Rabu, 20 April 2016

Faktor Penyebab Penyakit Pada Ikan



Penyakit ikan adalah suatu bentuk abnormalitas dalam struktur atau fungsinya yang disebabkan oleh organisme hidup melalui tanda-tanda yang spesifik. Sedangkan menurut Sachlan dalam Afrianto (1992), penyakit ikan adalah segala sesuatu yang dapat menimbulkan gangguan pada ikan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengetahuan tentang penyakit ikan dirasakan sangat penting ketika telah menyebabkan kegagalan dan kehilangan yang sangat bermakna pada usaha budidaya ikan.  Penyakit ikan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
  1. Penyakit Parasiter/ Infektif (Infectious Disease) adalah penyakit yang disebabkan oleh aktivitas organisme parasit. Organisme yang sering menyerang ikan peliharaan antara lain virus, bakteri, jamur, protozoa, golongan cacing dan udang renik. Bakteri dan virus akan menyebabkan infeksi pada ikan budidaya, sementara yang disebabkan oleh parasit akan mengakibatkan investasi pada ikan budidaya.
  2. Penyakit Non Parasiter/ Non Infektif (Non Infectious Disease) adalah penyakit yang disebabkan bukan oleh hama maupun organisme parasit. Penyakit ini dapat dikelompokkan menjadi tiga berdasarkan faktor penyebabnya.
A. Lingkungan
Penyakit non parasiter yang disebabkan oleh faktor lingkungan yang kurang menunjang bagi kehidupan ikan, antara lain pH air terlalu tinggi/ rendah, kandungan oksigen terlarut terlalu tinggi/rendah, perubahan temperatur air secara tiba-tiba, adanya gas beracun hasil penguraian bahan organik (gas metan, ammonia atau asam belerang), adanya polusi dari pestisida (insektisida atau herbisida), limbah industri atau limbah rumah tangga. Dalam budidaya laut khususnya, penyebab penyakit non parasiter (non infektif/infectious disease) akibat lingkungan dapat berupa:
  • Faktor Kimia dan Fisika, antara lain: perubahan salinitas air secara mendadak; pH yang terlalu rendah (air asam), pH yang terlalu tinggi (air basa / alkalis); kekurangan oksigen dalam air; zat beracun, pestisida (insektisida, herbisida dan sebagainya); perubahan suhu air yang mendadak; kerusakan mekanis (luka-luka); perairan terkena polusi.
  • Stres: stres yang terjadi pada ikan berkaitan dengan timbulnya penyakit pada ikan tersebut. Stres merupakan suatu rangsangan yang menaikan batas keseimbangan psikologi dalam diri ikan terhadap lingkungannya. Biasanya stres pada ikan diakibatkan perubahan lingkungan akibat beberapa hal atau perlakuan misalnya akibat pengangkutan/ transportasi ikan-ikan yang dimasukan kedalam jaring apung di laut dari tempat pengangkutan biasanya akan mengalami shock, berhenti makan dan mengalami pelemahan daya tahan terhadap penyakit.
  • Kepadatan Ikan: Kepadatan ikan yang melebihi daya dukung perairan (carrying capacity) akan menimbulkan persaingan antar ikan tinggi, oksigen terlarut menjadi rendah dan sisa metabolisme seperti ammonia akan meningkat sehingga dapat menimbulkan stres dan merupakan penyebab timbulnya serangan penyakit.
B. Pakan/ Nutrisi
Salah satu penyakit non parasiter akibat pakan adalah kelaparan. Kelaparan merupakan kekurangan nutrisi yang bersifat absolut. Kelaparan pada ikan menunjukkan gejala seperti anemia dan hambatan pertumbuhan. Contoh lainnya adalah penyakit yang disebabkan karena kualitas pakan yang diberikan kurang baik (malnutrition) antara lain karena kekurangan vitamin, gizinya rendah, bahan pakan yang digunakan telah busuk atau mengandung racun.
C. Turunan
Penyakit yang disebabkan oleh turunan, misalnya bentuk fisik dan kelainan- kelainan tubuh yang sudah ada sejak lahir, seperti tubuh bengkok, larva ikan yang cacat, sisik tidak lengkap atau sirip melengkung. Bentuk fisik dan kelainan-kelainan tubuh yang disebabkan oleh keturunan, dimana faktor keturunan sangat berpengaruh langsung terhadap penampilan fisik ikan. Untuk mencegahnya harus dilakukan seleksi induk yang ketat pada saat melakukan breeding. Variasi genetika ini juga dapat menyebabkan terjadinya kanibalisme, tutup insang yang tidak dapat menutup sempurna, ikan menjadi kerdil dan cacat. Berdasarkan daerah penyerangannya pada tubuh ikan, penyakit yang disebabkan oleh parasit dapat dibedakan lagi menjadi 3 (tiga) kelompok, yaitu:
1) Penyakit pada Kulit dan Sisik
Kulit dan sisik merupakan pertahanan pertama dan utama terhadap infeksi penyakit, karena bagian ini menghasilkan lendir (mucus) yang berasal dari ikatan antara air dengan glycoprotein yang terletak di bagian epidermis. Secara khusus, fiungsi kulit dan sisik adalah untuk melindungi jaringan dan organ yang berada di bawahnya dari infeksi penyakit. Kulit dan sisik menjadi indikator untuk kesehatan ikan.
Penyakit atau parasit yang menyerang kulit ikan mudah untuk dideteksi. Jika organisme penyebabnya berukuran cukup besar, maka dengan mudah langsung diidentifikasi. Tetapi jika berukuran kecil harus diidentifikasi dengan menggunakan mikroskop atau dengan mengamati akibat yang ditimbulkan oleh serangan organisme tersebut. Organisme yang menyerang sisik dan kulit ikan biasanya berasal dari golongan bakteri, virus, jamur atau lainnya. Jika disebabkan oleh jamur, biasanya akan gterlihat bercak-bercak putih, kelabu atau kehitam-hitaman pada kulit ikan.
Ikan yang terserang penyakit pada kulitnya akan terlihat lebih pucat (tampak jelas pada ikan yang berwarna gelap), luka, inflamasi (peradangan), pendarahan (haemorrhages) dan perubahan abnormal produksi lendir. Ikan tersebut biasanya akan menggosok-gosokkan tubuhnya ke benda-benda yang ada di sekitarnya. Infeksi Argulus di permukaan tubuh ikan sebagai bentuk serangan penyakit pada kulit dan sisik dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Infeksi Argulus sp. pada ikan (kiri) dan morfologi Argulus sp. (kanan)
2) Penyakit pada Insang
Insang merupakan struktur dasar pernafasan ikan. Hubungan langsung antara insang dan infeksi penyakit dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu : insang berhubungan langsung dengan lingkungan luar, mempunyai kemampuan dalam penyerapan nutrisi dari lingkungan luar, mempunyai bentuk dan struktur seragam sehingga kemampuan dalam pencegahan infeksi sangat terbatas. Penyakit atau parasit yang menyerang organ insang agak sulit dideteksi secara dini karena menyerang bagian dalam ikan.
Salah satu cara yang dianggap cukup efektif mengetahui adanya serangan penyakit atau parasit pada ikan adalah mengamati pola tingkah laku ikan. Serangan penyakit ini akan menyebabkan ikan sulit bernafas, tutup insang mengembang dan warna insang menjadi pucat. Pada lembaran insang sering terlihat bintik-bintik merah karena pendarahan kecil (peradangan). Jika terlihat bintik putih pada insang, kemungkinan besar disebabkan oleh serangan parasit keci yang menempel. Contoh serangan penyakit pada insang yang menyerang benih ikan koi dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Penyakit pada insang ikan Koi
3) Penyakit pada Organ Dalam
Penyakit yang menyerang organ dalam sering mengakibatkan perut ikan membengkak atau menjadi kurus dengan sisik-sisik yang berdiri (penyakit dropsy). Jika pada kotoran ikan ditemukan bercak darah, ini berarti usus ikan sudah mengalami pendarahan (peradangan). Jika serangannya sudah mencapai gelembung renang biasanya keseimbangan badan ikan menjadi terganggu sehingga gerakan berenang ikan menjadi tidak terkendali.
Secara teori, diketahui bahwa ikan mempunyai sistem pencernaan yang saling berhubungan dan bersifat causalitas (sebab akibat). Penyakit dropsy merupakan akibat dari infeksi virus, bakteri (contoh bakteri Myxobacter) dan parasit. Kondisi air akuarium yang tidak bagus (seperti akibat terjadinya akumulasi nitrogen) dapat memicu terjadinya gejala dropsy. Secara alamiah, bakteri penyebab dropsy kerap dijumpai dalam lingkungan akuarium, tetapi biasanya dalam jumlah normal dan terkendali. Perubahan bakteri ini menjadi patogen, biasa terjadi karena akibat masalah osmoregulator pada ikan, atau karena hal-hal seperti: kondisi lingkungan yang memburuk, menurunnya fungsi kekebalan tubuh ikan, malnutrisi atau karena faktor genetik. Infeksi utama biasanya terjadi melalui mulut, yaitu ikan secara sengaja atau tidak memakan kotoran ikan lain yang terkontaminasi patogen atau akibat kanibalisme terhadap ikan lain yang terinfeksi. Tiga tingkatan serangan penyakit yang mungkin terjadi adalah :
  • Akut: Infeksi terjadi dengan cepat sehingga ikan mati tanpa menunjukan gejala yang jelas.
  • Kronis: infeksi terjadi secara perlahan secara sistemik dan menunjukan berbagai gejala yaitu pembangkakan rongga tubuh, yang biasanya disertai ulcer dan atau exophthalmia.
  • Laten: infeksi terjadi sangat lemah sehingga ikan tampak tidak menunjukan gejala penyakit, tetapi berpotensi sebagai pembawa (carrier)
Jika salah satu organ dalam dari tubuh ikan mulai terinfeksi patogen/penyakit maka kemungkinan besar organ lain akan ikut terinfeksi patogen. Jika menyerang usus ikan, biasanya akan mengakibatkan peradangan, dan jika menyerang gelembung renang, ikan akan kehilangan keseimbangan pada saat berenang. Berdasarkan daerah serangannya, ada parasit yang menimbulkan penyakit di bagian luar tubuh ikan disebut ektoparasit, sedangkan yang menyerang bagian dalam tubuh disebut endoparasit.  Ektoparasit biasanya menyerang insang dan permukaan tubuh, sedangkan endoparasit menyerang organ-organ dalam. Serangan endoparasit dianggap lebih berbahaya dibandingkan dengan serangan ektoparasit, karena efek serangannya sulit dideteksi secara dini, sehingga pembudidaya ikan sering terlambat untuk mencegahnya. Pada gambar berikut ini adalah contoh serangan ektoparasit dan endoparasit pada ikan.

Serangan Ektoparasit (Kiri) dan Endoparasit (Kanan)
Penyakit pada ikan merupakan gangguan pada fungsi atau struktur organ atau bagian tubuh ikan. Penyakit pada ikan dapat muncul akibat adanya faktor-faktor yang tidak sesuai dengan syarat hidup ikan. Umumnya, serangan penyakit pada ikan terjadi akibat kelalaian manusia yang membiarkan kondisi yang tidak seimbang atau tidak harmonis dalam hubungan mata rantai kehidupan ikan, parasit dan lingkungan. Jika keadaan ini tidak mendapat perhatian serius maka akan mengganggu kesehatan ikan. Ikan akan mudah terserang penyakit dan mengakibatkan kematian.
Kerugian yang timbul akibat serangan suatu penyakit dapat berbentuk kematian, pertumbuhan yang lambat bahkan tidak normal, atau produksi benih yang menurun. Dengan demikian, kegagalan usaha budidaya ikan akibat penyakit tidak hanya disebabkan oleh faktor tunggal saja, tetapi merupakan hasil interaksi yang sangat kompleks antara ikan budidaya (kualitas, stadia rawan), lingkungan budidaya (intern dan ekstern) dan organisme penyebab penyakit serta kemampuan dari pelaksana atau budidayawan itu sendiri. Pada intinya, kesehatan ikan dapat menjadi terkontrol jika semua aspek lingkungan telah terkontrol pula. Pada gambar dibawah ini dapat dilihat 2 (dua) contoh penyakit patogen yang menimbulkan infeksi pada ikan.

Morfologi Ichtyophtirius multifilis (kiri) dan Ikan yang terinfeksi (kanan)

Lendir ikan yang terinfeksi (kiri) dan morfologi Trichodina sp. (kanan)
Ikan yang pernah terserang penyakit dapat pula menjadi sumber penyakit karena fungsinya menjadi agen (perantara) terhadap timbulnya penyakit baru di kemudian hari jika tidak segera ditangani atau diobati secara tuntas. Secara garis besar kondisi ikan sakit atau penyakit digolongkan menjadi 2 (dua) kelompok penyebab penyakit ikan yang harus selalu diwaspadai oleh para pembudidaya ikan dan hobiis (kolektor) ikan, yaitu kelompok penyakit patogen dan kelompok penyakit non patogen.
Kelompok penyakit patogen diartikan sebagai kelompok penyakit yang disebabkan oleh jasad hidup berupa parasit, jamur, bakteri dan virus dan biasanya menyebabkan infeksi pada ikan yang diserangnya. Sedangkan kelompok non patogen adalah kelompok penyakit yang disebabkan oleh bukan jasad hidup, antara lain disebabkan oleh perubahan lingkungan seperti kepadatan ikan terlalu tinggi, variasi lingkungan (oksigen, suhu, pH, salinitas, dsb.), biotoksin (toksin alga, toksin zooplankton, dsb.), polutan, rendahnya mutu pakan, dan lain-lain. Beberapa hal yang penting untuk diketahui dari kelompok penyakit patogen adalah :
  1. Karakteristik khusus yang terdapat pada penyakit patogen adalah kemampuan untuk menularkan penyakit (transmisi) dari satu ikan ke ikan lain secara langsung dan menimbulkan infeksi. Penularan ini dapat terjadi secara horisontal dan vertikal. Secara vertikal yaitu penyakit ditransfer oleh induk ke anakan melalui sperma atau sel telur dan secara horisontal melalui media pemeliharaan, pakan, peralatan, ataupun organisme lainnya yang ada di wadah budidaya.
  2. Penyakit patogen yang bersifat infektif di atas, dapat dilihat dari adanya gejala klinis (umum) dan gejala khas yang ditimbulkannya. Gejala klinis adalah gejala akibat gangguan patogen yang ditunjukkan oleh adanya kelainan pada tubuh (seperti luka pada kulit, sirip rontok dan adanya pendarahan) dan kelainan perilaku ikan (seperti ikan memisahkan diri dari kelompoknya, terlihat megap-megap ke permukaan air, tubuh tampak lemah dan gerakan yang lambat). Sedangkan gejala khas adalah gejala klinis yang sifatnya khas untuk suatu jenis penyakit, seperti penyakit mata menonjol yang disebabkan oleh mycobacterioph.
  3. Pada dasarnya dari berbagai sebab timbulnya infeksi pada ikan ada 2 (dua) penyebab utama, yaitu: 1) Living Agent (penyebab hidup) antara lain serangan hama, insekta atau jenis-jenis serangga tertentu, berbagai jasad renik seperti virus, bakteri, protozoa dan berbagai jenis cacing. 2) Nonliving Agent yaitu infeksi yang bukan disebabkan oleh organisme hidup (penyebab tidak hidup) seperti perubahan temperatur dan kualitas air, keracunan zat kimia akibat pencemaran, keracunan bahan pakan, dan lain-lain.
  4. Untuk kelompok patogen dari golongan parasit (organisme yang menumpang pada organisme lain) yang mempunyai sifat mengambil bahan makanan dan energi dari organisme yang ditumpanginya (inang) untuk memenuhi kebutuhan metabolismenya. Akibatnya inang akan sakit akibat pertumbuhannya terhambat oleh parasit. Berdasarkan daerah penyerangannya pada tubuh ikan, dikenal external parasites (ektoparasit) dan internal parasites (endoparasit). Ektoparasit menyerang bagian sebelah luar ikan. Walaupun kedua jenis parasit itu sama-sama merugikan, akan tetapi diduga endo-parasit lebih berbahaya dan sulit disembuhkan dibanding ekto-parasit.
  5. Organisme parasit dapat dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu patogen asli (true patogen) dan patogen potensial (opportunistic patogen). Patogen asli adalah organisme parasit yang selalu menimbulkan penyakit khas apabila ada kontak dengan ikan. Patogen potensial adalah organisme parasit yang dalam keadaan normal hidup damai dengan ikan, akan tetapi jika kondisi lingkungan menunjang akan segera menjadi patogen (penyebab suatu penyakit).
  6. Kejadian penyakit akibat parasit pada ikan terkait dengan hubungan antara organisme yang disebut simbiosis (hidup bersama), di mana dikenal 3 (tiga) bentuk simbiosis yaitu:
  • Simbiosis komensalisme, dimana kedua organisme saling diuntungkan.
  • Simbiosis mutualisme, terjadi dimana salah satu organisme diuntungkan dan organisme lain tidak dirugikan tetapi memerlukan organisme lain untuk hidup.
  • Simbiosis parasitisme, terjadi hubungan yang terjadi satu arah dimana salah satu organisme (parasit) diuntungkan tetapi organisme lain dirugikan (ikan).


Sumber:

Afriantono, E dan Evi Liviawaty. 1992. Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan. Kanisius, Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar