Kamis, 08 Desember 2016

THINK GLOBALLY, ACT LOCALLY DALAM PENYULUHAN KELAUTAN DAN PERIKANAN



THINK GLOBALLY, ACT LOCALLY DALAM PENYULUHAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
17 Februari 2016 12:02


LANGKAT (17/2/2016) www.pusluh.kkp.go.id
Tidak bisa dipungkiri saat ini kita berada di era globalisasi. Era dimana tidak ada lagi batas antara ruang dan waktu. Globalisasi tidak hanya terjadi di negara kita saja tetapi di semua belahan dunia. Proses globalisasi tentu membawa dampak positif dan negatif yang berujung pada perilaku masyarakat sehingga kita harus cerdas memilih dampak yang ditimbulkan agar terhindar dari perilaku buruk. Perubahan perilaku masyarakat terbesar terjadi pada nilai-nilai dan gaya hidup. Saat ini telah terjadi pergeseran nilai-nilai kehidupan yang telah diwariskan oleh leluhur kita terdahulu. Rasa kekeluargaan dan gotong-royong akhir-akhir ini mulai memudar. Masyarakat cenderung hidup individualistis (siapa lu siapa gue) khususnya di kota-kota besar.
Globalisasi pada sektor perikanan menuntut pelaku usaha perikanan harus cepat menangkap semua informasi terkini yang bersifat positif. Informasi tersebut bisa dalam bentuk informasi harga ikan, pakan, cara budidaya ikan yang baik (CBIB), cara pembenihan ikan yang baik (CPIB), ISO, HACCP (Hazard Analysis And Critical Control Points) dalam manajemen mutu produk perikanan, Sustainable Development Goals (SDGs) dalam upaya pelestarian dan pemanfaatan samudera, laut dan kelautan untuk pembangunan berkelanjutan dan lain-lain.
Globalisasi menuntut setiap negara memiliki sumber daya manusia yang berkualitas sehingga menghasilkan produktivitas tinggi dan inovasi agar produk yang dihasilkan dapat bersaing dengan negara lain. Globalisasi tidak hanya merubah perilaku masyarakat tetapi juga membawa dampak luas pada berbagai bidang. Pada bidang ekonomi, perikanan Indonesia harus dapat bersaing dengan produk-produk perikanan dari negara lain. Pada bidang sosial, masyarakat perikanan Indonesia juga harus dapat bersosialisasi dengan masyarakat global. Pada bidang lingkungan usaha perikanan harus menjaga keberlanjutan sumber daya alam serta sumberdaya perikanan kelautan beserta dengan ekosistemnnya. Pada bidang teknologi, usaha perikanan Indonesia harus berdasarkan kode etik perikanan yang bertanggung jawab. Pada bidang hukum dan kelembagaan, produk perikanan Indonesia harus tunduk pada aturan – aturan internasional tentang bagaimana mengelola sumber daya supaya lestari, kalau tidak mau di tuduh melakukan IUU (Ilegal unregulated, and Unreported) fishing, termasuk di dalamnya pencurian ikan dan tangkapan yang tidak di laporkan. Hal ini seiring dengan telah diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asia (MEA) pada tahun 2016 ini.
Pemberlakuan pasar bebas ini menyiratkan pentingnya memiliki sumber daya manusia yang memiliki nilai saing tinggi. Ada sebuah ungkapan yang muncul di tengah arus globalisasi yaitu Think globally and act locally. Ungkapan sederhana namun kaya makna. Jika dikaitkan dengan globalisasi, ungkapan ini memiliki pengertian orang yang berpikir global namun dapat melakukannya dalam kegiatan-kegiatan sederhana dengan tidak melupakan budaya atau nilai-nilai asli.  Pelopor ungkapan ini sering dikaitkan dengan seorang perencana kota Skotlandia yang juga seorang aktivis sosial yaitu Patrick Geddes yang lebih menggunakan ungkapan itu dalam bidang lingkungan. Ungkapan ini cocok diterapkan dalam penyuluhan perikanan khususnya dalam menghadapi era global dimana kita sudah mulai meninggalkan nilai-nilai asli (positif) yang diwariskan pendahulu kita.
Masyarakat perikanan harus berpikir jauh ke depan untuk jadi pemenang di era global. Pelaku usaha dan pelaku utama perikanan tentu tidak ingin hanya menjadi penonton di negeri kita dengan sumber daya alam melimpah. Salah satu penerapan dari pemikiran tersebut adalah memiliki kecerdasan intelektual yang baik. Hal itu dapat kita peroleh dengan terus belajar dan up-grade pengetahuan tanpa mengenal usia. Mempelajari hal-hal baru seperti menguasai bahasa asing. Tak dapat dipungkiri bila penguasaan bahasa asing terutama bahasa inggris sebagai bahasa internasional merupakan salah satu keharusan mengingat di era global seperti sekarang kita akan berkomunikasi dengan banyak orang dari penjuru dunia yang menjadikan bahasa inggris sebagai alat komunikasi. Menguasai teknologi informasi juga salah satu aplikasi yang mesti kita terapkan. Alasannya, saat ini kita sudah memakai peralatan kerja atau peralatan lainnya yang telah memakai tenaga mesin atau sistem komputerisasi dan bersifat dinamis.
Disamping itu, rasa nasionalisme menjadi begitu penting di era global karena banyaknya budaya luar termasuk produk yang masuk sehingga kita tetap harus mengenal dan mencintai budaya dan produk buatan negeri sendiri. Sementara saat ini banyak masyarakat yang menerima begitu saja budaya luar tanpa menilai baik-buruknya. Sejalan dengan era globalisasi yang terus bergulir, aturan/norma/ kebudayaan yang baik harus tetap kita jaga dan pelihara supaya tidak terpengaruhi oleh dampak negatif arus globalisasi. Aturan-aturan sosial di masyarakat perikanan yang harus tetap kita jaga seperti larangan bagi nelayan untuk pergi melaut yaitu pada hari Jum’at dengan tujuan selain mengkhusukan waktu beribadah dan istirahat sekaligus juga untuk menjaga kondisi ekosistem perairan supaya tidak terkuras habis setiap  hari. Kebudayaan sasi di Maluku, awig-awig di Lombok Barat, panglima laut di Aceh dan berbagai kebudayaan dalam menjaga kelestarian sumberdaya perikanan di daerah lainnya. Beberapa aturan/norma/ kebudayaan di atas sudah mulai terkikis oleh waktu. Pelaku utama/ pelaku usaha perikanan tidak lagi mengindahkan aturan/norma/ kebudayaan yang telah diwariskan oleh para leluhur terdahulu karena terpengaruh oleh globalisasi. Penerapan lainnya yang tidak kalah penting adalah tidak meninggalkan ajaran agama karena ajaran agama akan menuntun kita untuk berbuat baik dan benar. Jika kita mampu menerapkan itu semua, mewujudkan pelaku utama/ pelaku usaha perikanan yang siap menghadapi era global semakin mudah.
Beberapa tindakan think globally and act locally dalam penyuluhan perikanan adalah :
§ Terus belajar dalam rangka meningkatkan kapasitas sumber daya manusia pelaku utama/ pelaku usaha perikanan yang memiliki nilai saing tinggi
§ Terus berkarya dan berinovasi dalam menumbuh kembangkan usaha perikanan dalam negeri dengan mengadopsi perkembangan global tanpa meninggalkan khasana lokal
§ Terus mempelajari hal-hal baru seperti menguasai bahasa asing dan teknologi informasi
§ Tetap mengenal dan mencintai aturan/norma/ kebudayaan yang baik negeri sendiri dalam menjaga kelestarian sumberdaya perikanan seperti sasi di Maluku, awig-awig di Lombok Barat, panglima laut di Aceh
§ Melakukan tindakan nyata yang sederhana seperti menanam mangrove di kawasan abrasi, erosi dan kawasan yang sudah mengalami alih fungsi lahan, tidak membuang sampah ke perairan dan tindakan-tindakan positif lainnya untuk menekan pemanasan global (global warming).
§ Terlibat langsung dalam sosialisasi stop penebangan hutan di kawasan pesisir, cara budidaya ikan yang baik, usaha penangkapan ikan yang bertanggung jawab/lestari dan cara pengolahan mutu hasil perikanan yang standar nasional/internasional.  
Aksi  think globally and act locally dalam penyuluhan perikanan di atas akan memberikan dampak positif bagi pengurangan kemiskinan, pelestarian dan pemanfaatan sumber daya perikanan kelautan untuk pembangunan berkelanjutan seperti yang tertuang dalam SDGs.

Kontributor :
Markus Sembiring,S.Pi.,M.I.L
Penyuluh Perikanan Muda
Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Langkat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar