertentu (Tampubolon, 1990). Komarova diacu dalam Gunarso 1985 mengatakan bahwa suhu yang terlalu tinggi, tidak normal atau tidak stabil akan mengurangi kecepatan makan ikan. Ikan cakalang dapat tertangkap secara teratur di Samudera Hindia bagian timur pada suhu 27-30 oC ( Tampubolon, 1990).
             Hela and Laevastu (1981) mengatakan bahwa pengaruh suhu permukaan laut terhadap penyebaran cakalang untuk perairan tropis adalah kecil karena suhu relatif sama (konstan) sepanjang tahunnya. Walaupun demikian suhu dapat menandakan adanya current boundaries. Kemudian dijelaskan penyebaran tuna dan cakalang sering mengikuti penyebaran atau sirkulasi arus. Garis konvergensi di antara arus dingin dan arus panas merupakan daerah yang banyak makanan dan diduga daerah tersebut merupakan fishing ground yang baik untuk perikanan tuna dan cakalang.
Arus merupakan gerakan mengalir suatu massa air yang dapat disebabkan oleh tiupan angin, perbedaan dalam densitas air laut, gerakan bergelombang panjang dan arus yang disebabkan oleh pasang surut. Angin yang berhebus di perairan Indonesia terutama adalah angin musim yang dalam setahun terjadi dua kali perbalikan arah yang mantap, masing-masing disebut angin barat dan angin timur (Nontji, 1993). Penyebaran ikan cakalang sering mengikuti penyebaran atau sirkulasi arus. Daerah pertemuan antara arus panas dan arus dingin merupakan daerah yang banyak organisme dan diduga daerah tersebut merupakan fishing ground yang baik bagi perikanan cakalang (Hela and Laevastu, 1981).
Blackburn (1965) berpendapat bahwa kuat lemahnya arus menentukan arah pergerakan tuna dan cakalang. Pada kondisi arus kuat, tuna dan cakalang akan melawan arus dan pada arus lemah akan mengikuti arus. Peranan arus terhadap tingkah laku ikan menurut Hela and Laevastu (1981) adalah sebagai berikut :
1.      Arus mengangkat telur-telur ikan dan anak-anak ikan dari spawning ground ke nursery ground dan selanjutnya dari nursery ground ke feeding ground;
2.      Migrasi ikan dewasa dapat dipengaruhi oleh arus yaitu sebagai alat orientasi;
3.      Tingkah laku ikan diurnal juga dipengaruhi oleh arus, khususnya oleh arus pasang surut;
4.      Arus, khususnya pada daerah-daerah batas alih perairan berbeda mempengaruhi distribusi ikan dewasa dimana pada daerah tersebut terdapat makanan ikan; dan
5.      Arus dapat mempengaruhi aspek-aspek lingkungan dan secara tidak langsung menentukan spesies-spesies tertentu dan bahkan membatasi distribusi spesies tersebut secara geografis.
Selanjutnya Gunarso (1985) menambahkan bahwa ikan-ikan yang menginjak dewasa akan mengikuti arus balik ke masing-masing daerah pemijahan, tempat mereka akan melakukan pemijahan.
      Nontji (1993) menyatakan bahwa salinitas merupakan salah satu perameter yang berperan penting dalam sistem ekologi laut. Beberapa jenis organisme ada yang bertahan dengan perubahan nilai salinitas yang besar (euryhaline) dan ada pula organisme yang hidup pada kisaran nilai salinitas yang sempit (stenohaline).
Salinitas dapat dipergunakan untuk menentukan karakteristik oseanografi, selanjutnya dapat dipergunakan untuk memperkirakan daerah penyebaran populasi ikan cakalang di suatu perairan. Ikan cakalang hidup pada perairan dengan kadar salinitas antara 33-35 o/oo (Gunarso, 1985). Cakalang banyak ditemukan pada perairan dengan salinitas permukaan berkisar antara 32-35 o/oo  dan jarang ditemui pada perairan dengan salinitas rendah (Nursalam diacu dalam Suharto, 1992).
       Sesuai dengan posisi geografis Indonesia yang terletak di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, maka ikan cakalang di perairan Indonesia diduga berasal dari dua stok yang berbeda. Ikan cakalang yang tersebar di Kawasan Timur Indonesia (KTI) diduga sebagian besar berasal dari Samudera Pasifik, sedangkan ikan cakalang di Kawasan Barat Indonesia (KBI) berasal dari Samudera Hindia. Populasi ikan cakalang yang dijumpai di perairan KTI sebagian besar berasal dari Samudera Pasifik yang memasuki perairan tersebut dengan mengikuti arus. Namun demikian, sebagian ikan cakalang kemungkinan adalah stok lokal yaitu hasil pemijahan di perairan Indonesia.

      Penyebaran ikan cakalang di perairan Samudera Hindia meliputi daerah tropis dan subtropis. Penyebaran ikan cakalang ini terus berlangsung secara teratur di Samudera Hindia dimulai dari pantai barat Australia, sebelah selatan Kepulauan Nusa Tenggara, sebelah selatan Pulau Jawa, sebelah barat Sumatera, Laut Andaman, di luar pantai Bombay, di luar pantai Ceylon, sebelah barat Samudera Hindia, Teluk Aden, Samudera Hindia yang berbatasan dengan pantai Somalia, pantai timur dan selatan Afrika.