Rabu, 09 Desember 2015

Makan Ikan Kurangi Risiko Diabetes Pada Anak-Anak

Makan Ikan Kurangi Risiko Diabetes Pada Anak-Anak

by Rizki Fadli Rabu, 25 Februari 2015 - 10:56:33 WIB dibaca: 300 pembaca


Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI.

Belum lama ini, Journal of the American Medical Assosiciation (JAMA) telah mempu-blikasikan studi internasional baru tentang peran makan ikan yang dapat mengurangi risiko penyakit diabetes pada anak-anak.

Dalam studi tersebut disimpulkan bahwa sebuah pola makan (diet) yang kaya dengan minyak omega3, yang ditemukan melimpah pada ikan dan berbagai seafood lainnya dapat me­motong peluang risiko sebesar 55 % terhadap diabetes tipe 1 pada anak-anak. Hal ini merupa­kan temuan yang sangat penting bagi anak-anak di Autralia, karena rerata kasus penyakit ini relatif lebih tinggi dibandingkan dengan negara lain.

Studi dilakukan selama 6 tahun, melibatkan 1700 anak-anak dan diklaim sebagai penelitian yang pertama mengaitkan dengan diet anak-anak (diatas balita). Studi diketuai oleh Dr. Jill Norris, epidemilogist dari Universitas Colorado, Amerika Serikat. Temuan tersebut sangat sig­nifikan dan menggembirakan karena nampaknya dimungkinkan untuk mengatasi suatu penya­kit melalui intervensi nutrisi.

Penyakit dibetes tipe 1, umumnya diwariskan, sehingga penelitian difokuskan kepada anak-anak yang berisiko tinggi, yaitu yang mempunyai jenis genetis (genotype) berisiko tinggi atau yang mempunyai orang tua atau saudara kandung penderita diabetes. Para peneliti menemukan bahwa, anak-anak yang banyak makan ikan, kacang-kacangan dan pangan sumber asam lemak omega-3 lainnya berkurang 55 % kemungkinannya menjadi penderita diabetes.

Pemerintah Federal Australia melalui Institute of Health & Welfare (AIHW) baru-baru ini mengumumkan data, kasus baru diabetes tipe 1 pada anak-anak yang cukup meningkat dan menuntut perhatian lebih. Diantara 6100 anak-anak dibawah usia 15 tahun yang telah menderita diabetes tipe 1 lebih dari 7 tahun, jumlah kasusnya telah meningkat, naik dari 19 menjadi 23 per 100.000 anak pada periode tahun 2000 - 2005.

Adanya temuan baru untuk pengobatan maupun pencegahan penyakit melalui intervensi nu­trisi ini sangat penting, tidak hanya bagi anak yang bersangkutan tetapi juga bagi kedua orang tuanya. Meskipun penelitian tersebut baru mampu menunjukkan penurunan risiko, tetapi hal tersebut telah merupakan langkah awal yang menjanjikan. Diduga zat penting dari omega 3 yang paling berpengaruh adalah kandungan anti-inflamatory yang cukup tinggi.

Diantara pertanyaan yang ditujukan kepada orang tua anak dalam daftar kuisioner adalah ukuran porsi makan ikan dari anak yang menjadi obyek penelitian yaitu sekitar 85 gram hingga 115 gram, dengan kisaran dari tidak pernah hingga 6 kali atau lebih dalam sehari. Secara spesifik, mereka ditanya tentang frekuensi makan tuna, mackarel, salmon, sardin, tailor dan

swordfish, serta ikan lainnya, udang, lobster dan scallop. Hal yang menarik dalam penelitian tersebut adalah, adanya 45 anak dalam kelompok tersebut yang paling berpeluang untuk men­derita diabetes tipe 1 adalah anak-anak yang paling sedikit mengkonsumsi Omega 3 dari ikan dan sumber lainnya.

Tentu saja, kepada orang tua yang mempunyai anak bermasalah dengan diabetes tipe 1 sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan advis medis langsung yang lebih pribadi sifatnya. Bagimanapun hasil studi di Amerika Serikat tersebut telah membawa pencera­han dan bahwa makan ikan sangat bermanfaat bagi semua kelompok umur.

Sumber: Fishupdate



“Para peneliti menemukan bahwa , anak-anak yang banyak makan ikan, kacang-kacangan dan pangan sumber asam lemak omega3 lainnya berkurang 55 % kemung-kinannya menjadi penderita diabetes”


Ikan Kurangi Risiko Asma Pada Anak-anak

by Samsi Haryono Jumat, 20 Februari 2015 - 06:54:30 WIB dibaca: 248 pembaca


Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, 

Asma dalah penyakit umum yang dapat berakibat fatal. Asma masih menjadi penya­kit misterius tetapi gejalanya menyebabkan radang pada tubuh dan menjadi pencetus turunnya kekebalan tubuh. Para peneliti medis mengungkapkan, sekitar 1 dari sepu­luh anak dan 1 dari 20 orang dewasa adalah penderita asma. Peneliti medis menyelidiki efek berbagai anti-inflammatory yang dikandung oleh makanan dan obat/racun terhadap penyakit asma.

Penelitian yang dilakukan oleh salah satu peneliti Amerika Serikat menunjukkan hasil yang mendukung penelitian sebelumnya yaitu ikan bermanfaat untuk menurunkan risiko pe­nyakit asma pada anak-anak. Penelitian ini dititik beratkan pada pengaruh tingkat kandungan bahan kimia pro-inflamma­tory terhadap serangan asma. Penelitian dilakukan dalam 2 tahap yaitu tahap observasi dan ta­hap uji percobaan klinis. Tahap observasi dilakukan untuk mengetahui hubungan statistik antara tingkat asma atau tingkat bahan-bahan kimia pro-inflammatory yang berhubungan dengan asma. Sedangkan tahap uji percobaan klinis dilakukan untuk mengetahui tingkat penurunan risiko serangan asma dan tingkat bahan kimia pro-inflammatory pada darah.

Hasil dua studi yang dipublikasikan oleh salah satu peneliti Amerika Serikat tersebut dan hasil investigasi lainnya di Belanda mengindikasikan bahwa ibu hamil penderita asma yang mengkonsumsi ikan dengan kandungan omega-3 tinggi dapat mengurangi risiko asma pada anak yang dilahirkan.

Salah satu efek omega-3 pada ikan adalah mengurangi peradangan yang berlebihan pada tubuh dengan cara menurunkan produksi bahan-bahan kimia tubuh yang dapat mempengar­uhi radang termasuk eicosanoid, radikal bebas, cytokines dan lainnya. Hubungan jumlahomega-3 pada ikan dengan pencegahan dan penurunan gejala asma menjadi dasar rancangan penelitian untuk menguji hipotesis ini.

 Asumsi yang sama juga digunakan oleh peneliti Australia untuk mengetahui pengaruh omega-3 pada wanita hamil terhadap risiko alergi pada anak yang dilahirkan. Pada peneli­tian tersebut responden diberi perlakuan dengan mengkonsumsi suplemen omega-3 sejak 5 bulan setelah terjadinya pembuahan sampai dengan melahirkan. Hasilnya menunjukkan bahwa anak pada umur satu tahun yang dilahirkan dari ibu tersebut memproduksi bahan kimia pro- inflammatory (cytokines) yang lebih rendah dan menunjukkan gejala alergi ma­kan telur 3 kali lebih rendah dibandingkan dengan ibu yang tidak mengkonsumsi omega-3. Cytokines adalah bahan kimia pro-inflammatory yang merupakan penyebab utama alergi.

 Beberapa penelitian yang dilakukan pada anak juga menunjukkan bahwa anak-anak muda yang banyak mengkonsumsi ikan, biji-bijian dan susu dapat menurunkan risiko asma. Bagi ibu dan anak-anak penderita asma, segera perbanyak konsumsi ikan yang mengandung omega-3 tinggi karena omega 3 pada ikan ternyata berfungsi menurunkan produksi bahan kimia pro-inflammatory atau berfungsi sebagai anti peradangan. Manfaat optimal ikan diperoleh dari ikan yang berkualitas baik. Untuk itu, penanganan ikan dengan benar semenjak ditangkap/dipanen hingga disantap perlu mendapat perhatian

Ikan Turunkan Risiko Kelahiran Prematur dan Berat Lahir Bayi

by Samsi Haryono Rabu, 18 Februari 2015 - 07:30:14 WIB dibaca: 251 pembaca


Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, 

Risiko kelahiran bayi prematur dan berat lahir bayi yang terlalu rendah dapat diturunkan dengan mengkonsumsi ikan pada masa kehamilan. Di negara-negara berkembang di seluruh dunia pada setiap tahunnya terdapat lebih dari 13 juta bayi dilahirkan secara prematur. Observasi yang dilakukan di Pulau Faroe dan Orkney dimana masyarakatnya banyak mengkonsumsi ikan, diperoleh hasil bahwa masyarakat di pulau tersebut mengalami masa ke­hamilan sesuai waktu dengan berat lahir bayi yang normal.

British Medical Journal telah mempublikasikan hasil penelitian bahwa rata-rata berat lahir dan masa kehamilan sesuai waktunya berhubungan langsung dengan jumlah ikan yang dimakan oleh wanita hamil. Percobaan secara acak telah menunjukkan hubungan antara konsumsi ikan yang mengandung asam lemak omega-3 dengan lamanya masa kehamilan serta risiko kelahiran prematur.

Peneliti di Aarthus Denmark mengkompilasi daftar pertanyaan yang diisi oleh hampir 9000 wanita untuk menilai tingkat konsumsi ikan, hasilnya menunjukkan bahwa wanita yang meng­konsumsi ikan sedikitnya sekali seminggu hanya 1,9 % yang mengalami kelahiran prematur. Sedangkan pada wanita yang tidak pernah mengkonsumsi ikan kelahiran prematur meningkat menjadi 7,1 %.

Peneliti dari Universitas Bristol di Inggris yang merupakan bagian dari penelitian yang lebih luas dari Avon Longitudinal of Parent and Children (ALSPAC) telah mengamati secara detil sekitar 14.000 ibu-ibu selama kehamilannya serta anak-anak yang dilahirkan. Mereka dibagi ke dalam lima kelompok berdasarkan pada berapa banyak mereka mengkonsumsi ikan. Wanita-wanita tersebut telah melaporkan apakah mereka makan ikan putih, kekerangan atau minyak ikan yang kaya asam lemak omega-3. Hasilnya menunjukkan kelompok dengan konsumsi ikan yang tinggi, rata-rata mempunyai bayi dengan berat antara 70 dan 80 g lebih dibanding mereka yang tidak makan ikan sama sekali. Sedangkan faktor lainnya seperti kelas sosial dan apakah ibu tersebut merokok tidak menunjukkan perbedaan berat lahir diantara kelompok tersebut.

Penelitian oleh Public Health Institut of Iceland yang dimuat dalam British Journal of Obstetrics and Gynecology volume 112 bulan April halaman 424-9 mengemukakan bahwa mengkonsumsi minyak ikan pada awal kehamilan bisa mengakibatkan bayi lahir lebih besar. Penelitian dilakukan terhadap 435 wanita hamil yang sehat yang diminta untuk mengisi daftar pertanyaan pada umur kehamilan antara 11 dan 15 minggu dan antara 34 dan 37 minggu. Wanita yang mengkonsumsi minyak ikan dalam bentuk cairan di awal kehamilan, 14 % diantaranya melahirkan bayi lebih berat dan mengalami masa kehamilan sesuai waktunya. Disamping itu, wanita-wanita sehat yang mengkonsumsi minyak ikan cair, lebih dari 11 kalinya melahirkan bayi dengan berat 4,500 g atau lebih dengan umur kehamilan yang sesuai waktunya.

Selain konsumsi ikan, memang masih banyak faktor lain yang juga berperan pada kelahiran prematur. Infeksi di kandungan misalnya dapat menyebabkan kontraksi lebih awal, pembukaan servik dan juga pecahnya cairan ketuban lebih awal. Dr Imogen Roger juga melaporkan bayi dengan berat lahir sangat kecil berhubungan dengan meningkatnya risiko tekanan darah tinggi dan permasalahan lainnya pada wanita paruh baya. Konsumsi ikan yang tinggi nampaknya memang tidak mampu menetralkan efek infeksi, tetapi bagaimanapun dari segi nutrisi kon­sumsi ikan dapat mengurangi risiko kelahiran prematur dan berat lahir yang sangat kecil.

Hasil penelitian-penelitian tersebut semakin menguatkan pentingnya mengkonsumsi ikan bagi wanita hamil serta menguatkan rekomendasi bahwa wanita hamil harus mengkonsumsi ikan sekurang-kurangnya dua kali seminggu. Mengkonsumsi ikan yang mengandung minyak adalah suatu kebiasaan yang baik dan perlu didorong untuk menghindari bayi lahir prematur dengan berat lahir sangat kecil. Berat lahir lebih tinggi akan menurunkan risiko penyakit di kemudian hari dalam kehidupannya.

Jadi bagi wanita yang sedang hamil, jangan tunda lagi segera konsumsi ikan terutama yang mengandung omega-3 seperti tenggiri, patin, lemuru dan sardin. Dengan mengkonsumsi ikan berarti anda telah membantu melindungi anak-anak anda melawan sejumlah penyakit pada saat anak-anak anda menjadi dewasa kelak. Peneliti juga menyarankan bagi wanita yang tidak meng­konsumsi ikan perlu mempertimbangkan suplemen minyak ikan. Hanya saja, perlu diketahui juga bahwa tidak semua ikan direkomendasikan untuk wanita hamil. The UK Standards Agency menyarankan agar wanita hamil menghindari mengkonsumsi ikan yang diduga mengandung merkuri yang relatif lebih tinggi.ï‚¡

yang mengkonsumsi minyak ikan dalam bentuk cairan di awal kehamilan, 14 % diantaranya melahirkan bayi lebih berat dan mengalami masa kehamilan sesuai waktunya. Disamping itu, wanita-wanita sehat yang mengkonsumsi minyak ikan cair, lebih dari 11 kalinya melahirkan bayi dengan berat 4,500 g atau lebih dengan umur kehamilan yang sesuai waktunya.

Selain konsumsi ikan, memang masih banyak faktor lain yang juga berperan pada kelahiran prematur. Infeksi di kandungan misalnya dapat menyebabkan kontraksi lebih awal, pembukaan servik dan juga pecahnya cairan ketuban lebih awal. Dr Imogen Roger juga melaporkan bayi dengan berat lahir sangat kecil berhubungan dengan meningkatnya risiko tekanan darah tinggi dan permasalahan lainnya pada wanita paruh baya. Konsumsi ikan yang tinggi nampaknya memang tidak mampu menetralkan efek infeksi, tetapi bagaimanapun dari segi nutrisi kon­sumsi ikan dapat mengurangi risiko kelahiran prematur dan berat lahir yang sangat kecil.

Hasil penelitian-penelitian tersebut semakin menguatkan pentingnya mengkonsumsi ikan bagi wanita hamil serta menguatkan rekomendasi bahwa wanita hamil harus mengkonsumsi ikan sekurang-kurangnya dua kali seminggu. Mengkonsumsi ikan yang mengandung minyak adalah suatu kebiasaan yang baik dan perlu didorong untuk menghindari bayi lahir prematur dengan berat lahir sangat kecil. Berat lahir lebih tinggi akan menurunkan risiko penyakit di kemudian hari dalam kehidupannya.


Jadi bagi wanita yang sedang hamil, jangan tunda lagi segera konsumsi ikan terutama yang mengandung omega-3 seperti tenggiri, patin, lemuru dan sardin. Dengan mengkonsumsi ikan berarti anda telah membantu melindungi anak-anak anda melawan sejumlah penyakit pada saat anak-anak anda menjadi dewasa kelak. Peneliti juga menyarankan bagi wanita yang tidak meng­konsumsi ikan perlu mempertimbangkan suplemen minyak ikan. Hanya saja, perlu diketahui juga bahwa tidak semua ikan direkomendasikan untuk wanita hamil. The UK Standards Agency menyarankan agar wanita hamil menghindari mengkonsumsi ikan yang diduga mengandung merkuri yang relatif lebih tinggi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar