Kamis, 07 Mei 2015

Menanggulangi Gulma di Waduk Dengan Ikan Graskap 

Menanggulangi Gulma di Waduk Dengan Ikan Graskap 


Grass carp / graskap merupakan ikan pemakan rerumputan yang ditemukan di sungai Amur di Siberia dan Cina yang mengalir menuju Lautan Pasifik. Karenanya, seringkali grass carp disebut juga sebagai amur putih (white amur). Sekarang ini, grass carp dibudidayakan secara intensif di Cina, Malaysia, Indonesia, Singapura, Taiwan, Thailand, dan Filipina. Grass carp masuk ke daratan Eropa digunakan sebagai pengontrol hama tanaman dan meningkatkan produksi perikanan melalui polikultur.


Pemanfaatan grass carp sebagai pengontrol hama tanaman (seperti enceng gondok) didasarkan pada kemampuannya untuk mengkonsumsi tanaman (mikro atau makrofita). Grass carp memiliki kemampuan reproduksi yang sangat tinggi. Ikan ini, ketika hidup di Sungai Amur, betina yang secara reproduksi matang (7-15 tahun) dapat menghasilkan telur sebanyak 820.0000 telur. Sedangkan Grass carp yang hidup di perairan Eropa memiliki kemampuan untuk menghasilkan telur berkisar antara 500.000-700.000 / ikan yang berukuran 6-8 kg.
Jumlah vegetasi yang mampu dikonsumsi oleh grass carp bergantung atas ukuran dan jumlah ikan, suhu air, kepadatan hama, dan komposisi spesies, serta lamanya waktu ikan berada di perairan. Ikan berukuran 25-40 cm akan mengkonsumsi lebih banyak makanan (35-50% bb/hari) dibandingkan dengan ikan yang lebih besar (>40 cm) yang hanya mengkonsumsi 20-30% bb/hari. Suhu air terbaik untuk konsumsi pakan grass carp adalah 20-28 C. Konsumsi tanaman mulai stabil pada suhu 10-16 C, dan terjadi secara intensif ketika suhu mencapai 20 C atau lebih tinggi lagi. Pada suhu 20 C, grass carp dapat mengkonsumsi hingga 50% bb, ketika suhu mencapai 22 C konsumsi meningkat hingga 120% bb. Batas maksimal untuk konsumsi bagi grass carp adalah 25 C. Penurunan suhu secara tiba – tiba bisa mengganggu pola makan. Penurunan tiba-tiba suhu air sebesar 4-5 C dari 20 C dapat menyebabkan ikan berhenti makan. Sebaliknya, penurunan secara perlahan menyebabkan peningkatan pilihan pakan dari grass carp.
Petiola enceng gondok
Sama seperti kita, grass carp juga memiliki kesukaan terhadap jenis makanan tertentu. Grass carp berukuran 25-33 mm (TL) memakan alga berfilamen. Sedangkan ada ukuran 35-40 cm (umur sekitar 1-1,5 bulan), ikan ini memakan daun lunak dari makrofita yang tenggelam. Pilihan makanan pada grass carp dewasa menurun bersamaan dengan bertambahnya usia dan ukuran. Grass carp muda memiliki gigi faring yang lemah dan kecil, sehingga pilihan makanannya adalah tanaman yang lunak dan muda.


Ikan usia ini cenderung menghindari tanaman yang memiliki daun yang kasar atau liat seperti (Stratiotes aloides L dan berbagai jenis monokotiledon), daun berukuran besar yang mengapung (Nymphaea dan Nuphar spp), tanaman dengan rasa yang kuat (Polygonum hydropiper L) atau beracun (Ranunculus spp). Hampir sama, ikan dengan berat kurang dari 1 kg memilih akar, sedangkan ikan yang lebih besar juga memakan daun dan petiola enceng gondok . Ikan yang lebih besar dari 1 kg juga memakan tanaman jenis ini HANYA jika tidak ada makanan lainnya. Jenis makanan yang paling disukai oleh grass carp adalah elodea, water celery, dan pondweed (daun tipis). Sedangkan tanaman yang tidak begitu disukai diantaranya adalah cattail, bulrush, sedge, alga berfilamen, teratai, dan enceng gondok.
Elodea, makanan favorit grass carp
Sebagai biokontrol hama tanaman, kepadatan tebar yang sesuai bagi sebuah perairan bergantung pada berbagai faktor seperti cuaca, ukuran ikan yang ditebar, kecepatan pertumbuhan hama yang diharapkan, faktor biotik dan abiotik lingkungan. Overstocking adalah kondisi dimana seluruh tanaman air (baik target hama maupun tidak) sementara understocking bisa berarti bahwa hanya terjadi penurunan hama tertentu. Kepadatan tebar yang rendah dapat menjaga pertumbuhan hama, tetapi tanaman yan tidak disukai oleh grass carp akan tumbuh cepat dan tidak terkendali. Syarat padat tebar dari ikan herbivora dapat diperkirakan dari total biomassa vegetasi di sebuah perairan.
Kecepatan stocking 3 grass carp (25-30 cm)/ metrik ton tanaman (berat basah) secara signifikan menurunkan biomassa makrofita (Chara sp atau Najas gudalupensis) pada 2 waduk di FLorida. Kondisi ini tidak mencapai overstocking dalam waktu 4-5 tahun semenjak stocking dilakukan. Kecepatan stocking 4-8,4 grass carp (per metrik ton berat basah tanaman) mengurangi biomassa tanaman hingga 0 dalam waktuu 8-17 bulan. Kepadatan tebar grass carp untuk daerah tropis berkisar antara 90 – 120 kg/ha (dengan berat setiap ikan 20-40 gr). Beberapa peneliti merekomendasikan kepadatan tebar 25-30 individu/ha untuk hama tanaman air seperti Hydrilla sp, sambil mengelola populasi kecil dari tanaman air yang kelimpahannya predominan dan tidak disukai oleh grass carp. Biokontrol menjadi efektif jika grass carp ditebar terlebih dahulu di awal peningkatan pertumbuhan tanaman.
Fluktuasi kedalaman perairam juga harus diprediksi dan dipertimbangkan. Karena penurunan kedalaman secara drastis akan menyebabkan overstocking dan kondisi ini menyebabkan ikan sulit untuk dipindahkan dari perairan. Padat tebar haruslah dikalkulasi dari kedalaman terendah.
Tapeworm alias cacing pita, dan grass salah satu vektornya
Apakah grass carp termasuk spesies invasif? Setidaknya, saya menemukan 2 negara bagian (Minnesota dan Texas) yang memasukkan grass carp dalam daftar spesies invasif. Texas dan Oregon hanya mengijinkan penggunaan grass carp triploid (steril) untuk biokontrol. Grass carp normal (diploid) memiliki 48 kromosom, sedangkan triploid memiliki 72. Kromosom ekstra yang ditambahkan menyebabkan grass carp menjadi steril. Dibandingkan dengan Texas, Oregon memiliki peraturan yang lebih ketat. Setiap grass carp harus ditandai dengan Passive Induced Transmitter Tag (PIT). Apa yang membuat mereka khawatir tentang grass carp dan memasukkannya sebagai spesies invasif? Grass carp mampu hidup dengan kondisi oksigen yang rendah (2-3 mg/L), kemampuan reproduksi yang tinggi, dan mampu memakan tanaman hingga 300% berat tubuhnya.
Grass carp dapat memakan semua makrofita dan vegetasi yang menjalar sehingga mengurangi ketersediaan pakan bagi invertebrata dan ikan lainnya. Hal ini menyebabkan perubahan yang signifikan terhadap komposisi makrofita, fitoplankton, dan invertebrata melalui perubahan rantai makanan dan struktur trofik di perairan. Hilangnya makrofita juga menyebabkan hilangnya media untuk ikan fitofil untuk memijah. Introduksi grass carp sebagai biokontrol juga meningkatkan potensi tertularnya ikan lokal dengan beberapa penyakit dan parasit. Grass carp dari Cina dipercaya menjadi sumber utama dan vektor untuk cacing pita Asia.


(sumber: banyuarthamulia.org)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar