Rabu, 15 Februari 2017

PENDEKATAN KEAGAMAAN DALAM PENYULUHAN PERIKANAN

PENDEKATAN KEAGAMAAN DALAM PENYULUHAN PERIKANAN


LANGKAT (7/2/2016) www.pusluh.kkp.go.id
Sebelum kita membahas pendekatan keagamaan dan penyuluhan perikanan, penting kiranya terlebih dahulu kita memahami pebedaan antara metode dan pendekatan. Metode dalam penyuluhan perikanan adalah cara-cara yang digunakan oleh penyuluh perikanan kepada sasarannya dalam menyampaikan materi penyuluhan melalui sebuah media komunikasi agar proses komunikasi berjalan efektif, sedangkan pengertian pendekatan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dalam http://kbbi.web.id adalah proses, cara, perbuatan mendekati (hendak berdamai, bersahabat, dan sebagainya). Dengan kata lain pendekatan adalah proses, cara dan perbuatan yang sederhana namun berkesinambungan dalam mewadahi, menginsipirasi, menguatkan serta melatari metode penyuluhan dengan cakupan tertentu. Ada macam – macam pendekatan yang umum kita dengar seperti antara lain pendekatan individu, pendekatan kelompok sasaran/binaan, pendekatan induktif, pendekatan proses, pendekatan konsep dan pendekatan sains/teknologi. Pendekatan keagamaan dalam hal ini adalah proses, cara dan perbuatan yang sederhana namun berkesinambungan dalam mewadahi, menginsipirasi, menguatkan pelaku usaha dan pelaku utama perikanan yang mencakup kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.
Secara umum, agama selalu mengajak semua orang untuk berbuat baik sesuai  keyakinan yang dianut dan tindakan-tindakan yang diwujudkan dalam menginterpretasi serta memberi tanggapan terhadap apa yang dirasakan/diyakini. Bagi para penganutnya, agama berisikan ajaran-ajaran mengenai kebenaran, eksistensi manusia, petunjuk-petunjuk untuk hidup selamat di dunia dan di akhirat. Karena itu, agama dapat menjadi bagian dan inti dari sistem-sistem nilai yang ada dalam kebudayaan dari masyarakat yang bersangkutan serta pendorong/pengontrol tindakan-tindakan untuk tetap berjalan sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan dan ajaran-ajaran agama. Hal tersebutlah yang mendasari mengapa pendekatan keagamaan sangat penting dirangkaikan selain sains teknis perikanan dalam penyuluhan perikanan.
Kegiatan penyuluhan perikanan dengan berbagai metode dan teknik pengembangannya merupakan sarana dalam mengajak masyarakat agar dapat mengelola suberdaya perikanan dan lingkungannya sehingga memberikan hasil yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Melalui pendekatan keagamaan, seorang penyuluh perikanan diharapakan dapat menjadikan kegiatan penyuluhan sebagai kegiatan integral dari kehidupannya secara utuh yang dapat menentukan arah kehidupan masa depan dan nasibnya dalam rangka menunaikan tugasnya sebagai mahluk Tuhan di muka bumi. Oleh karena penyuluhan perikanan harus dapat menyampaikan aturan permainan yang harus dipatuhi seseorang sesuai dengan agama yang diyakininya misalnya tidak boleh merusak sumberdaya perikanan, tidak boleh menyesatkan, tidak boleh memutarbalikkan ke benaran dan juga tidak mengelabui masyarakat. Keterbukaan, kejujuran dan rasa tanggung jawab harus dimiliki oleh penyuluh perikanan yang senantiasa mendampingi masyarakat perikanan (pelaku utama/pelaku usaha) dalam menjalankan usahanya. Pendekatan keagamaan bisa dilakukan dengan mengutip/menyampaikan beberapa ayat pada Kitab Suci yang berisikan kebaikan, bagimana harusnya pelaku usaha/pelaku utama perikanan menjaga sumberdaya perikanan dan ekosistemnya supaya letari serta berkelanjutan (disesuaikan dengan kominitas masyarakat/agamanya dan penyuluh yang melakukan pendekatan keagamaan harus beragama yang sama dengan yang disuluh).
Penyuluh perikanan sebagai suatu profesi merupakan amanah yang harus dipelihara dengan sebaik-baiknya. Amanah tersebut tidak boleh disalahgunakan, misalnya untuk memperkaya diri sendiri atau menguntungkan golongannya saja dan menelantarkan kepentingan umum, sehingga amanah harus terus mengarahkan penggunaan profesi. Profesi penyuluh perikanan mengandung pertanggungjawaban secara moril terhadap tugas-tugasnya atara lain peningkatan kemampuan pelaku usaha dan pelaku utama perikanan  dalam mengelola sumberdaya secara amanah. Kesadaran akan tanggung jawab sangat menentukan penyelenggaraan penyuluhan perikanan yang berkualitas tinggi. Dimana tanggung jawab tersebut bukan hanya terhadap insitusi atau kelembagaan yang bersangkutan tetapi juga di hadapan Tuhan. Kesadaran akan tanggung jawab yang kuat memiliki kendali diri yang juga kuat.
Kegiatan penyuluhan perikanan juga berprinsip persamaan diatara manusia yang melampaui batas-batas etnis, rasial, agama, latar belakang sosial, keturunan dan sebagainya. Masalahnya setiap orang dari latar belakang manapun ia berasal jika dipukul pasti merasakan sakit, oleh karena itu penyuluhan perikanan harus menghindari gaya konfrontatif yang penuh dengan konflik, melainkan pengembangan saling pengertian dan membangun kerjasama keduaniaan seoptimal mungkin dalam menunaikan tugas-tugas penyuluhan sebagai manusia di muka bumi.
Catatan  :     
                 Pendekatan keagamaan dalam tulisan ini hendaknya disesuaikan dengan kominitas masyarakat (agamanya) serta penyuluh yang melakukan pendekatan keagamaan harus beragama yang sama dengan yang disuluh.

Kontributor :
Markus Sembiring,S.Pi.,M.I.L
Penyuluh Perikanan Muda

Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Langkat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar