Kamis, 23 Agustus 2018

Cara Pembenihan dan Teknik Pemijahan Ikan Nila

Cara Pembenihan dan Teknik Pemijahan Ikan Nila
Diterbitkan June 27, 2016 dalam kategori Budidaya Perikanan oleh azzamy
Pembenihan dan Pemijahan IKAN NILA

Benih ikan nila merah

Budidaya Perikanan – Ikan nila adalah jenis ikan konsumsi yang banyak dibudidayakan diperairan air tawar di Indonesia. Ikan nila sangat populer di masyarakat karena rasa dagingnya yang gurih dan lezat. Selain itu ikan nila terkenal sangat produktif. Dibandingkan dengan jenis ikan air tawar lainnya, ikan nila adalah yang paling produktif. Ikan ini juga banyak dibudidayakan diberbagai negara di dunia. Ikan yang konon berasal dari afrika ini sangat mudah dibiakkan. Karena mudahnya dipelihara dan dikembangbiakkan, ikan nila menjadi sangat populer di Indonesia. Meskipun harga jual ikan nila tidak terlalu tinggi, tetapi budidaya ikan jenis ini bisa menjadi peluang bisnis yang menguntungkan. Bukan hanya usaha pembesaran, pembenihan nila juga memiliki prospek yang cerah mengingat ikan nila sangat populer dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat.
Usaha pembenihan ikan nila bisa menjadi pilihan sebagai bisnis sampingan atau bisnis utama. Ikan nila tergolong sangat produktif karena frekuensi pemijahan ikan ini cukup sering, meskipun sekali memijah jumlah telur yang dihasilkannya sedikit. Sekali memijah satu ekor ikan nila betina dapat mengeluarkan telur sebanyak 300 – 100 butir, tergantung pada ukuran tubuhnya. Ikan nila bisa dikawinkan setiap bulan sampai masa produktifnya habis. Bahkan ikan nila mudah sekali memijah secara liar dikolam peliharaan. Namun pemijahan secara alami sangat sulit dalam pengelolaannya. Sehingga untuk melakukan usaha pembenihan nila diperlukan cara dan pengelolaan khusus agar usaha pembenihan nila bisa menghasilkan keuntungan.
Berikut ini persiapan dan langkah-langkah untuk memulai bisnis pembenihan ikan nila :
1. Persiapan Tempat Pembenihan Ikan Nila

Larva ikan nila
Untuk memulai usaha pembenihan ikan nila, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mempersiapkan tempat pembenihan.  Tempat pembenihan atau kolam bibit ikan nila tersebut berupa kolam yang nantinya akan digunakan ikan nila untuk berkembangbiak. Untuk pembenihan diperlukan 4 type kolam, masing-masing type kolam memiliki fungsi yang berbeda sesuai dengan fase pertumbuhan ikan. Kolam pembenihan ikan nila dibuat sebaik mungkin agar usaha pembenihan berlangsung dengan baik.
Berikut ini keempat type kolam pembenihan ikan nila tersebut ;
a). Kolam indukan
Kolam indukan adalah kolam yang berfungsi untuk memelihara indukan ikan nila. Indukan terdiri dari ikan nila jantan dan betina. Ukuran kolam untuk indukan disesuaikan dengan kebutuhan dan ketersediaan lahan. Kolam indukan tidak harus berukuran besar tetapai harus memiliki kedalaman yang cukup untuk ikan dewasa. Kedalaman kolam indukan antara 1 – 1,4 meter. Indukan jantan dan betina harus ditempatkan pada kolam yang berbeda, sehingga diperlukan 2 buah kolam indukan.
b). Kolam pemijahan
Kolam pemijahan adalah kolam yang digunakan untuk mengawinkan indukan. Ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan. Kolam pemijahan sebaiknya berlantai tanah dan pada dasar kolam dibuat kemalir atau kubangan-kubangan. Untuk kolam pemijahan hanya diperlukan 1 buah kolam saja.
c). Kolam pemeliharaan larva
Kolam pemeliharaan larva adalah kolam yang digunakan untuk memelihara larva-larva ikan nila yang sudah menetas. Kolam yang digunakan bisa berupa bak, drum, bak semen, kolam tanah atau jaring halus (hapa). Hapa adalah jaring khusus berukuran kecil untuk memelihara larva ikan, bentuk hapa mirip dengan kelambu. Hapa diletakkan mengapung diatas kolam.

d). Kolam benih
Kolam benih adalah kolam yang digunakan sebagai tempat pendederan benih ikan nila atau kolam tempatmembesarkan benih. Ukuran kolam benih juga dibuat sesuai dengan kebutuhan, tergantung banyaknya benih yang diproduksi. Benih ikan ditempatkan pada kolam pembesaran sampai benih ikan siap untuk dibesarkan dikolam pembesaran atau kolam budidaya. Biasanya benih ikan siap dibesarkan ketika panjang tubuhnya berukuran 10 – 12 cm.
2. Pemilihan Indukan Ikan Nila

Perbedaan bentuk fisik indukan jantan dan betina
Langkah kedua dalam usaha pembenihan ikan nila adalah memilih indukan jantan dan indukan betina yang akan dikawinkan. Jika kolam pembenihan sudah disiapkan, selanjutnya adalah memilih indukan. Untuk menghasilkan bibit ikan nila yang berkualitas, sebaiknya calon indukan menggunakan galur murni yang secara genetis memiliki sifat-sifat unggul. Calon indukan unggul bisa diperoleh di balai perikanan setempat atau menghubungi BBPBAT (Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar) setempat.
Ciri-ciri calon indukan ikan nila yang berkualitas baik adalah sebagai berikut ;
a). Calon indukan jantan dan betina adalah galur murni yang berasal dari keturunan yang berbeda.
b). Calon indukan memiliki bentuk tubuh yang normal, tidak cacat dan kondisi fisiknya sehat.
c). Calon indukan memiliki sisik-sisik yang besar dengan susunan sisik yang rapi.
d). Calon indukan memiliki ukuran pada bagian kepala yang relatif kecil dibandingkan tubuhnya.
e). Calon indukan memiliki warna yang mengkilap dan tubuhnya tebal.
f). Calon indukan terlihat sangat aktif, gerakannya lincah dan sangat responsif terhadap pemberian pakan.
Indukan ikan nila bisa berproduksi hingga usianya 2 – 3 tahun. Namun untuk pembenihan sebaiknya menggunakan indukan yang berusia maksimal 2 tahun. Indukan yang berusia lebih dari 2 tahun akan menghasilkan benih yang kurang baik, jumlah telurnya juga semakin sedikit. Indukan ikan nila bisa dipijahkan kembali setelah 4 – 6 minggu kemudian. Indukan ikan nila betina sudah siap dipijahkan ketika usianya mencapai 5 atau 6 bulan. Pada masa itu indukan betina sudah memasuki matang gonad. Indukan ikan nila yang akan dipijahkan setidaknya bobot tubuhnya telah mencapai 200 atau 250 gram untuk indukan betina, dan 250 atau 300 gram untuk indukan jantan.
3. Pemeliharaan Indukan Ikan Nila
Untuk menghindari terjadinya pemijahan liar, sebaiknya indukan ikan nila jantan dan betina ditempatkan pada kolam yang berbeda. Hal ini dilakukan untuk menghindari terbentuknya benih yang kurang berkualitas. Siapkan dua kolam untuk pemeliharaan indukan, satu kolam untuk indukan jantan dan satu kolam lainnya untuk indukan betina. Induk jantan ditempatkan bersama induk jantan lainnya dan induk betina disatukan dengan induk betina yang lain pada kolam lainnya. Kepadatan tebar untuk kolam pemeliharaan indukan adalah 3 atau 5 ekor / m2 kolam.
Kolam pemeliharaan indukan jantan dan indukan betina dibuat terpisah dan harus memiliki sumber air dari tempat yang berbeda. Buangan air dari kolam indukan jantan jangan sampai masuk kekolam indukan betina, sebaliknya buangan air kolam indukan betina juga jangan sampai masuk ke kolam indukan jantan. Hal ini dilakukan untuk menghindari pemijahan secara liar, sebab ada kemungkinan sperma jantan akan terbawa air kekolam indukan betina dan akan terjadi pembuahan.
Pemberian pakan juga harus diperhatikan, kandungan protein pada pakan akan berpengaruh terhadap pertumbuhan gonad. Untuk pemeliharaan indukan diperlukan pakan dengan jumlah 3% dari bobot tubuh ikan per hari. Supaya pertumbuhan gonad indukan betina bisa maksimal pakan yang diberikan harus mengandung protein yang tinggi. Untuk pembesaran ikan nila hanya diperlukan pakan dengan kadar protein sekitar 2%, tetapi untuk calon indukan sebaiknya pakan yang diberikan harus mengandung kadar protein lebih dari 35%.

4. Pemijahan Ikan Nila
Ikan nila merupakan jenis ikan konsumsi air tawar yang sangat mudah sekali dipelihara dan dipijahkan. Bahkan ikan nila mudah memijah secara alami. Untuk kolam pemijahan sebaiknya dasar kolam didesain miring dengan tingkat kemiringan sekitar 2 atau 5%. Pada dasar kolam atau lantai kolam pemijahan dibuat kubangan-kubangan (kemalir) sedalam 20 atau 30 cm. Kubangan-kubangan tersebut nantinya akan digunakan indukan sebagai tempat memijah. Pemijahan ikan nila bisa dilakukan secara massal dengan perbandingan jumlah indukan jantan dan indukan betina 1 : 3 (1 indukan jantan dan 3 indukan betina). Kepadatan tebar kolam pemijahan adalah 1 ekor indukan per m2.
Pemijahan ikan nila pada umumnya berlangsung pada hari ke tujuh sejak indukan dimasukkan kekolam pemijahan. Pemberian pakan selama proses pemijahan sebaiknya harus mengandung protein yang tinggi, yaitu pakan yang memiliki kadar protein diatas 35%. Pemijahan akan terjadi pada kubangan-kubanagan (kemalir) yang telah dibuat didasar kolam. Indukan betina akan mengeluarkan telur pada tempat tersebut dan kemudian akan dibuahi oleh indukan jantan. Setelah dibuahi telur-telur akan dierami oleh indukan betina didalam rongga mulutnya.
Indukan betina akan mengerami telur didalam mulutnya selama sekitar 7 hari. Selama proses pengeraman tersebut pemberian pakan sebaiknya dikurangi, karena saat mengerami telur indukan betina tidak makan alias berpuasa. Hal ini juga akan mengurangi biaya produksi dan pengeluaran biaya untuk pembelian pakan bisa ditekan.
Setelah 7 hari biasanya telur-telur dierami didalam mulut indukan betina akan menetas menjadi larva. Sebaiknya saat melakukan persiapan kolam diberikan pupuk dasar supaya pakan alami akan tumbuh didalam kolam. Pakan alami tersebut berguna sebagai pakan larva ikan nila yang baru menetas. Induk betina akan mengeluarkan larva dari mulutnya secara serempak jika ia merasa didalam kolam banyak tersedia pakan alami untuk anak-anaknya. Larva ikan nila yang sudah menetas dan sudah dikeluarkan dari mulut induk betina segera dipindahkan ke kolam pemeliharaan larva. Larva dipindahkan kekolam pemeliharaan larva setelah berumur 5 sampai 7 hari setelah menetas.
5. Pemeliharaan Larva Ikan Nila
Gambar Kolam Pemeliharaan Larva Ikan Nila Menggunakan HapaPemeliharaan benih ikan nila menggunakan hapa
Larva yang sudah berumur 5 – 7 hari setelah menetas dipindahkan kekolam khusus pemeliharaan larva yang sudah dipersiapkan. Pemindahan dilakukan menggunakan saringan halus secara hati-hati. Kolam pemeliharaan larva ikan nila bisa berupa bak plastik, kolam semen, drum, akuarium, hapa (jaring halus) atau kontainer. Kepadatan tebar larva per meter persegi antara 100 – 200 ekor larva.
Setelah dipindahkan kekolam pemeliharaan, larva juga harus diberikan pakan agar bisa tumbuh dengan baik. Pakan yang diberikan berbentuk tepung halus dan memiliki kadar protein tinggi. Berikan pakan secukupnya, dalam satu hari pakan diberikan sebanyak 4 atau 5 kali. Pakan laternatif lain untuk larva ikan nila adalah kuning telur ayam yang direbus. Caranya dengan melumatkan 1 butir kuning telur rebus yang dilarutkan dengan 500 ml air bersih. Pakan diberikan dengan cara disemprotkan menggunakan hand sprayer, setiap kali pemberian pakan diberikan sebanyak 100 ml.

Pembesaran larva ikan nila berlangsung selama 3 sampai 4 minggu atau sampai ukuran larva mencapai 2 atau 3 cm. Setelah mencapai ukuran tersebut, larva dipindahkan lagi kekolam pendederan. Sebab daya tampung kolam sudah tidak memadai lagi untuk ukuran larva tersebut. Jika ukuran kolam memungkinkan, larva tidak harus dipindahkan dan bisa dipelihara seterusnya didalam kolam tersebut.
6. Pendederan Benih Ikan Nila
Kolam untuk pendederan benih sebaiknya dibuat dengan ukuran yang lebih besar, sebab ukuran tubuh benih ikan juga semakin besar. Pada tahap ini, peternak bisa membuat benih ikan nila menjadi berjenis kelamin jantan semua. Benih nila jantan pertumbuhannya lebih cepat daripada ikan betina. Ini bisa dilakukan jika budidaya hanya ditujukan untuk usaha pembesaran, yaitu untuk keperluan ikan konsumsi. Untuk menghasilkan benih ikan berjenis kelamin jantan semua bisa dilakukan dengan pemberian hormon 17 alpha methyltestosteron. Hormon tersebut diberikan pada tahap pendederan larva.
Catatan : Tetapi sebaiknya cara menghasilkan jenis kelamin jantan menggunakan hormon 17 alpha methyltestosteron tidak dilakukan. Sebab cara ini sudah tidak dianjurkan lagi. Dikhawatirkan penggunaan hormon tersebut bisa menyebabkan efek negatif bagi yang mengkonsumsi.

Kepadatan tebar pada tahap pendederan benih setiap meter persegi adalah 30 sampai 50 ekor benih. Lama pendederan benih sampai benih ikan siap dipindah kekolam pembesaran adalah 4 sampai 6 minggu. Pada saat itu kira-kira benih ikan nila sudah memiliki ukuran panjang tubuh 10 – 12 cm. Pakan yang diberikan pada tahap ini adalah pakan yang memiliki kadar protein antara 20 – 30%. Pakan diberikan 2 atau 3 kali dalam sehari. Banyaknya pakan yang diberikan adalah 3% dari bobot tubuh ikan.
Jika sudah berumur 4 – 6 minggu didalam kolam pendederan dan ukurannya mencapai 10 – 12 cm, benih ikan sudah siap untuk dijual atau dibesarkan sendiri dikolam pembesaran. Namun masa pendederan bisa lebih lama jika ukuran benih yang diinginkan lebih besar. Sebab kadang-kadang konsumen membutuhkan benih yang lebih besar dari ukuran tersebut. Sehingga lama pendederan bisa disesuikan dengan permintaan pasar atau konsumen.
7. Panen Benih Ikan Nila
Pemanenan benih ikan nila disesuiakan dengan permintaan pasar atau konsumen. Jika konsumen menginginkan ukuran benih yang standar (10 – 12 cm) panen benih bisa dilekukan lebih cepat. Tetapi jika konsumen menginginkan benih dengan ukuran yang lebih besar maka panen dilakukan sesuai dengan kenginan konsumen atau pembeli. Pemanenan benih ikan nila sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari. Kemudian benih ikan nila dikemas dengan baik. Benih dikemas dalam wadah tertutup untuk pengiriman jarak jauh. Sedangkan untuk jarak dekat pengemasan dengan wadah terbuka masih bisa dilakukan. Untuk pengiriman jarak jauh biasanya benih dikemas dalam kantong-kantong plastik berwarna putih transparan. Kantong plastik diisi air 1/3 dari ukuran wadah tersebut selebihnya diisi dengan oksigen


Tidak ada komentar:

Posting Komentar