Rabu, 19 September 2018

Perilaku dan Gejala Ikan Sakit-

Perilaku dan Gejala Ikan Sakit-


Kesehatan ikan sangat penting untuk diperhatikan. Kondisi ikan yang tidak sehat jelas akan berpengaruh terhadap penampilan fisik bahkan dapat mengancam kelangsungan hidupnya. Ikan yang sakit menunjukkan suatu keadaan pada ikan yang sedang mengalami gangguan atau kelainan, baik fisik maupun perilakunya. Gangguan fisik dapat berupa luka karena gesekan antar ikan, insang membusuk, sisik tampak kusam, dan lain sebagainya. Di sisi lain, perilaku yang tampak adalah ikan lebih senang menyendiri, cenderung di permukaan air, gerakan lemah, dan menurunnya nafsu makan ikan. Secara umum gejala-gejala penyakit untuk ikan yang dibudidayakan dapat dilihat/ diamati dengan tanda-tanda sebagai berikut:
Adanya kelainan tingkah laku: misalnya salah satu atau beberapa ikan keluar dari kelompoknya dan cara berenangnya miring atau ”driving” (ikan yang berada dipermukaan langsung menuju dasar dengan cepat). Gejala demikian biasanya disebabkan oleh beberapa penyakit, antara lain: penyakit insang, penyakit sistem syaraf otak, keracunan bahan kimia logam berat, dan kekurangan vitamin.
Ikan tidak mau makan (perhatikan sudah berapa lama keadaaan ini terjadi), penyebabnya adalah: penyakit diabetes (oxodized fatty), kelebihan mineral yang berasal dari pakan dan kebosanan yang terjadi karena persediaan pakan sedikit.
Adanya kelainan pada bentuk ikan : hal ini terjadi pada rangka ikan dan permukaan tubuh ikan atau mata yang tidak normal disebabkan oleh bakteri dan parasit Trematoda Giganea
Sedangkan untuk organ-organ ikan bagian dalam, gejala-gejala penyakit dapat terjadi pada:
Insang berupa hilangnya insang dibeberapa bagian, disebabkan karena kekurangan darah dan keracunan, atau adanya parasit berupa ciliata dan monogenik.
Otak dimana terjadi pendarahan disebabkan oleh parasit Mycosporidia, Giganea sp, Streptococcus sp, dan Nocardia
Jantung akan menjadi tebal dan membesar, disebabkan oleh bakteri kelas Mycosporidia, membran jantung membesar karena diserang bakteri Streptococcus
Hati akan membesar atau mengecil, berwarna hijau/kuning, disebabkan oleh perubahan kadar lemak/LLD= Lipoid Liver Degeneration (fatty change liver desease). Jamur yang berasal dari pakan yang terkontaminasi dapat menyebabkan hati mengalami pendarahan, keras, dan mudah pecah.
Lambung dapat menjadi kembung, luka dan berlubang, disebabkan oleh parasit yang termasuk kelas Cestoda.
Usus berupa luka, pendarahan, keluar dari anus yang disebabkan oleh parasit dalam kelas Nematoda, Trematoda, Cestoda, dan Acanthocephala.
Limpa menjadi besar/kecil dan kekurangan darah, disebabkan oleh adanya penyakit di bagian lain.
Otot akan memiliki warna tidak jelas/putih, terjadi pendarahan, disebabkan oleh bakteri Nocardia atau serangan parasit Microsporidae.
Pengamatan visual terhadap kesehatan ikan secara teratur dapat dilakukan terhadap selera makan, tingkah laku, badan, warna, sirip dan mulut.

 1. Selera makan
Pemberian makan tidak teratur akan membuat ikan datang pada waktunya untuk makan. Jika tidak ada respon pada pakan maka perlu diwaspadai bahwa ikan tidak dalam keadaan baik, begitu pula jika pada hari berikutnya pakan masih dalam keadaan utuh.

2. Tingkah Laku
Pengamatan terhadap tingkah laku ikan sangat penting karena bersifat individual. Kelakuan yang normal untuk satu jenis ikan belum tentu normal untuk ikan lainnya. Oleh sebab itu, pengenalan tingkah laku setiap jenis ikan perlu pula diketahui. Sebagai contoh, ikan yang lemah atau berdiam saja perlu diperhatikan karena biasanya berenang secara aktif. Ikan yang mengapung dan diam umumnya menunjukkan gejala sakit. Ikan catfish yang biasanya berada didasar akan tidak wajar bila berdiri dengan kepala di atas dan berada di tengah kolam.

3. Badan
Badan yang bengkok akibat sakit atau cacat sejak menetas akan menyebabkan ikan berenang tidak stabil. Kembung karena sakit (dropsy) umumnya diikuti dengan warna yang agak pudar, sisik agak berdiri, dan ikan terlihat lemah atau tidak aktif.

4. Warna
Warna tubuh ikan tetap atau konstan dan kadang ada perubahan lebih cerah atau terang maupun lebih gelap pada saat berahi. Warna ini dapat pula digunakan sebagai petunjuk mendeteksi kesehatan ikan, khususnya bila diikuti oleh tanda-tanda lain. Warna yang abnormal disertai tanda khusus, seperti ikan bersembunyi, kurang aktif, dan kurang nafsu makan, menandakan ikan dalam kondisi sakit.

5. Mata
Jika mata yang tidak bergerak ada kemungkinan ikan dalam keadaan sakit, terutama bila diikuti dengan berenang yang cepat dan gemetaran (tidak stabil atau bergoyang-goyang).

6. Sirip
Ikan dengan cacat sirip bawaan seperti sirip bengkok atau pendek (pada ikan berjenis sirip panjang) akibat genetik sebaiknya tidak dipelihara, terutama untuk induk. Karena sirip yang demikian, umumnya akan diturunkan ke anaknya. Apabila cacat pada sirip disebabkan oleh penyakit maka umumnya sirip akan baik(normal) kembali. Namun, bila penyebabnya faktor genetik, sirip yang cacar tidak dapat normal lagi. Sirip dengan bercak merah merupakan tanda ikan terserang penyakit bakteri. Bila sirip melengkung pada ikan yang bersirip panjang, pertanda ikan sudah terlalu tua.

7. Mulut
Jika mulut berwarna keputihan, kemungkinan ikan terserang penyakit jamur. Sungut yang patah atau luka pada beberapa ikan umumnya diakibatkan kerusakan fisik (penanganan yang tidak baik) atau substrat yang tidak cocok. Sungut yang patah atau luka ini ada yang dapat dipulihkan dan dad yang tidak. Kondisi ikan yang sehat dapat diartikan sebagai suatu keadaan pada ikan yang tidak menunjukkan adanya kelainan baik fisik atau tingkah lakunya. Sebaliknya ikan yang sakit memperlihatkan suatu keadaan gangguan atau kelainan baik fisik atau tingkah lakunya. Kondisi stres karena kepadatan, malnutrisi, penanganan dan kualitas air yang buruk akan memicu timbulnya penyakit ikan.
Kualitas lingkungan yang buruk dan ikan yang stres mengakibatkan terganggunya sistem imunitas ikan, karena sebagian besar energi hasil mengkonsumsi pakan dialokasikam untuk penanganan stres dibandingkan untuk memproduksi sel-sel pertahanan tubuh. Selanjutnya kondisi seperti ini menjadi yang dimanfaatkan agen patogen sebagai ”port of entry” (pintu masuk) awal kejadian infeksi penyakit. Oleh karena itu maka sangatlah penting untukmenciptakan suatu kondisi lingkungan budidaya yang layak dan dapat memberikan kenyamanan hidup organisme kultur. Ini menunjukkan bahwa bagi para pembudidaya ikan hendaknya sebagai langkah awal dalam memulai usahanya adalah dengan sunggung-sungguh megenali dan memahami biologi ikan/biota akuatiknya.
Penyakit ikan diartikan sebagai suatu hal yang dapat menimbulkan gangguan fisik dan fungsi fisiologis (abnormalitas perilaku). Berikut ini beberapa tanda ikan yang dapat menjadi patokan akan adanya serangan penyakit yaitu:
Ikan terlihat pasif, lemah dan kehilangan keseimbangan tubuhnya sehingga cenderung mengapung di permukaan air.
Nafsu makan menurun, bahkan pada ikan yang sangat lemah tidak ada nafsu makan sama sekali.
Ikan mengalami kesulitan untuk bernafas (megap-megap) dan mempunyai reaksi lambat, sering dijumpai ikan tidak bereaksi sama sekali.
Tubuh ikan tidak licin lagi karena selaput lendir pada kulitnya berkurang atau habis, sehingga ikan menjadi mudah ditangkap.
Pada bagian-bagian tertentu dari tubuh ikan terlihat pendarahan, terutama di dada, perut dan pangkal sirip. Pendarahan ini menunjukkan bahwa tingkat serangan penyakit sudah tinggi.
Sisik terlihat menjadi rusak atau rontok. Pada serangan yang lebih hebat, kulit ikan tampak seperti melepuh.
Sirip punggung, dada dan ekor mengalami rusak dan pecah-pecah. Sering pula sirip hanya tinggal tulang yang kerasnya saja.
Insang mengalami kerusakan dan tidak berfungsi lagi, sehingga ikan sering terlihat mengalami kesulitan untuk bernafas. Warna insang yang semula merah segar berubah menjadi keputih-putihan atau kebiru-biruan.
Jika bagian perutnya dibelah akan terlihat organ hati menjadi berwarna kekuning-kuningan dan ususnya agak rapuh.
Ikan peliharaan yang mengalami kompetisi (persaingan) untuk memperoleh oksigen, pakan dan ruang gerak akan terlihat lambat pertumbuhannya.
Di kolam di mana terdapat organisme predator umumnya sulit dideteksi, karena tubuh ikan yang diserang akan habis dimangsa. Untuk mengetahui organisme predator perlu dilakukan pengamatan terhadap jenis ikan atau organisme predator lainnya yang ada di kolam.
Penyakit yang disebabkan oleh adanya senyawa beracun di dalam kolam umumnya sulit untuk diidentifikasi, sebab efek dari senyawa beracun ini terhadap ikan relatif cepat, sehingga pembudidaya sering terlambat untuk mengatasinya.
Untuk mencegah timbulnya penyakit pada ikan budidaya dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut :
Melakukan persiapan lahan yang benar, yaitu pengeringan, pengapuran dan pemupukan. Pengeringan bertujuan untuk memutus siklus hidup penyakit, dilakukan kira-kira selama tiga minggu sampai dasar kolam retak-retak. Pengapuran digunakan untuk menstabilkan pH tanah dan air serta dapat membunuh bakteri dan parasit. Pemupukan digunakan untuk menyuburkan kolam dan menumbuhkan fitoplankton sebagai pakan alami.
Menjaga kualitas air pada saat pemeliharaan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara treatment di kolam menggunakan probiotik secara teratur setiap hari. Probiotik akan mendegradasikan bahan organik, menguraikan gas beracun dan menekan pertumbuhan bakteri merugikan penyebab timbulnya penyakit.
Meningkatkan ketahanan tubuh ikan melalui kekebalan non spesifik dengan aplikasi immunostimulan secara teratur seperti vitamin, betaglukan dan lipopolisacaridae (LPS).
Sumber:
Dailami. D, A.S. 2002. Agar Ikan Sehat. Swadaya. Jakarta.
Effendi Irzal. 2004. Pengantar Akuakultur. Swadaya. Jakarta



Tidak ada komentar:

Posting Komentar