Kamis, 18 Februari 2016

Pemeriksaan Patogen Pada Ikan

Pemeriksaan Patogen Pada Ikan



Diagnosa adalah kegiatan untuk mengenali kelainan yang ada pada ikan sakit dan dilanjutkan dengan mengidentifikasi penyebabnya. Diagnosa klinik atau sering disebut sebagai diagnosa fisik merupakan cara pengenalan (diagnosa) penyakit berdasarkan pada gejala-gejala yang tampak (symptom). Diagnosa klinik didahului dengan pemeriksaan gejala klinik, dilakukan sejak ikan masih di dalam bak/keramba jaring apung. Pemeriksaan diarahkan pada perubahan tingkah laku abnormal seperti mengendap di dasar, berenang dengan posisi terbalik, adanya gerak tak terkoordinasi, menggesek-gesekan badan pada dinding bak dan perubahan-perubahan tingkah laku abnormal lainnya. Ahli penyakit memiliki 2 (dua) tugas utama di lapangan yaitu:
  1. Pemeriksaan atau peninjauan lapangan ke daerah yang terserang penyakit,
  2. Mengumpulkan sampel yang akan diperiksa di laboratorium untuk menemukan penyebab kematian.
Sejarah ikan mempunyai arti penting dalam diagnosa. Sejarah ikan yang meliputi status ikan dan riwayat kejadian penyakit mempunyai arti penting dalam diagnosa penyakit ikan.. Status ikan dapat berupa jenis atau spesies, populasi, umur, kelamin, ukuran dan berat, daerah asal (lokasi) pemeliharaan, serta sistem pengelolaan usaha budidaya yang diterapkan. Dalam riwayat/ ejarah kejadian perlu diketahui inseden (keberlangsungan) penyakit serta derajat kematian dan kesakitan. Data tersebut diperlukan sebagiai indikasi untuk penyebab penyakit tertentu (kualitas air, virus, bakteri, parasit, pakan, atau faktor-faktor lain). Hal-hal yang perlu diketahui pada saat terjadinya penyakit adalah sebagai berikut:
1..Morfologi
  • Tanggal mulai terjadinya kematian
  • Jumlah ikan mati per hari
2. Gejala ikan yang diserang
  • Tingkat kematian akut/ kronis
  • Karakteristik tingkah laku ikan
  • Tanda-tanda eksternal dari ikan
  • Tanda-tanda internal
3. Faktor lingkungan
  • Suhu air media pemeliharaan
  • Kekeruhan air
  • Konsentrasi oksigen terlarut
  • Konsentrasi ammonia dan pH media pemeliharaan
4. Metode pemeliharaan
  • Lokasi wadah pemeliharaan
  • Tingkat pertukaran air
  • Kepadatan ikan
  • Jenis obat atau zat kimia yang pernah dipakai
Prosedur diagnosa ikan sakit di lapangan adalah sebagai berikut:
  1. Pengukuran panjang dan berat ikan.
  2. Pengamatan tanda-tanda luar permukaan tubuh dan insang.
  3. Gunting lembaran insang dan ambil lendir tubuh untuk mendeteksi parasit di bawah mikroskop.
  4. Ambil contoh darah dari sirip dada menggunakan jarum suntik untuk pembuatan preparat apusan darah dengan menggunakan pewarnaan Giemsa.
  5. Isolasi jamur dengan menggunakan agar GY jika diduga terjadi infeksi jamur. Isolasi bakteri dari sirip atau insang dengan menggunakan Agar Cytophaga, jika diamati ada insang atau sirip yang membusuk.
  6. Isolasi bakteri dari luka dengan menggunakan Agar TS atau BHI, jika ikan memiliki borok atau ada pembengkakan pada permukaan tubuh.
  7. Bedah ikan dengan peralatan bedah yang bersih untuk membuka rongga perut dan amati tanda-tanda internal.
  8. Isolasi bakteri dari hati, ginjal dan limpa dengan menggunakan Agar TS atau BHI. Pembuatan preparat limpa pada kaca preparat dengan pewarnaan Giemsa untuk mendeteksi infeksi bakteri.
  9. Fiksasi setiap organ dengan larutan formalin 10% berpenyangga fosfat untuk histopatologi dan dalam etanol 70% untuk uji PCR.
Dalam memulai pemeriksaan sebaiknya diperiksa bagian luar tubuhnya, apakah terdapat makro parasit seperti lintah ataupun organisme dari jenis crustacea. Jika parasit telah diketahui maka langkah selanjutnya adalah menentukan seberapa parah serangan parasit dengan menentukan jumlah parasit per ikan. Jika ditemui parasit dalam jumlah sedikit sebetulnya masih dianggap wajar dan tidak mengganggu proses akuakultur. Jika jumlah parasit yang menyerang ikan sangat banyak maka perlu dilakukan tindakan lanjutan demi menghindari kematian pada ikan-ikan yang lain. Selanjutnya pemeriksaan ikan dapat dilanjutkan dengan mengeruk kulit dan insang ikan.
Ketepatan hasil pemeriksaan patogen pada ikan di laboratorium dipengaruhi oleh banyak hal. Untuk ketepatan diagnosa maka dari catatan diatas dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap kemungkinan adanya perubahan abnormal, meliputi pemeriksaan terhadap abnormalitas pada permukaan tubuh. Berupa kelainan anatomi dan anggota tubuh, warna kulit, keadaan lendir permukaan tubuh, sisik, keadaan anggota gerak dan kemungkinan terdapatnya ektoparasit kulit, perubahan abnormal insang berupa warna, lendir dan parasit atau benda asing pada ikan, abnormalitas mata.  Semua hasil diagnosa klinik dicatat di dalam sebuah kartu pemeriksaan atau Kartu Status Ikan yang digunakan sebagai sampel dalam pemeriksaan penyakit sebaiknya ikan hidup atau baru saja mati.  Sampel untuk setiap pemeriksaan penyakit sebaiknya berupa ikan sakit, ikan diduga sakit dan baru saja mati.
Banyaknya ikan contoh yang diambil tergantung pada kondisi kesehatan ikan. Pada populasi ikan sakit yang menunjukkan gejala klinis yang nyata dan seragam, maka jumlah contoh yang diambil bisa dalam jumlah yang tidak terlalu banyak (3-5 ekor). Contoh ikan yang diambil adalah ikan-ikan yang menunjukkan gejala klinis yang mewakili kondisi populasinya. Jika populasi ikan yang tidak sakit tidak menunjukkan gejala klinis yang nyata dan tidak seragam, maka dilakukan pengambilan contoh secara sampling. Jumlah contoh ditentukan dari jumlah populasinya serta prosentase asumsi tingkat prevalensinya dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Jumlah populasi (ekor)
Jumlah ikan yang disampling dengan asumsi tingkat prevalensi
2%
5%
10%
20%
30%
40%
50%
50
50
35
20
10
7
5
2
100
75
45
23
11
9
7
6
250
110
50
25
10
9
8
7
500
130
55
26
10
9
8
7
1.000
140
55
27
10
9
9
8
1.500
140
55
27
10
9
9
8
2.000
145
60
27
10
9
9
8
4.000
145
60
27
10
9
9
8
10.000
145
60
27
10
9
9
8
≥ 100.000
150
60
30
10
9
9
8
Salah satu hal penting dalam ketepatan hasil pemeriksaan patogen pada ikan adalah kondisi contoh/sampel pada saat tiba di laboratorium. Jika pengambilan contoh tidak dilakukan dengan benar maka hasil pemeriksaannya bisa saja salah. Pengambilan sampel ikan sedapat mungkin diusahakan dari ikan atau sekelompok ikan dengan gejala patogenik. Jumlah sampel ikan untuk pemeriksaan parasitologi diperlukan 10 – 15 ekor, bakteri dan virologi 3 – 10 ekor ikan sakit dan untuk pemeriksaan bahan pencemar akibat pencemaran diperlukan sampel sejumlah 2 – 3 ekor. Jika ikan sakit dan terjadi kematian, untuk diagnosa harus dikirim segera ke laboratorium terdekat. Beberapa cara pengiriman sampel ikan sakit, adalah:
  1. Pengiriman Sampel Ikan Hidup (untuk seluruh pemeriksaan).
  • Pengepakan ikan sehat dan ikan sakit dipisahkan
  • Sampel ikan dengan kantong plastik diangkut dan diberi oksigen, atau dapat pula menggunakan aerasi bila waktu tempuh tidak terlalu lama.
  • Apabila kondisi cuaca saat pengangkutan panas, sebaiknya pengangkutan menggunakan kotak styrofoam atau termos yang diisi es(suhu diatur 22 – 24 0C)
     2. Pengiriman sampel ikan dengan es (untuk pemeriksaan parasit dan bakteri)
  • Pisahkan pengepakan ikan sehat dan ikan sakit
  • Tiriskan satu persatu disimpan dalam plastik
  • Masukan dalam kotak styrofoam yang telah diisi dengan es
Pemeriksaan parasit yang rutin tentunya adalah bagian yang penting dari manajemen kesehatan ikan dan jika memungkinkan dilakukan dilakukan secara regular. Penting sekali untuk mengetahui jenis-jenis parasit penting yang menyerang ikan karena akan menentukan metode pengobatannya kelak. Khususnya dalam pemeliharaan udang, diagnosis merupakan tindakan yang menentukan keberhasilan dalam usaha pengendalian penyakit. Diagnosis penyakit pada udang dapat dilakukan melalui dua metode yaitu diagnosis sementara dan diagnosis definitif.
  1. Diagnosis Sementara (Presumptive)
Diagnosis sementara adalah diagnosis yang didasarkan pada pengamatan perubahan tingkah laku dan gejala klinis. Pada prinsipnya hampir tidak mungkin mendiagnosis penyakit udang hanya didasarkan terhadap tingkah laku dan gejala klinis semata. Gejala klinis hanyalah indikator yang memungkinkan kita untuk menduga permasalahan yang sedang terjadi. Disamping itu diperlukan informasi pendukung, antara lain:
  • Pengamatan terhadap perubahan tingkah laku seperti udang menunjukkan peningkatan nafsu makan kemudian diikuti dengan kehilangan nafsu makan. Perubahan tingkah laku antara lain: mendekat ke aliran air masuk atau permukaan air, menyendiri, mengarah ke pematang kolam dan berenang abnormal.
  • Pengamatan kondisi fisik udang. Kegiatan ini dapat dilakukan di petak kolam atau udang ditempatkan dalam wadah yang mudah diamati untuk melihat adanya bintik putih.
  • Pengamatan perubahan kualitas air, terutama terhadap parameter kunci seperti suhu, oksigen terlarut, pH, salinitas, alkalinitas, kesadahan, ammonia dan nitrit.
  • Diagnosis lanjut, udang dapat diangkat dari air untuk pengamatan yang lebih detail secara mikroskopis. Untuk diagnosis lanjut, perlu diambil sample udang dan dikirim ke laboratorium referensi (Laboratorium Riset Kesehatan Ikan Pasar Minggu, Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut gondol, Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau Jepara, Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung, dan Balai Perikanan Budidaya Air Payau Situbondo).
2. Diagnosis Definitif
Diagnosis defenitif adalah diagnosis yang didasarkan pada hasil pengujian di laboratorium dengan berbagai teknik seperti:
  • Pengamatan karapas udang dengan menggunakan mikroskop.
  • Mikroskop elektron.
  • DNA probes.
  • Polymerase Chain Reaction (PCR).
Dari keenam teknik tersebut, sejauh ini PCR merupakan teknik diagnosis yang cepat dan tepat dalam mendeteksi patogen penyebab bercak putih. Selain itu, teknik PCR sudah banyak digunakan oleh masyarakat.
Sumber:
Dailami. D, A.S. 2002. Agar Ikan Sehat. Swadaya. Jakarta.

Effendi Irzal. 2004. Pengantar Akuakultur. Swadaya. Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar