Selasa, 22 Desember 2015

Dampak Perubahan Iklim bagi Indonesia

Dampak Perubahan Iklim bagi Indonesia

Posted on 12 Oktober 2009 by munzir08


Perubahan  iklim pada kenyataannya sangat berdampak terhadap kelangsungan hidup umat manusia. Dampak ekstrem dari perubahan iklim terutama adalah terjadinya kenaikan temperature serta pergeseran musim. Kenaikan temperatur menyebabkan es dan gletser di Kutub Utara dan Selatan mencair. Peristiwa ini menyebabkan terjadinya pemuaian massa air laut dan kenaikan permukaan air laut. Berbagai kerugian yang telah dan akan dirasakan oleh masyarakat Indonesia sebagai akibat dampak perubahan iklim adalah sebagai berikut:

1. Kenaikan Temperatur dan Berubahnya Musim Di Indonesia sendiri telah terjadi peningkatan suhu udara sebesar 0,3°C sejak tahun 1990. Sementara di tahun 1998, suhu udara mencapai titik tertinggi, yaitu sekitar 1°C di atas suhu rata-rata tahun 1961-1990 (M. Hulme, 1999).
Dampak lain yang diperkirakan terjadi akibat perubahan iklim adalah tak menentunya pola curah hujan. Di beberapa tempat curah hujan meningkat, yang kemudian akan berdampak pada terjadinya banjir dan longsor. Sementara di sebagian tempat lain curah hujan menurun, sehingga berdampak pada terjadinya kekeringan.\

2. Naiknya  Permukaan Air Laut
Sebagai dampak naiknya permukaan air laut, maka banyak pulau-pulau kecil dan daerah landai di Indonesia akan hilang. Apabila ‘skenario’ IPCC terjadi, diperkirakan Indonesia akan kehilangan 2.000 pulau. Hal ini tentunya akan menyebabkan mundurnya garis pantai di sebagian besar wilayah Indonesia. Akibatnya, bila ditarik garis batas 12 mil laut dari garis pantai, maka sudah tentu luas wilayah Indonesia akan
berkurang.
Masyarakat nelayan yang bertempat tinggal di sepanjang pantai akan semakin terdesak. Mereka bahkan kehilangan tempat tinggal serta infrastruktur pendukung yang
telah terbangun. Nelayan juga akan kehilangan mata pencahariannya akibat berkurangnya jumlah tangkapan ikan. Hal ini disebabkan karena tak menentunya iklim sehingga menyulitkan mereka untuk melaut. Kenaikan air laut akan memperburuk kualitas air tanah di perkotaan, karena intrusi atau perembesan air laut yang kian meluas.
Kenaikan muka air laut juga akan merusak ekosistem hutan bakau, serta merubah sifat biofisik dan biokimia di zona pesisir. Adapun daerah-daerah pesisir yang termasuk rawan akan dampak kenaikan muka air laut antara lain sebagai berikut:
a.    Pantai utara Jawa, termasuk kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang Antara tahun 1925 -1989, kenaikan permukaan air laut telah terjadi di Jakarta (4,38 mm/tahun), Semarang (9,27 mm/tahun) dan Surabaya (5,47 mm/Tahun).
b.    Pantai timur Sumatera.
c.    Pantai selatan, timur dan barat Kalimantan.
d.    Pantai barat Sulawesi.
e.    Daerah rawa di Irian Jaya yang terletak di pantai barat dan selatan.

Di beberapa Daerah Aliran Sungai (DAS), akan terjadi perbedaan tingkat air pasang dan surut yang makin tajam. Akibatnya, kekerapan terjadinya banjir atau kekeringan akan semakin terasa. Hal ini akan semakin parah apabila daya tampung sungai dan waduk tidak terpelihara akibat erosi dan sedimentasi.

3. Dampaknya pada Sektor Perikanan

Pemanasan global menyebabkan memanasnya air laut, sebesar 2-3°C. Akibatnya, alga yang merupakan sumber makanan terumbu karang akan mati karena tidak mampu beradaptasi dengan peningkatan suhu air laut. Hal ini berdampak pada menipisnya ketersediaan makanan terumbu karang. Akhirnya, terumbu karang pun akan berubah
warna menjadi putih dan mati (coral bleaching). Peristiwa El Nino, biasa juga disebut ENSO (El Nino Southern Oscillation) yang terjadi setiap 2-13 tahun sekali, pada tahun 1997-1998 menyebabkan naiknya suhu air laut sehingga memicu peristiwa pemutihan karang terluas. Setelah El Nino berlalu, terumbu karang yang rusak punya kesempatan untuk tumbuh kembali.
Pemutihan karang menyebabkan punahnya berbagai jenis ikan karang yang bernilai ekonomi tinggi (contohnya, ikan kerapu macan, kerapu sunu, napoleon dan lainlain) karena tak ada lagi terumbu karang yang layak untuk dihuni dan berfungsi sebagai sumber makanan. Padahal Indonesia mempunyai lebih dari 1.650 jenis ikan karang,
itupun hanya yang terdapat di wilayah Indonesia bagian timur saja belum terhitung yang berada wilayah lainnya.
Akibat lebih jauh adalah terjadinya perubahan komposisi ikan di laut Indonesia. Ikan yang tak tergantung pada terumbu karang akan tumbuh dengan suburnya. Contohnya, ikan belanak, bandeng, tenggiri dan teri, padahal ikan tersebut mempunyai nilai ekonomis yg lebih rendah daripada jenis ikan karang.
Tak hanya
itu, memanasnya air laut akan mengganggu kehidupan jenis ikan tertentu yang
sensitif terhadap naiknya suhu. Ini mengakibatkan terjadinya migrasi ikan ke
daerah yang lebih dingin. Akhirnya, Indonesia akan kehilangan beberapa jenis
ikan. Akibatnya, nelayan lokal akan makin
terpuruk karena menurunnya hasil tangkapan ikan.

4. Dampaknya pada Sektor Kehutanan Diperkirakan akan terjadi pergantian beberapa spesies flora dan fauna yang terdapat di dalam hutan sebagai akibat perubahan iklim. Beberapa spesies akan terancam punah karena tak mampu beradaptasi. Sebaliknya spesies yang mampu bertahan akan berkembang tak terkendali (KLH, 1998).
Kebakaran hutan bersumber pada tiga hal, yaitu kesengajaan manusia, kelalaian manusia dan karena faktor alam. Kebakaran hutan yang kita bahas pada bagian ini adalah yang disebabkan oleh faktor alam.
Kebakaran hutan yang disebabkan oleh faktor alam, umumnya disebabkan oleh terjadinya peningkatan suhu udara di lingkungan sekitar hutan. Peningkatan suhu yang
terjadi dalam masa yang cukup lama, seperti musim kemarau panjang, mengakibatkan
mudah terbakarnya ranting-ranting atau daundaun akibat gesekan yang ditimbulkan.
Hal ini menyebabkan kebakaran hutan dapat terjadi dalam waktu singkat dimana api melahap sekian hektar luasan hutan dan berbagai macam keanekaragaman hayati yang berada di dalamnya. Singkat kata, peningkatan suhu meningkatkan peluang terjadinya kebakaran hutan. Oleh karena itu perubahan iklim yang berdampak pada meningkatnya suhu, dipastikan akan meningkatkan potensi kebakaran hutan.
Selain hilangnya sejumlah kawasan hutan, kebakaran hutan juga menyebabkan hilangnya berbagai keanekaragaman hayati, terutama yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Belum lagi dampak sosial dan kesehatan yang ditimbulkan bagi masyarakat setempat.

5. Dampaknya pada Sektor Pertanian

Perubahan iklim yang berdampak pada tingginya intensitas hujan dalam periode yang pendek akan menimbulkan banjir yang kemudian menyebabkan produksi padi menurun karena sawah terendam air.
Curah hujan yang tinggi akan menyebabkan tanah longsor, akibatnya hasil dari tanaman dataran tinggi akan menurun. Produksi kacang kedelai misalnya, akan turun
sebanyak 20%, sementara jagung sebanyak 40%, dan padi 2,5% (ADB, 1994).
Perubahan iklim tak hanya menyebabkan banjir tetapi juga kekeringan. Sebagaimana halnya banjir, kekeringan membawa kerugian yang serupa pada sektor pertanian.
Ditambah dengan peristiwa El Nino dan La Nina kondisi ketersediaan pangan di Indonesia akan semakin buruk.

6. Dampaknya pada Sektor Kesehatan
Naiknya suhu udara yang menyebabkan masa inkubasi nyamuk semakin pendek. Dampaknya, nyamuk malaria dan demam berdarah akan berkembangbiak lebih cepat.
Balita, anak-anak dan usia lanjut sangat rentan terhadap perubahan iklim. Terbukti tingginya angka kematian yang disebabkan oleh malaria sebesar 1-3 juta pertahun, dimana 80% nya adalah balita dan anak-anak (WHO, 1997).
Selain itu, kebakaran hutan juga menghasilkan kualitas udara yang buruk dan menurunkan derajat kesehatan penduduk di sekitar lokasi.
Intensitas hujan yang tinggi dengan periode yang singkat akan menyebabkan bencana banjir. Jika terjadi banjir maka akan mengkontaminasi persediaan air bersih. Pada akhirnya perubahan iklim juga berdampak pada mewabahnya penyakit seperti diare dan leptospirosis yang biasanya muncul pasca banjir.
Sementara kemarau panjang juga berdampak pada timbulnya krisis air bersih. Sehingga juga berdampak pada wabah penyakit diare dan juga penyakit kulit.


7. Dampak Sosial dan Ekonomi
Tahun 2000, Indonesia telah mengalami 33 kejadian banjir, kebakaran hutan, kemarau, dan 6 bencana angin topan. Itu semua telah membawa kerugian sebesar $150 milyar dan 690 nyawa hilang (Kompas, 7 Maret 2001). Sementara dunia sendiri mengalami
kerugian sebesar $300 milyar tiap tahunnya akibat dampak perubahan iklim (UNEP,
2001).
Kerugian yang akan dialami Indonesia jika terjadi kenaikan muka air laut setinggi 60 cm
adalah sebesar $11.307 juta pertahunnya. Kerugian itu terdiri dari menyusutnya lahan persawahan, sawah pasang surut dan perkebunan, tambak ikan, bangunan dan hutan bakau (Rozari, 1992).
Sementara kerugian Indonesia di sektor pertanian akibat perubahan iklim diperkirakan
sebesar 23 milyar rupiah per tahunnya. Sementara sektor pariwisata akan mengalami kerugian sebesar 4 milyar rupiah per tahun (ALGAS, 1997). Berdasarkan sumber yang sama, perbaikan infrastruktur pesisir akan memerlukan dana 42 milyar rupiah setiap tahunnya. Di sector kehutanan, Indonesia mengalami kerugian akibat kebakaran hutan sebesar 5,96 trilyun rupiah atau 70% dari Pendapatan Domestik Bruto sektor kehutanan (KLH, 1998). Hal tersebut terdiri atas hilangnya persediaan air, gangguan hidrologi, pengendalian erosi, siklus hara, penguraian limbah, hilangnya penyerapan karbon, hilangnya keanekaragaman hayati dan lain-lain.
Kebakaran
hutan tahun 1997, telah menghabiskan biaya kesehatan lebih dari 1,2 trilyun rupiah termasuk 2,5 juta hari kerja yang hilang (KLH, 1998). Sementara total kerugian ekonomi akibat kebakaran hutan dan lahan pada tahun 1997-1998 diperkirakan mencapai US$ 9,3 milyar (Bappenas, 2000).

Selain kerugian secara finansial, kebakaran hutan juga memberikan dampak sosial terhadap masyarakat setempat. Hilangnya mata pencaharian, rasa keamanan dan keharmonisan merupakan derita yang harus ditanggung oleh penduduk setempat (KLH, 1998).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar