Kamis, 04 Mei 2017

BENIH NILA MERAH STRAIN BARU “ LARASATI “

BENIH NILA MERAH STRAIN BARU “ LARASATI “
(Nila Merah Strain Janti)

Tilapia Broodstock Center
Satker PBIAT Janti – Klaten


Anda pernah mendengar istilah ”Kakap Merapi” atau ”Sop Kepala Kakap”?. Istilah tersebut banyak kita jumpai di rumah makan pancingan atau warung-warung tenda di Jawa Tengah. Terlintas di benak kita adalah Kakap Merah hasil tangkapan dari laut. Namun sebenarnya istilah tersebut adalah nama lain dari Nila Merah. Sepintas bentuk dan warna Nila Merah (Oreochromis sp.) memang mirip dengan Kakap Merah (Lutjanus sp.), namun sebenarnya jauh berbeda. Mungkin karena harganya relatif lebih mahal dibanding Nila Hitam dan warnanya cenderung lebih disukai konsumen yang membuat orang mensejajarkan Nila Merah dengan Kakap Merah. Atau strategi pemasaran dari pedagang untuk lebih mendongkrak harga Nila Merah di pasaran. Apapun alasannya Nila Merah menjadi semakin populer dalam sepuluh tahun terkhir.
Pada tanggal 23 Nopember 2009, Jawa Tengah melalui Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah berhasil merelease Nila Merah strain baru yang diberi nama ” LARASATI ” (Nila Merah strain Janti), sebagai Benih Bermutu. Secara seremonial Larasati direlease oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Bp. Fadel Muhammad melalui SK No. KEP.79/MEN/2009. Nama Larasati diambil dari nama seorang dewi dalam tokoh pewayangan yang merupakan isteri dari Arjuna yang sangat terkenal. Dikatakan strain Janti karena kegiatan pemuliaannya dilakukan di Satuan Kerja Perbenihan dan Budidaya Ikan Air Tawar Janti (Satker PBIAT Janti), terletak di Desa Janti, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten. Satker PBIAT Janti merupakan salah satu dari tiga satuan kerja di bawah Balai Perbenihan dan Budidaya Ikan Air Tawar Muntilan (BPBIAT Muntilan).
Kegiatan pemuliaan ikan Nila di Satker PBIAT Janti dimulai sejak tahun 2004 setelah Satker PBIAT Janti ditunjuk menjadi Pusat Pengembangan Induk Ikan Nila Regional (PPIINR) melalui SK Dirjen Budidaya No. 6378/DPB-1/PB.110.D1/12/03. Pada tahap awal dimulai dengan mendatangkan ikan Nila berbagai strain seperti Gift, Nifi, Singapura, Citralada dan Nila Putih. Kemudian pada tahun 2005 dilakukan perkawinan secara inbreeding dan cross breeding untuk mendapatkan gambaran performa benih yang dihasilkan. Pada tahun 2006 diketahui persilangan (cross breeding) antara induk strain Gift (GG) dan pejantan strain Singapura (SS) menghasilkan benih hibrid (GS) terbaik. Pemuliaan induk dilakukan menggunakan metode seleksi individu. Generasi pertama (F1) dihasilkan tahun 2006, generasi kedua (F2) tahun 2007 dan generasi ketiga (F3) tahun 2008. Berbagai uji terhadap benih hibrid (GS) generasi ketiga seperti uji pertumbuhan, multi lokasi, salinitas, dan hama penyakit dilakukan tahun 2008. Benih hibrid (GS) generasi ketiga inilah yang direlease pada tanggal 23 Nopember 2009 dengan nama Larasati.
Kegiatan pemuliaan ikan Nila di Satker PBIAT Janti dilakukan dalam 2 tahap :
Tahap I.  Seleksi Ikan Nila Merah Hibrida Terbaik
Tahap II. Perbaikan Induk dengan Seleksi Individu untuk Perbaikan Hibrida
Tabel 1.  Deskripsi ikan Nila Larasati ukuran konsumsi/dewasa :
I
Karakter Morfologi
1.1
Jumlah jari-jari sirip dorsal
D. XVII. 13
1.2
Jumlah jari-jari sirip perut
V. I. 5
1.3
Jumlah jari-jari sirip dada
P. 13 – 14
1.4
Jumlah jari-jari sirip dubur
A. III. 10 – 11
1.5
Jumlah jari-jari sirip ekor
C. II. 17 – 18
1.6
Jumlah Linea Lateralis (LL)
33 – 35
1.7
Lebar mata (cm)
1,54 – 1,70
1.8
Panjang Total (PT) (cm)
26,6 – 32,5
1.9
Panjang Standar (PS) (cm)
20,6 – 26,5
1.10
Tinggi Badan (TB) (cm)
9,7 – 11,0
1.11
Panjang Standar/Tinggi Badan (PS/TB)
2,12 – 2,40
1.12
Warna
Merah


II
Ketebalan Daging (cm)
4,75 – 4,90


III
Ratio Edible Portion (%) Larasati dengan bobot 1.000 – 1.300 g
3.1
Berat daging
46,4 – 53,0
3.2
Berat tulang
7,1 – 8,0
3.3
Berat kepala
18,5 – 20,0
3.4
Berat ekor
1,7 – 1,8
3.5
Berat sisik
1,2 – 2,1
3.6
Berat sirip
4,1 – 5,6
3.7
Berat organ dalam
14,4 – 16,1
IV
Deskripsi Larasati ukuran konsumsi/dewasa
4.1
Warna punggung
Merah orange
4.2
Warna perut
Putih kemerahan
4.3
Warna overculum
Kemerahan
4.4
Umur (hari)
130
4.5
Bobot pembesaran di kolam air tenang (g)
560 – 620
4.6
Bobot pembesaran di KJA selama 150 hari (g)
930,0 – 954,7
Larasati sebagai benih sebar telah teruji sebagai produk benih hibrid Nila Merah yang berkualitas unggul baik dipelihara di kolam, air tenang, air deras maupun keramba jaring apung (KJA). Larasati sangat digemari masyarakat karena cepat tumbuh, daging tebal, pertumbuhan seragam, SR tinggi (> 90%), FCR rendah (1,2 – 1,3), tahan terhadap perubahan lingkungan, dan secara laboratoris terbukti tahan terhadap bakteri Streptococcus agalactiae. Pengembangan budidaya Larasati masih terbuka luas baik pangsa pasar maupun lahan budidayanya. Kegiatan budidaya Larasati telah memberikan dampak positif terhadap sosial ekonomi masyarakat dengan terbukanya lapangan pekerjaan dan peluang usaha dibidang budidaya serta terbukanya kawasan wisata kuliner.
Budidaya Larasati di Kabupaten Klaten sudah sangat berkembang terutama di kawasan minapolitan Desa Nila KALUNGHARJO (meliputi 8 desa di 3 kecamatan, yaitu Kecamatan Karanganom, Tulung, dan Polanharjo). Ikan konsumsi yang dihasilkan dipasarkan ke beberapa wilayah seperti Solo, Yogyakarta, Semarang, dan wilayah lain ex-Karesidenan Surakarta. Untuk wilayah Klaten sendiri terutama dipasarkan di kawasan wisata kuliner Janti dan Rowo Jombor. Sampai tahun 2010 jumlah rumah makan/pancingan yang menyajikan menu serba ikan di Janti berjumlah sekitar 45 buah dan menyerap tenaga kerja sekitar 250 orang, serta di Rowo Jombor berjumlah sekitar 25 buah dan menyerap tenaga kerja sekitar 250 orang.
Tabel 2. Target Produksi Perikanan Budidaya Provinsi Jawa Tengah Tahun 2010 – 2014
KOMODITAS
2010
2011
2012
2013
2014
Udang Windu
5.327
5.758
6.343
7.327
8.664
Udang Vaname
4.042
4.824
6.048
6.687
8.040
Rumput Laut
84.053
128.694
200.146
312.767
492.814
Kerapu
7
10
11
14
20
Bandeng
58.693
70.107
80.568
94.679
108.740
Kakap
Nila
29.449
37.763
46.732
57.681
65.965
Patin
750
1.431
2.354
3.335
5.009
Mas
5.997
6.746
7.643
8.707
10.377
Gurame
7.567
9.040
10.780
12.830
15.315
Lele
43.926
70.362
95.526
125.333
166.938
Lainnya
46.200
52.800
66.100
74.000
75.000
JUMLAH
286.011
387.535
522.251
703.360
956.882
Satuan : ton
Sampai dengan tahun 2014, proyeksi kebutuhan benih dan induk ikan Nila sangat besar agar target produksi yang telah direncanakan dapat tercapai.
Tabel 3.   Proyeksi Kebutuhan Benih dan Induk Ikan Nila Provinsi Jawa Tengah Tahun 2010 – 2014
Tahun
Target Produksi (ton)
Keb. Benih (ekor)
Keb. Induk (paket)
2010
29.449
110.434.000
614
2011
37.763
141.612.000
787
2012
46.732
175.245.000
974
2013
57.681
216.304.000
1.202
2014
65.965
247.369.000
1.375
1 paket induk = 300 ekor dan 100 ekor
Untuk mencapai target produksi di atas, Satker PBIAT Janti memiliki tugas untuk menyediakan benih dan calon induk berkualitas yang akan digunakan untuk memproduksi benih Larasati. Benih dan calon induk yang telah dihasilkan dari kegiatan pemuliaan (broodstock program) secara bertahap telah disebarluaskan kepada BBI Lokal dan UPR ke kabupaten/kota di Jawa Tengah. Diharapkan dengan penggunaan benih dan calon induk yang berkualitas akan mempercepat peningkatan produksi ikan Nila dan mendukung industrialisasi perikanan budidaya.
Selain release Larasati, pada tanggal 6 Januari 2011 Satker PBIAT Janti dinyatakan lulus Sertifikasi Cara Perbenihan Ikan Yang Baik (CPIB) dengan predikat SANGAT BAIK (EXCELLENT). Adanya release Larasati dan sertifikat CPIB menunjukkan jaminan mutu dari Satker PBIAT Janti dalam hal produksi benih dan calon induk yang berkualitas bagi masyarakat.
Info Pemesanan Calon Induk Nila :
Sutarno ( 085642203402 )
Toni Kuswoyo ( 085643146859 / 081392025819 )
Satker PBIAT Janti
Desa Janti, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. 552947.

Telp./Fax. (0272) 552947

Tidak ada komentar:

Posting Komentar