Senin, 30 Januari 2017

TINJAUAN TEORI PSIKOLOGI DALAM KEGIATAN PENYULUHAN PERIKANAN



TINJAUAN TEORI PSIKOLOGI DALAM KEGIATAN PENYULUHAN PERIKANAN

9 Februari 2016 09:24
JAKARTA (09/2/2016) www.pusluh.kkp.go.id


Penyuluhan menurut Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2006 didefinisikan sebagai proses pembelajaran bagi pelaku utama agar mau dan mampu menolong dan mengorganisasi dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumber daya lainnya sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan dan kesejahteraan serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian lingkungan hidup. Jika kita mencermati kalimat dalam Undang-Undang di atas,dapat kita ketahui bahwa kata kunci dari kegiatan penyuluhan adalah proses belajar. Kata “belajar” menurut teori Belajar Behavioristik adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon.
Di dalam kegiatan penyuluhan, dapat kita katakan bahwa yang dimaksud respon adalah perubahan perilaku yang diinginkan (pengetahuan, keterampilan, dan sikap) sebagai akibat dari kegiatan penyuluhan yang kita laksanakan (stimulus). Karena respon merupakan perubahan perilaku yang diinginkan maka respon ini perlu dikondisikan. Pengkondisian respon ini tentu saja didasarkan atas permasalahan yang dihadapi oleh sasaran kita, sehingga respon ini dapat dikatakan sebagai kondisi positif dari masalah yang dihadapi. Jika kita ilustrasikan dalam sebuah rencana kerja penyuluhan, maka yang dimaksud dengan respon adalah kolom tujuan dan stimulus adalah kombinasi metode dan materi penyuluhan yang akan diberikan.
Keberhasilan tercapainya sebuah respon akan sangat ditentukan oleh proses pengkondisian stimulus yang diberikan. Jika kita keliru dalam mengkondisikan stimulus maka respon yang akan dicapai juga akan keliru (tidak sesuai dengan yang ditargetkan). Oleh karena itu proses pengkondisian stimulus perlu direncanakan secara matang.
Lalu bagaimana cara mengkondisikan stimulus menurut teori psikologi ?
Perlu kita ingat kembali bahwa penyuluhan adalah sebuah proses belajar dan sangat erat dengan proses modifikasi perilaku (Behavior Modification) ataupun Behavioral Engineering. Salah satu teori yang berkaitan dengan modifikasi perilaku adalah teori Pavlovian Classical Conditioning yang diungkapkan oleh Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936) seorang ilmuwan dari Rusia yang memenangkan Nobel di bidang Physiology or Medicine di tahun 1904. Di dalam teori ini disebutkan bahwa stimulus yang dikondisikan (Conditioned Stimulus) biasanya akan bersifat netral atau tidak memiliki reaksi apapun terhadap obyek/sasaran dan agar respon yang dikondisikan (Conditioned Response) dapat dicapai, diperlukan sebuah proses pembelajaran yang akan melibatkan Unconditioned Stimulus (Rangsangan yang tidak dikondisikan) dan Unconditioned Response (respon yang tidak dikondisikan).
Kegiatan penyuluhan perikanan secara praktikal pada hakekatnya merupakan proses penyampaian pesan dari seorang penyuluh perikanan kepada pelaku utama sebagai sasaran. Pesan tersebut merupakan materi penyuluhan yang tentu saja mengharapkan reaksi berupa perubahan perilaku tertentu sebagaimana yang dikehendaki oleh penyuluh perikanan itu sendiri melalui serangkaian proses pengkondisian. Jadi sebuah materi penyuluhan perikanan haruslah disusun sedemikian rupa dengan arah yang jelas untuk memperkuat efek respon yang dikondisikan ketika materi tersebut diberikan kepada sasaran.
Stimulus yang dikondisikan dalam hal ini adalah materi penyuluhan perikanan pada awalnya adalah sesuatu yang sifatnya netral atau tidak menimbulkan reaksi apapun pada sasaran ketika stimulus itu diberikan. Agar ia memiliki makna, maka stimulus yang dikondisikan itu harus diikat dengan pengetahuan, pengalaman tertentu yang beresonansi kuat dengan emosi sasaran sehingga menjadi lebih hidup. Tanpa intervensi unsur emosi, materi penyuluhan hanyalah sebuah simbol tanpa makna. Pengalaman dan pengetahuan dari sasaranlah yang membuat materi penyuluhan ini memiliki arti dan persepsi tertentu di mata sasaran. Oleh sebab itu perlu proses pengkondisian dimana materi penyuluhan digabungkan dengan stimulus yang tidak dikondisikan (metode dan teknik penyuluhan) sehingga dapat menimbulkan respon yang tidak dikondisikan dalam hal ini adalah tahapan adopsi. Respon yang tidak dikondisikan inilah yang akan menjadi pintu gerbang tercapainya tujuan dari penyuluhan perikanan itu sendiri (respon yang dikondisikan).
Untuk lebih jelasnya mengenai konsep Pavlovian ini, dibawah ini adalah tabel hubungan antara elemen-elemen yang ada dalam teori ini dengan elemen-elemen di dalam kegiatan penyuluhan perikanan menurut pandangan penulis  :
Elemen-Elemen Pavlovian Classical Conditioning
Elemen-Elemen Kegiatan Penyuluhan Perikanan
Conditioned Stimulus (CS)– Rangsangan yang terkondisikan – Bersifat Netral artinya obyek tidak akan bereaksi apa-apa ketika stimulus ini diberikan
Materi penyuluhan
Unconditoned Stimulus (UCS) – Rangsangan yang tidak dikondisikan – Rangsangan yang memicu obyek untuk reaksi biologis tidak bisa dikendalikan oleh obyek
Metode dan Teknik Penyuluhan
Unconditioned Response (UCR) – Respon yang tidak bisa dikondisikan – Merupakan reflek dari obyek ketika ia mendapatkan rangsangan atau stimulus berupa UCS
Tahapan adopsi (Sadar, Minat, Evaluasi, Mencoba, Adopsi)
Conditioned Response (CR)- Respon yang dikondisikan atau diharapkan ketika rangsangan terkondisikan atau CS diberikan pada obyek
Tujuan kegiatan penyuluhan yang ditetapkan

Ilustrasi dalam praktek teori ini adalah sebagai berikut :

 























Tahap I. Pada saat materi tentang bahaya formalin diberikan tanpa metode dan teknik yang tepat, reaksi yang akan ditunjukan oleh sasaran adalah netral bahkan bisa bertolak belakang dengan respon yang diharapkan,
Tahap II. Ketika materi tersebut diberikan dengan memanfaatkan metode dan teknik penyuluhan yang tepat akan memberikan reaksi Unconditioned response yaitu memasuki tahapan adopsi inovasi terhadap materi bahaya formalin,
Tahap III. Setelah tahap II dilakukan secara berulang ulang, maka akan memberikan reaksi yang sesuai dengan harapan (respon yang dikondisikan) yaitu mengganti formalin dengan bahan alternatif lain yang lebih aman. Namun perlu diingat respon pada tahap III ini terjadi setelah proses pengkondisian secara berulang-ulang pada tahap II.
Kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan ini adalah untuk efektivitas pencapaian tujuan dalam pelaksanaan kegiatan penyuluhan, seorang penyuluh perikanan harus memiliki goal atau tujuan yang jelas, perencanaan yang matang dan tepat, serta dilaksanakan dengan memanfaatkan metode dan teknik penyuluhan yang tepat, yang tentu saja harus memperhatikan unsur psikologis sasaran. Sudah efektifkah kegiatan penyuluhan perikanan kita ?

Kontributor:
Arif Rahman Hakim, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Muda Pada Pusat Penyuluhan dan Pemberdayaan KP

Rabu, 18 Januari 2017

Tips Budidaya Ikan Koi



Tips Budidaya Ikan Koi

Cara Budidaya Ikan Koi
Ikan Koi termasuk ke dalam golongan ikan carp (karper). Harga Koi sangat ditentukan berdasarkan bentuk badan dan kualitas tampilan warna. Ikan koi pertama kali dikenal pada dinasti Chin tahun 265 dan 316 Masehi. Koi dengan keindahan warna dan tingkah laku seperti yang kita ketahui saat ini, mulai dikembangkan di Jepang 200 tahun yang lalu di pegunungan Niigata oleh petani Yamakoshi. Pemuliaan yang dilakukan bertahun-tahun menghasilkan garis keturunan yang menjadi standar penilaian koi. Beberapa varietas yang tersebar ke seluruh dunia digolongkan Asosiasi Koi Jepang (en Nippon Airinkai) menjadi 13 kelompok antara lain: Bekko, Utsurinomo, Asagi-Shusui, Goromo, Kawarimono, Ogon dan Hikari-moyomono. Sedangkan 5 golongan utama yaitu Kohaku, Sanke, Showa, Hirarinuji dan Kawarigoi.













Taksonomi koi adalah sebagai berikut:
Philum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Cyprinoformes
Famili : Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Spesies: Carpio
Nilai koi tergantung dari ukuran, bentuk serta keseimbangan pola dan intensitas warna kulit. Koi terbaik adalah yang memiliki intensitas, keseimbangan dan kejernihan warna terbaik. Membeli koi kecil sebaiknya dipilih yang memiliki kepala terbesar, biasanya akan tumbuh menjadi ikan dengan tubuh besar. Bentuk yang paling baik adalah seperti “torpedo”.

1. Pemilihan lokasi & konstruksi wadah
Ikan koi secara alami hidup di air deras sehingga membutuhkan air jernih dan berkadar oksigen tinggi. Pemeliharaan ikan koi yang terbaik adalah di kolam sehingga mudah mendapatkan makanan alami dan sinar matahari untuk merangsang pewarnaan tubuh. Kolam sebagian dinaungai karena sinar matahari yang terlalu banyak menyebabkan suhu air kolam meningkat dan air kolam menjadi keruh akibat blooming fitoplankton.
Koi berukuran kecil dapat ditempatkan di akuarium, walaupun ini tidak dapat menjadi habitat permanen. Bila dipelihara dalam kelompok, koi akan belajar untuk tidak mengganggu ikan yang berukuran sama, tetapi memakan ikan yang lebih kecil. Koi suka menggali dasar kolam sehingga menyebabkan akar tanaman rusak.
2. Teknik Budidaya

2.1 Kualitas Air
Air merupakan media hidup dan mempengaruhi kualitas tampilan ikan koi sehingga perlu mendapat perhatian. Kualitas air untuk mendukung perkembangan koi secara optimum adalah sebagai berikut:
v suhu air berkisar 24-26oC,v pH 7,2-7,4 (agak basa), v oksigen minimal 3-5 ppm, v CO2 max 10 ppm, v nitrit max 0,2. Air yang digunakan harus terdeklorinisasi atau sudah disaring dan diendapkan 24 jam. Air yang digunakan untuk pemijahan dan penetasan telur sebaiknya memiliki kandungan oksigen dan suhu yang stabil. Untuk menjamin tersedianya oksigen dapat digunakan aerator, sedangkan suhu pada bak pemijahan diusahakan sama dengan suhu air kolam dengan tingkat perbedaan (fluktuasi) kurang dari 5oC.
2.2. Pakan 
Koi adalah bottom feeder (pemakan di dasar) dan omnivora (pemakan segala). Meski demikian ia biasa makan apa saja yang bisa dimakan, seperti pucuk daun, atau berburu cacing di dasar sungai. Maka inilah guna dari sungut yang ada pada mulut ikan. Pakan buatan untuk pembesaran koi dapat diberikan dalam bentuk butiran (pellet). Sumber protein utama adalah formulasi kombinasi antara bahan nabati (misalnya tepung kedelai, tepung jagung, tepung gandum, tepung daun, dll) dan bahan hewani (seperti; tepung ikan, tepung kepala udang, tepung cumi,kekerangan dll) serta multivitamin dan mineral seperti Ca, Mg, Zn, Fe, Co sebagai pelengkap pakan.
Kualitas pakan sangat menentukan tampilan warna sebagai daya tarik ikan koi sendiri, sehingga banyak upaya telah dilakukan dengan menggunakan bahan pakan yang mengandung zat pigmen seperti karotin (warna jingga), rutin (kuning) dan astasantin (merah). Zat-zat tersebut terkandung pada tubuh hewan dan tumbuhan tertentu seperti wortel mengandung zat karotin; sedangkan ganggang, chlorella, kubis, cabai hijau mengandung rutin; spirulina, kepiting, udang mengandung astasantin. Para pembudidaya saat ini tidak perlu lagi menyiapkan pakan sendiri karena sudah tersedia di pasaran pakan koi yang sudah di formulasi sesuai dengan kebutuhan nutrisi dan zat untuk pembentukan warna ikan koi.
Pakan alami atau pakan
hidup misalnya cacing darah, cacing tanah, daphnia, cacing tubifex cocok diberikan pada benih koi (hingga bobot 50 g/ekor) karena lebih mudah dicerna oleh benih sesuai dengan kondisi sistem pencernaan, selain itu koi juga dapat memakan phitoplankton dalam kolam.
Jumlah pakan diberikan berdasarkan jumlah ikan (bobot biomassa) dalam kolam dengan kisaran kebutuhan 3-5 % per-hari, dengan frekuensi pemberian 2-3 kali per-hari hal ini juga disesuaikan dengan kondisi ikan dan media air pemeliharaannya.
Menurut pengalaman dan penelitian bertahun – tahun, ditemukanlan bahan – bahan aktif yang dapat ditambahkan untuk membuat warna koi lebih cemerlang. Koi yang dipelihara di kolam Lumpur ternyata memiliki kualitas warna yang lebih cemerlang dibandingkan dengan yang dipelihara di kolam tembok. Ternyata ikan loi tersebut banyak menyantap ganggang yang memang  tumbuh di Lumpur. Ganggang yang dimakan koi mengandung banyak zat karoten. Maka kalau anda ingin menambah warna ikan lebih cemerlang beri makan “krill”, paprika, dan daun marigold, semuanya dapat anda campurkan dalam makanannya. Banyak makanan sumber karoten ini sudah dalam bentuk extract sehingga mudah dicampurkan dengan pellet atau roti.

2.3. Pembenihan

 Kolam pemijahan tidak mungkin menjadi satu dengan kolam taman. Kolam pemijahan harus mempunyai pintu pemasukan dan pintu pengeluaran air tersendiri.Selain itu, seluruh kolam harus diplester dan bisa dikeringkan dengan sempurna.
Luas kolam pemijahan bervariasi. Untuk kolam sempit dapat menggunakan kolam seluas 3-6 m2 dengan kedalaman 0,5 m. Lokasi kolam cukup mendapatkan sinar matahari, tidak terlalu ribut, terlindung dari jangkauan anak-anak dan binatang peliharaan lain.
Jika mungkin, sediakan juga kolam penetasan telur dan perawatan benih. Kolam penetasan, bentuknya bisa persegi panjang atau bulat. Kalau kolam bulat, diameternya antara 1,5-2 m.
Satu kolam lagi jika ada, yaitu kolam untuk menumbuhkan pakan alami yang dipakai untuk lmensuplai pakan benih jika kuning telurnya telah habis. Kedalaman kolam sekitar 30 cm. Luas kolam antara 6-10 m2, cukup memadai.
Bagi yang memiliki uang cukup, dinding kolam bisa dilapis vinil yaitu bahan yang biasa untuk membuat bak fiberglass. Dengan lapisan vinil, kolam-kolam tersebut lebih terjamin kebersihannya dan efek dari semen bisa dihilangkan.
Induk yang baik adalah yang memiliki pola warna bervariasi yang cerah simetris dengan bentuk tubuh seperti terpedo dengan berat badan minimal 1 kg. Kebanyakan pembudidaya memilih untuk membeli koi berkualitas baik untuk calon induk dengan ukuran 5-8 cm yang harganya murah untuk dibesarkan menjadi induk.
Secara alami, carp memijah pada musim semi dan menjadi matang gonad dengan menaikkan suhu air. Induk jantan dan betina ditempatkan dalam wadah terpisah (untuk menghindari bertelur yang tidak diinginkan) dan tidak diberi pakan selama beberapa hari. Koi dapat memijah secara alami dan buatan yaitu dengan rangsangan hormon yang disuntikkan pada tubuh induk betina untuk mempercepat proses pembuahan. Penyuntikan Pituitary Gland (PG, nama dagang ovaprim) dengan dosis 0,2 mg/kg bobot ikan untuk satu kali penyuntikan. Ovulasi akan terjadi 10 jam setelah penyuntikan. Sistem pemijahan tanpa pengurutan/stripping ini disebut pemijahan semi alami yang lebih aman karena tanpa melukai ikan. Bila ikan sulit melakukan pemijahan alami sehingga perlu bantuan proses pembuahan buatan, maka dilakukan pengurutan telur dan sperma (stripping) yang merupakan pilihan terakhir. Induk betina dalam sekali pemijahan dapat menghasilkan 75.000 telur/kg berat badan. Perbandingan jumlah induk dalam proses pemijahan adalah 2 betina dan 1 jantan. Biasanya telur yang dikelurkan oleh induk betina menempel pada substrat (injuk) yang segera dibuahi oleh sperma jantan. Setelah telur dibuahi sebaiknya dipisahkan dari induk, dengan memindahkan induk dari wadah pemijahan atau sebaliknya telur yang diangkat dan dipindahkan kedalam wadah penetasan.
2.4. Pendederan
Telur yang sudah dibuahi akan menetas setelah 24-48 jam tergantung suhu. Selama penetasan, kepadatan telur adalah 1 kg per 5 liter air. Larva yang baru menetas belum memerlukan pakan selama 3-4 hari, karena masih mempunyai kantong kuning telur.
Menjelang kuning telur habis, perlu diberikan pakan alami berupa naupli artemia atau pakan alami lainnya yang seukuran. Kemudian secara bertahap dapat diberikan pakan buatan berupa butiran kering(pellet). Dalam 5 hari sesudahnya 1 juta larva memerlukan 7 kg artemia, atau sekitar 0,5-2 kg per hari. Pada tahap ini larva ditebar pada kepadatan 20-40 larva/liter. Untuk menghasilkan 1 juta fingerling memerlukan sekitar 25kg telur artemia. Sintasan selama 9 hari adalah 50-80%. Ikan yang seberat 10 mg dapat dijual seharga US$ 0,25 atau sekitar Rp. 2.500,-.
Larva yang berbobot 0,25 g diberikan pakan buatan (butiran) kering dan dapat didederkan ke kolam hingga ukuran fingerling (2 gram). Pendederan terbagi atas 2 tahap yaitu pendederan I selama 2 bulan pemeliharaan hingga larva mencapai ukuran fingerling (2-3 cm). Pendederan II dilakukan dalam kolam yang diolah untuk menumbuhkan pakan alami dan dilakukan seleksi dan penjarangan (mengurangi kepadatan). Penjarangan bertujuan untuk memberi ruang gerak yang cukup bagi ikan koi. Seleksi bertujuan untuk mendapatkan ikan Koi berkualitas baik.
Waktu yang diperlukan dari telur hingga mencapai ukuran fingerling (2 gram) adalah 6-8 minggu dengan nilai sintasan (SR) 55%. Sedangkan untuk mencapai ukuran 5-8 cm diperlukan waktu 4 bulan. Kualitas ikan koi (pola dan warna) bergantung dari tetuanya. Dari hasil seleksi ukuran fingerling, yang afkir mencapai 25-50%. Dari 1 juta telur dapat dihasilkan 225.000-338.000 ekor fingerling berkualitas baik (22–33 %).

2.5. Pewarnaan
Kualitas koi ditentukan oleh pola warna, kesesuaian jenis koi dan kejelasan warna. Pola warna yang simetris dengan batasan jelas antar warna menunjukkan kualitas yang baik.
Genotip menentukan jumlah dan jenis sel pigmen serta kromatofora. Kromatofora menghasilkan warna juga dipengaruhi otak ikan. Ikan pada wadah gelap cenderung berwarna gelap, begitu pula sebaliknya. Warna dapat berubah bila ikan mengalami tekanan (stres). Biasanya ikan yang tumbuh lambat mempunyai warna yang lebih baik daripada ikan yang tumbuh cepat karena pigmen bisa diubah dan digunakan untuk pertumbuhan tubuh. Seumur hidupnya, ikan koi dapat menyimpan dan menggunakan pigmen. Koi muda yang berwarna pucat apabila diberikan pakan berpigmen selama 6 minggu sebelum dipasarkan akan berwarna menarik. Intensitas warna tergantung dari jumlah pigmen dalam kromatofora. Pigmen dapat muncul dengan adanya karotenoid dalam pakan.
2.6. Pra Panen
Koi tumbuh sekitar 2 cm per bulan dan pada usia 60 tahun dapat mencapai panjang hingga 1 m. Bila ikan Koi telah mencapai ukuran pasar yaitu 20 cm dapat dipanen dan dilakukan seleksi akhir, dengan memisah-misahkan jenis, ukuran dan pola warna tubuhnya. Dari hasil seleksi ini, Koi yang terpilih dibesarkan di dalam bak atau kolam semen sambil menunggu harga pasar yang baik.



Dalam penampungan akhir ini, ikan dapat diperbaiki bentuknya, jika terlalu gemuk dibuat langsing atau yang terlalu kurus dibuat lebih gemuk. Pemeliharaan berikutnya diusahakan tidak terlalu padat, akan lebih baik jika dalam bak dilengkapi aerator sehingga kesegaran air terjamin dan dengan pemberian pakan yang baik dapat meningkatkan kualitas warna tubuh ikan Koi.