Senin, 25 April 2016

“Mengenal Bakteri Patogen Pada Ikan”

“Mengenal Bakteri Patogen Pada Ikan”


Bakteri merupakan jasad renik yang kira-kira duapuluh kali lebih kecil dari sel jamur, protozoa atau sel daging ikan. Penyakit bakterial pada ikan merupakan salah satu penyakit yang dapat menimbulkan kerugian yang tidak sedikit. Selain dapat mematikan ikan penyakit ini dapat mengakibatkan menurunnya kualitas daging ikan yang terinfeksi. Sebagian besar bakteri sebenarnya tidak menyebabkan penyakit, tetapi bakteri mempunyai mempunyai kemampuan memperbanyak diri sangat cepat, apalagi jika bakteri tersebut berada dalam bagian tubuh hewan. Bakteri patogen pada ikan dapat bersifat sebagai infeksi primer atau infeksi sekunder/ kedua.
Dalam suatu kondisi dimana kadar bahan organik pada air sangat tinggi, akan banyak terdapat bakteri patogen. Bahkan beberapa peneliti mengatakan bahwa bakteri mikroflora yang banyak kedapatan pada usus ikan akan sesuai jenisnya dengan bakteri yang ada dalam lingkungan perairan tersebut. Namun demikian ada beberapa bakteri yang tidak dapat hidup lama di luar tubuh inangnya. Penyakit akibat infeksi bakteria di Indonesia ternyata dapat mengakibatkan kematian sekitar 50 – 100%. Infeksi penyakit yang sering terjadi antara lain pada budidaya ikan lele, ikan mas, ikan hias dan ikan gurame. Pada usaha pembesaran ikan gurame antara lain dikenal dengan istilah penyakit “tuberculosis”. Penyakit tersebut biasanya ditunjukkan dengan gejala-gejala klinis antara lain luka dan pendarahan pada kulit, mata menonjol, bisul pada tubuh, pendarahan pada pangkal sirip. Salah satu gejala yang sangat spesifik adalah adanya bintil-bintil (tubercle) berwarna putih, biasanya terdapat pada daging, ginjal, hati, limfa dan mata. Penyakit bakteri pada ikan ini cukup banyak menimbulkan kerugian selain menurunkan mutu daging ikan juga akhirnya dalam tingkatan yang akut akan menyebabkan kematian ikan. Kematian yang ditimbulkannya menurut para pembudidaya ikan dapat mencapai 50 – 60%.
Bakteri yang dapat menginfeksi ikan dikenal ada bermacam-macam bentuk dimana masing-masing bentuk akan memberikan gambaran efek infeksi yang berlainan. Bentuk-bentuk bakteri yang bersifat patogenik bagi ikan adalah: bakteri berbentuk bulat (coccus), bentuk bulat bergabung dua sel (diplococcus), bakteri bentuk bulat bergabung seperti rantai (streptococcus), bakteri bulat berkelompok beberapa sel (staphylococcus), bakteri berbentuk batang (bacillus), bakteri berbentuk koma (vibrio). Infeksi bakteri biasanya timbul jika menderita stres. Kematian banyak terjadi pada ikan yang menderita stres karena serangan bakteri yang menyebabkan infeksi. Gejala akibat infeksi bakteri secara keseluruhan sangat susah untuk dibedakan dengan gejala akibat infeksi virus. Gejala-gejala tersebut pada umumnya tergantung sampai stadium mana tingkat infeksinya dan gejala umum yang sering ditemukan antara lain sebagai berikut:
  1. Gerakan ikan lemah.
  2. Produksi lendir berkurang karena setelah ikan terinfeksi akan mengeluarkan lendir yang berlebihan.
  3. Timbul pendarahan dan nekrosa pada tempat infeksi.
  4. Luka (ulcer) di tempat infeksi.
  5. Beberapa bakteri menyebabkan rontok pada insang dan sirip.
  6. Bengkak pada perut dan mengeluarkan cairan kuning darah (dropsy).
  7. Mata menonjol (exophthalmos).
  8. Beberapa bakteri dapat menghasilkan “tubercle” atau “granuloma” pada bagian tubuh yang terinfeksi.
Bakteri yang biasanya menginfeksi ikan lebih banyak tergolong pada bakteri gram negatif. Tetapi bakteri gram positif juga ada yang dapat menginfeksi ikan seperti treptococcus sp. dan Mycobacterium spp. Beberapa contoh bakteri yang biasanya menginfeksi ikan antara lain adalah:
  1. Penyakit Columnaris (luka kulit, sirip dan insang)
Penyebab: Flexibacter columnaris (Syn: Flavobacterium columnare).
Bio-Ekologi Patogen: bakteri gram negatif, aerobik, berbentuk batang kecil dengan lebar 0,5 mikron dan panjang 12 mikron. Bakteri tersebut bergerak secara merayap seperti ulat, bentuk koloninya pipih dengan permukaan koloni yang tidak teratur (irregular), tumbuh pada media campuran pepton yang ditambah 1% media agar.
Epizootiology: merupakan penyebab dari penyakit Columnaris. Sifat serangannya bisa kronik, akut atau perakut, dan biasanya terjadi pada level suhu diatas 18oC, dan infeksi jarang terjadi pada keadaan pH rendah dan kandungan bahan organik yang rendah. 

Penyakit Columnaris pada Insang
Gejala klinis: Lecet (lesi) biasanya terjadi pada kulit badan atau bagian kepala atau pada insang, yang dimulai seperti bintik putih yang kemudian berkembang menjadi pendarahan. Infeksi di sekitar mulut, terlihat seperti diselaputi benang (thread-like), sehingga sering disebut penyakit “jamur mulut”. Di bagian pinggir luka tertutup oleh lendir (pigmen) berwarna kuning cerah. Infeksi pada insang biasanya langsung menimbulkan nekrosa dan kematian akan cepat terjadi akibat insang yang rontok.
Penanggulangan: Sebaiknya ditujukan lebih pada tindakan pencegahan yaitu dengan perbaikan kondisi lingkungan, mempertahankan kualitas air, mengurangi kandungan bahan organik dalam air dan penambahan oksigen. Pada gambar dibawah ini dapat dilihat contoh infeksi Flexibacter columnaris dan insang ikan yang diserangnya.
  1. Penyakit Merah
Penyebab : Aeromonas hydrophila adalah salah satu spesies bakteri yang terdapat di hampir seluruh lingkungan perairan tawar maupun payau, bahkan pada feces mammalian, katak dan manusia. Bakteri ini bersifat gram negatif, bentuk batang 0,7 – 0,8 mikron x 1,0 – 1,5 mikron, bergerak dengan menggunakan polar flagella, cytochrom oksidase positif, fermentative dan oksidatif. Bakteri ini tumbuh pada kondisi air tawar, terutama pada kondisi kandungan bahan organik tinggi.

Penyakit Merah pada Ikan Mas
Epizootiology : Aeromonas hydrophila dikenal dengan penyebab penyakit merah, bersifat septisemik, biasanya sebagai infeksi kedua. Tetapi hasil penelitian Hayes (2000) menunjukkan bahwa A. hydrophila sebagai bakteri patogen pada ikan dapat berperan baik sebagai patogen primer maupun sekunder. Sifat serangannya sangat bergantung pada spesies inang dan virulensi strain bakteri. Cara penularan penyakit ini secara horizontal (antar individu-individu dalam satu spesies) atau berbeda spesies dalam suatu populasi dan atau komunitas) tetapi tidak secara vertical (dari induk kepada keturunannya). Pada umumnya penyakit ini akan timbul pada ikan yang penanganannya kurang sempurna, pakan yang kurang tepat baik mutu maupun jumlahnya, banyak terinfeksi oleh parasit, serta air kolam yang terlalu subur, serta zat asam yang sangat rendah.
Gejala klinis: warna ikan menjadi lebih gelap, nafsu makan berkurang atau hilang, bergerombol dekat saluran pembuangan, dan kadang-kadang timbul luka pada kulit jadi kemerah-merahan. Jika kita membedah ikan yang terinfeksi gejala yang ditunjukkannnya adalah hatinya berwarna pucat, dan pendarahan terjadi pada organ dalam seperti hati, ginjal, limpa dan gelembung udara.
Penanggulangan: manajemen budidaya yang baik, mengurangi kesuburan kolam, serta pemberian pakan yang tepat baik jumlah maupun mutunya.
  1. Penyakit Furunculosis
Penyebab: Aeromonas salmonicida adalah bakteri gram negatif, tidak bergerak, dengan ukuran 0.8-1.0 x 1.5-2.0 mikron. Bakteri memiliki 3 subspecies yaitu A. salmonicida ssp salmonicida yang memproduksi pigmen coklat, A. salmonicida ssp achromogenes tidak memproduksi pigmen coklat dan tidak mereduksi nitrat, A. salmonicida ssp masoucida yang tidak memproduksi pigmen coklat tetapi memproduksi indol dan H2S.

Penyakit Furunculosisi
Habitat: Ikan-ikan air tawar merupakan pembawa penyakit. Bakteri tidak hidup lama diluar tubuh inangnya. Bakteri tersebut dapat menginfeksi ikan salmonid dan non-salmonid.
Distribusi: Aeromonas salmonicida, merupakan penyakit yang daerah sebarnya cukup luas hampir seluruh dunia terutama daerah yang banyak memelihara ikan salmon.
Epizootiology: Ikan yang terinfeksi berat (acute) oleh penyakit ini kebanyakan akan mati dalam waktu 2-3 hari. Patogen dapat hidup pada air tawar sekitar 19 hari, sedangkan pada air payau antara 16 – 25 hari sedangkan pada air laut dapat aktip kembali antara 24 jam sampai 8 hari Efek patologi dari penyakit ini dikatakan karena diproduksinya ekstrak luaran sel (ECP) oleh patogen tersebut yaitu leucocytolytic yang dapat merusak leucocyte yang akan mengakibatkan leucopenia.
Gejala klinis: Ikan yang terinfeksi akan menunjukkan gejala lecet dan luka serta borok pada kulit sehingga akan menurunkan mutu daging. Dari organ yang terluka apabila larut kedalam air maka akan dapat menginfeksi inang yang cocok.
  1. Penyakit Vibriosis
Penyebab: Vibrio spp., bakteri ini memiliki ukuran 0,5 x 1,0 – 2,0 mikron, bersifat gram negatif, berbentuk batang bisa lurus maupun bentuk koma, bergerak dengan menggunakan polar flagella, fermentative dan cytochrom oksidase positif, sensitif terhadap vibriostat 0/129 (pteridine). Vibriosis merupakan penyakit sekunder, artinya penyakit ini muncul setelah adanya serangan penyakit lainnya misalnya protozoa atau penyakit lainnya.

Ikan yang Terserang Bakteri Vibrio spp.
Habitat: sumber utama adalah species ikan laut sebagai pembawa, namun bakteri ini juga telah ditemukan pada invertebrata dan benthos. Tumbuh hampir disegala media umum yang mengandung NaCl 1-1,5%.

Epizootiology: Vibriosis merupakan penyakit yang potensial bagi ikan laut, baik yang dibudidayakan maupun bagi ikan liar. Sebetulnya pada keadaan normal bakteri tsb merupakan mikroflora pada usus ikan air laut. Suhu ambang untuk terjadinya wabah tergantung dari species ikan msalnya untuk salmon dan turbot pada level suhu 10 – 11oC. Kematian yang diakibatkannya dapat mencapai 50% terutama apabila terjadi pada ikan yang berumur muda. Vibriosis merupakan penyakit sekunder, artinya penyakit ini muncul setelah adanya serangan penyakit yang lain misalnya protozoa atau penyakit lainnya.
Gejala klinis: anorexia, warna tubuh menjadi gelap, warna insang pucat. Pada infeksi akut ikan akan menunjukkan gejala tubuh membengkak, luka pada kulit yang mengeluarkan nanah. Pada infeksi kronik akan terbentuk granuloma, dan pendarahan pada rongga perut.
Penanggulangan: lebih ditujukan pada pencegahan yaitu dengan vaksinasi dan seleksi ikan yang tahan terhadap infeksi penyakit.
Pengobatan: Pemberian Sulphonamides 0,5 gram per kg pakan ikan selama 7 hari, atau Chlorampenicol sebanyak 0,2 gram per kg berat pakan ikan selama 4 hari. Jika ikan tidak mau makan, cobalah dengan pengobatan melalui perendaman menggunakan Nitrofurozon 15 ppm selama lebih kurang 4 jam atau dengan Sulphonamides 50 ppm selama lebih kurang 4 jam.
  1. Penyakit Edwardsiellosis
Penyebab: Edwardsiela tarda, bakteri bersifat gram negatif berbentuk batang dan bergerak dengan menggunakan flagella, bersifat fermentatif dan mampu memproduksi H2S. Sampai saat ini penyakit ini telah dilaporkan dapat menginfeksi hampir semua jenis ikan termasuk salmon, chanel catfis, ikan mas, sidat, tilapia dan flounder.

Infeksi Bakteri Edwardsiela tarda pada Catfish
Gejala infeksi: ikan pucat, gembung perut, pendarahan pada anus, anus tertekan kedalam, dan mata pudar. Gejala klinis pada organ dalam adanya bintil kecil berwarna putih terdapat pada insang, ginjal, hati dan limfa dan kadang-kadang pada usus. Hal yang berperan membantu terjadinya wabah diduga karena ular, kotoran manusia dan binatang lainnya. Namun wabah biasanya terjadi pada suhu tinggi yaitu 30oC dan kandungan bahan organik tinggi. Jumlah kematian akan tergantung pada keadaan lingkungan tetapi dari data yang ada ternyata pada kolam ikan lele biasanya kematian tidak lebih dari 5%. Namun demikian apabila ikan tersebut dipindahkan maka infeksi penyakit tersebut akan bertambah ganas dan dapat menyebabkan kematian sekitar 50% dari populasi. Ikan yang ternfeksi akan menunjukan gejala terjadinya luka pada kulit dan kemudian meluaskan bagian daging. Luka ini sering mengakibatkan pendarahan.

  1. Penyakit Streptococciosis
Penyebab: Streptococcus iniae
Bio-Ekologi Patogen: termasuk bakteri gram positif berbentuk bulat kecil (coccus), bergabung menyerupai rantai, non-motil, koloni transparan dan halus dan mempunyai kemampuan menyerang sel darah merah. Streptococcus merupakan bakteri yang resisten terhadap berbagai antibiotik yang secara terus menerus dipergunakan untuk mengobati infeksi bakteri yang lain. Infeksi : Streptococcus pada ikan dapat berlangsung secara kronik hingga akut. Penyakit ini banyak dilaporkan pada ikan yang dipelihara pada lingkungan perairan tenang (stagnant) dan sistem resirkulasi. Infeksi ini banyak ditemukan di organ otak, sehingga ikan yang terinfeksi sering menunjukkan tingkah laku abnormal seperti kejang atau berputar.

Serangan Bakteri Streptococcus sp. pada Ikan Patin
Gejala Klinis: gejala yang ditimbulkannya meliputi mata menonjol, gembung perut (dropsy), pendarahan pada mata, tutup insang dan pangkal ekor, warna ikan menjadi lebih gelap, dan ikan berenang cepat tidak karuan, pertumbuhan ikan menjadi lambat. Sedangkan ciri pada organ dalam meliputi kerusakan ginjal, hati, limpa dan usus. Seringkali infeksi Streptococcus tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas kecuali kematian yang terus berlangsung. Biasanya penyakit ini diamati lewat pemeriksaan laboratories.

Species ikan yang terinfeksi meliputi: ikan ekor kuning, tilapia, sidat, rainbow trout, channel catfish, golden shiner, lele-lelean (Arius felis), silver trout dan mullet. Efek yang ditimbulkan adalah ikan menjadi sulit bernapas dan hilang kemampuan dalam menentukan arah dan gerak (inkoordinasi). Mata menjadi buram, nekrosis dan dapat menyebabkan kondisi kebutaan. Kerusakan organ-organ internal akan mengakibatkan kematian.
Pencegahan dan Pengendalian: manajemen kesehatan ikan terpadu (inang, lingkungan dan patogen), ikan yang terinfeksi segera diambil dan dimusnahkan, hindari penggunaan air dari kolam yang sedang terinfeksi bakteri tersebut. menghindari kepadatan tinggi, pakan berlebih dan penanganannya kasar.
  1. Penyakit Mycobacteriosis
Penyebab: Penyakit ini disebabkab oleh bakteri Mycobacterium spp. Species bakteri yang dapat menginfeksi ikan adalah: M. marinum, M. foruitum dan M. chelonei.

Penyakit Tubercolosis pada Ikan
Bio-Ekologi Patogen : Bakteri tersebut berbentuk batang agak bengkok, bersifat acid fast dan gram positif, tumbuh pada media khusus seperti Lowenstein-Jensen, Petragnani dan Ogawa and Sauton. Tumbuh agak lama sekitar 30 hari. Namun untuk M. fortuitum dan M. chelonei akan tumbuh 7 hari dalam medium” Ogawa’s egg” pada temperatur 25-30oC. Infeksi Mycobacterium banyak dilaporkan pada ikan yang dipelihara pada lingkungan perairan tenang (stagnant) dan sistem resirkulasi, sehingga jenis ikan seperti gurami dan cupang yang cocok pada kondisi tersebut sering dilaporkan terinfeksi penyakit tersebut. Kolam tadah hujan dan pekarangan dengan sumber air terbatas lebih rentan terhadap infeksi jenis penyakit ini.
Gejala klinis: Mycobacteriosis merupakan penyakit yang progresif chronik dengan beberapa gejala klinis antara lain lesi seperti cacar, ikan lemah, pembengkakan pada kulit, mata menonjol (exophthalmia) lesi dan borok pada tubuh. Ikan akan kehilangan nafsu makan, lemah, kurus. Gejala ini diawali dengan kurang gizi terutama vitamin E. Jika menginfeksi kulit, timbul bercak-bercak merah dan berkembang menjadi luka, sirip dan ekor geripis. Pada infeksi lanjut, gejala pada organ dalam biasanya terdapat granuloma yang berwarna putih keabu-abuan atau putih kecoklatan, terutama pada hati, limfa, ginjal dan pada daging ikan (dikenal sebagai penyakit TBC).
Epizootiology dari penyakit ini sangat sedikit sekali diketahui. Kemungkinan penyebaran penyakit tersebut dengan menelan langsung dari pakan atau kotoran yang terinfeksi oleh Mycobacterium spp tersebut.. Di Indonesia telah ditemukan menginfeksi ikan hias dan ikan gurame (Osphronemus gouramy). Insidensi infeksinya dapat mencapai 60% degan. Kematian yang diakibatkan dapat mencapai 70-80%. Diagnosa berupa isolasi dan identifikasi melalui uji biokimia.
Pengendalian dan Pengobatan: manajemen kesehatan ikan terpadu (inang, lingkungan dan patogen), ikan yang terinfeksi segera diambil dan dimusnahkan, hindari penggunaan air dari kolam yang terinfeksi bakteri tersebut. Pengobatan melakukan penggantian air baru. Pemeliharaan dalam ”air hijau” secara ekstensif akan mengurangi stress.
  1. Penyakit Nocardiosis

Penyakit Nocardiosis yang Menyerang Daging dan Insang Ikan
Penyebab: Nocardia spp. adalah organisme bersifat aerob, gram positif dan mungkin “acid fast’ berbentuk batang dan kadang-kadang bercabang. Dapat menginfeksi baik ikan air tawar maupun ikan air laut. Ikan yang terinfeksi menunjukkan gejala hilang nafsu makan (anorexia), ikan kurus, pembengkakan terjadi pada daerah mulut dan perut yang menunjukkan adanya bintik putih pada kulit, insang, daging dan organ dalam dan kadang-kadang penyakit ini menimbulkan lesi. Gejala yang ditimbulkan mirip dengan gejala infeksi tuberkulosis.
  1. Penyakit Enteric Septicaemia of Catfish (ESC)
Penyebab:  bakteri Edwardsiela ictaluri. Bakteri tsb tergolong bakteri yang mempunyai sifat gram negatif, berbentuk batang, bergerak lamban dengan menggunakan flagella. Suhu optimum untuk pertumbuhannya adalah 20-30oC. Perbedaannya dengan E. tarda adalah bakteri E. ictaluri tidak memproduksi H2S dan indol.

Penyakit Enteric Septicemia of Catfish (ESC)
Gejala klinis dari penyakit ini ciri dengan keadaan ikan lemah menggantung arah vertikal, berenang berputar (Spinning) dan kemudian diikuti oleh kematian. Pada ikan yang berukuran panjang diatas 15 cm gejala klinis luar tidak pernah ditemukan. Penyebaran penyakit tersebut meliputi seluruh wilayah Amerika dimana budidaya channel catfish sangat intensif.
  1. Penyakit Pasteurellosis
Penyebab: Pasteurella piscida. Yaitu bakteri gram negatif tidak bergerak, berbentuk batang, fermentatif dengan warna koloni abu-abu sampai kuning.

Infeksi Penyakit Pasteurellosis pada Organ Dalam Ikan
Gejala klinis: Pada infeksi akut hanya menunjukkan gejala yang tidak dapat terdeteksi. Sedangkan gejala pada organ dalam dapat ditemukan granuloma pada ginjal dan limfa yang berwarna putih keabu-abuan. Oleh karena itu maka penyakit ini juga sering disebut dengan istilah “pseudotuberculosis”. Pasteurellosis menyerang baik ikan yang dibudidayakan maupun ikan liar. Penyakit ini hanya menginfeksi ikan laut pada suhu air sekitar 25oC.
  1. Penyakit Enteric Red Mouth Disease (ERM)
Penyebab: Yersinia ruckeri, bakteri bersifat gram negatif, berbentuk batang agak lengkung, bergerak dengan menggunakan 7-8 flagella. Ada tiga tipe sel yaitu type 1, type 2 dan type 3 dimana type 1 sangat virulen, diikuti oleh type 2 dan kemudian type 3.

Serangan Penyakit Red Mouth pada Ikan Bandeng
Gejala klinis: Red Mouth Disease adalah suatu penyakit dengan gejala klinis warna merah pada mulut dan kerongkongan akibat adanya pendarahan pada lapisan subcutan. Gejala lainnya adalah pembengkakan dan erosi pada rahang, kulit jadi kehitaman, pendarahan pada pangkal sirip, mata menonjol dan ikan lemah. Gejala klinis pada organ dalam meliputi pendarahan pada otot daging, lemak pada usus serta pembengkakakan terjadi pada ginjal dan limfa.
Penyebaran penyakit: meliputi Amerika Serikat, Canada, Denmark, Inggris, Perancis, Jerman, Italia, Norwegia dan Australia. Penyakit ini terutama menyerang ikan kecil ukuran panjang sekitar 7.5 cm. Lebih jarang menginfeksi ikan besar tetapi lebih bersifat kronik.

Sumber:
Maloedyn.,S., 2001. Mengatasi Penyakit Hama Pada Ikan Hias. Agro Media Pustaka. Jakarta.

Yuasa, Kei, dkk. 2003. Panduan Diagnosa Penyakit Ikan. Balai Budidaya Air Tawar Jambi, Ditjen Perikanan Budidaya, DKP dan JICA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar